Kisah Pilu Seorang Ibu Berjuang Untuk Anaknya Agar Dapat Sekolah Kembali - BEKASI NEWS ONLINE MEDIA

>> Advetorial

Merdeka

Kisah Pilu Seorang Ibu Berjuang Untuk Anaknya Agar Dapat Sekolah Kembali


Redaksibekasi.com- Kota Bekasi: Undang-undang Dasar 45 Pasal 31 telah mengamanatkan bahwa: (1) Setiap warganegara  berhak mendapatkan pendidikan.(2) Setiap warganegara  wajib mengikuti pendidikan dasar dan Pemerintah wajib membiayainya. (3) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Demikian pula UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Pasal 5 Ayat (1) dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu; Pasal 6 Ayat (1) setiap warga negara berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar dan Pasal 34 Ayat (1) pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Dalam hal Wajib belajar untuk Anak usia Sekolah, Ibu Tres Priawati (44) Orang tua Murid dari AM yang saat ini masih tercatat sebagai murid di SDN Pejuang 7 kota Bekasi, karena ada beberapa hal yang terjadi dalam proses Kegiatan belajar mengajar serta ada peristiwa lainnya sehingga Anak saya mengalami 'Trauma psikis'  dan pada akhirnya  enggan untuk sekolah di SDN Pejuang 7 sudah hampir 1,5 Bulan.

Dari pihak sekolah hingga saat ini belum ada niatan untuk datang menemui saya, untuk mencari solusi apakah pindah sekolah dalam satu Gugus atau ada solusi lainnya,  saya sempat di buat bingung dengan persoalan anak.

"Orang tua, akan merasa bahagia bila melihat anaknya dapat sekolah kembali, dapat bermain bersama dengan usia sebaya, berdasarkan keinginan anak,  masuknya bukan di Sekolah yang lama (SDN Pejuang 7 Medan satria) masih Trauma ," kata ibu Tres kepada media, Kamis ( 16/11).

"Anak saya masih kepingin sekolah tapi bukan di sekolah itu lagi, trauma psikis bila melihat guru ( ibu AM- red)  yan pernah di lihat melempar penghapus dan berkata kasar kepada semua murid," tambahnya.
Sebagai orang tua murid kata ibu Tres, tidak bisa menerima perlakuan kekerasan  Psikis terhadap anak saya,  sejak 05 Oktober 2017 anak saya tidak berani masuk sekolah karena banyaknya kabar dan perlakuan pihak sekolah terhadap anak saya yang membuat tertekan.
"Sampai saat ini belum ada bentuk pertanggungjawaban dari pihak sekolah maupun UPTD pendidikan Medan Satria, dalam hal penyelesaian permasalahan Anak saya," bebernya.

Sekolah adalah tempat dimana anak didik menuntut ilmu, bukan malah sebaliknya mendapatkan pembelajaran yang buruk akibat ulah oknum guru yang bersifat arogan, Jangan rampas hak dan kebebasan anak saya untuk belajar, Dimana rasa aman bagi anak didik termasuk anak saya. Yang konon katanya sekolah Favorit.

" Saya minta pertanggungjawaban  para pihak, Dinas pendidikan kota Bekasi, Kabid dikdas, UPTD pendidikan Medan Satria, Dewan Pendidikan dan Komisi 4 DPRD serta Komite sekolah untuk duduk bersama dimana 'pokok masalahnya' agar  segera terkuat tabir  permasalahan  yang telah dilakukan oleh SDN Pejuang 7 Medan Satria, saya hanya minta Pertanggungjawaban perampasan hak pendidikan anak saya sejak 5 Oktober 2017 sudah tidak mau masuk sekolah  karena mengalami tekanan psikis akibat perbuatan oknum Kepsek dan oknum Guru  di sekolah tersebut," tegasnya.

Sementara itu saat rekan media bertanya langsung dengan Aditya Melano jovanri kelas V c, tanpa di dampingi orang tua, miris rasanya mendengar jawaban yang keluar dari seorang anak yang masih polos.
" Saya masih pengen sekolah pa, tapi tidak tidak di sekolah itu lagi ( SDN Pejuang 7 -red) karena ibu gurunya sering melempar penghapus, berkata kasar dan keroyokan mama saya," kata Adit dengan polosnya.
Keceriaan dari anak seusia Aditya​ seakan terbelenggu dari raut wajahnya, dia masih ingin sekolah, akan tetapi usaha orang tuanya untuk menyekolahkan anaknya kembali yang ada  di dekat lingkungan rumahnya di wilayah Perwira  seakan mendapatkan batu sandungan yang besar. Semua sekolah seolah-olah penuh ada yang bilang belum kurtilas dengan sejuta alasan."(Red)