![]() |
| BERSAMA PERBEDAAN MENCIPTAKAN KERUKUNAN |
Redaksibekasi.com- Cikarang: Maraknya penggunaan media sosial yang terjadi belakangan ini, selain memberikan dampak yang baik dan buruk. Dampak baik berupa kecepatan dalam menerima informasi, sedangkan dampak buruknya adalah tidak ada satupun sarana yang mampu membendung konten negatif, termasuk konten yang berbau Suku, Agama, Ras dan Kepercayaan (SARA).
Akibatnya persatuan dan kesatuan yang selama ini kita nikmati bersama seakan terkoyak dan tercabik. Media sosial digunakna sebagai sarana untuk menyebarkan provokasi negatif yang mengancam persaudaraan sebangsa dan setanah air. Sikap yang mendepankan‘ paling benar’,‘kafir dan tidak kafir’ telah mengoyak kebersamaan dan keutuhan berbangsa.
Untuk lebih memperkokoh kesatuan, persatuan antar umat beragama, GP ANSOR Kabupten Bekasi menyelenggarakan kegiatan bertema SILATURAHMI TOKOH LINTAS AGAMA” dan mengusung semangat “BERSAMA PERBEDAAN MENCIPTAKAN KERUKUNAN”.
Selain itu, dalam kegiatan ini pun GP ANSOR Kabupaten Bekasi mengajak peserta untuk Berbuka Puasa Bersama. Kegiatan ini berlangsung pada, Sabtu 02 Juni 2018, bertempat di SMK Karya Pembaharuan Karang Bahagia, Jalan Raya Pilar Sukatani No.001, Sukaraya, Karang Bahagia, Bekasi.
Sebagai narasumber adalah, Irjen Pol. Drs. Romo Sidarto Danusubroto (Dewan Pertimbangan Presiden, Pokja Toleransi) dan Kyai Haji Agus Salim (Staf Wantimpres Pokja Toleransi). Turut diundang dalam acara ini, Bupati Bekasi Hj. Nenengg Hasanah Yasin, pemuka Katolik Romo Antoro, pemuka agama Hindu Andi Candra, pemuka agama Kong Hu Cu Siauw Keng Wie, pemuka agama Budha Dirman, MUI Bekasi KH Faturahman dan KH Mubarok, Dewan Masjid Indonesia KH Mahmudin, Ketua GP Ansor dan Ketua Banser Bekasi, Dandim 0509 Letkol Henri Yudhi Setiawan, Kapolres Kabupaten Bekasi Kombes. Pol. Candra Sukma Kumara dan Tokoh masyarakat Bekasi Hj. Herlani serta para Kyai dan ulama Bekasi.
Dalam pidatonya, Wantimpres Pokja Toleransi, Sidarto Danusubroto mengatakan agama memandang manusia dan kemanusiaan beserta pluralitas yang ada di dalamnya dengan pandangan yang optimis. Seluruh manusia dengan segala perbedaannya berasal dari sumber yang satu,
"yaitu: Adam dan Hawa (unity/kesatuan asal/Tunggal Ika), namun Kehendak Tuhan jua yang kemudian menjadikan manusia berbeda-beda (Bhinneka). Bhinneka Tunggal Ika inilah esensi dari Surah Al-Hujurat Ayat 13. Inti tujuannya adalah agar saling berinteraksi secara positif, apresiatif dan simbiosis mutualistik. Atau dalam bahasa yang lebih lugas: Secara rukun an bahagia.
Kehendak Tuhan tentang pluralitas ini tidak terbatas pada ranah bangsa, etnik dan budaya, bahkan juga agama. Hal ini secara sangat eksplisit Tuhan firmankan, seperti di dalam Surah Yunus Ayat 99. Maka, menolak pluralitas agama sama dengan menolak Kehendak Tuhan.
Menurut Sidarto, bangsa Indonesia harus bangga dan bersyukur karena Tuhan mempercayakan Indonesia sebagai wadah dari super-keberagaman manusia, baik bahasa, etnis, budaya, bahkan agama. Tinggal bagaimana kita membuktikan kepada Tuhan bahwa titipan keberagaman seperti ini mampu kita jaga dan rawat dalam bingkai NKRI.
“Perbedaan yang ada ini tak perlu dilebur menjadi satu, tak boleh ada pemaksaan terhadap pihak-pihak yang berbeda untuk menjadi satu dalam keseragaman karena bangsa ini terbentuk dari keanekaragaman warna kebhinnekaan. Sebagai bangsa yang besar, justru inilah modal dasar yang tak ternilai. Masyarakat Indonesia yang majemuk dengan dinamika sosialnya tersebut dapat menjadi energi sosial yang konstruktif, yang apabila dipererat dengan nilai persatuan akan menjadi kekuatan,” kata Sidarto.
Selama ini, lanjut Sidarto, orang seringkali lupa bahwa negara ini dapat bertahan selama 73 tahun karena pendiri bangsa secara bijak menyepakati Pancasila sebagai dasar negara, yaitu negara kebangsaan, negara berketuhanan, negara yang pro-keberagaman.“ Banyak contoh di lain negara yang berdasarkan agama rawan mengalami konflik horizontal maupun konflik vertikal. Banyak negara-negara di Timur Tengah yang sekarang mengalami konflik ingin belajar dari Indonesia,
sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam namun tetap compatible dengan sistem demokrasi. Banyak negara-negara maju di dunia, di sana menerapkan sikap hidup ‘berketuhanan’ yang bukan hanya sekedar ritual, namun dalam perilaku sehari-hari, terutama: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, toleransi dan taat hukum,” jelas Sidarto.
Indonesia, sambung Sidarto, punya Pancasila sebagai dasar negara. Bangsa ini memerlukan panduan hidup untuk mengenal dan meyakini keberadaan Tuhan. Dengan mengenali dan meyakini keberadaan Tuhan, kehidupan bangsa ini diharapkan tumbuh mengikuti sifat-sifat ketuhanan yang penuh kasih sayang, berlandaskan kecerdasan spiritual. Pancasila merupakan norma dasar kita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta pedoman satu-satunya dalam mendesain, menjalankan, dan mengelola secara berkesinambungan.
Saat ini, isu ekstrimisme dan radikalisme kian mengkhawatirkan. Hoax dan ujaran kebencian memenuhi media sosial yang berisi himbauan bernada provokasi dan hasutan berbasis SARA, yang dapat menimbulkan macam-macam potensi kegentingan, terutama kegentingan dalam kerukunan antar umat beragama di republik yang tegak di atas falsafah Bhinneka Tunggal Ika ini. Intoleransi memang tidak serta-merta agresif dan merusak, mulai dari mempersoalkan pengucapan hari raya bagi yang tidak seiman, pemilihan ketua RT yang harus dari agama tertentu dan hal-hal kecil yang mungkin kita anggap remeh lainnya.
"Namun perlu dicatat bahwa intoleransi adalah hulu dari radikalisme yang dapat berpotensi menjadi terorisme. Intoleransi adalah bahaya laten yang bisa sewaktu-waktu meledak apabila tidak ditangani serius sejak awal. Situasi semacam ini tentunya sangat berbahaya dan harus kita waspadai bersama.
Agama harus mampu memberikan nilai luhur kepada negara, dan negara melindungi agama baik mayoritas maupun minoritas. Diperlukan adanya kesepakatan dan konsep yang matang dalam membina keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia untuk menghindari gesekan-gesekan dalam masyarakat. Pancasila sebagai living ideology dan working ideology harus terus dinyalakan kembali semangatnya. Perlu pendekatan secara kultural maupun edukatif untuk terus membangkitkan dan membumikan kembali Pancasila terutama kepada generasi muda."(*)
Reporter : red
Editor : Luk




