GTI kabupaten Bekasi Miris, Satu kampung Warga sembilangan Tidak pasang Bendera merah putih. - BEKASI NEWS ONLINE MEDIA

>> Advetorial

Merdeka

GTI kabupaten Bekasi Miris, Satu kampung Warga sembilangan Tidak pasang Bendera merah putih.


Kab.bekasi.RB 
Momentum Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia 17 agustus 1945 merupakan  tonggak sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari rongrongan Penjajahan, seiring berjalannya waktu  setiap bulan Agustus  Hampir semua tempat di kampung maupun perkotaan banyak di jumpai atribut HUT Kemerdekaan RI dengan berbagai hiasan, dari mulai dibangun nya Gapura, pemasangan Umbul-umbul, dan pemasangan Bendera Merah putih sebagai bentuk kepedulian terhadap para pejuang terdahulu yang telah merebut dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia tercinta, akan tetapi  miris dan sangat disayang kan bagi warga kampung 'sembilangan', tidak satupun Bendera Merah putih serta atribut HUT Kemerdekaan RI yang Ke 72, yang  nampak terpasang dan menempel  di wilayah kampung sembilangan samudera jaya dan sekitarnya.

"Kami sebagai Warga Negara hingga saat ini belum  merasakan merdeka, karena sejak dahulu hingga sekarang kami tidak pernah di sentuh dan di perhatikan dalam hal Pembangunan fisik dan Non fisik oleh pemerintah  Desa maupun pemda kabupaten bekasi", keluh Madnung warga kampung sembilangan Rt 01/09 Samudra jaya Tarumajaya, Minggu (6/8).

Dikatakan Madnung bersama warga sembilangan lainnya, bahwa selama ini kehidupan kami di era modern masih hidup dalam kekurangan dan keterbatasan, mana perhatian Pemerintah, warga sembilangan bagai tamu di negri sendiri dan hanya menjadi penonton.

Sejak dahulu, warga sembilangan tidak  memiliki akses jalan, bagai terasingkan,  yang sangat dirasakan adalah   sulitnya mendapatkan air bersih, untuk kebutuhan sehari-hari,  kami harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan air minum 'rasanya kami belum merdeka'," ujar Madnung.

Hal senada dikatakan Ahmad, sangat miris yang di rasakan masyarakat sembilangan, untuk mendapatkan air minum kami harus membeli air seharga Rp 8 ribu per 1 jerigen, itu pun kami harus jauh ke Desa Segara Jaya, harus melewati baro baro bambu (karna laut sudah di patok bambu-red) dan setiap hari kami harus mengeluarkan uang minimal Rp 20 ribu perhari hanya untuk air bersih.

" Biaya hidup tinggi untuk pembelian Air bersih sebagai sumber kehidupan, air sangat sulit kami dapatkan," tambahnya

Terakhir di katakan Pa akhmad di dampingi Madnung dan warga lainnya, Pemda kabupaten Bekasi katanya sedang membangun​, mana pemerataan pembangunan, tolong perhatikan kami, sebagai warga kabupaten bekasi jangan di anak tirikan.

" Warga sembilangan butuh perhatian, akses jalan dan sarana Air bersih serta kembalikan pungsi laut pesisir Tarumajaya seperti semula," tegasnya.

Terpisah, H.Nana Supriyatna SE, Ketua Garda Tipikor Indonesia (GTI) DPC Kabupaten Bekasi, kepada media menuturkan,  sangat menyayangkan sikap antipati masyarakat kampung sembilangan, yang mengabaikan nilai nilai luhur para Pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia terdahulu.

"Sudah sepatutnya momentum 17 Agustus dapat dijadikan refleksi sejarah perjuangan bangsa,  sebagai bangsa yang besar harus menghargai pengorbanan para pejuang terdahulu," tukasnya.Minggu (6/8).

Sangat naif kata Ketua GTI, kalau masyarakat satu kampung tidak ikut meramaikan pesta Demokrasi bangsa dengan melakukan pemasangan dan pengibaran bendera merah putih sebagai simbol kemerdekaan 72 tahun silam.
" Soal hasil pembangunan yang belum dirasakan oleh masyarakat Kampung sembilangan, harus nya Pemda kabupaten bekasi lebih peka lagi, jangan sampai di hubungkan dengan nilai nilai sejarah perjuangan bangsa, serta tidak ada istilah warga  di anak tirikan dan kurang perhatian", pungkasnya."(lukman)