Porprov Jabar 2026: Kota Bekasi Jadi Host Utama, Gandeng Mal demi Efisiensi Anggaran - BEKASI NEWS ONLINE MEDIA

Porprov Jabar 2026: Kota Bekasi Jadi Host Utama, Gandeng Mal demi Efisiensi Anggaran

Porprov Jabar 2026: Kota Bekasi Jadi Host Utama, Gandeng Mal demi Efisiensi Anggaran

BEKASI — Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat XV tahun 2026 resmi menemukan arah penyelenggaraannya. Kota Bekasi ditunjuk secara resmi sebagai tuan rumah utama ajang pesta olahraga multicabor terbesar di tingkat provinsi tersebut. Pesta olahraga yang digelar empat tahunan ini dijadwalkan bakal berlangsung pada November 2026 mendatang dengan mengusung konsep kolaborasi antardaerah serta efisiensi anggaran yang ketat.


Kepastian penunjukan Kota Bekasi disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai memimpin rapat koordinasi strategis bersama para kepala daerah dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) se-Jawa Barat di Gedung Pemkot Bekasi, Jumat (4/9/2026).


Dalam kesepakatan tersebut, pembukaan Porprov Jabar 2026 dipastikan akan diselenggarakan di Kota Bekasi sebagai pusat utama. Sementara itu, pesta penutupan akan digelar di Kota Bogor. Pembagian peran ini menandai babak baru penyelenggaraan Porprov yang lebih mengedepankan asas berbagi beban dan optimalisasi potensi antarwilayah di Jawa Barat.


“Kebetulan tuan rumah utamanya adalah Kota Bekasi. Pembukaan nanti akan dilaksanakan di Kota Bekasi dan penutupan di Kota Bogor,” kata Gubernur Dedi Mulyadi di hadapan awak media.


Inovasi Pemkot Bekasi: Manfaatkan Pusat Perbelanjaan dan Fasilitas Swasta

Menanggapi kepercayaan tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyatakan kesiapan penuh jajarannya untuk menyukseskan Porprov Jabar 2026. Guna mengantisipasi besarnya kebutuhan sarana dan prasarana tanpa harus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Pemkot Bekasi meluncurkan strategi terobosan berupa skema kolaborasi dengan sektor swasta.


Salah satu inovasi paling menonjol adalah langkah Pemkot Bekasi yang menggandeng pengelola pusat perbelanjaan (mal) di wilayahnya untuk dijadikan venue pertandingan resmi sejumlah cabang olahraga. Langkah ini dinilai efektif untuk menyiasati keterbatasan tempat sekaligus mendekatkan ajang olahraga dengan masyarakat umum.


“Jadi secara umum, venue yang sudah kami siapkan dilakukan melalui kolaborasi. Pemkot Bekasi sendiri sudah memiliki gedung enam lantai, lapangan bulu tangkis, lapangan voli, dan fasilitas pendukung lain yang standarnya sudah internasional,” ujar Tri Adhianto.


Selain mengandalkan fasilitas berstandar internasional yang sudah ada, Pemkot Bekasi kini tengah mengejar penyelesaian sejumlah fasilitas olahraga lainnya. Di antaranya adalah trek atletik, trek sepatu roda (roller skate), lapangan basket, serta arena panjat tebing (sport climbing). Pemkot juga menyiapkan beberapa lapangan pendamping untuk cabang olahraga sepak bola dan arena bola voli pasir.


“Kami juga bekerja sama dengan beberapa mal yang nantinya akan digunakan sebagai venue tambahan untuk mendukung pelaksanaan Porprov,” tambah Tri.


Tekanan Fiskal Daerah: Penyelenggaraan Hemat dan Pemangkasan "Tim Hore"

Penyelenggaraan Porprov Jabar 2026 kali ini berlangsung di tengah tantangan ekonomi daerah. Gubernur Dedi Mulyadi memberi penekanan khusus agar seluruh rangkaian acara dijalankan secara efisien. Hal ini disebabkan oleh kondisi fiskal di sebagian besar kabupaten dan kota di Jawa Barat yang saat ini sedang melemah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang jalannya kompetisi, melainkan harus disiasati dengan manajemen kegiatan yang bijak dan tidak konsumtif.


“Ada satu penekanan, yaitu penyelenggaraan kegiatan harus dilakukan secara efisien. Sebab, rata-rata kabupaten dan kota saat ini tidak memiliki kekuatan fiskal seperti beberapa tahun lalu,” tegas KDM.


Kebijakan efisiensi ini berimbas langsung pada susunan kontingen yang akan dikirimkan oleh kabupaten/kota peserta. Seluruh daerah sepakat untuk merasionalkan jumlah rombongan guna menekan biaya operasional.


Sebagai contoh, Kabupaten Subang menyatakan akan memangkas kuota rombongan dengan berfokus hanya pada atlet potensial. Kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan pengeluaran yang tidak perlu bagi personel non-teknis atau pendamping yang tidak berkontribusi langsung pada prestasi.


“Pada akhirnya mereka juga akan ikut dengan satu catatan, yaitu mengurangi jumlah 'tim hore' dan tidak perlu mengirimkan atlet yang tidak memiliki potensi prestasi. Jadi, yang dikirimkan adalah atlet-atlet yang memiliki potensi prestasi saja,” ujar Dedi.


Batu Loncatan Menuju PON dan Pembinaan Berkelanjutan

Meski digelar dengan anggaran yang efisien, Dedi Mulyadi optimistis persaingan antar-kontingen tidak akan berkurang nilainya. Ia menjamin efisiensi anggaran tidak akan mengganggu semangat persaingan sehat maupun raihan target medali dari tiap-tiap daerah.


Lebih dari sekadar ajang perebutan medali di tingkat provinsi, Porprov Jabar 2026 diposisikan sebagai pondasi awal pembinaan atlet Jawa Barat menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Melalui seleksi yang ketat dan efisien sejak tingkat daerah, bakat-bakat terbaik Jawa Barat diharapkan dapat tersaring lebih maksimal.


“Kemudian pembinaan atlet Jawa Barat untuk mengikuti PON dapat dimulai sejak pelaksanaan Porprov Jawa Barat. Itu saja,” kata Dedi.


Dengan sinergi antara Pemkot Bekasi, Pemkot Bogor, KONI Jawa Barat, serta dukungan sektor swasta dan pusat perbelanjaan, Porprov Jabar 2026 diharapkan menjadi tolok ukur baru penyelenggaraan pesta olahraga daerah yang berprestasi, efisien, dan adaptif terhadap kondisi ekonomi.