Sajak - Sajak TS. Sumpena
Oleh TS. Sumpena    Jumat, 28 November 2008 02:35    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Serba Serbi - Puisi
TS. Sumpena
 
EPISODE 1
 
Menghapus kelam dengan
Kesendirian yang mengerak di hati.
Lewat desir angin
Lagu tak ubahnya orkesta tanpa partiture 
Mengaduh tentang kemerdekaan pun kematian
Dan lapar jiwa mengering di jantung malam
ketika udara membesi
Di tengah tarian para peziarah
Yang hilang arah.
Lalu dunia menyusut
Dan matahari mendekat
Membakar serta meninggalkan serpihan luka.
 
: Aku menghisap saripati bumi.
  Sambil menanti jeda usia.
 
 
2007


 
 
TS. Sumpena
 
DI KAFETARIA
 
Mencoba menggadaikan jiwa
Pada sebatang kejenuhan saat bicara
Di secangkir kata yang tumpah
Di kursi kafetaria.
 
Di udara dingin lagu-lagu mengalir
Dan di matamu menggenang danau
                                                Kesedihan.
 
Di pucuk tahajud, malam menampar sepiku.
Kekasih, jangan bersembunyi di.
Jubah agungmu!
 
Aku tetap mencintaimu
Dengan segelas anggur merah
Warisan gundah.
 
 
2007
 
TS. Sumpena
 
ASMARANDANA
 
Dari mataku mengalirlah
Sungai keresahan
 
Dan hari ini
Tidak menjanjikan apapun,
Selain bisu yang menoreh langit tembaga
 
 
2007
 
TS. Sumpena
 
KULIPAT LELAH DI RUANG TAMU
 
Menggedor langit.
Bulan, bintang saling curi pandang.
Meregang syahwat.
Mewarisi cerita, sekerat cinta.
Menjadi gairah tanpa napsu.
Lantas puisiku beterbangan di kehampaan
 
Kemudian kulipat lelah di ruang tamu.
Kucium aroma kematian
Di lembaran-lembaran koran pagi,
Lalu kubasuh resah di secangkir kopi
Menunggu malaikat  datang menepi.
 
Akulah penyair yang kehilangan makna kata
Luka kian berkarat
Ketika di luar udara berlari kian cepat.
 
 
2007
 
 
 
TS. Sumpena
 
TAFAKUR
 
Kekosongan mencukuri tapakur pohonan
Mewarisi luka tanah retak
Ketika matahari dipuncak kemarahan
 
Dan aku bicara sepi pada sunyi
Di situ syair ketenangan bernyanyi
Mari  jadikan tarian Rumi,
Agar kemenangan menjelma pagi!
 
Wahai angin aku rindu dekapmu
Sebab kehangatan tidak menjanjikan senyum
Selain makna kelam.
 
 
2007
 
 
 
 
TS. Sumpena
 
TASIKMALAYA
 
Di sore bergincu tembaga
Aku mengetuk pintu waktu dan
Puisi terbawa nyanyian mega mega
Sementara  kunang kunang bersemedi
Di rambut sunyi.Akupun hilang kata kata
Ketika napas kota tersenggal  pesta-pora
 
Mataku  panah  bianglala
Yang menawarkan cinta coca cola
Membelah dada disepanjang trotoar jalan
Malaikat kecil dalam gendongan
kumpulkan recehan di jalan pembangunan
 
Di bawah monumen tanpa kepala
Batin tercabut luka rumput,lupa diri mengabdi,
Retorika tumpah dimeja meja da’wah
 
Budaya tinggalkan sejarahnya
Seperti sediakala
Bianglalapun tapakur di kota ujur
 
Manakah kepala dan tanganku
Teriak batu!
Padahal telah kutatah harapan!
Kucangkul kemiskinan!
 
Aku  hanya segelintir pasir di monumen yang terusir.
 
 
2007
 
 
 
TS. Sumpena
 
SOLILOQUE
 
Sambil menulis puisi di langit
Dingin kulipat di segelas kata
Kesadaran terlempar ke masa silam
 
Seperti biasa, akupun
Terjebak luka.
 
2007
 
 
 
TS. Sumpena
 
SAJAK LUKA
 
Mengeja usia di riak ombak
Tertulis bait sejarah ikan-ikan
Lalu nasib dialirkan  sungai.
Saat daun-daun kelapa memanah mata senja,
Seperti pasir aku terusir
Angin menikam dingin.
 
Tanah membakar malam
Dengan serpihan kelam
Batu karang terluka sayap kelelawar
Dimana cakrawala menawarkan papa
Dan puisiku pecah di peluh buih.
 
2007
 
 
TS. Sumpena
 
MENJADI HUJAN
 
Membelah isyarat langit
Kupeluk sawah-sawah keyakinan dengan bajak hatiku
Lalu membiarkan mimpi mencuri kemarau
Membaca daun-daun,mengeja ranting, dan pohonan
                                                Adalah aku yang menjadi
                                                hujan di kesabaran angin       
 
 
2007
 
TS. Sumpena
 
GURINDAM
Bumi  menyusut dibalut kabut
Ketika gerimis mengetuk pintu malam
 
Mimpi terusir di lelap tidur
Lalu aku memuisi di kedalaman sunyi
 
 
2007

TS. Sumpena
 
MENGEJA NAMAMU KEKASH!
 
Meninggalkan jejak di resah aspal
Membaca angin sehabis bertaruh
Kejenuhan tadi siang
 
Bulan separo menusuk mataku
Dan sunyi semedi di suluk malam
Tak ada lagi penghianatan sepi
Ketika dingin mengisi waktu
 
Segala tanya terurai di cakrawala
Mengembara menembus sukma
Tapi kau masih sembunyi. Kekasih!
 
Aku membeku di kesabaran batu
Lalu  gerimis menyeretku ke masa lalu
 
Sebelum malam berakhir
ingin kualirkan mimpi ke sungai
Mengeja namamu. Mengeja namamu
 
Kekasih!
 
 
2007
 
 
TS. Sumpena
 
KOTA KEDUA
            Buat: Bode Riswandi
 
Aku terbenam di catatan silam
Ketika segerombolan awan mengutuk langit
Lalu hujan menusuk napas cakrawala
Diantara bianglala yang melukis senja
 
Dari balik jendela aku melihat
Deretan albasiah berlarian
Mengejar jejak kenangan, lalu
Angin basah mengelus resah
Saat sejuta kunang kunang 
Mencuri cahaya bulan setengah hati
 
Demi kotamu, kekasih!
Kutelan sepi, pun kegetiran malam
Lalu labirin di hati senantiasa memimpin dingin
Dan aku mengabadikan  kelam di tapakur bebatuan 
Lantas memuisi di pipi sunyi
 
Serupa halimun kau memeluk gunung dan bukitan
Mengekalkan petobatan rumputan 
Saat peristiwa mengepung masa
Kualirkan kesabaran di sungai dan
Semadiku terperangkap muara luka
Lalu  musnah ditelan keliaran samudra
 
Kulesatkan panah rindu,ketika embun jatuh di beranda jiwa
Tahajudku abu pada bebatu sementara sihir malam
Membimbingku menuju ke kedalaman kelam
Dan seperti  biasa puisiku berhamburan di kehampaan 
 
Demi kotamu, kekasih! 
Kutanam  padi di sawah batinmu
 
 
2007
 
 
 
TS Sumpena
 
BLUES  KEKOSONGAN
 
Di pucuk  bambu angin membentuk tarian
Matamu berkarat luka rakyat
Kegelisahan membangun keliaran
Manuskrip pemberontakan
Tertata rapi di syair syair kekosongan
 
Di tegukan ke tiga secangkir teh                                       
Aku membeku 
Desau itu masih seperti kemarin
Tidak menjanjikan apapun
Selain melemparkanku ke sunyi sunyi terdahulu
Lalu kunyanyikan kelam,
sambil menjebak biduan dangdut
Demi meredakan dendam
 
Ketika kata tidak mampu lagi meredam sepi
Puisimu menjadi mimpi, serupa sapuan kuas di serat kanvas
Benarkah  kebeningan kata dan warna tersimpan makna?
 
Ah ! ternyata kita  masih terjebak luka !
 
2007
 
 
TS. Sumpena
 
MELUKIS SENJA
 
Senjaku mengalir di sungai getir                                              
Serupa puisi yang sulit unruk di pahami
Duka terbawa ikan ikan ke samudra
Ketika rumput berdzikir di semadi batu batu
Lalu aku kepalkan tangan meninju riaknya
Di situ ada sisa pertaruhan usia
 
Demi membangun sisa embun yang bertengger di ranting pagi
Simpan  harapanmu di bukit bukit, gunung gunung, lembah lembah
Sebab angin tidak menjajikan apapun selain kegetiran
Trotoar, kolong jembata, statsiun, terminal,
Rumah pelacuran bahkan  tempat peribadatan
 
Kubur saja luka itu di pusara cakrawala
Sebab kelam sudah tidak mau menampung jejak penziarah,
 
Aku  mencuri sepi padang rumput
Berharap  mengerti pertobatan tanah yang kehilangan ranah
Lalu kulesatkan panah menembus lusuh
Diburu waktu yang kian menderu
 
Diantara sunyi kau menjelma luka yang kian menganaga 
 
Senjaku mengalir di sungai grtir
Serupa puisi, begitu sulit untuk dimaknai                                                                   
Berharap duka lari dari ulu hati
Malam menghianati kelamnya
Peluh subuh membangun pertrobatan masa lalu
 
Kabarkan bahwa aku telah sampai
Walau dengan langkah gontai
Sungguh pahit memaknaimu
Hanya senja ini yang bisa memahami keagunganMu
 
 
 
2007
 
 
TS. Sumpena
 
 A.D
 
dik! seperti kemarin cerita mengendap itu
Kita lalui dengan meninggalkan pecahan makna 
Udara kesedihan, kemarahan, dendam dan gelisah
sering kaususun dalam bayangan kelam lalu
‘ menyusuri kota pahlawan yang lelap dengan cahaya gemerlap
 
dik! seperti kemarin malam menangis ketika
Pagi menerobos jendela, menebar kehangatan yang jatuh bersama sisa peluh
Angin, daun, ranting dan  pohonan menusuk tanah
Lantas kita mengembara sambil menggauli matahari lalu
‘ menyusuri kota yang terbangun dari kelelahan malam tadi
 
dik! seperti kemarin sunyi itu tetap bau bacin diantara selangkanagan hari
ku curi mimpi itu dengan sunyi hati
dan jangan lupa dik!
Sampaikan salamku rokib dan atib, sebab  janji  tidak mugkin dipungkiri.
 
Di detak  jam kutitipkan harapan yang panjang

 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.