TS. Sumpena EPISODE 1 Menghapus kelam dengan Kesendirian yang mengerak di hati. Lewat desir angin Lagu tak ubahnya orkesta tanpa partiture Mengaduh tentang kemerdekaan pun kematian Dan lapar jiwa mengering di jantung malam ketika udara membesi Di tengah tarian para peziarah Yang hilang arah. Lalu dunia menyusut Dan matahari mendekat Membakar serta meninggalkan serpihan luka. : Aku menghisap saripati bumi. Sambil menanti jeda usia. 2007
TS. Sumpena DI KAFETARIA Mencoba menggadaikan jiwa Pada sebatang kejenuhan saat bicara Di secangkir kata yang tumpah Di kursi kafetaria. Di udara dingin lagu-lagu mengalir Dan di matamu menggenang danau Kesedihan. Di pucuk tahajud, malam menampar sepiku. Kekasih, jangan bersembunyi di. Jubah agungmu! Aku tetap mencintaimu Dengan segelas anggur merah Warisan gundah. 2007 TS. Sumpena ASMARANDANA Dari mataku mengalirlah Sungai keresahan Dan hari ini Tidak menjanjikan apapun, Selain bisu yang menoreh langit tembaga 2007 TS. Sumpena KULIPAT LELAH DI RUANG TAMU Menggedor langit. Bulan, bintang saling curi pandang. Meregang syahwat. Mewarisi cerita, sekerat cinta. Menjadi gairah tanpa napsu. Lantas puisiku beterbangan di kehampaan Kemudian kulipat lelah di ruang tamu. Kucium aroma kematian Di lembaran-lembaran koran pagi, Lalu kubasuh resah di secangkir kopi Menunggu malaikat datang menepi. Akulah penyair yang kehilangan makna kata Luka kian berkarat Ketika di luar udara berlari kian cepat. 2007 TS. Sumpena TAFAKUR Kekosongan mencukuri tapakur pohonan Mewarisi luka tanah retak Ketika matahari dipuncak kemarahan Dan aku bicara sepi pada sunyi Di situ syair ketenangan bernyanyi Mari jadikan tarian Rumi, Agar kemenangan menjelma pagi! Wahai angin aku rindu dekapmu Sebab kehangatan tidak menjanjikan senyum Selain makna kelam. 2007 TS. Sumpena TASIKMALAYA Di sore bergincu tembaga Aku mengetuk pintu waktu dan Puisi terbawa nyanyian mega mega Sementara kunang kunang bersemedi Di rambut sunyi.Akupun hilang kata kata Ketika napas kota tersenggal pesta-pora Mataku panah bianglala Yang menawarkan cinta coca cola Membelah dada disepanjang trotoar jalan Malaikat kecil dalam gendongan kumpulkan recehan di jalan pembangunan Di bawah monumen tanpa kepala Batin tercabut luka rumput,lupa diri mengabdi, Retorika tumpah dimeja meja da’wah Budaya tinggalkan sejarahnya Seperti sediakala Bianglalapun tapakur di kota ujur Manakah kepala dan tanganku Teriak batu! Padahal telah kutatah harapan! Kucangkul kemiskinan! Aku hanya segelintir pasir di monumen yang terusir. 2007 TS. Sumpena SOLILOQUE Sambil menulis puisi di langit Dingin kulipat di segelas kata Kesadaran terlempar ke masa silam Seperti biasa, akupun Terjebak luka. 2007 TS. Sumpena SAJAK LUKA Mengeja usia di riak ombak Tertulis bait sejarah ikan-ikan Lalu nasib dialirkan sungai. Saat daun-daun kelapa memanah mata senja, Seperti pasir aku terusir Angin menikam dingin. Tanah membakar malam Dengan serpihan kelam Batu karang terluka sayap kelelawar Dimana cakrawala menawarkan papa Dan puisiku pecah di peluh buih. 2007 TS. Sumpena MENJADI HUJAN Membelah isyarat langit Kupeluk sawah-sawah keyakinan dengan bajak hatiku Lalu membiarkan mimpi mencuri kemarau Membaca daun-daun,mengeja ranting, dan pohonan Adalah aku yang menjadi hujan di kesabaran angin 2007 TS. Sumpena GURINDAM Bumi menyusut dibalut kabut Ketika gerimis mengetuk pintu malam Mimpi terusir di lelap tidur Lalu aku memuisi di kedalaman sunyi 2007
TS. Sumpena MENGEJA NAMAMU KEKASH! Meninggalkan jejak di resah aspal Membaca angin sehabis bertaruh Kejenuhan tadi siang Bulan separo menusuk mataku Dan sunyi semedi di suluk malam Tak ada lagi penghianatan sepi Ketika dingin mengisi waktu Segala tanya terurai di cakrawala Mengembara menembus sukma Tapi kau masih sembunyi. Kekasih! Aku membeku di kesabaran batu Lalu gerimis menyeretku ke masa lalu Sebelum malam berakhir ingin kualirkan mimpi ke sungai Mengeja namamu. Mengeja namamu Kekasih! 2007 TS. Sumpena KOTA KEDUA Buat: Bode Riswandi Aku terbenam di catatan silam Ketika segerombolan awan mengutuk langit Lalu hujan menusuk napas cakrawala Diantara bianglala yang melukis senja Dari balik jendela aku melihat Deretan albasiah berlarian Mengejar jejak kenangan, lalu Angin basah mengelus resah Saat sejuta kunang kunang Mencuri cahaya bulan setengah hati Demi kotamu, kekasih! Kutelan sepi, pun kegetiran malam Lalu labirin di hati senantiasa memimpin dingin Dan aku mengabadikan kelam di tapakur bebatuan Lantas memuisi di pipi sunyi Serupa halimun kau memeluk gunung dan bukitan Mengekalkan petobatan rumputan Saat peristiwa mengepung masa Kualirkan kesabaran di sungai dan Semadiku terperangkap muara luka Lalu musnah ditelan keliaran samudra Kulesatkan panah rindu,ketika embun jatuh di beranda jiwa Tahajudku abu pada bebatu sementara sihir malam Membimbingku menuju ke kedalaman kelam Dan seperti biasa puisiku berhamburan di kehampaan Demi kotamu, kekasih! Kutanam padi di sawah batinmu 2007 TS Sumpena BLUES KEKOSONGAN Di pucuk bambu angin membentuk tarian Matamu berkarat luka rakyat Kegelisahan membangun keliaran Manuskrip pemberontakan Tertata rapi di syair syair kekosongan Di tegukan ke tiga secangkir teh Aku membeku Desau itu masih seperti kemarin Tidak menjanjikan apapun Selain melemparkanku ke sunyi sunyi terdahulu Lalu kunyanyikan kelam, sambil menjebak biduan dangdut Demi meredakan dendam Ketika kata tidak mampu lagi meredam sepi Puisimu menjadi mimpi, serupa sapuan kuas di serat kanvas Benarkah kebeningan kata dan warna tersimpan makna? Ah ! ternyata kita masih terjebak luka ! 2007 TS. Sumpena MELUKIS SENJA Senjaku mengalir di sungai getir Serupa puisi yang sulit unruk di pahami Duka terbawa ikan ikan ke samudra Ketika rumput berdzikir di semadi batu batu Lalu aku kepalkan tangan meninju riaknya Di situ ada sisa pertaruhan usia Demi membangun sisa embun yang bertengger di ranting pagi Simpan harapanmu di bukit bukit, gunung gunung, lembah lembah Sebab angin tidak menjajikan apapun selain kegetiran Trotoar, kolong jembata, statsiun, terminal, Rumah pelacuran bahkan tempat peribadatan Kubur saja luka itu di pusara cakrawala Sebab kelam sudah tidak mau menampung jejak penziarah, Aku mencuri sepi padang rumput Berharap mengerti pertobatan tanah yang kehilangan ranah Lalu kulesatkan panah menembus lusuh Diburu waktu yang kian menderu Diantara sunyi kau menjelma luka yang kian menganaga Senjaku mengalir di sungai grtir Serupa puisi, begitu sulit untuk dimaknai Berharap duka lari dari ulu hati Malam menghianati kelamnya Peluh subuh membangun pertrobatan masa lalu Kabarkan bahwa aku telah sampai Walau dengan langkah gontai Sungguh pahit memaknaimu Hanya senja ini yang bisa memahami keagunganMu 2007 TS. Sumpena A.D dik! seperti kemarin cerita mengendap itu Kita lalui dengan meninggalkan pecahan makna Udara kesedihan, kemarahan, dendam dan gelisah sering kaususun dalam bayangan kelam lalu ‘ menyusuri kota pahlawan yang lelap dengan cahaya gemerlap dik! seperti kemarin malam menangis ketika Pagi menerobos jendela, menebar kehangatan yang jatuh bersama sisa peluh Angin, daun, ranting dan pohonan menusuk tanah Lantas kita mengembara sambil menggauli matahari lalu ‘ menyusuri kota yang terbangun dari kelelahan malam tadi dik! seperti kemarin sunyi itu tetap bau bacin diantara selangkanagan hari ku curi mimpi itu dengan sunyi hati dan jangan lupa dik! Sampaikan salamku rokib dan atib, sebab janji tidak mugkin dipungkiri. Di detak jam kutitipkan harapan yang panjang
|