| 10 SAJAK ASSYAFA JELATA | ||||
|
| Serba Serbi - Puisi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
OPOSISI KURA-KURA DI PULAU KOMODO - - - Mengenang April 2010 berdarah (Tanjung Priuk) Satu per satu komodo hilang ditelan sunyi Saat cicak kecil coba mengkadali buaya Dalam keadaan yang tak menguntungkan bunglon berkamuflase Lalu tokek suaranya menggema di hatiku dan hatimu Diam-diam pemburu mati tersesat Nafas terakhirnya singgah di pohon tumbang Kabar baik melata pada seisi rimba Membelai ilalang lebat berkarat Saat malam nanti bintang-bintang cahayanya singgah di daun ketapang Pertanda pesta kemenangan koalisi ular kepala dua Sebab oposisi kura-kura lambat berjalan di pinggir sungai Yang congkak di tanah retak Yang teriak hingga serak Yang sesak yang terinjak Aku bertanya padamu Kau bertanya pada mereka Mereka bungkam dalam tanya Ada apa di negeri ini? Perkasa, nyanyianmu menelan tangis mereka Dalam hentak fuga kau berjaya Saat genderang perang berbunyi gamang Lalu, kau menjelma menjadi pemburu baru Pada putar jarum arloji belantara : Berburu atau diburu? - - - Meretas nafas kami Serang, 16 April 2010 KATA-KATA KOSONG Nol sama dengan kosong Isinya bolong melompong Mereka para cukong Berkoar terus menggonggong Sementara wajah kita seperti si bagong Karena nasib semakin gerong Terdengar bunyi perut mengkeroncong Mereka hanya berkata “tang teng tong” Sebenarnya siapakah yang merongrong Apakah negara ini mirip lubang gentong Ini bukan cerita bohong Ini bukan omong kosong Semakin banyak kongkalikong Seperti warung lontong Kata-kata tanpa makna Semakin jauh dari fakta Samarkan sesuatu yang nyata Jelas sudah di dalam dunia Kita merasa menderita Mereka hanya tertawa Kita sedang terlunta-lunta Di tengah senyum dewa durjana Sampai kapankah ini harus terjadi Kehidupan seperti dimanipulasi Tak bisakah mereka membedakan mana yang hakiki Karena rasa dijajah duniawi Iblis dan setan terus saja tertawa Sebab manusia jadi temannya Mereka terjebak oleh noda dan dosa Siksa menanti di ujung neraka Serang, 2010 MANIPULASI Pohon-pohon kemunafikan Daunnya berdebu dan berkarat Tangkainya penuh duri Tumbuh berbunga dosa Berakarkan keserakahan Disirami dengan airmata korban Tunas luka kini telah nampak Menyembul didera kepongahan Serang, Januari 2010 ORASI SAMBAL TERASI Kritikan pedas hanya sampai di teras Sebab di alas banyak binatang buas Peringatan keras teruntuk hati yang was-was Patung termenung pada negeri yang murung Asa melengkung di atas panggung Awan mendung selimuti bianglala buntung Kami teriak hingga suara serak Di tanah congkak kami jadi badut kocak Tuan menatap cagak dan tertawa mengakak Laksana nelayan menbakar sampan di lautan Nasib kami ditertawakan, hidup kami jadi guyonan Tidur pulas kini tuan setelah saksikan pentas dagelan Serang, 2010 PAGANISME Panasnya amuk lahar keserakahan Leleh menjadi ambisi keduniawian Terucap sampah demi kenikmatan Mantra-mantra berserakan Manusia tenggelam dalam lumpur kesesatan Tuhan Sang Pencipta, Tuhan dilupakan Digantikan dengan kilau kefanaan Kabut hitam menutupi keadaan Sembah harta, sembah kuasa Mereka cinta dunia Manusia sembah berhala Yaaa harta, yaaa kuasa, yaaa cinta dunia Satu rasa, satu jiwa Kini lekat di dada Mereka cari wujudmu wahai harta Mereka raih kursimu wahai kuasa Serang, 13 Januari 2010 STANZA SAJAK Hanya kata yang berwarna jingga Berbuah menjadi makna Menggelayut di dahan hati Gugurkan dedaun sepi Dalam kepalaku burung telah bernyanyi Bersarang kemarin hari Bertelurkan sajak Di bawah tanah meretak Serang, 2010 PROSTITUSI Sebab kini remang telah tertuang Pada gelas di pojokan kota Asyik kau mereguk dosa Yang sejenak hangatkan badan Dalam malam tidak bercahaya Terdengar celoteh tawar-menawar Bunga plastik, harum buatan Tersekap pada pot di atas meja hidangan Menu siap saji nikmat kau santap Senggamai waktu jadi kelabu Dalam lapar nuranimu terkontaminasi Kaburkan tatapan matahati esok nanti Serang, 2010 NYANYIAN TRAVESTI _ _ _Humpimpah Pasar tumpah lukisan rakyat susah _ _ _Alaihum Kasta trapesium di negeri medium _ _ _Gambreng Harta mentereng nama ditenteng _ _ _Bandi-bandi Lagi-lagi kami mencari _ _ _Ketiban jadi Sebab tadi mereka mencuri Serang, 2010 MAFIA HUKUM Menjaring pencuri mendapatkan penipu Pada dangkalnya gelombang hikayah Kau menjelma hantu di danau Saat kita bercermin di air keruh Fakta-fakta telah kau bekukan Dikunci dalam lemari pendingin Kini hati kami telah menggigil Jalani waktu dalam kutub kegalauan Sudahlah, simpan saja palu itu di ketiakmu Untuk nanti kau ketuk pada kemaluanmu Agar kau mengerti apa makna keadilan Yang saat ini tinggal kata dan piagam Wajah hukum kini telah dipalsukan Ditutupi dengan topeng kemunafikan Yang salah jadi benar, kenyataan dikontaminasi Timbangan itu kini telah rusak Serang, 2010 SEBAB JUBAHMU DARI KERINGATKU : Kini kau lukis istanamu pada kening hari Di dindingnya kau pasang kawat berduri Tiangnya kokoh berpancang baja Lantainya mengkilap dilapisi serat khayal Pada palatum ada lampion menyala-nyala Namun jendela yang kau punya buta dan tuli Di halaman pun ada sungai yang mengalir airmataku Lengkap dengan kebun yang kau tanam pohon ketamakan Akarnya menjalar tutupi matahati Lalu di tanahnya kau sebar beling-beling tajam Yang kini telah lukai langkah kakiku Saat kumencoba sirami bunga asa di halaman gubukku Saat itu pula kau duduk manis di kursi bertahta Merenda jubah dengan benang merah Hasil dari saripati keringatku Serang, 2010 ***** Assyafa Jelata, lahir di Serang – Banten pada tanggal 22 Oktober 1985, bergiat pada komunitas untuk perubahan budaya (Kubah Budaya).
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








