| Puisi-Puisi Fitrah Anugerah | ||||
|
| Serba Serbi - Puisi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Terminal Oso Wilangon Senja di pinggir kota gariskan mata duka ibu mencoret langit biru kibarkan umbul-umbul jingga perayaan buat anak yang terikat janur kuning di pemberhentian. Surabaya,23092009 Bulan Di Awal Bulan Lebaran Bulan berselimut bubuk putih salju tersimpan dalam toples plastik kaca kanak-kanak berbaris termangu melihat ibu menjilati wajah bulan "inilah hari kemenangan buatmu" kata ibu kanak-kanak berebut serpih bubuk putih di gigi ibu sedang bulan telah ditelan ibu dalam rahimnya. Surabaya, 21072009 Keganjilan Malam Keganjilan malam adalah hasratku menebas bulan terpecah jadi 1000 pecahan hingga kau terbangun dari tidur lalu ke luar rumah saat denting pecahan merusak mimpimu tapi kau masih sisakan lelap di ujung mata dan penglihatanmu kabur oleh debu pecahan kau pun melihatku berdiri di atas bukit layaknya panglima yang gagah berkilap pedang terkaget kau hingga menabrak pelepah kurma yang menyimpan burung-burung malam yang terbangun dan marah padamu lalu mematuki kepala dan isi kepalamu terganti ingatan tentang warna bulan dan merubahmu menjadi kucing Keganjilan malam adalah waktuku menebas bulan terpecah-pecah dan pecahannya kusimpan di kotak parcel hingga burung-burung malam memburunya tapi aku timpuk kepalanya dengan pecahan bulan mereka tersengat oleh kilap cahayanya menusuk mata muncratkan bercak-bercak darah di warna gelap langit kiranya jadi buta dan kesasar pada setiap pelepah kurma di bawah bukit bersembunyi di tiap ranting tapi di sana menunggu kucing-kucing tanpa bayangan kengerian hanya nanar pandangan Dan kudengar jerit-jerit burung tercabik kucing serasa pesta tanpa pendar lampu tapi aku ingin menyaksikan dan bersaksi buat kejadian itu bersama bintang-bintang yang belum tertidur namun bintang-bintang mengigil ketakutan dan berlari menjauh. Dan gelap aku ingin bersaksi lalu kuingat matahari tersimpan di balik langit ku katakan padanya tentang bulan yang kutebas terpecah-pecah tapi matahari tak mau keluar hingga kuharus tebas ujung langit munculkan keluar matahari pun beringsut keluar dan menenggak berliter air laut Itukah air yang berubah kembali menjadi embun menyirami amis hingga kucing-kucing berlarian mencari pecahan bulan yang tercecer kucing-kucing ketakutan kucing-kucing mau berlindung pada bulan sementara aku nyaris tak bergerak di dekap panas matahari menyaksikan kejadian dan mataku berubah mata burung berkembara mencari rumah tak terbayang bila malam nanti bulan akan menggenapkan malam. beribu kucing akan mengganggu mimpiku Bekasi, 11092009 Petasan Cinta Kata cintamu meletup di syahdu sahur. Laksana sebaris malaikat melepas petasan Di kerapatan malam. Pecah mengurai segenap unsur Yang membungkus birahi. Hingga ragaku berpeluh hangat mengingat sekejab kata yang terngiang. Tapi aku dalam rahim sunyi. Dingin waktu enggan melepas. Takkan ku bertanya sejauhmana kedatangan katamu. Sebab nabi pun terkaget mendengar letusan di depan pintu pertapaannya. "Iqro'" pesan cintamu terdengar seusai letusan. Terbayang kelahiran kembali di akhir kegelapan langit. Lalu jemari matahari akan merobek batas merah cakrawala. Oh aku akan terlahir dari rahim sunyi. Terlahir buat mencintai bumi yang telah kau bentuk. Bekasi,31082009 Malam-Malam Ketabahan apa hendak dikata bila bulan bergeser perlahan dari tempat kuberdiri sepertinya bosan dengan diamku dan tak kuambil ranting kering buat menarik bayang cahayanya sebab kilaunya pantulkan sunyi di sekujur kulit hanya desah nakal angin luruhkan daun-daun kering ini aku tak menangis untuk kehilangannya aku telah belajar ketabahan dari rintik hujan di malam hari yang menyimpan rinduku dari ujung kepala sampai matakaki bekasi, 11092009 Keroncong Sunyi Bila silau cahyamu sudahlah terbuka pintu akan tersembul lidah api pada waktu tak kutaksir... Kutahu segala pilar langit tertunduk terasa ini akhir tapi bukan akhir Dan bila lidah menjulurjulur menuju batas atsmosfir Kutahu sebentar lagi awan memecah hujankan sejuta titik panas pada rumah yang pernah kau singgahi Ah inilah akhir meski kau kata bukan saat terakhir. Hingga kusembunyi dalam inti sunyi. Dalam ruang tak kau pandang. Dan kutahu rumahku hangus, ragaku kering, kenanganmu terhanyut jalur api. Tapi jiwaku bersembunyi pada taman sunyi dan bernyanyi keroncong. Sesudah kau lelah dalam mencari aku... 10mei2008-10mei2009 Kali Malang 1 menguap nasib orang-orang pinggir kali pada langit hingga keringat kisahkan jauh jarak kesedihan terlampaui beramai orang-orang cuci baju, beramai cuci celana tapi hitam telah menembus raga' mematung di delik mata dan tangan ini mencelup dalam kali suci lalu mengusap wajah.kesucianmu tersebut. oh coba tengok kilau matahari di hitam kali. ah ternyata wajah mereka terhanyut amuk kali. Kali Malang 2 seperti wali menyusuri hidupmu setelah keluar dari pertapaan di atas rakit melihatmu terbujur diam bagai buaya menghitung alir waktu yang menuakan wajah hingga wali menyelam kedalaman diammu teramat abadi dan kanakkanak berlomba menuju kediamanmu menangkap mutiara dalam mulut kakumu tapi kau terlanjur diam dan setia alirkan rakit sang wali di tengah sungai dengan hembus wiridmu lihat orangorang berduyun menumpang rakit sang wali tapi rakit belum mau menepi, karena tak ada perayaan menyambut. lalu orangorang menjebur di tepi sungai memanggil buaya yang masih diam. menepuk-nepuk air hingga buaya murka dalam pertapaannya. lihat seribu buaya hampiri mereka namun mereka bersorak karena sang wali akan datang,sebentar lagi menumpangi rakit, menuju hulu sunyi. lalu berpeluk dalam gairah buaya. dengungkan tentang sungai yang memberi mereka abadi Bekasi, 20032008 Kubayangkan Surga Kubayangkan surga berangkat temuimu di senja hari. Dengan langkah tersuruk bagai langkah kereta yang kepayahan. Dan jejal ratusan keinginan penghuninya. Lalu engkau simpan surga pada cangkir kopi Sebab nanti malam engkau akan menghitung jarak surga-neraka. Bekasi, nov09 Selamat Sore Buatmu Sepi senja. Lebay jiwa. Pergi kereta. Mengejar surya. Tak terucap kata pisah. Tiket terbuang. Anganku sia-sia. Sebentar lagi kuterkapar. Dalam hampa telaga. Tiada mengenang. Hanya langit jingga bersaksi kelak. Bila kupernah tenggelam dalam airmata. Bekasi, nov09 Hikayat Kucing dan Anjing Aku melihat dia bagai kucing liar Menyeret-nyeret tubuh mudamu Lalu mencabik-cabik dalam kegelapan Dia pandai telah membaca lengahku Bagai anjing kesetanan, aku membentak pada dia. Dia lari aku kejar.Ah dia hanya pecundang. Pada sunyi mengendap-endap temui engkau Agar takut tajam taring pendeknya. Dan dia lari menuju ketiak pengasuhnya. Aku takut. Aku lunglai. Sebab wajah pengasuhnya ingatkanku pada kunti. Oh aku serupa anjing terkapar di pinggir pagi. Melihat tubuhmu telah dirobek dia. Darahmu akanlah mengering nanti. Kujilat-kujilati tubuhmu tetaplah kau kaku. Aku menjerit. Aku menggonggong. Rasanya telah keluar sumpahku. Akan membuat dia bertelanjang.Tak berbulu halus... Bekasi, 17nov2009 Ledakan Kebencian Meledak kebencianmu yang tersimpan dalam kaleng cat. Ah amarahmu yang semburat pada wajahku Dan plafon pikiranku terwarnai hitam cacimu Aku tahu lukamu sedemikian mengubah warna hidup. Hingga dendam, hingga relakan gelap mencampur, Putihmu telah mengelupas perih dari kesakitan tak berbalas. Dan meledak sudah meledak kebencian. Meninggalkan warna menawan dari senyummu. Terhapus suci airmata dan doa. Bekasi nov09 Kwetiauw Goreng Kusajikan sepiring kwetiauw goreng di meja Dengan sebaran repih-repihan hatiku dalam piring Hatiku yang kuambil dan kupotong-potong Lalu kumasak berbaur sulur kuning kwetiauw dan cuilan bawang merah+putih, garam, cuka, cabe, kaldu sapi dan lada. Dadaku bagai wajan penggorengan buat segenap bahan masakan Api kerinduan percepat mematangkan.Tercium aroma Yang akan membukakan pintu penjara dalam perutmu. Kau begitu menyukai.Melahap tandas setiap bagian Tanganmu telah menangkap diriku dan aku jinak depan mulutmu. Hingga kau jebloskan aku dalam penjara di perutmu. Tiada sanggup melepas. Tiada bisa melihat wajahmu Setelah menelan pedasnya diriku yang kau buang. Kau marah dan kau curahkan segelas air dingin dalam penjara. Tercurah penuh menggelontorku.Merendam pedasku Sebentar lagi kau melepasku dalam genangan air. Kau mau hanyutkan ku di sulur panjang aliran sungai. Bekasi, 17nov09 Jejak Cinta Dia hadjar berpeluh buat ismail. Berlari-lari pada gersang gurun. Shofa-Marwah. Kering Pasir pun kemilaukan terik matahari. Jadi saksi meski dikata fatamorgana. Itu hadjar membekaskan jejak tapak kaki. Tak ada duka.Tiada keluh. Keikhlasan menyertai. Peziarah mengikuti. Lihatlah peluhnya menjadi kolam cinta Buat ismail. Buat yang mau menjejakkan kaki Bekasi, nov09 LARON-LARON Kegelapan yang kubawa telah membaca cahaya menembus kelembaban bilik mata. Hingga sayapku terbentuk setelah kau kabarkan tentang sebuah rahasia keabadian mestikah kegelapan kutinggal dengan sunyi mengalunkan syair tentang pohon cahaya dan buah keabadian yang tumbuh di tanah kutukan? Tapi sayap ini farji menerbangkan birahi dari bilik lembab Aku mau lewati pintu kegelapan Kau meriuh menekan sunyiku Aku terbang mencari rahasia tersembunyi. Pohon cahaya dimanakah engkau? Aku silau telah masuki wilayah rahasia. Buah keabadian apakah aku telah merenggutnya? tubuhku berkejang panas, sayap-sayap berlepas. Jatuh.Aku jatuh... Pada telaga bening demikian kumelihatmu menjaga pohon cahaya.Dan sebentar lagi terjatuh buah keabadian dalam telaga bening Dan aku akan mati. Bekasi,15-oktober-2009 Rahasia Malam Pada malam yang penuh rahasia tak terduga Dan cahya bulan sembunyikan wajah matahari Kubaca 1000 kata rahasia di lembar gelap langit Dan satu-satunya bintang yang tersisa bawakan bangkai tikus yang tertikam nanar kucingMu Aku tahu. Aku tahu... Aku menemukan di dini hari saat angin lepaskan embun dari daun jatuh menimpa bangkai tikus. Menjadi suci. Dia menjadi suci. Bekasi, 04102009 Gempa di Hatiku Mulutmu menggempa di batas diammu. Menggaungkan maksud yang tak kumengerti. Dan lidahmu serupa tarian ular laut Cipratkan air pada mayat tsunami yang berjejer kaku Lalu terbukalah bibir merah perawanmu seperti mawar merah tercium semilir aroma kengerian. Kau kecupkan di telinga desis-desis kematian. Sekejab saja kau semburkan bongkah-bongkah bisa Pada lubang telinga. Meracuni sudut kesadaran. Aku limbung tak sempat berlari jauh Sebab tanganmu mendekapku Tangan yang membuat mengakhiri jerit di mulutku. Dan aku serupa tiang bendera. Tegak mengibarkan warna maut. Tertancap dalam pelukanmu Bekasi,03092009 Sajak Rujak Pepaya Seandainya depan rumahmu tumbuh pepaya. dan aku lewat depan pagar lalu kau memanggilku buat petik buah yang matang. Hingga kuambil pipa panjang buat petik buah dari tangkai Seandainya kau siapkan bumbu rujak secawan lalu kukelupas dan iris sebagian-sebagian. meleleh mata bukan karena rasa pedas namun ucapmu memintaku pertama cicipi. pepaya merah-rujak hitam, pepaya manis-rujak pedas. hati-hati kau perlakukan sebab sederet bagian adalah rasa laparmu hingga tergigit bagian keras. kau mencerca bila lunak tergigit terasa ingin menelan. kau tahu burung-burung mudah berkicau setelah memakan manis buah. sempat pula meleleh mata bila pedas mengiring lalu berdesis seperti ular yang terganggu tidurnya Kenapa sepiring bila kau ingin kenal pedas+manis, sedang matamu berikan isyarat agar aku tak mengiris lagi? rasanya hatimu tak mau berbagi meski kau ingin aku mengambil banyak pepaya. bekasi, 20092009 Wanita-Wanita yang Dicerai Suaminya Wanita-wanita yang dicerai suaminya bertanya pada matahari yang ketukan palu pada kepalanya. Tentang ingatannya yang lenyap terganti lingkaran waktu senantiasa menajam pada pandangan Lalu menuju pada senja yang kibarkan warna ungu menjadi pintu kemuraman dengan satu penghuni lenyap. meninggalkan pertanyaan pada bocah, " dimana bapak" Wanita-wanita yang dicerai suaminya bertanya pada bulan yang bangunkan birahi serigala kesepian lalu mencari jejak yang sudah ditinggal dan malam pantulkan bayang horor di dinding kusam. terbayang tanya bocah tak terjawab diiring lolong serigala. Wanita-wanita yang dicerai suaminya membuka pintu rumah di pagi, terkejut melihat nanar serigala rupanya dia telah bantai ayam jago "ibu itukah bapak" tanya bocah. dan kau tancapkan bendera di kepala serigala kau ingin serigala kabarkan dukamu pada bukit yang menyimpan bulan dan matahari. Bekasi, 06092009 Jampi Pelet Di malam setelah bintang menyimpan keberuntungan. Dan kabut berundakundak menjangkau bulan. Engkau pun menaiki setiap tangga menuju pesanggrahan sang gagak. Setelah dia menyambar jiwa di senja yang berwajah api. Malam ini dituntaskan upacara gaib. Dengan 7 rupa kembang dan darah ayam yang patah hati dalam belanga perak. Engkau dengungkan mantra pemanggil sang gagak di pertemuan rahasia. Terasa bergumpal seluruh dendam dan keinginan dalam air belanga. Bergumpal memecah wangi 7 kembang dan amis darah. Engkau merindukan dia sang gagak dalam gumpalan yang membumbung di awang-awang pesanggrahan. Engkau telah terperangkap dalam rengkuh gagak. Dia membawamu pada pekat rimbun kabut. Lalu rebahkan jiwa pada meja bergambar penyihir negeri musa. Dan jiwamu terpotong-potong dalam repihan. Gagak bersorak. Gagak berkoak. Lalu mematuk repihan-repihanmu. Berisi dendam dan keinginan. Terlihat bolamatamu yang telah dicungkil. Meresap keinginan pada bulu sayap gagak, dan dendam di bulu ekor yang tak pernah luruh. Hingga dia menerbangkan di atap-atap rumah. Kengerian bagi telinga bayi dan cemas buat wajah berkerudung kain putih. Malam ini dan malam ini akan tuntas bagian akhir upacara. Gagak merontokkan bulu bagai tetes hujan meresap di tanah bolong. Menanamkan dendam dan sejuta keinginanmu. Lalu berdiam pada ruang yang tak terintip waktu. Hingga menjadi pohon berbuah khuldi dan ranting bagai sulur lidah ular. Dan gagak berumah di dedaunan, melihat engkau yang telah mengambil rusuk perawan lalu kau simpan di pohon itu. Dan malam ini, engkau tak akan sepi karena ada orang-orang terjaga mencari rusuk yang hilang. Sedang engkau tahu rusuk itu telah dibawa gagak terbang. Dan engkau mendapat upah: sebuah khuldi buat sarapan pagi bekasi, 21052009 Janda Kembang Pantai Utara Sudah lama dia terpaku pada lanskap pantai Pantai yang mengingatkan seorang lelaki Dari pelayarannya membawa ikan tanpa daging Hanya kepala, tulang, dan ekor. Di surut pantai dia rindukan lelaki kuat yang menimba air dalam sumur berbau pesing Lalu sirami kembang yang penuh tahi kucing Layaknya perawan, dia ingin ciumi mekar kembang Sebentar lagi ada pesta buatnya di depan latar Dan penghulu tak perlu repot sediakan alasan sebab sang lelaki kuat telah gantungkan ikan tanpa daging di atap panggung. Yang menghadap pantai Dia akan bergoyang kembali di atas panggung bergoyang buat ribuan kucing yang terpana pada ikan tanpa daging. tapi kucing-kucing tak mau berlepas dan bergoyang dengannya. Sebentar lagi ada kesakitan Kesakitan saat tangan pegang duri ikan. dia menjerit. darah tertetes tapi dihisap arus purnama di atas pantai. Cucuran ratap timpa resah kucing. kucing terbirit lari. kucing tahu akan ada pasang dari jerit tangisnya. Pasang hilangkan lelaki kuat. Ternyata lelaki kuat telah karam: pada karang sunyi Punggung tertoreh lukisan ikan. Dan hiu bisikan di telinga "pergilah kau di pagi hari. ada yang menunggumu" dan jadilah lelaki itu sebuah ikan tanpa daging. Hanya kepala, tulang, dan ekor. Lalu pagi yang masih malu-malu, dia melambai-lambai Pada setiap pelayaran yang singgah di pantai. Telah lama dia berdiri tegak menyanggah malam dan kesakitan menggumpalkan pasir pada kaki-kaki. Dan kau lelaki kuat rupanya angin pantai kabarkan bau amismu. Bekasi, 16052009 Ikan Asin Di kelengangan aku menemui dia. Tiada permisi menawariku cacing yang tergantung ujung kail. Aku menerimanya.Aku memakannya. Pada mulut tak bisa diam mencecap rasa tawar. "Tunggu dulu.Jangan bergerak bila tak ingin mulut robek" serunya girang dan tangan menarik senar. Bibir tersenyum,sebentar lagi datang kucing menjilati lendir.Rupanya sudah lama kumis kucing tegak saat melihat kelebat baju perak yang kupakai. Dia lihai mainkan kumis kucing.Dia lincah tusukan ujung kumis dalam kulitku."Kulitmu berlapis perak dan kulitmu kulepas satu persatu,kuganti kulit garam"bisiknya di telinga tapi tahukah aku telah megap-megap tertikam tajam kumis. Sebentar lagi badan tersayat-sayat lalu dia selipkan gumpal garam. "Kau tahu arti kepalsuan itu. Kau tahu segumpal garam cukup buatmu berubah" ujarnya. Tubuh menjadi kering ditonton lalat yang datang ucapkan selamat karena aku telah menjadi bagian mereka.Tapi aku jauh dari kelengangan dan kilap matahari merajam lenggangku. Semakin ku terlupa pada baju awalku. "Inilah kemurnian. Inilah upacara menikam lenggangmu.Kau terperangkap di keinginan matahari atas kesalahanmu" serunya lalu dia tengadah di hadap langit."Kupersembahkan buatMu sang pesakitan. Jangan Kau turunkan hujan.Sebab dia ku letakkan di atas papan" Dan aku terjemur di atas papan kayu, tertangkap matahari yang sudah lama mengintip gerakku. Bekasi,11052009 Nurcahyani VII Sunting aku, Nurcahyani. Meski belum tuntas kau bermesraan dengan malam. Dan tak banyak kuambil nyala siang. Pada pesanggrahan, yang terjemur baju pengantin. Dan tersemat kupu-kupu merah yang masih basah. Bersulam janur kuning di pintu. Kau pun berkerudung putih pagi. Sedang aku berpeci hitam burgundy. Dengan cara sederhana dan harus sederhana. Mesti wajah orangtua ditempel di dinding kamar pengantin. Sekali waktu disapa aroma kembang yang tumbuh dalam kamar. Seperti menyapa penghulu yang kesepian di luar pagar. Aku akan menyuntingmu di pagi ini, Nurcahyani. Sebab mana mungkin menjauh darimu. Sedang kau telah merajut gambar kelaminku di kain hijau. Di malam itu. Lalu kau selimutkan kain di kasur tebal. Jika begini aku akan pasang lampu 100 watt dalam kamar pengantin. Dan bila kau nyalakan saklar. Kau tahu aku telah duduk di pinggir kasur. Lalu kanak-kanak bersiul di luar kamar. Kau pun malu-malu seperti perawan diterpa purnama ke-7. Jika nanti penghulu sandingkan kau dengan aku di pinggir kasur. Aku rindukan perkataanmu. Perkataan yang membuatku susuri selimut bergambar kelaminku... Bekasi, 23052009 Terminal Di bawah atap seng, kau tertidur bangku panjang Dengan mata menyipit, samar warna lampu memekat Tapi cemas selimutkan penantian, laksana mayat menunggu berangkat Dalam endap malam, kau bisa mendengar Empat lelaki berperut buncit duduk melingkar Membanting kartu, lalu duka pengamen dentingkan pelan gitar Dan ibu gendut yang usai gendong bayi lalu duduk mendengkur... "Di sini, kita akan menjadi kupu-kupu, Anak muda" kata lelaki berperut buncit. Tapi pengamen terisak, teringat bis terakhir Airmata menggelinding di lembab lantai.Menyala. silaukan mata empat lelaki perut buncit dan kau. "Cuma ini yang tersisa. Bapak" seru pengamen Mereka memungut airmata sebelum kecoa menghisap Dikumpul di bekas koran pagi. Lalu siapkan lilin di tengah lingkaran. Bertaruh di tiap airmata yang menjadi kupu-kupu di hari pagi Dan malam menyimpan rahasia itu dalam atap terminal dan dengkur bis. Kau pun ketakutan pada bayang kupu-kupu di atap bis yang tidur bagai wajah mayat jelang pekuburannya Rasanya kau harus kaburkan arah tujuan. Sebab kupu-kupu akan merayu empat lelaki perut buncit Torehkan di kaca bis garis maut. Yang telah buncitkan perut mereka Bekasi, 31052009 Pabrik Dari ledakan nyala api tungku pembakaran Kau tahu akan takdirmu, diurai asap dari cerobong dan keping-keping logam yang dientas. Menjadi pisau menusuk sepi ladang menjadi bising abadi Itulah lanskap pabrik, serupa riuh perutmu di pagi Yang inginkan hangat nasi. Dengan benak mengolah rasa lapar. Untuk teriakan bahasa yang mudah dikenal. Tetap saja kau hunuskan pisau dedah kelaparan. Sepotong-potong tercelup di penggorengan Dan itulah pabrik sepagi itu kabarkan laparmu. Kau melihatnya berkilau tajam di hitam asap. Terasa kuliti mimpimu, tak sempat tengadah ke langit. Memohon hujan. Demikian tak ada sisa mimpimu. Telah termasak di tungku. Hingga habis keringat mengendap pada senja. Tinggal kau mengenang kelaparan yang hilang di langit berselimut asap pabrik. Bekasi, 13062009 Terbekas Takdir Telah tertulis pada perjumpaan hingga lahir bayi peminta susu aku pun menaksir tetes yang tumpah sebab bila tetes meresap dalam kulit kelak menumbuh takdir. bergumpal merah Di rongga mungil mulutmu, di antara selip petak-petak tak terwarna putih ku mencari tetes yang mungkin ada ternyata mengampas. ternyata barusan bulan menghisap manisnya. dan pahit terendam liur Malang, kau tak cerita sebelumnya. lalu kau sumpahi aku bergemeretak bagai riuh ranting yang lapuk. buatku berdiam menghitung takdir yang berbekas. membilur di kaki, perut, dada, tangan, punggung. Ah sudahlah kubiarkan takdir terkulai di pinggir ranjangku. meski di jari terselip pisau bekasi, 11072009 Nurcahyani VIII Bukanlah senja sebab kau jatuh dari awan lalu berendam dalam telaga Bukanlah petang menjadikan aku mendengar rintihmu di tepian. Meratapi bajumu yang hilang. Terbawa deru angin laut Bukanlah salahku bila kau bertutup daun. Memasuki rumahku lalu berganti baju bumi. Barangkali aku pernah memanggilmu di kelenggangan siang. dan ucapku teruap ke langit. Ludah+airmata membanjiri kering telaga Lalu kusiapkan baju bumi. dan kau tahu baju langitmu buatku menangis Bersamaku. malam ini dalam gelap rumah. kau menerang seperti api lilin. menyala. hingga aku menutup pintu+jendela dari angin laut. senantiasa memburumu Mungkin kau bertanya, sampai kapan? tapi apimu telah merajam pandangku. dan aku buta hingga ketuk angin bawakan untukmu baju yang hilang. Kau pergi sedang aku masih dalam kebutaan Bekasi, 14072009 Catatan Buat Korban Bom Pening mengenang kangen menghilang berkeping-keping kleleran di tengah siang Engkau tersayang tercacah ledakan tak terduga. Sial!!! pergimu tak ucapkan selamat tinggal Pening mengenang menghitung kenangan ucapmu semalam lalu doa bulan sudah usai tlah berkali-kali berharap dan pagi terpicu teriak detonator hanguskah engkau??? Blaaarrr...Barangkali aku juga hilang pada lenggang ranjang. Bayang terbayang pada senja sebentar lagi turunkan maut bekasi, 18072009 Sang Pengemis Dia terusir dari kapal nuh di sunyi pagi sebatang kara masuki gerbang kota membawa sebatang tongkat dan buntal kain kusam di punggung jalang matanya hantarkan murung kata tak ada cahaya pagi buatnya karena embun tak mandikan tubuh yang beberapa hari berbau kotoran kelamin.lalu di perempatan dia membuka tangan pada langit.menunggu khuldi yang gelantungan di belukar surga jatuh menimpa tangannya terdengar keluh orangorang berwajah putih akan kehadirannya. karena siang jadi bising oleh doa datangkan khuldi di langit yang tertutup dia tancapkan sebatang tongkat tua di aspal jalan katanya, nanti si buruk rupa akan datang dan mencabut tongkat ini dari tanah. lihat akan ada air muncrat dari bawah nuju ke puncak langit. lalu kau sekalian akan tenggelam dalam bencana. lalu seorang berwajah putih berseloroh, ah kau pengemis, tahu apa tentang masa silam seharusnya masa lalu tersimpan di surga tapi kau menjualnya dengan kemurungan kata dan wajah burukmu sepantasnya kau terusir dari surga dan rasakan panasnya jalanan. di keramaian jalan, di akhir penantian, sebuah khuldi jatuh ke tangan sang pengemis. dia memakannya buat mengisi perut tapi orangorang berwajah putih mengutuknya, lalu mengusirnya karena tubuh menjadi telanjang, berbau kotoran kelamin. seisi kota ketakutan akan terbuka bencana yang lama disimpan matahari, dan awan pun membuka pintu bagi ribuan tetes air yang turun deras Dan kota tenggelam dalam bencana sebagian orang berwajah putih hilang dalam tangkap murka banjir. sebagian membangkai di pinggir perahu nuh sedang sang pengemis kokoh menjadi pohon tua hingga ranting tumbuhi khuldi bila banjir surut.seribu pengemis muncul menapaki pekat kering lumpur bagai lalat keluar dari reruntuhan bangunan. mereka menuju pohonpohon tua di perempatan kota.berharap khuldi jatuh lalu keajaiban terjadi buat mereka namun ribuan polisi mengiring mereka ke kapal nuh.mereka akan berlayar di tempat tak terduga. tempat orangorang berwajah putih menanam khuldi Bekasi,28032009 Ratu Pantai Utara mata terpejam,tergenang lambai ombak telinga terngiang,terdengar deras kau panggil namaku kaulah Ratu bertongkat musa, memecah laut menyembul pesona,berbaju hijau. Di warnawarni malam "jejaka darat masuklah dalam kerajaanku" menjulur basah tangan,teraih kering darat sepiku."ikutlah denganku bila ingin lepas rantai pasir" ujarmu merayu ombak menyeretku. Dan ku tak bisa berkehendak sebab tangan menyusuri lekuklekuk gerakku. Aku buncahkan buih kembang laut buatmu, kutahu kau semakin mengganas bila bintang-bintang isyaratkan angin memulai upacara ini.Dan kuselip birahi kesepian pantai pada megah pesonamu, Ratuku Ratu cukup malam ini bersanding di tahta. Lihatlah nelayan seberang susutkan arus cumbumu. Pergilah ke tahtamu, sebelum kau terdesak pagi lalu terkapar di pasir bercampur bangkai kerang. Lalu tubuhmu terdedah pisau matahari.kau akan terpisah dari kerajaanmu. Seperti juga aku terpisah dari laut. Tanpa isi kenangan di tubuhku karena nelayan memajangnya di halaman rumah Bekasi,06052009 Ikan Asin Di kelengangan aku menemui dia. Tiada permisi menawariku cacing yang tergantung ujung kail. Aku menerimanya.Aku memakannya. Pada mulut tak bisa diam mencecap rasa tawar. "Tunggu dulu.Jangan bergerak bila tak ingin mulut robek" serunya girang dan tangan menarik senar. Bibir tersenyum,sebentar lagi datang kucing menjilati lendir.Rupanya sudah lama kumis kucing tegak saat melihat kelebat baju perak yang kupakai. Dia lihai mainkan kumis kucing.Dia lincah tusukan ujung kumis dalam kulitku."Kulitmu berlapis perak dan kulitmu kulepas satu persatu,kuganti kulit garam"bisiknya di telinga tapi tahukah aku telah megap-megap tertikam tajam kumis. Sebentar lagi badan tersayat-sayat lalu dia selipkan gumpal garam. "Kau tahu arti kepalsuan itu. Kau tahu segumpal garam cukup buatmu berubah" ujarnya. Tubuh menjadi kering ditonton lalat yang datang ucapkan selamat karena aku telah menjadi bagian mereka.Tapi aku jauh dari kelengangan dan kilap matahari merajam lenggangku. Semakin ku terlupa pada baju awalku. "Inilah kemurnian. Inilah upacara menikam lenggangmu.Kau terperangkap di keinginan matahari atas kesalahanmu" serunya lalu dia tengadah di hadap langit."Kupersembahkan buatMu sang pesakitan. Jangan Kau turunkan hujan.Sebab dia ku letakkan di atas papan" Dan aku terjemur di atas papan kayu, tertangkap matahari yang sudah lama mengintip gerakku. Bekasi,11052009 Rumah Tua Siapa penghuni rumah tua? Bukankah aku telah berdiam lama dan menunggumu keluar dari lubang silammu. Hingga pantas sunyi dipasung di kaki-tanganku. Siapa pemilik rumah tua? Bila kau memotong kelambu kesunyian lalu biarkan kutersudut cahya di celah gelap jendela. Aku terpojok di sudut dinding. Memandang dinding yang ternyata kusam. Lalu kulukis wajahmu hingga terkelupas lapisan cat. Tapi namamu tergores di bata tua. Tetap saja kau menjadi repihan di senyap lantai Tak terterka berapa umur rumah tua. Sedang kau menari, lompati waktu. Lalu sulur angin menusuk mata. Dan aku jauh. Teramat jauh melihat tiadamu. 3052009 PHK keresahan pada selembar surat phk seperti resah siang pada gumpal hitam di langit dan nyala petir pekikan deru di dadamu yang tak percaya pada isi surat. akan ada hujan lebat di mata dan badai getarkan penghuni rumah yang telah kau tinggal pagi itu oh banjir geruskan ladang harapan lalu pesangon terbawa deras arus. dia menghilang dalam jaring pemulung. "sudahlah ini takdirmu" tapi takdir telah berlindung di balik meja kerja sang pemilik, bagai kalkulator yang menghitung dosa matahari yang tak menjaga langit dari hujan lalu sesal menjadi pisau yang menjilati genangan air depan kantor. engkau pulang genggam pisau. merah mata pada tanya penghuni rumah, lalu mencacah hingga kau temukan jawab di atas tubuh kaku anak+istrimu. dan engkau bacakan surat pemecatan di telinga mereka bagai malaikat bacakan kalam di tengah malam. sesudah itu tak ada sapa buat pagi Bekasi,25032009 Api Unggun Malam sekedar penjara bagi yang terlunta menuju surga Barangkali ada ruang sumuk yang harus dikunjungi. sekedar geleparkan kenangan di api yang terjaga nyalanya Lalu siapa menjaganya? Sedang aku meringkuk pinggir nyala api. terendam lumur kerangka masalalu. Jiwa meledak serupa bara arang memecah. menjelma kunang gentayangan di petak malam Lantas Siapa? Dengarkan ketika letupan kecil meletuskan arang. orangorang berhambur ketakutan, masuki jeruji malam. gemerincing lonceng bunyikan kecemasan pada derap hantu yang tak berkaki. Meninggalkan sepasang sepatu di lorong-lorong. Malam ini. Ternyata malam ini setiap orang terpotong kaki di pintu penjagaan dan jari waktu diputus kabut, bertukar kilau kunang Benarlah tentu aku yang menjaga hitungan hari di silau cahyaMU. Di malam yang meninggalkan potongan kaki dan busuk sepatu. Bekasi, 24042009 Ode to My Family *) Anakmu menangis Anakmu mengejang "Ibu...Ibu jangan tinggalkan aku" sedang kau bermain pingpong dengan bapak di kamar tamu Bola di-smash, bola meluncur masuk belah dadamu. Ah kau mengerang tersentuh puting. Bapak tertawa, kau menyebut nama anak. Tapi anakmu meradang, anakmu menendang botol susu bukan girang Mata bapak melotot, saat beha kau tarik, ternyata ada bola sebundar payudara. Dan anakmu memandang tegang pada maut bersayap putih datang tak diundang. Anakmu takut merapatkan jemari, mengigil badan tak berpeluk. Diam. Lalu bapak mengangkat di meja persegi. Kau meneteki, tapi mulut kaku. Kau takut pada mata serupa bola pingpong. Mencungkil. Menelan buat jamu kuat. Lalu menyalib di dinding kamar Permainan belum selesai, sedang anakmu menjadi wasit Bekasi, 20042009 *) judul dari lagu ciptaan "Cranberries" INSOMNIA Dengan takdirmu, aku menempati kumuh, menemui orang-orang bergoyang perut, sambil menenggak sebotol bir diselingi kopi hitam. mereka mainkan kartu-kartu dalam keinginan hati, berangan kuasa seperti engkau. karena kuasa memberikan kekayaan, janda seberang jalan, dan nama terukir di pualam marmer Keringat-keringat mereka setelah menjelajah tiada pernah kering. seperti jelantah tak laku di penggorengan. dan nyamuk berebut menghisap. mereka diam sambil pertonton ketiak berbulu lebat. Anak-anak berdatangan mencabut bulu. satu bulu=goceng, tapi susah tercabut sebab tak pernah kering bercampur keringat jelantah. mereka terkekeh katanya yang bisa mencabut hanya janda di seberang jalan buat buluh perindu tertempel kaca warung. Dalam bau pengap kamar, mereka menguap. uapnya menyentuh langit-langit, membentuk angan lalu. tentang kemenangan di meja judi, tentang karung-karung beras yang dipanggul, tentang tunggakan utang dan harga bir yang naik, dan tentang janda yang semalam digauli. Hingga uap melukis masa depan. Menjadi raja berdamping janda yang menjadi ratu, lalu pengawal memanggul berkarung emas depannya dan perawan beriring membawa keranjang buah cinta. dan anak-anak menulis lalu bacakan nasibnya hingga dia tertidur. barangkali mereka akan begitu adanya hingga menjadi lanskap yang diinginkan. seusai bangun lalu membuka pintu. Melalui takdirmu, mereka tempati masa depan. menghitung jumlah kartu nasib yang disimpan. mereka menemui aku tak seperti yang terkira. mereka menguap, kembali tertidur. setelah aku temukan kartu nasib yang mereka sembunyikan. Bekasi, 18072009 Ternyata Maut Sebab mimpi menekan ke pintu labirin yang tlah terbuka dan waktu mulai tertandai. adalah kecemasan menembus selaput mata. ku lihat tangan-tangan tersulur menarikku. entah kemana Inilah detik awal suarakan tangisan melengking di ruang pesakitan. ini awal nyanyi pertama yang terdengar. dari pemilik labirin. oh mereka sahutkan doa seakan upacara akan berakhir tapi ku harus berjingkrak agar tahu aku belum terkubur. lihat wajah memerah harapkan bibir mencium. dengarkan suara ketakutan pada bayangan menari-nari di jendela. sebentar lagi masuk ruangan Itukah sang maut atau kehidupan berulang dan kata mereka "kau pasti kembali ke mimpi" tapi mimpi membuat terjebak dalam rimbunan tanda, merayap di alur kehidupan,lalu melata menuju diam. dan kehidupan memberiku nama di riuh doa saat kelahiran melahirkan tanya tentang bayangan putih di jendela.yang ternyata bernama Maut. Bekasi, 13032008 Surya Raya Lengkung langit biru, gugus bintang tanpa batas menudungku di merah cakrawala. Dan aku seongok batu hitam di matamu yang tak terpejam Angin melaju, ombak bergerak di ambisimu menggoyang diamku. Terseokseok. Lalu nuh menyertakan aku pada pemberangkatannya. Tapi penumpang mencaciku karena muatan sudah penuh. Orang-orang takut pada beban yang kumuat. Mereka menendangku seperti badai gulingkan perahu. Aku terlempar, aku tenggelam pada laut yang inginkanku menjaga rumah di alam gelap. Dan seekor paus menelanku, dikira pendosa yang mau menjadi nabi. Tapi ku tak dititah menjadi nabi. Paus salah kira. Paus murka. Paus muntahkan aku di atas gejolak laut yang ikut memuncrat marah. aku terengahengah lalu bangau menyambar. Menyeretku pada pulau terpencil. Para perompak sunyi menungguku lalu selipkan ku dalam perahu karam. Pelaut mencariku tapi ku telah membakau di pinggiran teduh. Hingga mereka menuju menara suar, beritakan pada laut dan matahari tentang perahu karam yang hilang. Matahari bangun mencakar tangan lalu ku buat perahu besar, sedang laut kirimkan kembang, oleh-oleh khidir. Rupanya lelaki itu telah lama meninggalkanku. Bekasi, 18042009 Hikayat Anjing Tertatih-tatih anjing kecil di tepi jalan. selepas bulukucing melukai kaki yang bersimpuh di pinggir kursi dan engkau marah pada anjing kecil tak tahu malu. Masuk pada rumahmu tanpa diundang. Julurkan lidah melihat kucing kau dekap di dada. Anjing menggongong lalu kucing ketakutan sembunyi di antara belahan kenyal payudara. Anjing mengonggong dan engkau lempari kepalanya dengan bulukucing. Anjing kesakitan karena bulukucing membuat kulit terkelupas menetes darah amis. Anjing malu pada kucing, dia pergi tertatih-tatih. Orangorang mengutuknya.Orangorang melempari mulutnya dengan sepatu bau. Pelacur berdarah menghampiri anjing. Pelacur mengerti betapa tak enak merasakan bau sepatu. Lalu berikan susu di payudaranya yang berliur kucing. Putih bercampur merah. Anjing menghisap Anjing meminum Anjing tersenyum. Lapar menjadi kenyang. Namun pelacur mati kehabisan darah Anjing mengendus, Anjing menjilat, Anjing mandikan tubuh pelacur dengan liur. Anjing menangis tapi orangorang berikan jutaan lalat dari langit lalatlalat merubungi anjing+pelacur yang terkapar.Mereka terbungkus. riuh doa terlantun dari mulut jalang lalat. Iringi jiwa anjing+pelacur yang mencari kucing. Menuntut balas. Orangorang jijik, orangorang malu melihat 2 kelamin menyatu. Orangorang menutup indra. Lalu kepala mereka berubah menjadi kepala anjing. Orangorang hilir-mudik keliaran mencari kucing yang mencuri puting di payudara perawan. kucing sembunyi di bawah kasur di kamar pelacur. Orangorang tak berani mengusir karena takut bulukucing bekasi,13042009 Nurcahyani 5 Senantiasa kuselingkuhi malam dengan cumbu pijar warna lampu kota lalu kulumuri tubuh dalam aneka wangi kejalangan kutahu tangan akan merayap, merayap temukan engkau bersemayam di atap gedung bulan memohon pada kukuh gedung agar mengusirku dari pintu lantai pertama. Tapi mulutku terlepas dari busur kembaraku. Meluncur menjadi perintah bagi awan. Artinya arakan awan menikam bulan lalu penjarakan di ruang asing langit. Oh bulan menangis sesenggukan, meratap pada pintu pagi Begitulah aku perlakukanmu pada tiap pertemuan di atap gedung. Kurasa engkau jatuhkan airmata bagai air terjun di alir jalan kota, Lumuri gedung dengan bening dukamu. engkau gentayangan dari tiap atap gedung. Menggariskan duka pada pendar wajah iklan, dan aku sibuk membuka wajahku yang pekat berlumur lalu kubersihkan wangi kota dengan airmata mu. Ternyata airmata menusuk batin, batin menganga luka.Terbentang bila terbit matahari. Nur selalu saja luka menempel di putih hati menjadi noktah warna-warni, lalu kuselingkuhi pijar kota. Dan aku merayap mencari engkau. Mencari di atap gedung Bekasi,13042009 Di Museum Fatahillah Meneer coen berkumis cemeti bersedih hati, lihat pribumi berlari-lari bagai kuda arab menarik peti ke sunda kelapa. Fatahilah bersurcn wali berdiri menantangnya lalu pedang menyibak rambut perak meneer. Bergugur badai utara,serdadu bergelimpang di bandar ikan. Pribumi beramai-ramai masukan mereka dalam peti. Di gelap belukar kota akan ada upacara bakar sate.Dagingnya adalah daging serdadu yg penuh daging babi jarahan. Meneer meminta pada Baginda ratu utara datangkan tsunami hingga jilat air membanjir sampai belukar selatan.Tapi daendles mendarat di bandar,mencium darah pribumi seperti pemabuk mencium wangi anggur.Lalu dia bangun ribuan dam buat tampung darah pribumi dan bentang jalan utara pulau lalu terpasang penjara di tiap di perbatasan. Tapi pribumi mengencingi dam,jalanan,dan penjara karena mengira kamar mandi. Daendles muntah membau bau kencing, dia murka. 1000 badai utara, geram krakatau, dan tsunami obrak-obrik rumah raja. Pribumi mati dan tubuh tak bercelana. Serdadu turun dari kapal berarak gembira. Melihat kemaluan pribumi seperti lezat bistik dan manis darah yang muncrat seperti manis wine. matahari oranye di hampar biru langit utara. kota milik serdadu malam ini. Meneer coen dan mr. Daendles berdansa di pinggir pantai. Menunggu pagi sebab nanti pagi baginda ratu utara mendarat di batavia lalu memberi upah. Istana megah. april 2009 12 Liris Kematian Takziah Sediakan segelas teh manis di teras agar pelayat menangis langit diam menahan gerimis Antar Jenazah Kali terakhir penghormatan mengantar keberangkatan Langit bersiap penjemputan Liang Lahat Sayup penggali bernyanyi Setelah gali tempat sunyi Langit melihat engkau sembunyi Doa Penguburan Saat malaikat mengunci pintu Jemari putus di putar waktu Airmata tumpah lalu membatu Setelah Penguburan Langit bagai biji kopi yang larut Lalu siapa lagi terbawa hanyut Muram bulan di ladang rumput Kamboja Wangi tumpah dari ujung ranting Guguran putih menuju hening Di latar menyebar jadi puing Pusara Tertulis nama di pahat pualam Kelak peziarah mengucap salam Kau tetap angkuh dalam diam Makam Di tempat ini kau harus pulang Tidurkan lelah setelah petang Berselimut tanah tak lihat siang Kafan Sisa pagi rentangkan putih mori Di atas dipan terbungkus ngeri Jemari terikat tak bisa lari Kereta Jenazah Deru angin giring arakan awan Raung petir buka mata hujan Roda melaju lewati banjir tangisan Semacam Haiku Malam lebarkan sayap gagak Di wangi kenanga terdengar isak Kunti tercakar jari lunak Warisan Risau tertinggal di catatan duka Tercecer ingatan di baris angka Diselip di ikat kafan.Belum dibuka (april 2009) Pada Sebuah Lukisan Abstrak pada sebuah lukisan abstrak wajah ibu tersembunyi dalam poles warna yang haturkan tutur senja menuju gelap akhirnya tak bosan kupoles buram-terang hitam-putih doaku tersentuh pada wajah ibu yang mau menangis tapi kuatir tetes airmata lunturi warna yang kubakukan ada pengantar pada ucapmu seperti doa melihat wajah bapak terbujur gelisah karena phk dan aku poles lagi wajah ibu sesudah panas yang telah kupegang warna itu merah bercampur kuning dan aku malu melihatmu bersedih tapi engkau tak malu memandangku Demikian ibu, engkau memburu wajahku meski engkau terselubungi warna polesku tapi engkau mengejar putih, sedang aku masih menafsirkan hitam. oh kau memburu cakrawala yang membawa bapak ke lautan aku terdiam sempurnakan lukisan ini dan kulihat wajahmu + bapak tersapu ombak putih. Bekasi, 11032008 Karena Sinta Bukan Engkau Karena sinta bukan engkau meski sepasukan raksasa telah menjemput dan penjarakan engkau di seberang pulau Engkau hilang tapi mestikah aku menjadi pecundang di pinggir pantai. mendengar jeritmu dari bisik angin malam bahwa engkau berlari dari kejaran hasrat rahwana dan kembali hening bila pagi muntahkan panah langit merajam kepala mereka. dia tertidur sebentar. Oh anoman gerakkan rinduku padanya yang duduk kesepian di halaman istana. oh dia tak lagi berkaca biarkan tergores kuku tajam raksasa yang nyasar Sekejab kera-kera berdatangan bagai petir sambar ketenangan, berlompat-lompat menimpuk sepi taman Rahwana murka, rahwana terbakar, taman-taman hancur, istana terendam batu beribu raksasa buta mata tersambit mereka merangkak, sembunyi pada rimbunan menjadi ular yang menyesali kekalahan lalu rahwana melingkari engkau, belitkan amarah menelan kesucian yang terjaga di mahkota, engkau lelehkan darah. engkau terdiam saat tahu tak bermahkota lagi.tapi bangau-bangau mematuk muka rahwana dan bersarang di kepalanya Jika sinta bukanlah engkau kesucian sinta bukan kesucianmu barangkali serupa bakau di tepi laut menyimpan rahasia sinta sepanjang bibir laut meski suaraku kicaukan sakitmu tertancap taring rahwana yang tak mau mati Bekasi 2009 Abortus Sebelum langit panggil namanya, baiknya cuci dulu tali pusar dalam kali lalu hanyutkan di aliran. kelak bertemu samudra. dia akan melompat-lompat seperti awan bermain di luas langit Tak ada sakit bagi bayi meski ibu tumpahkan jamu pahit di jalan nasib, lalu memotong panjang tali pusar, tak bebekas. seperti biasa mengalirlah tetestetes darah kotori halaman surga surga bukan harapan tangis bayi tangan-tangan kecilnya menjangkau kaki sang dewi yang gentayangan di atas samudra. bayi itu rindukan awan di sana akan bermain-main tanpa dengar omel tetangga tentang kehadirannya sekali waktu akan menangis, dan airmata meleleh menjadi gerimis di atas gundukan tanah lalu diam sendirinya bila sang dewi datang sedemikian lama bayi merasakan kematian jika bukan nasib, bukan salah yang lahirkan rupanya sang dewi kesepian di tinggi langit bila dia kesepian meminta awan sediakan bayi buat teman tidur bekasi, 07032008 Taman Ganeca sekianratus burung mengikutimu dari perjalanan utara nuju selatan lalu mematuk remahremah siomay tercecer di hampar meja batu burung-burung menuangkan cerita di atas bangku kosong sebelahmu dia ingin kau menangkapnya lalu mengurung dalam sangkar hingga kau miliki suaranya tapi kau tak akan menangkapnya dan tak mau memilikinya seperti bilqis mengusir burung hud. kau tiupkan sepoi dingin di sekujur sayap, dia mengigil.ngilu lalu dia terbang di pucuk rimbunan taman memandangmu sendu seperti senja muramkan langit kotamu dan burung-burung nyanyikan lagu senja tentang pangeran dari utara yang menunggu putri selatan. tapi kau lemparkan batubatu pada irama akhir. dia kesakitan tapi masih bisa memohon pada langit. dan lihatlah langit kan turunkan hujan kau kan terkurung dalam penyesalan lalu bernyanyi tentang pengeran yang mempersunting bidadari Bandung,01032009 Losmen Sejenak kusewa kamar kosong dalam pengembaraan siang menyusuri liku labirin panjang menuju engkau Di antara kelelahan yang harus kusandarkan seribu bawaan terpanggul jadi bara ah panas menyerang mata ini ku terperangkap fatamorgana wajahmu Dan kelembaban dinding putih kamar tak cukup redakan bara melingkupi hasrat yang mengejang aku butuh engkau temani panasku seperti adam membutuhkan hawa dalam dingin surga tapi ranjang usang tak goyangkan seribu inginku dan selimut kumal mengigit sepiku semakin panas Dan ku pencet nomernomer hp. tak ada jawab darimu malam ini ku akan terkurung dalam ruangpanas, sepoi kipas angin semakin barakan api sepi.kuterpanggang bagai sate yang di atap gedung. lamatlamat mendengar langkah rombongan musafir menggotong mayat temannya yang terbunuh di terminal mereka dzikirkan wirid tentang bulan yang tak pernah tidur lalu mereka tenggelam di ujung gang. o ternyata engkau belum tidur lalu engkau berkata, "aku mau temani kamu" lalu malam turunkan seorang peri temani tidurku Bandung,28022009 Sang Pemain Di atas hamparan persegi kita memegang kartu pada banyak gambar. entah berarti apa? namun nasib tak bisa dilukis meski mata kita lukiskan ampas kopi yang telah kering kita adalah pemain di putaran waktu bergelombang banting kartu. mungkin gambargambar silaukan pandang mata tapi pak polisi belum juga hadir.menyemprit "teruskan" katamu dan modalmu tak kan terselip dalam kutang wanita. bila begitu cabik pisau waktu keluarkan isinya. dan aku menanti waktu berbalik menuju nol. lalu raja+ratu akan turun dari atas balkon titahkan 1000 prajurit bertepuk tangan bukankah kita ditakdirkan jadi pemenang pada permainanan ini? setan dan malaikat pun tak usik kemenangan ini. bahkan raja+ratu rela ditimpuk para prajurit yang mengendus.Dan kalah adalah tangis bayi yang tak temukan puting susu Bekasi, 05032009 Di Kebun Binatang Kebun ini mengingatkan kau+aku pernah bertemu sebagaimana binatang lepas dari kandang, aku ganas kepada engkau. mencakar-cakar bajumu.robek bawahan lau ikatan tersembunyi habis kugigit, kau pun serupa daging berdarah di depanku "Aku belajar dari ganas harimau" kataku oh kau melompat-lompat mungkin senang lalu sahutkan doa seperti telanjang adam di surga kau menyambar apa yang kukenakan, bagai kera yang dikutuk menjadi maling dan menghilang dalam rimbunan. oh sebagian rahasia telah tercuri Baik akan kucari dengan gerak rajawali yang memburu anak ayam, sayap mengembang nyanyikan dosa-dosa kera kepada musa. tapi kau bergelantung di pucuk pohon. pilu dan malu melihat ular berdiam, membelit ranting tua semestinya ku harus mencengkerammu.menahan pilu dalam peluk sayap-sayapku. merasakan hangat dada di antara putaran angin yang menggila. tapi kau berontak, bulu-bulu ini terlepas, bersebaran selubungi tatap langit kau+aku terjatuh dalam tenang telaga ikan-ikan muncrat. menggelepar di kering rumputan buaya lari terbirit-birit menyadari mulutnya belum tercuci lalu sepasang angsa menangisi sebagian sayap yang tertinggal Sebuah jaring mengurung kau+aku. kami tertangkap dikurung dalam kandang singa.kiranya telah mati tapi maut mengundang para penebar jaring memungut catatan kami Di kebun ini, kesunyian seperti anak kecil bermain ayunan di ranting pohon. dia terjatuh, lutut berdarah, memanggil nama kami. lalu keluar pawang berikan susu singa nanti sang anak akan berjalan melihat wajah kami di tiap kandang Bekasi,25022009 Seperti Ular seperti ular ku mengembara di antara semak-semak basah merayap dalam dingin kabut, mendesiskan kerinduan pada gua tempatku berdiam. hingga mendengar lagu hujan senandungkan gembiramu yang turun dari langit,tanpa busana seperti kanak-kanak yang berlompatan menangkap katak kamu malu bertelanjang depanku, lalu kubelit tubuhmu agar tak malu dan membuka pintu bumi yang tertutup rimbunan.kau pun melihat keluasan telaga dan menjebur lalu mainkan seribu tarian dalam tenang telaga oh aku merasa jadi satu sebab yang membuat engkau terlempar dari langit dan surga tempatmu nyanyikan rindu pada bumi. hingga kau ciprati aku dengan beribu liter air terlarang, aku basah, aku kuyup. dan aku dosa aku melata dalam sunyi telaga menemani engkau menjalani kutukan menjadi dewi penghuni telaga sepi seperti ular, aku lingkari hidupmu dengan ilusi yang tak habis tersembur dari mulut manisku, lidah apiku membakar sepimu. engkau melupakan surga lalu menghampiriku, tinggalkan asal engkau berlari membawa parang, menebas kepala,tubuh,ekor. kau telah menebas sepiku, dan darah sepi kau hisap kau mendekam dalam tenang telaga setelah aku menyatu dalam rimbun daun-daun suatu malam, engkau akan melata seperti ular setelah berganti baju. lalu kau mendesiskan kerinduan pada katak yang menanti hujan turun. Bekasi, 20022009 Lelaki yang Mati di Senja Hari Lelaki terkulai di tepi pagi.Terbanting nasib mengurung mimpi yang tak pernah selesai.Matahari tak sampai hati tusukan pisau di gelap kamar sebab bulan telah temukan dia kleleran di pintu sore. Sebuah roda siang minggirkan harapan pada tulisan di pagar kantor "tidak ada lowongan kerja". Jiwa memuai di panas jalanan. Lelaki itu menyimpan gerutu pada hampa langit. Dia malu melihat matahari, berharap bulan sediakan mimpi lelaki bujang menikahi bulan perawan tapi bulan sediakan kelenggangan. dan jerat seuntai tali di jingga langit menjerat nasib di pintu sore.Hingga malam menarik jiwa dalam gelap. Lelaki itu tak akan melihat matahari selamanya. Dia mati muda 02 april 2009 Melepasmu Sebaiknya ku lepas kulit bawang satu persatu lalu mengiris-ngiris sepotong-potong air mata meleleh, tangan bebekas noda aku puas selesaikan satu bagian rasa meski pisau tak jadi mengoyak hati Baiknya kucabut duri di tangan setelah kagumi mawar yang tak pantas kupegang pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu mengucur di hampar genggamku dan patah ku pamit dari hatimu seperti pengembara tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan hingga tangan tak mau nadahkan kasihan. pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah rasa rindu yang tak sempat tercium Bekasi, 20022009 Harmoni Bagaikan bumi yang lahir dalam 7 hari memecah dalam lingkar kuasamu, hingga dia gelap awalnya, hingga dia mencari arah lalu matahari menuntun gelapnya dan bulan menemani perjalanan. atas kuasamu turun adam ke bumi lalu bertahta di atas lembah darah Seperti juga aku terbelit lingkaran misterimu lalu kumaknai hujan bagai tetes darahmu yang kehilangan sebagian nyawa hingga genangi lautan kering dan lembah sepi terdengar bapa+ibu menjerit setelah mereguk sebagian air laut mereka panggil namaku di setiap lembah. muncul aku dari sebuah gua sunyi di ujung bumi. terasa ada kegembiraan dan waktu pun menyapaku, karena lahir teman baru buat bermain sehabis kelahiranku, darah masih ikuti alur lakuku menggumpal padat dalam lingkaran jiwa. aku tak bisa memecahnya karena tertanam di benak awal kejadianku. kelak waktu menembus lingkaran, dia akan putar ulang lalu lahirkan bumi baru tanpa darah hanya air yang bersemayam kekal Bekasi, 14022009 Nurcahyani Jam 6 Pagi Kumbang-kumbang mengejar nurcahyani. Dia takut, bersembunyi di dada ibu. Tapi ibu telah mati disengat bapak. Nurcahyani sumpahi wajah bapak yang tertempel di pintu kamar. Bapak telah tiupkan seruling perkutut lalu kumbang bangun berlari ke dia Nurcahyani risau pada denging serupa bunyi perut lapar di rumah ibadah kuatir pada mata laksana bola api menembus dinding kamar Nurcahyani gelisah dalam sembunyi, peluk ibu tak juga redam gairah lapar kumbang. Tapi bapak membuka pintu dan katakan tempat persembunyian Nurcahyani akan mati seperti ibu lalu tinggalkan lelaki seperti bapak Bapak tersenyum memandang kumbang menghisap linang airmata pada mata perawan lalu kumbang menyengat raga hingga lunglai. Sebentar lagi nurcahyani lahir jam enam sore nanti lelaki yang menjadi kumbang akan buka pintu jam enam pagi. setelah itu lelaki kumbang pergi. temui istri yang mati di dalam kamar. Bekasi,04042009 SEMAYANG Dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah dari jauh pelayaran, berteman iring ombak dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan saat kau singgah di kotaku. Laju perahu temukan pendar cahya suar terselip di sela karang gelap. "inikah labuh terakhirku" terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan. oh aku terperangkap di sisi manis semayang begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu kau menangkap kelemahanku.hingga tombak menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir menuju arus laut selatan. belayar kembali aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh bersemayam di rimbun gelisah kotamu. Bekasi, 13022009 SEPINGGAN Sepinggan beribu kesedihan selubungi langit, tetes airmata sia-sia.lenyap terserap kering tanah hingga aku terbang nuju awan. menghilang lama Sepinggan ku telah pergikan seribu catatan tentangmu. terkubur di remang bintang dan bulan iringi penguburan. tak ada api unggun dan hymne kematian. kehilangan wajar adanya sebab surya tak sudi buka catatanmu lagi. Mungkin badai kelak mengeja setiap nyanyi piluku buatmu mengalun bagai pendaratan terakhir di ujung musim Bekasi, 13022009 Di Museum Fatahillah Meneer coen berkumis cemeti bersedih hati, lihat pribumi berlari-lari bagai kuda arab menarik peti ke sunda kelapa. Fatahilah bersurcn wali berdiri menantangnya lalu pedang menyibak rambut perak meneer. Bergugur badai utara,serdadu bergelimpang di bandar ikan. Pribumi beramai-ramai masukan mereka dalam peti. Di gelap belukar kota akan ada upacara bakar sate.Dagingnya adalah daging serdadu yg penuh daging babi jarahan. Meneer meminta pada Baginda ratu utara datangkan tsunami hingga jilat air membanjir sampai belukar selatan.Tapi daendles mendarat di bandar,mencium darah pribumi seperti pemabuk mencium wangi anggur.Lalu dia bangun ribuan dam buat tampung darah pribumi dan bentang jalan utara pulau lalu terpasang penjara di tiap di perbatasan. Tapi pribumi mengencingi dam,jalanan,dan penjara karena mengira kamar mandi. Daendles muntah membau bau kencing, dia murka. 1000 badai utara, geram krakatau, dan tsunami obrak-obrik rumah raja. Pribumi mati dan tubuh tak bercelana. Serdadu turun dari kapal berarak gembira. Melihat kemaluan pribumi seperti lezat bistik dan manis darah yang muncrat seperti manis wine. matahari oranye di hampar biru langit utara. kota milik serdadu malam ini. Meneer coen dan mr. Daendles berdansa di pinggir pantai. Menunggu pagi sebab nanti pagi baginda ratu utara mendarat di batavia lalu memberi upah. Istana megah. april 2009 Karang suatu waktu kutinggal di pulau rahasiamu menempuh jauh batas yang kau cipta sendiri lalu aku singkap bayangan di antara cahaya bulan yang menimpa pantai. kau sendiri berdiri di gersang dan deru angin sambar rambut yang kau sembunyikan kau nyanyikan sakitnya luka tersapu-sapu air pasang begitulah aku menggemakan namamu di ambang petang dalam diamnya bukit pantai dan nyiur lambaikan suaraku di kehampaan. Pada kau yang merendamkan sebagian sisa peninggalan dan kau mau rendamkan seluruhnya tapi laut masih dingin memekat sedalamnya ku mau merengkuhmu dengan gairah purba ku kira ku bisa lakukan. namun kau kukuh bagai batu karang dan seribu umang-umang menjaga ruang rahasia dari ganas jejak birahiku kubacakan padamu rintih tangis malinkundang pada kutukan emaknya. kau meneteskan air mata tapi bukan buat kutukan itu. buat ombak menusukkan angkuhmu. begitu pedih terhujam liar ombak menggerus lkeras dinding hatimu begitu mudah kurasuki raga tanpa permisi kau hilang bentuk Hening ku rasa kau tiada dan nyiur resahkan hadirmu menjadi serpih-serpih pasir yang telantar Bekasi,16032009 Kuli Kokoh hitam lengan menyimpan keperkasaan baja meraup batu-batu hitam di ceruk gunung hingga belanda sudi melirik keperkasaan lalu nipon membeli keperkasaan itu. Kau tak sadar keringat telah penuhi kali-kali kering yang mengalir ke kota. lalu sukarno jelajah sumber air."Oh kau robot-robot yang digerakkan dentum perut dan hingar kemauan anak+istri". Sukarno ke puncak bukit lalu menancap pengumuman "Ini Milik Kami" Matamu ingin menangis dengan kemenangan ini tapi waktu rabunkan pandangan. "engkau bukan pemilik keperkasaan" kata mandor pelabuhan. Tubuh kekarmu telah terteken kontrak hingga tertanda cukai beras di punggung. Ah anak+istri melihat punggungmu jadi tatakan makan taukee dan saudagar. Tak sempat dia mengelus punggungmu tapi kau menendangnya seperti kuda yang kesakitan hingga terlempar tahi,kentut,kencing,dan ludah. "kau bikin susah bapak!" katamu. Mulutmu sungging senyum saat mereka pergi. kretek hiasi bibir tebal. Terbayang istri berdandan cantik dengan bedak dari luluran tahi ditambah parfum bau kentut. dan anak-anak yang sambut bapak dalam kesegaran setelah hisap ceceran ludahmu dan manis kencing. Malam ini mereka akan tampil cantik layaknya bintang sinetron tv yang lunas hutangnya dari bank keliling. "Kamu kuli. Kamu ga boleh tidur. Apalagi bermimpi!!" Oh seorang anak juragan memanggil. dia rapi bak pengeran yang mau jemput putri. lalu kaki kuli mengayuh menuju harapan sang pangeran. dia tersenyum karena akan mutar sejarah, mengubah nasib anak juragan menjadi baik. tentu dia mendapat bagian kesenangan. lalu dia menonton rupa putri cantik yang bergoyang di kamar cahaya. Ternyata kuli tak pantas lihat keindahan. Tusuk pisau juragan pada lubang mata, hidung, dan mulut. Kuli diam meringkuk di atas selembar tubuh istri yang kerempeng dan pipih berbantalkan busung perut anak. Kuli hanya tersenyum dan melihat masih ada bintang bersinar. hingga sebuah bintang turun lalu bisikkan rahasia, "Besok pagi sebuah kapal dari negeri jauh akan bersandar. dan mencari orang sepertimu. Cepatlah pergi. Bila ingin dengar gemerincing logam uang, kilau emas, dan halus lembaran dolar". tapi pagi ini dia ingin melihat goyang penari india di ujung pelabuhan. Bekasi, 09-02-2009 Nurcahyani 4 Dalam kemuliaan kerudung mu kutulis berlembar puisi buatmu dan aku menenggelam dalam pencarian. di kedalaman yang semakin membuatku jauh dari logika hingga fikiran lepas dari batas Nur, aku ingin menangkap beberapa biji mutiara meski mata bermerah lelah, merasakan keras gelombang ingatan membentur birahi yang terselip hingga aku terombang-ambing pada bias hasrat seperti gurita muncratkan hitam pada pandang engkau dimana? tapi aku harus menyelam lagi Nur, aku mengapung di hari pagi arus ini harus menuju pantaimu. tahukah engkau, aku terkulai di tepian dan tangan genggam bijibiji mutiara mungkin habis daya semalam dan engkau datang dengan secangkir kopi lalu wajah putihmu laksana cahaya bulan yang menangis di jendela kamar dan engkau tak asing bagiku meski belum pernah berumah di pantaimu.teringat seribu rayumu agar singgah di kesepian. kurasa syahwat sekejab dari bujang yang rasakan 1000 pulau perawan dan pantai tak terjaga puluhan pelayar dan kesadaranku terampas riuh camar jilat ombak tenggelamkan genggam tangan dan tangan tak genggam mutiara lagi.hilang. tapi camar tak mungkin mencuri karena jijik pada kulit kerang. barangkali engkau saat lengahku Nur, aku berlari menuju rumahmu bukan buat mengambil mutiara tapi melihat engkau mengalungkannya di jenjang leher dan membawa berjalan di warung-warung hingga pelayar terkagum dan engkau menjadi pucuk kerinduan tapi langit telah memesan tenda panjang depan rumahmu dan engkau duduk di kursi pengantin dalam senyum purnama tanggal 15, tak ada pendamping di sampingmu hanya gemerlap janur kuning dan riuh anak-anak mengaji. sebentar lagi pangeran matahari datang dari seberang negeri Nur, aku akan menulis puisi lagi buatmu namun ku ingin engkau bacakan puisiku pada pernikahanmu. dan biarlah ombak menyeretku kembali ke laut.aku kembali menyelam di dalamnya. lebur, lenyap. dan sebuah istana menantiku dalam kedalaman Bekasi, 30032009 Tahanan Hujan Sebagaimana berarak awan selubungi langit lalu matahari terlelap dalam kerinduan bertemu bulan di ujung malam.dan aku berharap semoga kutak tertawan hitam kabut lalu terperosok dalam penjara hujan Tengah malam kilat sambar busana bidadari yang menari di awan bagai maling menyambar dompet.aku malu melihat ketelanjangan, nutup mata dan telinga berucap "astaghfirullah". nafasku tersedak namun bidadari ingin mandi di bumi dan mengajak kilat telanjangi tubuh mulusnya. lalu awan tumpahkan air buat kolan-kolam yang kering. Ku semakin terpojok, menyudut di ujung pagi tubuh ini kuyup cucuran hujan.merasakan deras siksa, aku lunglai terikat dingin. "ampuni aku, ku tlah berbuta dosa" tapi kepala ini terus terajam pisau hujan, tubuh terbenam dalam lumpur,tenggelam dalam genangan banjir. tak ada kopi,gorengan pisang, dan dji samsoe buatku lagi. aku longsor di tepi jalan yang menjadi kolam. Ini pagi ku tertawan hujan, tanpa ada pengadilan atas dosa yang kulakukan semalam. mengintip matahari bercumbu dengan bulan di balik cakrawala. lalu malaikat kirim bidadari buat menahan aku. Oh aku menjadi pesakitan Dingin. Mengigil. Meradakan dingin dalam penjara hujan Bekasi, 06-02-2008 Nurcahyani 3 rajutan terajut di tangan.merajut rupa yang darahkan jari-tangan. merah darah merendam karat jarum begitulah engkau saksikan gambar serigala gentayangan di hampar kain rajutan demikian lamur mata hingga bulan bisikan pesan dalam kelengganganmu."dia menunggumu di atas bukit di tepi purnama". Serigala, dia menunggu gelisah mencium bau amis yang muncrat di telunjukmu, telah lama serigala rindukan rindukan darah hingga memohon pada bulan, "sudilah beri waktu mencicipi kerinduan" dan kerinduan bagai bangkai menindih ladang rumput tak ada doa bagi bangkai, karena peziarah takut pada ribuan nyamuk bersarang di tangan. menjadi pesta kemenangan bagi serigala, pada bulan yang diperdaya dan kelenggangan tercabik-cabik muncratkan darah di wajah bulan. engkau tertimpa sakit, engkau meringis jarum tertambat di sebagian tubuh engkau mencabut, menyumpahi dia sebagai adam lalu dilempar pada tumpukan kain yang telah terajut tapi adam telah teteskan darah di jari. engkau malu lalu mengusapnya di kain polos. dan bulan yang lamurkan mata menamainya: hawa Dia sepi, terasing di tepi purnama menunggu jarum adam, tambatkan luka di jari tangan.seperti gambar serigala di rajutanmu Bekasi, 26032009 Goyang Sopir Di kaca depan angkutan kota tujuh mata panas memantul pada mata sopir, memerah, menajam pandang di keramaian ada arakan mimpi sekitar kemacetan dan sosok anak+istri terbaring dalam asap hitam. semoga tak ada polisi sahut persahut, keping perkeping, seratus nama jalan dilantun,seribu liter bensin dihitung, berapa kecepatan digoyangkan dalam setiap hentak tapak kaki. biar penuh kantong kosong, biar bibir kepulkan asap, biar dapur asapkan matang beras, biar pemilik tertidur setelah menenggak bir Priit.Lambai polisi hentikan laju. bagai tangan penari lambaikan duka ke penonton lalu mengoceh tentang kesalahan dan nyanyi perut yang kosong. oh selembar angpao terselip di belahan stnk, seperti lembar uang terselip di belah dada penari ronggeng. ada senyum dan nasehat "hati-hati di jalan". betapa bijaksana menyapa namun sekian catatan dosa tercatat di lembar kertas dalam kantong baju Tak ada dosa buat ini. karena dosa buat yang menuju rumah ibadah tiap petang. dan petang adalah kemilau konser di lapak-lapak terminal.peluh terluluh tetes bir cap topi miring. bernyanyi buat kekasih jauh di balik sepi ah malam menggoyangkan kerasnya pinggul lalu tujuh perempuan menepuk tangan, menemani goyang, melebur di hembus angin malam. Goyang sopir. goyang tujuh penumpang ikut laju sopir melaju di panas siang.melambai-lambai pada kemacetan lalu umpat dan keluh mulut beradu pada sentuhan. terasa asam di setiap hentakan. menumpahkan segenap terima kasih. "sopirku antarkan aku ke surga" katamu menjelang tujuan akhir Bekasi, 14032008 Nurcahyani 2 membaca namamu sore ini belatar berita duka di koran murah tentang lelaki menghajar wanita sampai mati tentang istri bunuh diri setelah suami kawin lagi Nur, betapa pucat aku melihat kartu dukamu yang terselip di sela fotoku di dompet. jiwa merana mengheningkan setiap yang telah terjadi. ku rasakan nyanyi lukamu terbawa angin menyelip gendang telinga malam ini engkau kesepian di ruang asing Nur, kau terbaring di lantai sendiri dingin raga menatap dinding kusam tak ada sahut cicak buat pilumu kau sepi.menyepi ditemani wangi kembang tujuh rupa. menanyakan kematian dalam senyap Memang aku bukan malaikat bagimu bukan bulan menerobos senyap kamar kubawakan untukmu pisau dapur lalu kupotong ikat kain di kepalamu, badan, kaki, ragamu bagai ikan kering di jemuran dan aku kucing hitam bawa kau berlari dalam kelam malam ku lihat sepasang malaikat dan bulan berlari mengejarku, oh aku ngiau dalam beribu lompatan di atap rumah oh maut mengapa duduk terdiam seperti rumput menunggu embun. semakin ku menjadi detak jam berkejar melewati bayang malaikat bersahut di bundar bulan Nur, aku membawamu ke timur matahari, dan kau tak sempat terpejam,silau menyusup jendela mata. kau akan melihat arakan pengantin laki dari negeri barat. mereka datang ke rumahmu membawa ranjang kayu dan sutra cina. dan kau dengar lamat tabuh tajidor dalam kabut dupa para nabi lalu seribu ayam bersahut, seribu telor menetas terpecah panas Nur, kau ingin pecahkan telor tapi tidak di senyap lantai di derit ranjang kayu dalam berselimut sutra aku kucingmu Bekasi, 23032009 Tanda Mata Sebelum Kau pergi Pandang Mekar bunga di halaman. Yang berseri sejak cahyamu memekarkan Sebelum terbenam, baiknya kusematkan kembang di telinga.sejenak menahan rembulan pulangkanmu.dan bibir bisikkan kata pisah kuharus pulangkan setiap cerita pada langit jingga Setelah hilangmu, aku serupa ranting kering lukai wajah rembulan. tak lelah kucoret wajahnya hingga kuyakin kau tiada dan langit pun lepas bayangmu. dan sepertinya rembulan telah sembunyikan jasadmu di balik wangi kamboja Bekasi, 23012009 Nurcahyani Nur, ingatkah saat lautan uapkan panas lalu kau ingin melayang ke langit.temui bocah sendirian bermain di awan berpasir dia akan kering bila kau tak hadir punggung mulusnya dijilat matahari yang tahu dia sendiri tak berayah+ibu rengkuh.gendong dan bawa dia ke gundukan awan yang matahari tak pernah bisa mengejar walau hanya menyapa saja Nur, uap rindu yang kau layangkan berkumpul di kering awan mengumpul menjadi telaga.bocah itu tersenyum lalu menyelam di kedalaman mencari jejak ibunya. matahari lelah menunggu di tepian dan bulan memanggil dia yang muncul bagai tuyul tak berbaju Bocah itu menangis tak temukan jejak ibunya Bocah itu tumpahkan air telaga melacak lagi jejak ibunya. tapi kosong.dan air tertumpah ke lautan yang surut. oh dia akan turun ke bumi menuruni tangga pelangi bila terbit pagi Nur, jika pagi surutkan mimpimu dengarkan rengekan bocah yang melihat pasir pantai dia ingin bermain bersama karang yang menyimpan kepiting nyasar. Nur, bocah itu ingin menuju laut mengejar ombak yang pernah membawamu hilang Bekasi, 21032009 Kuburan seperti kuburan menanti peziarah hingga angin sayup-sayup gerilya mencari tangis di antara tabir kematian dan kamboja mendayu-dayu harapkan pejalan cium wanginya lalu berdiam demikian engkau menunggu tamu ziarahi ruang gelapmu. rindumu mengigil memanggil setiap yang lewat. engkau terpasung dalam kesempitan balok. terjepit mengigit pilu engkau terkapar mendamba bau keringat peziarah kuburan tetaplah kuburan.sepi meski peziarah nyanyikan doa sedih 1000 oktaf dan engkau bacakan surat-surat pengampunan keras-keras.hingga terdengar malaikat yang bersarang di pucuk kamboja.dia pun bergetar turun menyelip dalam tanah merah. bertamu di kamarmu lalu ajukan tanya : " engkau kesepian malam ini?" dan engkau tak lagi sepi.keramaian lenyapkan sunyi sejuta malaikat bertamu ke kamar sempitmu oh kau lihat diantara mereka ada serupa wajah burukmu kau menjerit ketakutan.kau tutup seluruh indra dari kenangan burukmu.oh jiwa tertawan kenangan-kenangan hingga kau malu pandang rupa peziarah Bekasi, 03-02-2008 Ayam bila tangan kami terpotong, potongannya akan mencakar-cakar aspal jalan mencari sisa biji-biji uang dalam tanah semakin kering. dan mata kami lepas, keluar dari wadah lalu menggelinding menuju kilau uang yang tersembunyi. terbenam dalam gelap. tubuh kami bungkuk, terbungkuk karena sakit menahan berat tuntutan injak punggung. kami harus berhormat pada panas matahari. namun rambut kau jambak hingga leher serasa akan putus. mulut kami terjepit jawabmu. hanya bisa cuap-cuap tanpa bisa beri alasan kenapa kami harus menerima pagi lalu bertebaran ikuti kemauanmu sekiranya kami seperti ayam pagi ini potongan tubuh kami terpanggang hingga kau nikmati di atas meja makan tapi kepala kami penuh cerita anak+istri tentang tetangga yang makan ayam goreng dan otak kami berhitung berapa jumlah uang buat beli daging ayam Bekasi, 18012008 Pagi Yang Teraniaya Pagi yang teraniaya Mulut terbakar hisap kepahitan Jerit kami lihat bunda berdandan di dapur.sedang bapak tuangkan tuak di air susu. Terlihat murung, getir berbekas satupersatu bibir terkelupas oh ucapan kami menjadi telanjang kami berteriak-teriak hisap kesepian pagi Akhirnya kami cucup segar embun terselip diantara belahan dada pelacur yang pulang kesiangan. ah kami nikmati manisnya sisa cintanya Bekasi, 21012009 PHK keresahan pada selembar surat phk seperti resah siang pada gumpal hitam di langit dan nyala petir pekikan deru didadamu yang tak percaya pada isi surat. akan ada hujan lebat di mata dan badai getarkan penghuni rumah yang telah kau tinggal pagi itu oh banjir geruskan ladang harapan lalu pesangon terbawa deras arus. dia menghilang dalam jaring pemulung. "sudahlah ini takdirmu" tapi takdir telah berlindung di balik meja kerja sang pemilik, bagai kalkulator yang menghitung dosa matahari yang tak menjaga langit dari hujan lalu sesal menjadi pisau yang menjilati genangan air depan kantor. engkau pulang genggam pisau. merah mata pada tanya penghuni rumah, lalu mencacah hingga kau temukan jawab di atas tubuh kaku anak+istrimu. dan engkau bacakan surat pemecatan di telinga mereka bagai malaikat bacakan kalam di tengah malam. sesudah itu tak ada sapa buat pagi Bekasi,25032009 Goyang Sopir Di kaca depan angkutan kota tujuh mata panas memantul pada mata sopir, memerah, menajam pandang di keramaian ada arakan mimpi sekitar kemacetan dan sosok anak+istri terbaring dalam asap hitam. semoga tak ada polisi sahut persahut, keping perkeping, seratus nama jalan dilantun,seribu liter bensin dihitung, berapa kecepatan digoyangkan dalam setiap hentak tapak kaki. biar penuh kantong kosong, biar bibir kepulkan asap, biar dapur asapkan matang beras, biar pemilik tertidur setelah menenggak bir Priit.Lambai polisi hentikan laju. bagai tangan penari lambaikan duka ke penonton lalu mengoceh tentang kesalahan dan nyanyi perut yang kosong. oh selembar angpao terselip di belahan stnk, seperti lembar uang terselip di belah dada penari ronggeng. ada senyum dan nasehat "hati-hati di jalan". betapa bijaksana menyapa namun sekian catatan dosa tercatat di lembar kertas dalam kantong baju Tak ada dosa buat ini. karena dosa buat yang menuju rumah ibadah tiap petang. dan petang adalah kemilau konser di lapak-lapak terminal.peluh terluluh tetes bir cap topi miring. bernyanyi buat kekasih jauh di balik sepi ah malam menggoyangkan kerasnya pinggul lalu tujuh perempuan menepuk tangan, menemani goyang, melebur di hembus angin malam. Goyang sopir. goyang tujuh penumpang ikut laju sopir melaju di panas siang.melambai-lambai pada kemacetan lalu umpat dan keluh mulut beradu pada sentuhan. terasa asam di setiap hentakan. menumpahkan segenap terima kasih. "sopirku antarkan aku ke surga" katamu menjelang tujuan akhir Bekasi, 14032008 Karang suatu waktu kutinggal di pulau rahasiamu menempuh jauh batas yang kau cipta sendiri lalu aku singkap bayangan di antara cahaya bulan yang menimpa pantai. kau sendiri berdiri di gersang dan deru angin sambar rambut yang kau sembunyikan kau nyanyikan sakitnya luka tersapu-sapu air pasang begitulah aku menggemakan namamu di ambang petang dalam diamnya bukit pantai dan nyiur lambaikan suaraku di kehampaan. Pada kau yang merendamkan sebagian sisa peninggalan dan kau mau rendamkan seluruhnya tapi laut masih dingin memekat sedalamnya ku mau merengkuhmu dengan gairah purba ku kira ku bisa lakukan. namun kau kukuh bagai batu karang dan seribu umang-umang menjaga ruang rahasia dari ganas jejak birahiku kubacakan padamu rintih tangis malinkundang pada kutukan emaknya. kau meneteskan air mata tapi bukan buat kutukan itu. buat ombak menusukkan angkuhmu. begitu pedih terhujam liar ombak menggerus lkeras dinding hatimu begitu mudah kurasuki raga tanpa permisi kau hilang bentuk Hening ku rasa kau tiada dan nyiur resahkan hadirmu menjadi serpih-serpih pasir yang telantar Bekasi,16032009 Malam Jum'at Ini malam peri-peri berbuka beha mencari bayi-bayi yang ingin netek lalu sembunyikan dalam rimbun alang dan mengajak jumpalitan di antara belukar hingga purnama tak akan menerobos mata kecilnya Malam ini peri-peri datang di setiap atap tapi lampion membuat ia takut wajah terpandang buruk di antara bayang cahaya, oh ia terbakar bila pandang polos mata bayi mengigit tangannya serasa tak sanggup memegang : lalu terbang di di regol bagai kunang-kunang yang kelelahan menatap pijar lampu Malam ini peri-peri menangis menunggu setiap lelaki yang nyasar dia rela tubuh terjamah meski berasa remang dan sebuah bayi terlahir. kan minta darah bukan susu Bekasi, 22012009 Suatu Malam di Padang Gaza Malam berasa darah Beribu domba terbantai Tubuh tercabik-cabik Mengucur darah sirami padang rumput yang penuh domba rela korbankan diri. Bulan bersinar merah terang Rintihan tersumpal lolong srigala yang menari-nari kemenangan menginjak-injak tulang tak termakan mulut blepotan darah mencium bulan tapi darah harus dicari lagi biar pagi tak ada domba keliaran di padang rumput "Dimanakah engkau sang penggembala?" Malam ini engkau berjalan-jalan ke langit jauh dan berdiam di surga hanya melihat bumi yang menjadi merah. Kau biarkan kami terbunuh, mati di bumi yang kan kau jejakkan pagi nanti.lalu engkau gembalakan srigala-srigala liar di panas padang Malam ini domba-domba persembahkan darah buatmu,sang penggembala. Sebab mereka tahu arti cinta dan makna pengorbanan. Dan pagi nanti kau rasakan bau harum dari bangkai tersisa yang terpanggang matahari. Bau yang kelak ledakkan perutmu+perut srigala. saatnya tiba engkau akan pecah semburat lalu dalam isi perutmu keluar anak-anak domba. Mereka pun akan menginjak-injak mulut kotormu dan bercerita keindahan sinar bulan di padang gaza Bekasi,311208 Gadis Mannequin gadis, kau berdiam dalam kotak-sinetron wajahmu cantik seperti mannequin depan toko tertawamu laksana si kuntilanak gentayangan dan tangismu seperti kesedihan pengemis depan toko mataku terajam elokmu, tubuhmu lenggaklenggok bagai ikan dalam jala, aku lelah memandang tapi wangi aroma buat aku menari-nari atas panggung lalu kalungkan selendang di lehermu menarilah bersamaku gadis malam ini oh gadis, kau terseret malam lalu tenggelam pada cahaya yang kau tak tahu asalnya. kau pun mati seperti kunang kau tinggalkan bapakibu yang menunggu di luar panggung lalu kau lahirkan bocahbocah yang takakan lagi lihat pagi Bekasi 20-12-2008 Bapakku Dia atas bumi kesederhanaan kau tanam perhatian menetes dari setiap harapan yang kau tunggu setiap malam setelah kami tertidur. Tercurah gerak pada setiap jalan waktu kau jaga kami hingga tumbuh lalu berbuah kau rubuh menghilang tertutup rimbun kembang Kau bapakku goyangkan kerinduan ini pada malam mengikat ranting semangat ini menjadi kaku lalu siang mekarkan angan di setiap hembus angin. Kau hanya cerita terasa jauh tapi kucium bijibiji yang tlah tertanam oh ku mau tumbuhkan harapan tapi terasa jauh jauh dari bumi tempat kau menanam Kau bapak arahwaktu buatku lari dari tempatmu berdiri pergi nuju ufuk terbit mentari. Ada kesepian diantara panggilanmu. hilang seiring panas cahaya aku datang padamu dari bumi yang tak sederhana lagi. Bekasi,17-12-2008 Warung Kopi Depan Pabrik Suzuki Sehitam aspal jalan, sehitam kopi panas mengingat mimpi yang tak pernah terjadi kami harus berhitung berapa kata akan pergi keringat tlah terkuras, dan kami harus minggir dengar kembali merdu denting gelas beradu ramai ocehan Merasakan nikmat kopi, merasakan asap pembuangan kami adalah orangorang terbuang yang melayangkan angan pada tanggal muda, terlihat wajah panas anak+istri menyambut bibir bertanya "bawa apa?". Tapi kopi ini sudah dingin. Mungkin sudah cukup tenggelam pekat kopi ternyata Bos belum datang. semakin kental pekat selubungi harapan. Oh...kami harus pesan kopi lagi. Kami akan mengutang lagi. kami mengoceh lagi tentang harapan. Kami berdoa "Semoga Bos temui kami lalu bayarkan kopi ini" Bekasi, 03112008 Ada Tamu Ketuk Pintu Rumahmu Siapakah yang ketuk pintu rumahmu bertamu saat kau terlena dalam kamar Dia datang seperti musafir yang mencari teduh berharap menaruh lelah jiwanya pada kursi tamu sejenak istirahat, menunggu hari terang Kau menutup pintu baginya, karena bukan mimpimu dia bagai gelandangan tak tahu malu, masuki rumah tanpa permisi. Ia seperti maling yang usik keterlenaan lalu ambil sebagian mimpimu. Dia pun seperti pengemis menunggumu hingga kau sadar, dia ada di depan pintu. Lalu waktu memejamkan matamu dan kau melihat pangeran hadir depan pintu dan memasangkan sepatu buatmu kau pun pergi menuju kemegahan istana lalu terbenam dalam pelukan fantasi. Bintang-bintang mengucap salam Bila kau sempat membuka mata dan melihat teras rumah ketahuilah dia telah tergeletak. Membusuk. Kedinginan Bekasi,30112008 Bandung, 24-11-2008 Kepadamu berharap jawaban tapi kau serupa pohonpohon di pinggir jalan Cipularang kaku memandang setiap pendatang hanya terbuka sedikit bagian hatimu Hembus angin sejukmu tak cukup redam gejolak terus melaju hingga kutenggelam dalam kabut tebal. Aku takut tertahan di persimpangan Telah banyak kuajukan tanya melewati keras bukit hatimu, tingginya gunung anganmu. aku hampir terjatuh tapi sesungguhnya tlah jatuh merasakan sakit tapi kau masih diam Kau tak pernah beri sandaran pelepas galau+lelah menunggu Dan Aku pergi bagai burung kembali ke sarang Di setiap perjalanan kunyanyikan kekejamanmu Sepanjang Jalan Dago Menikmati dingin aromamu menelusuri arak-arakan rasa merasuk perasaan membuncahkan kesepian aku asing dari awal tempatku berangkat terbawa menuju akhir jalanmu yang tak pernah ketemu Keramaian memanaskan kenangan rindu ini terbakar di sela-sela lalulalang binar lampu jalan tak jua cukup buat temukan perasaan semakin jauh dari rumah dan aku luruh dalam timbunan ceritamu "Dimana engkau. segala awal dan akhir" Angin menderu-deru lalu berputar-putar pada sekeliling. Aku termangu pada kehadiranmu lalu kau antarkan aku nuju tepian waktu Bekasi, 30112008 Bulan Kawin 2 Bulan purba itu masih malu-malu tersenyum dia bersembunyi dalam garis cakrawala oh sang pelayar gagah berani menjangkau angkat sauh layarkan hasrat untukmu bulan Di ujung sang putri pandang laut ditemani seribu janji dan oleh-oleh namun bulan belum hadirkan bayang serombongan perahu jauh datang buat meminang Malam itu pelayar lagukan cinta tentang bulan yang menunggu hadirnya menari-nari+menyanyi-nyanyi pada badai melajukan angan hingga berbusa dan lihat pintu surga telah terbuka buatnya ia akan berrumah di sana bersama perahunya Pagi ini bulan bersemayam dalam peluk samudra tak ada yang ditunggu selain ombak membawa pecahan-pecahan layar dan kayu sang putri tersenyum lalu kuburkan dalam kamar kosongnya Dia akan berdandan lagi menunggu bulan lepas dari pelukan Bekasi, 18112008 Bulan Kawin Bayangkan aku menuju kotamu, masuki rumahmu, melamarmu berijab-qabul depan penghulu,baca sahadat, disaksikan orangtua, serahkan mas kawin sejumlah uang, lalu pegang tanganmu pasang cincin emas di jari dan kucium lembut hmhmhm...kubimbing ke pelaminan, melihat para tamu beri amplop, jabat tangan mereka, akhirnya kita kawin, kuajak kau ke kamar penuh bunga dan kado. Bayangkan aku hadir ke pesta nikahmu, melihat engkau bersanding di kursi pengantin bersama dia, kau bersediah tapi dia tersenyum, dia pegang tanganmu-kau genggam kembali tangannya, suapin engkau dan kau suapin dia, kau+dia hampiri aku bersalaman, aku pulang ucapkan "selamat" sedang kau+dia masuk kamar, tutup pintu, tak ada suara lagi. Bayangkan aku menulis puisi di sepi malam dalam kamar sempit, rokok tinggal sebatang, tak cukup uang buat beli, tinggal selembar buat sarapan, lalu kurangkai kata cinta buatmu yang jauh, tiba-tiba dewi bulan hampiri, ajak aku bercumbu dalam istana miliknya, habiskan malam dengannya, hingga ada ketukan di pintu, pemilik kontrakan berteriak, minta uang sewa atau aku pergi, dan aku diusir, kembali cari tumpangan kamar, berharap ada cinta tersisa dan dibuang di jalanan. Bayangkan dalam kamar tidur kukirim e-mail ke laptopmu, "kamu kesepian malam ini my honey? weekend kemana besok", kau membalas "terserah mas. aku menunggumu dalam sepi", kau+aku menuju vila pundak bukit, kusewa satu malam dua hari, kita bersenang-senang, hangatkan dingin malam, nikmati kesejukan, hidup seperti dalam surga, tak ada masalah, panggilan pak bos terbenam kabut, dalan satu selimut menunggu mentari, hingga kilat cahaya terobos jendela, berkemas pulang, pelukan dalam sedan, kau+aku berpisah, tapi ada janji bercinta kembali. Bekasi, 16112008 Sepi Kalaulah sepi bukan jawaban akhir tentu seorang pertapa berdiam di kota lalu memenggal setiap kepala-kepala kosong dan dan membakar bulan dengan gemerlap mall Tapi sepi menjadi pohon besar, akarnya ikuti kemana jalanku, rindangnya cukup buat istirah bagi kepala yang kehilangan tubuh. dan sepi lalu menjadi hidup. Seandainya pertapa belum temukan sepi datanglah ke taman kota, tebanglah sebuah pohon maka sang angin menerbangkanmu ke tempat tak bertuju, kau akan melihat betapa lama sepi menunggumu datang Bekasi, 4112008 Terminal Leuwi Panjang meringkuk dalam keramaian oh apakah aku akan terbenam? kata-katamu tak kufahami lagi ternyata aku terbungkus ingatan untuk pulang kembali Bandung, 26102008 Semalam di Kotamu Setiba di kotamu Ada senyum menyambut Seperti lambaian daun menyambut hujan Dan peluk tenggelamkan rindu Sementara aku masih berselimut dingin Kekasih aku datang membawa kenyataan mencabut cemas yang memaku perasaanmu Kau+aku larut dalam arus waktu kita berlari menuju ramai dingin jadi panas, malam seperti siang Lalu memacu hasrat pada batas kota kau pun hujamkan perasaanmu pada perasaanku Kekasih malam ini aku akan berumah di kotamu Bandung, 26102008 Ketakutan Kuluncurkan panahku ke arah bintang namun meleset,terkena lampu-kota dan pecah pecahannya buatmu bangun. marah, murka karena tak melihat lagi bulan dalam mimpimu Kau mengejar aku yang bersembunyi dalam gelap aku takut lalu berlari ke dalam rok ibu. tapi ibuku menjadi raksasa. menginjak-injak aku hingga remuk lalu menelannya dan benamkan aku dalam ruang sempit Pagi datang aku tlah keluar dan terhanyut pada sungai hingga kumaknai lagi alirannya. ternyata aku terdampar kembali ke kotamu Bekasi 10 Oktober 2008 Ziarah Pada penziarahan ke kotamu terekam indah mawar yang pernah kau tanam. dan wangi selusuri ruang dalamnya. lalu lahirkan bocah-bocah yang terus berlari sambut mekarmu Gelombang waktu tak seperti kuduga kau pun seongok batang kering, terterjang sepi segalanya menjadi musnah.terbenam rimbunan daun dan terinjak panasnya waktu. Pertandamu hanya tangis bila malam menuju pagi. Pada penziarahan ini, kutabur wangi kenanganmu sambil lagukan kidung sunyi memangil engkau agar merasuk dalam jiwa kosongku. tapi seorang anak kecil telah memungutnya dan ditancapkan di depan rumahnya. buat pengusir hantu, katanya. Bekasi 10 oktober 2008 Kesendirian Duhai cinta merasakan kesendirian ini seperti panas terik di keramaian kota tak ada gambarmu hanya silau hilangkan kenangan Cinta aku tersesat dalam mencarimu dan kota kelahiranku tak bisa lagi jawab dimana dirimu? lalu aku bagai bayi yang kehausan tengah sahara kau hanya berlari-berlari menjauh entah apa yang kau tuju? Cinta aku telah tertidur dalam gemerlap lampu kota seorang ibu selimuti aku dan ibu tadi adalah plasa-plasa aku telah terbuai dalam iklannya hingga bersemayam dalamnya Surabaya, 4 oktober 2008 Berjodoh Kekeringan Kunikahi alangalang kering dan debu setubuhi aku pada setiap erangan Diri terlempar setiap angin mengayunkan kerinduan, menghujamkan beribu dendam. hingga terkubur dalam kubang yang sudah disiapkan di akhir jalanku Bekasi, 01 juli 2008 Nikah Jalanan Denyut rindu ini berpacu lewati jalan macet dan bising kota membuat kuingin menumpahkan seluruh nafsuku pada bibir indahmu. Kurasa mata ini semakin silau pada panas aspal dan kacakaca gedung lalu kepala semakin meradang,memusing,dan aku hanya bisa mengerang atas rasa sakit yang telah kau beri. Oh aku telah basah...Telah kumuncratkan sejuta rasa ini,membanjiri jalanan kota yang semakin sempit.Meleleh perlahan entah lenyap kemana? Namun kudengar engkau mengucapkan terima kasih atas hadirku di kotamu. Bekasi, 1 juli 2008 Diam Bila angin tak bertiup mengering jiwa gugur harapan tak bisa berucap menunggu takdir melepuh di hamparan dan langit hanya diam Sepintas pandang langit menghitung hujan yang pernah keluar dan maaf aku tak bisa mengingatnya karena tak ada lagi angin yang bertiup. Bekasi, 20 april 2008 ODE BUAT PEKERJA panas surya mecah pandangan tapi tak cukup kaburkan wajah anak istri keras laju motor beradu bising angkutan tapi deru perut yang lapar yang tak pernah diam lalu diri tercebur dalam pabrik-pabrik membakar raga dan perasaan hangus terpanggang bagai ikan di panggangan hingga matang, hingga para bos berebut yang telah matang jiwa ini telah lunglai, badan ini sudah loyo berharap anak+istri datang membelai, lepaskan kelelahan, basuhi kekeringan, Oh...hidup telah mulai lagi Dan tuhan sudah mulai tertawa Bekasi 30 april 2008 Pengharapan Seluruh gerak sudah kupersembahkan, seluruh keringat terkuras habis, mengapa engkau masih diam? Lalu airmata kutumpahkan, Liris pengharapan di bawah kakimu, tapi engkau masih angkuh, hingga kutinggalkan ragaku untukmu biar menjadi patung di hadapanmu dan nyawa kubiarkan gentayangan meninggalkan engkau. Bekasi 30 april 2008 Badai Semakin jauh berlayar menjauh dari pantai yang tak menerimaku angin menderukan kabar tentang badai oh terbayang betapa indahnya bila badai menerjang aku akan menarikan tarian laut pada sela-sela ganasnya nyanyikan lagu cinta untuk angin yang melayangkan jiwa hingga ekstase dan tenggelam dalam ketenangan lalu temukan tempat damai di kedalaman berteman mutiara-mutiara mengelilingi tubuh aku pun menjadi raja di lautan bekasi 01 mei 2008 Kamar Mandi dalam diriku masih tertinggal darahmu bau nafasmu yang terkenang menyusur kemana aku melangkah sudah berapa sabun habis terpakai? kata-kata kotormu masih menempel mengacuhkanmu hanya sia-sia karena bayang wajahmu penuhi langit otak ini berapa lama ingatanku tentangmu bisa lepas? lalu aku benamkan ceritamu dalam kakus hingga penghabisan hingga kau tak panggil lagi namaku hingga kau menemukan tempat buat kembali Bekasi, 02 mei 2008 IKAN Masih kurasa bekas-bekas ciumanmu merasa manis, getarkan sukma dan jiwa hanyut ikuti aliran kemauanmu. kau ajak aku ke pantaimu Kata-katamu tawarkan keindahan. lebur aku dalam dekapmu begitu jauh terbawa pada jalanmu. aku terpenjara dalam rumahmu Lalu kusadar ketika bibir ini pecah darah terasa getir, tanganmu telah merobeknya dan kau pun mencaci diri, menginjak jiwa yang telanjang depanmu. Melemparkan aku jadi permainan binatang jalang Cinta ini sudah tak berarti. seperti ikan menggelepar tertangkap nelayan Semangat lunglai, melepas airmata namun mengering matahari, bulan tak peduli dan kau pun tak akan datang lalu cinta kan berkeliaran mencari makna sendiri dalam kegelapan samudra. bekasi, 03 april 2008 Pada Keremangan Senja Pada keremangan senja Tak kulihat bayangmu datang Tertutup pekat debu jalanan Laju angin menidurkan mata kurasa aku tak kan bertemu kamu. Kutemui api di batas waktu Rasakan panas nusuk mata Tapi engkau hilang di balik api. Bara membakar semua ingatan Mengharapmu hanya kesia-siaan Dan aku menunggu api padam Melihat engkau menjadi debu Lalu hilang terendam hujan Bekasi, 04-03-2008 Suatu Hari Suatu hari aku bertemu engkau lalu kau hunuskan pedang cinta merobek jiwaku lalu kau ambil hati yang tetap membatu. mencuci dengan tajam lidahmu dan aku menerima pembalasan, meresapi setiap penyiksaan, ah kutemukan darah kleleran di jalanan mengabadi. Bekasi 05/04/2008 Terminal Pulo Gadung Terik panasmu beradu keras aspal jalan Bising suara memacu gairah berlari-lari Mencari tumpangan Aku menemuimu dalam rasa pahit Pikiran menghitam, tubuh keringat Panas semakin ingin temuimu. cahaya dingin bersembunyi dalam rumah tua. terasa tak ada pertemuan pun tak ada pertanyaan Aku tersesat dari tujuan, bayangmu menjauh. cerita laluterbawa angin hilang di kepanasan. aku semakin terbakar, melepuh semua angan jiwa ini semakin hangus menjadi abu, Dan angin porak porandakan hingga kuikuti pusarannya. Oh Jiwa dimana kau pergi? aku hanya debu pada pusaranmu Bekasi 04/004/2008 Tahukah Engkau Tahukah engkau bila aku berdiam di rumah tak kuharapkan Berteman dengan ular, kecoa, tikus, kucing, nyamuk, dan hantu Tahukah engkau tentang hujan yang menepikan aku dalam rumah kosong Menunggu selesai, namun aku terjebak dalam deras hingga tenggelam dalam fantasi adanya engkau dalam kekosongan. Tahukah engkau 2 orang besar datang membakar rumahmu Aku ikut terbakar bersama teman-temanku saat aku lelap di pelukan ular Dan engkau hanya memandang hingga habis dan aku tak ada lagi. Bekasi 03/04/2008 Bulan Tertutup Awan Bulan tertutup awan Pada malam selimuti kesadaran dan kanakkanak yang gelisah, tak akan ada dolanan. bersembunyi takut kuntilanak datang Malam ini aku terus mencarimu di balik kegelapan menunggu engkau pulang lirih sebut namamu tapi tertelan sepoi angin aku terpuruk dalam gelap dan prasangka hingga tersadar engkau telah hilang tertelan kabut malam. Bekasi 03/04/2008 Ayat-ayat Mawar apa yang kau muntahkan selain katakata sampah terucap saat sebuah mawar hilang di taman Seorang lelaki jalang memetik mawar tercantik tanpa takut duri menyerang, lalu menyimpan di taman rumahnya yang sepi. Mawar itu berbiak semerbak wangi hiasi waktunya yang dirundung sepi Engkau mencaci kekosongan, Engkau meratapi yang telah hilang, mawar itu tak mungkin kembali, Deru pasir telah menampar wajahmu, Engkau akan kering di taman tandus, sendiri berkawan ilalang. Kembali sunyi Bekasi, 23-03-2008 Menanam Mawar Aku ingin menanam sebuah mawar dalam kesunyian hati. Biarkan durinyamerobek dinding, dan darah mengucuri jiwa kering. Rasa sakit kian kekalkan kesempurnaan hidup. Mawar ini kan tumbuh bersama langkah nuju mimpi Setiap perkataan kan mewangi, membuai angan setiap pemimpi. Ingin rebut dari hatiku namun tangan terayun lempari wajah mereka dengan segenggam pasir. Lalu terbang menghilang bawa perasaan hina Aku ingin sebuah mawar abadi di hati kelak berkembang mewarna dan orangorang memandang indah rupa, ingin memetik tapi tangan tergores duri. Cukup memandang indahnya bagai mentari yang tak miliki bumi. bekasi, 23-03-2008 Mawar Berduri Sayang masih kuingat bila kauinjak jiwa ini, engkau pun ludahi segala pikiran. Rasakan kejammu Mengubur cinta pada deru amarah. Masih teringat diri terpenjara di ruang sunyi tanpa ada angin membelai selain cacimaki dan dusta pun kau beri aku minuman pelumpuh harapan, tak sanggup muntahkan, tubuh terbujur kaku dan mulut tak akan berteriak. Sayang, aku kembali berdiri memberi setangkai mawar yang terindah buat dirimu. dia akan membuat catatan pada hatimu Engkau pun menangis mengingatnya dan darah tumpah pada durinya yang bikin perih. airmata takkan berhenti. Engkau terluka, luka yang perih terkulai di ujung sesal, rasakan duka menerima segal balas dari mawar yang dulu pernah kau tanam. Bekasi, 23-03-2008 Oh Gadis. Oh gadis, apa yang kau cari? bila selalu tuangkan kata dalam secangkir kopi lalu langkahkan kaki nuju keramaian, terkurung hidup dalam cerita sedih Senyummu bunga menunggu kumbang datang hinggap di meja makanmu matamu seperti mentari pagi jiwa gairah menatap pancaran terbangun sadar menujumu Oh gadis, kuingin temani engkau ikuti kemana pergi? namun selalu tertinggal karena hidup tak hanya uraikan cantik dirimu, karena seribu cucian kotor menanti, suara kanakkanak yang kelaparan, dan petuah orangtua menunggu aku bangun Oh gadis, pergilah sendiri, kemana kau ingin. ku masih tuntaskan sebatang rokok dan secangkir kopi pagi belum habis kuminum. Jangan menoleh kepadaku, pergilah jauh. Dan aku tetap di meja warung sempurnakan waktu. Bekasi, 23-03-2008 Sore Di Blitz Megacineplex "Bonjour" itu sapamu dan setiap cerita lalu kau tafsirkan suara tuhan yang rindu pada kekasihnya. hingga aku terpojok dalam sudut ruang. Pahami apa yang kau kata. Kau pun ajak aku bergembira, bertepuk tangan, hentakan kaki, ucapkan dzikir yang tak tahu apa artinya, dan kesunyian berubah keramaian. Hingga aku terbang lewati setiap langit ingin bertemu tuhan, tapi dia tak ada, lalu kutemui malaikat-malaikat bergemuruh, bernyanyi, dan tarikan tarian harmoni. Lalu aku lebur dalam harmoni syahdu, menghayati waktu hingga aku terlepas dari tempat berpijak. Oh, dimana ibubapakku? masih kudengar panggil namaku. Ada apa dengan diriku? diri telah bertelanjang, melepas yang mengurung, menjadi jalang, melayang, lalu hilang dalam kerumunan asing. Oh ada apa dengan diriku? aku ingin pakaianku kembali, aku ingin kembali ke bapakibuku lalu dandani aku kembali. Bekasi, 23-03-2008 Sepanjang Jalan Fatmawati Diri seperti angin, terbang kemana-mana mencari engkau yang menghilang dalam keramaian jalanan kota. Oh apakah engkau masih mengenalku? Malam ini aku mendatangimu, tumpahkan rindu dalam pelukan, telah lama tak dengar kisahmu, ketika kau berjalan susuri jalan kota mencari makan Ternyata masih seperti dulu Tubuhmu masih hangat, Menyimpan bara rindu, Bertemu yang hilang keangkuhan membuat kau terdiam di tepi jalan. Lalu kenangan takkan lepas mengingatmu membuat dinding hati semakin robek, setelah kau sayat dengan cerita tentang hidup yang terus terpinggir. Pun aku menepikan harap, mendiamkan engkau menjadi abadi. Bekasi, 23-03-2008 Dalam Kamar 2 x 3 Dalam kamar 2 x 3, aku dan engkau memaknai setiap nyanyian. hingga pagi datang. lalu kau berkata : "Dengarlah suara Tuhan buat hambaNya yang tenggelam dalam rindu". Tak ada apa-apa di sini hanya diam, pun kopi+rokok menghilang. Dalam kamar 2x3, menunggu tuhan datang dengan cerita keajaibannya, namun jiwa menggigil, dingin mencambuk perasaan, dan badan ini diselimuti dosa yang tak tahu kapan datangnya. Entah apakah tuhan berada dalam kamar 2 x3, sementara bibir tak mampu sebut namanya, tangan terbujur kaku, dan pintu ini tak pernah kami buka bila ada yang mengetuk. Bekasi, 23-03-2008 Mati Sebentar Sejenak keberhentikan hidup mengumpulkan kembali mimpi yang terburai oleh panas mentari. nafas biarkan mengatur segalanya hingga temukan tempat buat istirah diri ini kian berselimut gelap lelah membuka mata, layangkan pandang pada hidup makin tak berhenti. Maafkan aku telah melupakan engkau. Tinggalkan engkau sendiri duduk di kursi tuamu. Aku mau sebentar mati tanpa ada hantaran doa, kutahu itu tak perlu sebab cinta pun sudah lebih dulu pergi. Dan menungguku di penghujung kematian, aku mau bertemu cinta yang pasti ada dalam mimpi. Bekasi, 23-03-2008 Kereta Sore Kereta sore membawaku pergi, tanpa ada tangismu Rintik hujan telah maknai sedihmu, pada yang harus tinggalkan sejumlah derita engkau takut terbebani sepi kepedihan sertai sunyi hidup deras hujan takkan cukup ganti yang telah pergi. Engkau tenggelam dalam dingin rindu Kereta sore menujukan mimpiku, meski engkau harus lenyap, meski terpenjara kerinduan, namun aku sempat menyematkan sebuah permata di jari manismu Bekasi, 17-03-2008 CINTA YANG HILANG DI JALAN KERETA Telah lama cintaku hilang dan terampas sebuah kereta membawanya pergi jiwa dan jasad ke sebuah tempat gelap Dalam setasiun menunggu hadirnya tanpa ada berita tentang kedatangan cinta hanya riuh bocahbocah bertemu ibunya, sepasang kekasih yang bersedih atas perpisahan, lalu pedagang asongan berteriak mencari pembeli. Tapi aku tetap sendiri, biarkan cinta pergi Malam pun mengekalkan kesendirian hempaskan perasaan dalam lorong hitam, Cintaku datang dalam misteri, dengan wajah penuh luka, perih menahan sakit dari dingin yang jilati kemaluannya, mulut pun membisu dibungkam takdir yang mengambil seluruh hidup. Cintaku, embun pagi kan tiba semoga engkau lenyap dalam deru kereta yang tiba pagi ini Bekasi, 15-03-2008 Berdiam Dalam Bangku Kereta Berdiam dalam bangku kereta menghayati yang terlewati adakah waktu buat hentikan laju waktu? sementara aku masih terdiam Nujukan pandang pada setiap hentian berharap bertemu kamu, tapi tak juga bertemu hanya suara nyaring peluit dan perjalanan akan berlanjut . Hidup terus bergerak, menggoyangkan harapan menunggu kereta berhenti pada akhir stasiun sementara aku terus menyimpan kerinduan tentang engkau yang kan menjemputku dengan wajah termanis. Bekasi, 04 maret 2008 Nasib Di Atas Rel Kereta Memang ku tak lihai mainkan arah nasib sedang kereta masih penjarakan mimpi ini pada rel yang sudah lelah terbebani dan derita ini semakin panjang Aku terlalu lemah dan tak mampu terjemahkan setiap arah lajumu. Merasakan diri semakin pasrah pada apa yang kau kehendaki. Sementara kereta terus melaju lagu nyanyikan lagu rindu pada setiap perhentian. Dan aku bersandar pada kesetiaan yang semakin mengekal Bekasi, 05 maret 2008 Kereta Yang Berhenti Di Tengah Jalan Apa daya bila kereta berhenti karena bukan tangan tak mampu namun semangat telah habis tumpah dalam kekosongan Dan kesetiaan ini telah terucap kesabaran pun terjual. Cinta lenyap terbuang dalam sepi. Terlindas dingin hati Bekasi 10-03-2008 Sepanjang Rel Kereta Api Pernah kurasakan berjalan di sepanjang rel. Menghayati hidup satu persatu tertata dalam sejarah yang telah terjadi, dan engkau menuntun jiwa pada tempat jauh hingga sampailah pada sebuah tempat yang katamu : "buatmu mencari hidup" Kisah ini begitu indah, saat kau berikan sebuah batu pertanda bila aku telah berumah, hingga anakanak tumbuh lalu kan terkubur bersama angin, matahari, dan hujan. sampai aku pun terjaga ketika engkau datang menjemputku ajak teruskan kembali perjalanan yang belum kutempuh. Bekasi, 16-03-2008 Perjalanan Kereta Berdesir angin ikuti kemana ku pergi gemuruh keinginan beradu deru roda kereta mengharap engkau menunggu, di stasiun akhir Mata ini tak bisa terpejam, layangkan pandangan pada wajah-wajah yang merindukan kekasih. Bibir ini menahan dahaga untuk segera rasakan manisnya sambutmu namun jiwa mesti tenggelam dalam keraguan Hidup terlalu sulit untuk dihitung, tak ada jawaban selain gemuruh angin dan roda terus berputar. sementara pikiran ini cukup lelah tafsirkan kehendaknya tanpa tahu apakah kereta kan sampai? Aku merindukan engkau di tempat akhir kita bertemu, meski kereta ini harus berhenti di tengah jalan. namun cukup senyummu yang terpancar di gelap malam. Bekasi 15-03-2008 Sang Nelayan Yang Melaut di Lautan Luas Betapa lama kutinggalkan sinar di hati Betapa tebal mendung selimuti dindingnya Dan aku tak bisa melihat indah dirimu Tanah harapan 'kan nanti aku berbaring Aku masih terperangkap gelap. Cinta ini terpenjara sunyi. Tak ada cerah hanya ingatan ketika sinar cahyamu pernah kutangkap. Waktu dulu saat bersama dan menjaga terangnya Kegelapan. Kesunyian. Entah dimana cahaya berada? Terombang-ambing amuk dendam, Rasa sesal+bersalah menyala jadi pelita dan dingin angin kuatkan amarah ini. Betapa jauh sayupsayup suara kudengar pikiran ini terbangun adanya engkau meski jauh tapi masih berharap menuju bawa amarah,dendam,sesal+rasa bersalah untuk kau bakar depan rumahMu Bekasi, 22022008 (2) Aku tak bisa labuhkan hati pada pulau yang belum kujamah bekal ini belum cukup jelajahi daratan hanya pandang indah yang terhampar, tak pantas rasanya masuki dalamnya lalu berdiam selamanya Aku harus kembali putar haluan menuju laut luas, berteman keganasan dan lupakan engkau, meski harapan terkoyak deru angin dan patah semangat ini Tapi aku harus melupakanmu Bekasi, 22022008 (3) Sementara lari dari ruangan, berdiri di ujung buritan pandang laut masih jauh dari pantai. Dan angin memberi harapan adanya camar yang bercerita tentang wanita terpenjarakerinduan di sebuah pulau. Begitu syahdu keinginan ini. Memandang lumbalumba menari tarian laut. riang menyambut biduk yang lewat tak peduli dipermainkan gelombang, bergoyang ikuti takdirnya Keindahan membuatku takjub hingga hanyut dalam hayal lalu sebuah badai mengintai menahan mimpiku. Gelap laut menjadi jawaban, tenggelam tanpa pernah sempat bersandar. dan sadarku ingatkan akan engkau. Kembali mengayuh berganti tujuan hingga menemukan kembali pulau yang kutuju Bekasi 22022008 (4) Aku takut pada lautan luas dalam ombaknya menggulung keinginan hati Menelan semangat hingga terbenam di periuk sepi Namun ku harus sampai juga di pantaimu akhir dari petualangan, biar biduk kecil semakin menghilang dihempas gelombang dan raga semakin keropos oleh angin laut yang tak mendengar lirih hati. Kekasih, maafkan aku. bila tak bisa datang di pagi ini karena jiwa ini berdiam dalam gelap samudra dan cintaku telah pecah tertabrak karang. Bekasi, 22022008 Sang Penari Laut Lenggaklenggok ikuti hati bergoyang derukan gerak buat pikiran terbuai ingin tangkap setiap pesan yang muncul Di bawah pancar rembulan panggung dibuka irama mengalun hanyut bergelombang, nyanyikan lagu rindu pada surga yang telah hilang dan rindu akan keping-keping uang merubah keringat yang bercecer jadi emas. Senyum yang selalu terkembang, sinari kegalauan jiwa menikmati perjalanan geraknya, betapa pesona ilahi memancar hingga setiap petualang ingin meraih lalu tenggelam dalam dirinya Barangkali hidup seperti seorang penari laut menarikan pesan hati yang selalu bergolak berharap orangorang datang dan memberi arti lalu ikuti gerak dan tenggelam dalam waktu raga menghilang, jiwa terbang menuju tanah impian. Bekasi, 22022008 Episode Hujan Dengarkan rintik hujan berkata tentang cinta tak sampai lagi dan tangisnya mungubah malam menjadi tak pantas ditunggu kalbu ini pun dingin mengharap datang panas yang merobek mendung bersihkan jiwa dari duka tak berkesudahan ternyata engkau yang kuimpikan bukan yang kuimpikan lagi engkau pergi terbawa deras hujan katakatamu membuatku muak muntahkan segala kenangan antara aku dan kau kau pun hilang dan tak beri kesempatan aku berkata "selamat tinggal" Bekasi, 20-02-2008 Merindukanmu Malam ini mungkin aku tak datang ke rumahmu. karna tak ada lagi angin bawa pergi hasrat jiwa dan biarkan inginku membeku sempurna dalam ingatan ini mungkin juga malammalam yang lain aku pun semakin melupakan jalan ke rumahmu. dan kisahku dengan engkau mengeras pada pekat malam. menunggu pagi menguburnya di keramaian. Bekasi 20-02-2008 Sebab Tak Selayaknya Sebab aku tak selayaknya masuk ke hatimu meski pintu telah terbuka. pun kau tersenyum menyambut aku bagai bocah yang gembira melihat bapaknya pulang. sebab aku lelaki kecil yang paling terakhir diantara para nelayan di pantaimu. dan tak memberimu banyak ikan hanya kisah aku telah ditelan ombak dan sampan ini hancur karenanya. aku menangis tapi engkau tak mendengar aku berteriak tapi engkau cuma memandang aku lenyap engkau cukup berkata : "aku harus datang dengan jiwaku". Bekasi 20-02-2008 LUKA Anak dara berdiri di ujung kampung pandang jalan, jalang natap yang lewat menanti jejaka menghampir lalu mengajak pergi pada suatu tempat indah. dan ia akan berkata kepada ibunya, "aku tak lagi sendiri, seorang pangeran mengambil aku, bawa pergi ke tempat indah". Anak dara berdiam dalam rumah meratapi nasib, tak lagi berdandan hatinya luka, pisau mengiris jiwa kekasih pergi bawa sebagian darah Anak dara berlari pada lampu kota mencari darah yang hilang di keramaian meminta kembali pada setiap jejaka nyanyikan lagu permohonan mendekap harapan hingga jiwa tenggelam pada dosa tak terbalas Bekasi 20-02-2008 Kerinduan 1) rinduku pada suara merdumu bangunkan birahiku dari tidur panjang setelah terbenam gelimang sampah aku pun terbangkan harapan memanggil namamu berharap jangan tinggalkan aku rinduku pada sentuhanmu memberi semangat yang pupus oleh cinta tak pernah sampai dan hangat nafasmu menemani pagi hancurkan hati dingin namun kau+aku masih jauh kau cukup tersenyum di balik jendela melihat aku gelisah dalam hasrat menjumpaimu. bekasi, 09 februari 2008 Cukup cinta ini terbungkus dinding kemiskinan tak pernah terlihat keindahanmu luluh terbelenggu keangkuhan jiwa terikat menjadi batu tak ada teriakan : "cinta" apalagi "tuhan" mulut ini dibungkam oleh manisnya katamu harus dengan apa kuceritakan kekejamanmu? diam rasakan tubuh hancur, tapi kau hanya diam cukuplah menghitung tetes liurmu cukuplah menyimpan amarahmu cukuplah jiwaku melayang temani hidupmu Bekasi 09 feb' 2008 Rumah yang Terkunci Malam ini ku tak bisa datang ke rumahmu. hujan hanyutkan sepasang sepatuku entah kemana? terasa hidup hanya menunggu dia datang kembali namun tak pernah datang. hujan pun tertawakan aku bersama petir membungkam waktuku temui cintaku di ujung jalan Bekasi, 10 feb' 2008 Gadis Rumah Makan Malu ku bertanya pada engkau tentang makanan+minuman yang belum ada tak enak rasa memintamu tuk temani aku di satu maju untuk saat ini karena engkau bukan buatku lalu kelaparan cinta buat aku rakus makan terus makan, minum terus minum pesonamu hadir pada setiap suapan tak bisa berkata selain aku ingin menghabisimu Bekasi 10 feb'2008 Gadis Rumah Makan 2 Rasanya harus menjamahmu biarpun sebentar mengambil hatimu lalu kusimpan pada hatiku lalu kubawa pergi ke rumah cintaku tak pernah salah pada apa yang terjadi karena kau membuat jiwa lupa atas segala kekurangan Namun suatu hari aku kan bebaskanmu meski susah sungguh, hingga engkau hilang jadi tanah Bekasi 10 feb' 2008 Sore di Warung Pojok (1) Sore di warung pojok kau suguhkan sepotong pisang goreng dan secangkir kopi. buat hati lelah setelah mencari kekasih yang hilang dibawa angin pagi. Mungkin sudah tak ada cerita lagi Mungkin tak ada canda terbuai Kekasih mati dibakar matahari kepingan kenangan terbenam nikmat panas kopi asap mengepul membawa terbang wajah cantiknya menuju tempat indah yang tak mungkin aku punya Duh.... kekasihku terbuang pada penghabisan waktu Bekasi, 29 januari 2008 2 Sore itu setansetan beterbangan melarikan diri melihat aku pegang kitab suci, mulut komat-kamit membaca ayat pembunuh setan Kali ini entah nanti. setansetan biarkan aku sendiri termenung pandang langit yang tak sudi turunkan bidadari buatku malam ini. Bekasi, 29 januari 2008 3 Secangkir kopi susu di sore hari kau berikan padaku saat rindu ini terbungkus gelap hati. dan farji pun terbangun merasakan hangat geloramu. "Oh bulan yang semakin musuhi aku harus kupecah. dan pecahannya buatmu" Lalu kau sebut namaku seperti angin membawa berjuta kabar. rasanya kuharus bacakan puisi cinta buatmu. menghibur jiwamu yang lelap sebelum kopi susu ini habis. Bekasi, 30 januari 2008 Sore Di Ujung Pelabuhan Sampan ini selalu menepi menanti penumpang tak pernah ada Semangat ini semakin goncang oleh angin yang ingin lepas lalu hilang tak kuasa menanti lalu ia lepas entah kemana? waktu pun akan tenggelamkan aku dalam kesia-siaan Oh... termangu memandang yang hilang samudra lenyapkan yang kupunya hanya menunggu di pinggir pantai, menunggu sebuah sampan datang kembali Bekasi, 30 januari 2008 Malam Satu Suro Pada pintu langit yang telah terbuka menurunkan bidadari-bidadarinya temani yang kesepian di malam ini bangunkan yang terkulai sedih orangorang gembira menyambut pantang buat tidur maupun lelah sepanjang malam terus menanti tak ingin sekejap pun tertinggal lalu angin berikan wangi malam bidadari jelita telah datang masuki ruang kosong, sepi jadi riang satu persatu lepas baju rasakan kehadirannya untuk terakhir dan terakhir kali bekasi 07 januari 2007 REQUIEM MALAM I datanglah sang dewi berikan setetes airmu obati lukak yang tak sembuhsembuh temani diri melalui hidup yang menakutkan Sudah lama jiwa terkapar di tepian siang telah melemparkan aku pada kelelahan hingga menjadi tontonan buat angin yang tak pernah malu menyetubuhi diri II cukup lama rindukan engkau diri membatu hitam bercampur debu dan tak jua yang lain memandang. dewi ledakkan rinduku ini hingga kepingannya terbang lalu bersemayam dalam rumahmu bekasi 07 januari 2007 Tresna Lestari Kulayangkan sebuah puisi untukmu, buat tawaran agar kau buka pintu lalu aku pun memasuki dalamnya Pesonamu membuat mata sang pengelana berpaling. dan kau selalu tersenyum seperti cahaya pagi. hingga segarkan jiwa yang tertutup kaupun beri embun pagi bagi yang lelah ini dengan dendang kecilmu menyambut para musafir. lalu kau akan menari di dalam kesucian pagi. maafkan aku yang naifkanmu lalu pergi ke lain waktu hingga terpuruk di pinggir malam "Cinta kau telah bangkitkan syahwat ini Bekasi 07 januari 2007 Malam Takbiran pada kebesaranmu teringat kesombongan diri pada kesucianmu teringat kekotoran jiwa pada kebaikanmu aku pasrah tak bisa membalas aku luluh dalam kuasamu aku hancur dalam kehendakmu aku terpuruk pada penghujung waktumu hingga aku serasa debu yang selalu terbawa ombak entah kemana aku akan berlabuh aku terhanyut tanpa tahu kemana? mengikuti apa maumu? menuruti kehendakmu? tak terasa aku harus menepi menemui engkau dengan membawa beban entah kau akan menerima atau membuang kembali, tapi harapan masih kupikul sampai bumi telah berubah Bekasi 20 Desember 2007 Taubat nafas ini sudah lama bersanding bau busuk penuhi paruparu dengan sampah+debu jalanan, dan langkahku akhirnya nuju ruang gelap dan sempit mulut ini selalu terisi susu basi, daging busuk dan kotor darah hingga bibir tak sanggup berimu pujiaan mata ini tersilaukan tajamnya cahya syahwat aku pun berjalan bagai orang buta, tak dapat lagi kulihat indah dirimu telinga penuh dering hinaan dan lagu murahan lalu tak kudengar lagi nyanyi merdumu di pagi hari memanggilmu untuk sebut namamu yang jelas diri berkubang pada tempat kotor, bersanding tahu+najis hingga aku malu berhadapan denganmu diri ini sudah waktunya dicuci hingga engkau turunkan seember air dan kau pun penuh kasih mencuci jiwa ini seperti bayi yang dimandikan bapa+ibunya Tuhan perindah diri ini dengan pakaian kebesaranmu agar aku tak malu berhadapan denganmu. Bekasi, 20 desember 2007 Semestinya Aku Tersenyum Semestinya aku tersenyum Melihat engkau membuka pintu di hari pagi dan sapa aku dengan senyummu Tapi kecewa terus datang ketika pintu tertutup lagi dan aku pun tinggalkan engkau seperti yang sudah-sudah Kembali sore engkau membuka pintu dan bernyanyi mengundang aku kesal kujumpai engkau bawakan sejumlah pisau + makian kotor Lalu malam pun menjelang dan kututup pintumu kembali biarkan engkau tertidur sendiri sementara aku menemui sepi. Bekasi 5 Desember 2007 Hujan Saatnya Kuledakkan Cintaku Hujan saatnya kuledakkan cintaku menghantam batu-batu yang halangi jalanku dan engkau kan kurengkuh kupeluk erat, tetesi jiwamu yang membatu Hujan saatnya tuangi gelas kosongmu sudah terlalu lama harapanmu mengering dalam penantian dan mimpimu pun pecah. hingga aku pun harus cumbuimu. Hujan telah banjiri rindu ini sejuta tetes cinta tumbuhkan tangis dan senyummu leburkan diri dalam selimut hati Bekasi, 5 November 2007 Mengapa Wajah Begitu Muram? Mengapa Wajah Begitu Muram? melihat anak kecil terkulai di pinggir malam ditemani anjing-anjing yang duduk disampingnya Dewi malam pun tak sudi turun selimutinya. dari jauh memandang saja dan tertawa cekikikan memecah sepi sedang bintang-bintang memberinya mimpi buruk Oh Malam itu menjadi malam neraka kesepian adalah derita setelah tempuh waktu siang penuh cerita. Oh malam yang dingin telah membekukan impian anak bertemu ibunya Bekasi, 5 November 2007 BIODATA Fitrah Anugerah. Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, Bekasi News, dan aktif menulis di Apresiasi satra serta Blog. Sekarang bekerja di Bekasi, di perusahaan ekspedisi dan bertempat tinggal di Jl. Patuha Raya No.01 Blok 21, Perum Wika, Bekasi Selatan. No HP. 021 94571950 dan 0857 1709 6963. Alamat e-mail : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Dan Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya .
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








