| Janda Kembang Pantai Utara | ||||
|
| Serba Serbi - Puisi | |||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Sudah lama dia terpaku pada lanskap pantai Pantai yang mengingatkan seorang lelaki Dari pelayarannya membawa ikan tanpa daging Hanya kepala, tulang, dan ekor. Di surut pantai dia rindukan lelaki kuat yang menimba air dalam sumur berbau pesing Lalu sirami kembang yang penuh tahi kucing Layaknya perawan, dia ingin ciumi mekar kembang Sebentar lagi ada pesta buatnya di depan latar Dan penghulu tak perlu repot sediakan alasan sebab sang lelaki kuat telah gantungkan ikan tanpa daging di atap panggung. Yang menghadap pantai Dia akan bergoyang kembali di atas panggung bergoyang buat ribuan kucing yang terpana pada ikan tanpa daging. tapi kucing-kucing tak mau berlepas dan bergoyang dengannya. Sebentar lagi ada kesakitan Kesakitan saat tangan pegang duri ikan. dia menjerit. darah tertetes tapi dihisap arus purnama di atas pantai. Cucuran ratap timpa resah kucing. kucing terbirit lari. kucing tahu akan ada pasang dari jerit tangisnya. Pasang hilangkan lelaki kuat. Ternyata lelaki kuat telah karam: pada karang sunyi Punggung tertoreh lukisan ikan. Dan hiu bisikan di telinga "pergilah kau di pagi hari. ada yang menunggumu" dan jadilah lelaki itu sebuah ikan tanpa daging. Hanya kepala, tulang, dan ekor. Lalu pagi yang masih malu-malu, dia melambai-lambai Pada setiap pelayaran yang singgah di pantai. Telah lama dia berdiri tegak menyanggah malam dan kesakitan menggumpalkan pasir pada kaki-kaki. Dan kau lelaki kuat rupanya angin pantai kabarkan bau amismu. Bekasi, 16052009 Ikan Asin Di kelengangan aku menemui dia. Tiada permisi menawariku cacing yang tergantung ujung kail. Aku menerimanya.Aku memakannya. Pada mulut tak bisa diam mencecap rasa tawar. "Tunggu dulu.Jangan bergerak bila tak ingin mulut robek" serunya girang dan tangan menarik senar. Bibir tersenyum,sebentar lagi datang kucing menjilati lendir.Rupanya sudah lama kumis kucing tegak saat melihat kelebat baju perak yang kupakai. Dia lihai mainkan kumis kucing.Dia lincah tusukan ujung kumis dalam kulitku."Kulitmu berlapis perak dan kulitmu kulepas satu persatu,kuganti kulit garam"bisiknya di telinga tapi tahukah aku telah megap-megap tertikam tajam kumis. Sebentar lagi badan tersayat-sayat lalu dia selipkan gumpal garam. "Kau tahu arti kepalsuan itu. Kau tahu segumpal garam cukup buatmu berubah" ujarnya. Tubuh menjadi kering ditonton lalat yang datang ucapkan selamat karena aku telah menjadi bagian mereka.Tapi aku jauh dari kelengangan dan kilap matahari merajam lenggangku. Semakin ku terlupa pada baju awalku. "Inilah kemurnian. Inilah upacara menikam lenggangmu.Kau terperangkap di keinginan matahari atas kesalahanmu" serunya lalu dia tengadah di hadap langit."Kupersembahkan buatMu sang pesakitan. Jangan Kau turunkan hujan.Sebab dia ku letakkan di atas papan" Dan aku terjemur di atas papan kayu, tertangkap matahari yang sudah lama mengintip gerakku. Bekasi,11052009 Ratu Pantai Utara mata terpejam,tergenang lambai ombak telinga terngiang,terdengar deras kau panggil namaku kaulah Ratu bertongkat musa, memecah laut menyembul pesona,berbaju hijau. Di warnawarni malam "jejaka darat masuklah dalam kerajaanku" menjulur basah tangan,teraih kering darat sepiku."ikutlah denganku bila ingin lepas rantai pasir" ujarmu merayu ombak menyeretku. Dan ku tak bisa berkehendak sebab tangan menyusuri lekuklekuk gerakku. Aku buncahkan buih kembang laut buatmu, kutahu kau semakin mengganas bila bintang-bintang isyaratkan angin memulai upacara ini.Dan kuselip birahi kesepian pantai pada megah pesonamu, Ratuku Ratu cukup malam ini bersanding di tahta. Lihatlah nelayan seberang susutkan arus cumbumu. Pergilah ke tahtamu, sebelum kau terdesak pagi lalu terkapar di pasir bercampur bangkai kerang. Lalu tubuhmu terdedah pisau matahari.kau akan terpisah dari kerajaanmu. Seperti juga aku terpisah dari laut. Tanpa isi kenangan di tubuhku karena nelayan memajangnya di halaman rumah Bekasi,06052009 Rumah Tua Siapa penghuni rumah tua? Bukankah aku telah berdiam lama dan menunggumu keluar dari lubang silammu. Hingga pantas sunyi dipasung di kaki-tanganku. Siapa pemilik rumah tua? Bila kau memotong kelambu kesunyian lalu biarkan kutersudut cahya di celah gelap jendela. Aku terpojok di sudut dinding. Memandang dinding yang ternyata kusam. Lalu kulukis wajahmu hingga terkelupas lapisan cat. Tapi namamu tergores di bata tua. Tetap saja kau menjadi repihan di senyap lantai Tak terterka berapa umur rumah tua. Sedang kau menari, lompati waktu. Lalu sulur angin menusuk mata. Dan aku jauh. Teramat jauh melihat tiadamu. 3052009
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||








