|
Perempuan Sorga Panca Puisi Oleh : A. Kohar Ibrahim Pengakuan Ku Lahir Hadir Terbang Mengawang Ku Gores Garis Cakrawala Menyusul Guntur Perempuan Sorga * (1) Pengakuan Ku Lahir Hadir pengakuan ku lahir hadir di ini bola bumi anak manusia bertekad jadi manusia selayaknya manusia bebas merdeka lagak lagu prilaku ku memang begini memang begitu tanda bertanda nyata dipandang bola mata terpandang mata hati mata mata siapa saja sekali pun kuasa penguasa takkan mampu menyapu menyingkir mungkir di sini ini ku hadir meski bak sebutir pasir meski hanya setetes air meski hanya senoktah di alam semesta megah meski hanya sebintik titik cahaya alam kelam taram temaram iyalah : di sini ini bola bumi aku lahir hadir seperti air mengalir dari hulu ke hilir seperti udara silir semilir 20M09 (A.Kohar Ibrahim) * (2) Terbang Mengawang terbang mengawang berlomba angin kencang nunggang albatros hingga bandara semarang ah betapa rasa bangga penuhi jiwa raga di dermaga menyaksikan martadinata upacara mandikan kapal dipanegara siap siaga jaga nusantara indonesia raya tercinta Memo’64 (A.Kohar Ibrahim) * (3) Ku Gores Garis Cakrawala ku gores garis cakrawala dengan koas atau pena aksara mini atawa maksi lagak lagu manusia masa pancaroba dahaga kuasa rakus harta nista sejauh mana gema guruh gemuruh dalam lomba perlombaan kekuatan kekerasan di kota atawa pedesaan di daratan atawa seberang lautan pantai kalbar kian mencengkam gelombang pasang kian deras menerjang gulung gemulung dari laut cina selatan hingga selat riau kepulauan sungguh luarbiasa dalam suasana gelora juang nusantara teriring irama hingar bingar perang besar di asia tenggara singapura merdeka dari jauh ku dengar gelegar guruh mendung cuaca tak mengubah rencana sepanca kawan kami terbang mengawang nunggang buing dari jakarta nuju peking di bandara penompenh transit pertama di sisi perbatasan pertempuran menggelora rakyat vietnam bahu membahu berjibaku menggempur pasukan agresor amerika malam hari buing kembali membawa kami terbang di angkasa kelam bintang gemintang berlomba terang seperti juga di bumi panji panji berbintang berperang rebutan memaknai demokrasi dan kemerdekaan menerawang menelusuri langit kelam malam ah perasaan dan pikiran runyam terhujam sejarah berbukti dari con son hingga buru archipel gulag dicipta imperialis amerika Memo’65 (A.Kohar Ibrahim) * (4) Menyusul Guntur merdeka sekali merdeka tetap bebas merdeka teriak ku serak sembari tegak gerak beranjak ku lari lari sendiri melompat mencuat cepat secepat kilat di jelujur jalur jalur sang bayu menyusul guntur yang mendahului ku di kerajaan waktu aku bertakhta bersama sama senantiasa setia dari awal hingga akhir nanti 72-09 (A.Kohar Ibrahim) * (5) Perempuan Sorga perempuan sorgaku indahnya berperilaku menggelitik berbisik mesra menerenyuh kalbu di ini hari minggu sedekahan bersama yatimpiatu peringati puluhan hari daku siuman kembali iyah kasih ku perjuangan itu meletihkan juang berkepanjangan di medan tempur juang kini bukan lagi perjuangan antara hidup-mati tapi juang kembali ke bumi manusia atau ke alam abadi iyah kasih ku perjuangan itu meletihkan tapi juga sarat ujian tempaan keteguh-tegaran jiwa selayak pemberontak pengguna makna otak meski jatuh tertembak segera kembali tegak tiada keberanian paling gagah berani di hadapan musuh kejam keji tirani berdiri tegak seraya berkata penuh hargadiri : tubuhku mampu kau bunuh tapi tidak jiwaku iyah kasih ku juang itu layaknya tiada berkesudahan meski cuma 2 minggu pingsan bak sejak sebelum masehi adab kebiadaban iring-iringan bina mem-binasa-kan manakala diri ku pun tak lepas dari jebakan zaman dikau telah tau sendiri betapa perjuangan ku telusuri ladang gersang jurang curam samudera belantara benteng modal menara melangit perkasa binasa runtuh satu persatu di abad keduapuluh satu teriak juang menggelegak empat penjuru dunia bermilyar manusia meronta-ronta belenggu sengsara sepertinya neraka di hari nanti dialami di ini bumi berita sarat fakta betapa makna tuk jadi manusia iyah betapa keras juang hidup jadi manusia menjaga cita dan cinta kasih serta hargadiri betapa keteguhan pun pengorbanan diperlukan di medan juang itulah daku sempat tumbang entah berapa lubang tubuhku tertembus besi tajam entah berapa kali pula perut tersayat bedahan namun pasrah menyerah kalah jiwaku ogah malah berontak demi ragaku kembali tegak sungguh tak mau daku mati terburu buru sekali pun diburu kubalik memburu buruanku kaum garang nan curang berwajah manusia berhati binatang iyah wahai kekasihku nan indah ada masanya aku lari meski bukan pelarian semata-mata lari lomba menelusuri terowongan menguji diri mengatasi ragam rintangan mengerikan iyah demi allah wahai kekasih dalam gairah melangkah layaknya lari-lari menari ku sampai di depan gerbang sorga dikawal bidadari tetapi seketika ku berhenti menahan diri syubhanallah di hadapan cahaya cerlang gemilang betapa indahnya pemandangan tak terperikan seketika mata terpejam merasa kenikmatan seketika mata hati pikiran terisi wajahmu ayu ah tunggu dulu ! teriak hatiku seraya berpaling bukankah perempuan sorgaku masih di bumi lagi berdoa menantikanku pulang kembali ? hari demi hari minggu demi minggu berlalu sekian hari dan minggu lulus menembus terowongan isteri terkasihku mengupacara selamatan di ini hari minggu bersama sehimpun bocah yatimpiatu layak perhatian (terima kasih tak berhingga kepada yang terkasih segenap kerabat sekalian sahabat terhormat semoga senantiasa sehat wal afiat penuh semangat) 23M09 (A.Kohar Ibrahim) *
|