| Saatnya Perempuan Bersuara Lantang | ||||
|
|
Berbicara tentang perjuangan perempuan, yang langsung teringat di benak kita adalah seorang tokoh sentral wanita yang bernama R.A. Kartini. Bagaimana seorang Kartini muda memperjuangkan hak-hak perempuan agar agar mendapatkan pendidikan agar terbebas dari kebodohan. Begitu pula kisah heroik panglima perang Cut Nyak Dien masih tersurat dengat jelas di halaman-halaman buku sejarah. Perjuangan Laksamana Keumalahayati, seorang pelaut wanita dari aceh pun sampai kini masih tertulis dalam sejarah, bahkan diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang Tentara Nasional Indonesia. Mereka pada zamannya hidup dalam kebudayaan dan pengaruh agama yang sangat kental. Aceh adalah kota berjulukan "serambi mekkah" berhasil mengukuhkan putri-putrinya, diantaranya Cut Nyak Dien menjadi panglima perang. Itupun atas persetujuan dari para kaum pria. Hal tersebut merupakan realitas tentang eksistensi perempuan di bidang politik. Tokoh pahlawan wanita Indonesia tersebut diatas merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa perempuan, punya andil yang sangat besar dalam perjuangan dan kegiatan politik untuk membangun bangsa ini. Kini diera reformasi dan demokratisasi ramai sekali dikumandangkan tentang isu gender, bahkan oleh segolongan kelompok perempuan selalu mendengungkan perjuangan bahwa kaum perempuan harus sama hak dan kewajibannya dengan kaum pria. Hampir disemua suku kita dapat melihat perjuangan seorang perempuan bekerja disektor ekonomi untuk menambah penghasilan keluarga. Sedangkan pada sektor politik di Aceh pernah memiliki seorang sultan perempuan yang bernama Sultan Syaifaruddin. Kerajaan Mataram pernah dipimpin oleh Ratu Sima. Kerajaan Majapahit pernah diperintah oleh Ratu Tribuana Tunggal Dewi. Bahkan kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat berada dibawah pimpinan Bundo Kandung. Sepanjang yang tertulis dalam sejarah pula, kepemimpinan perempuan juga disupport dan disetujui oleh kaum pria di wilayahnya masing-masing. Laksamana laut Keumalahayati menduduki jabatannya itu karena dipilih oleh atasannya seoarang pria. Sedangkan Cut Nyak Dien dipilih oleh pengikutnya yang juga hampir semuanya kaum pria. Selain budaya, agama pun ternyata membuka peluang berpolitik bagi perempuan. Pada zaman Nabi Muhammad dan sahabatnya, perempuan bisa menjadi anggota dewan Suro, mereka diberi hak untuk mengkritisi pemerintahan. Pada zaman itu pula Siti Maemunah, istri Nabi Muhammad, mendapatkan kebebasan untuk menanyakan hal-hal yang tidak wajar menurut jalan pikirannya, serta memberi pendapat dan saran. Istri Nabi Muhammad lainnya, Aisyah, pernah menjadi pimpinan perang. Al-Qur,an mencatat kisah Ratu Balqis yang menceritakan tentang seorang ratu perempuan dengan kekuasaan yang sangat besar, mampu membuat negaranya makmur. Bercermin pada sejarah dan agama, kemudian melihat kondisi perempuan idonesia pada saat ini khususnya Nusa Tenggara Barat, perempuan dituntut untuk meningkatkan kualitasnya disegala sektor. Namun realitasnya di lapangan tidaklah demikian. Kita tahu bahwa bagaimana kaum perempuan di daerah kita ini baik secara ekonomi, politis, masih terpinggirkan. Oleh karenanya kalau dibandingkan dengan daerah-daerah lain masih sangat ketinggalan. Peluang Politik: Peluang politik perempuan saat ini sudah ada dan mulai dihargai. Tetapi, hal ini kembali lagi berpulang kepada perempuan sendiri. Dimana seberapa jauh mereka mempersiapkan diri dalam berpartisipasi untuk mengikutkan diri berbaur dalam dunia perpolitikan kita. Undang-Undang otonomi daerah, sebenarnya telah membuat peluang tersebut semakin besar. Jabatan-jabatan politik samakin bertambah banyak jumlahnya. Setidaknya untuk jabatan menteri sudah diduduki oleh 4 orang perempuan saat ini. Upaya penyadaran politik bagi perempuan saat ini memperoleh kesempatan yang lebih besar, ketika dibandingkan pada zaman orde baru. Saat itu, perempuan dikurung dan dibatasi dalam posisi-posisi sub-ordinat sebagai pendamping suami semata. Kuota 30 persen pada periode ini 2008 - 2013 boleh dikatakan rata-rata secara kuantitas sudah terpenuhi, tentu ini merupakan langkah maju, sebagai pembuka jalan untuk memotivasi kaum perempuan. Dengan demikian periode akan datang ini masyarakat dapat berharap kuantitas dan kualitas dapat tercapai antara lain melalui gerakan penyadaran politik bagi perempuan, mulai dari tingkat RT, RW sampai tingkat Nasional. Upaya ini bisa dilakukan secara bersama-sama organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi dan pemerintah. Agar perempuan mampu memenuhi harapan tersebut, mereka harus siap dan percaya diri, mereka harus menghilangkan paradigma berpikir bahwa perempuan hanya berurusan dengan dapur, sumur, dan tempat tidur. Sehingga perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Mereka harus memulai dari sekarang untuk mampu mngukur dirinya. Sehingga bila suatu saat nanti perempuan mendapatkan kepercayaan memegang suatu ujabatan publik dan jabatan politik, mereka sudah siap dan mampu. Oleh karenanya kedepan sudah saatnya dapat menampilkan perempuan yang bersuara lantang menampilkan diri dalam kancah perpolitikan di daerah ini. Mudah-mudahan dalam pemilihan legislatif periode ini sudah mulai ada perempuan-perempuan sumbawa menjadi anggota legislatif. Bahkan bila perlu ikut bertarung dalam pilkada-pilkada yang akan datang. Penulis : Advokat dan Ketua Forum Komunuikasi Masyarakat Sumbawa (FOKMAS) Jakarta. E-mail : - Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . - Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











