| Stigma Yang Berdarah Darah | ||||
|
|
Stigma Yang Berdarah Darah
STIGMA Yang Berdarah Darah dibudayakan dalam masa terorisme Orde Baru (OrBa), untuk mengkambing-hitam-kan lawan politik demi menegakkan dan melanggengkan kekuasaan rampokannya dengan kudeta militer. Meski sudah sekian lama Era Reformasi, rupanya masih kentara menyisa dalam kehidupan masyarakat maupun aparat pemerintah. Halmana tergema dalam perbincangan di Apsas dan di pers seperti yang saya utarakan dalam naskah terdahulu (1), Apsas 12 Oktober 2008. Bahaya laten stigma ciptaan OrBa itu pun terbuktikan adanya berita jadwal peluncuran buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku yang sedianya dilangsungkan di musium NU dibatalkan, sehingga panitia terpaksa mencari tempat lain, yakni di Gedung Bapelkes, Jalan Bendul Merisi 7, Surabaya. Juga, ketika sedang menyusun naskah ini, datang berita dari sang editor/penulis Muhidin & Ria, bawa tanggal 27 Oktober 2008, Toko Buku Gramedia meretur Trilogi tersebut ke alamat mereka di Jogya. Budaya teroris berupa pemberian cap yang menakutkan sekaligus ketakutan akan lawan politik OrBa yang mereka sebut « G30SPKI », « PKI » sekalian yang secara serampangan mereka cantelkan sebagai « onderbow PKI » macam Lekra itu memang sudah menjadi mentalitas OrBais sejak awal mulanya. Sejak mula terjadinya Tragedi Nasional 1 Oktober 1965. Demi memberikan citra buruk dan kejam atau yang berdarah-darah. Citra buruk sebagai propaganda hitam yang dilakuan dengan menghalalkan segala cara, dalam ragam ruang, sarana, institusi dan media massa (pers) yang mereka hegemoni sudah sejak hari-hari pertama bulan Oktober 1965 itu. Dari perbincangan di milis Apsas, seperti saya utarakan di bagian pertama rangkaian tulisan ini, yang terutama sekali menggelitikku adalah justeru yang langsung berkenaan dengan « citra berdarah-darah » itu. Jelasnya berupa postingan dari sang Penyair Sejuta Puisi asal Kalimantan tapi bermukim di Kepri yang baru-baru ini memegang posisi sebagai Pimred Harian Batam Pos : Hasan Aspahani. Postingannya tertanggal 3 Oktober, sebagai komentar atas komentar Ikranagara yang antara lain mensitir buku « Prahara Budaya » Dr Taufik Ismail dan D.S. Mulyanto itu, sebagai berikut : « Ini dari blog saya, postingan 24 Mei 2007. Saya punya buku yang disebut Pak Ikra dan sempat agak tekun membacanya. /1/ Sajak itu dimulai dengan baris: bulan arit di langit. Baris bumi memerah darah itu adalah pengulangan dari baris yang sama di bait kedua. Enam bulan sebelum bumi Indonesia benar-benar memerah darah. Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakjat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera). Tema yang memanglimakan politik. Tilik judul-judulnya: Kepalaku Marxis, Diriku Leninis (Sobron Aidit), Leningrad (Setiawan Hs), Kepada Konferensi (Hersat Sudijono), Gayang Malaysia, dan Peking (Nusananta), Penerbangan Malam ke Leningrad (Verga Belan). Sajak-sajak itu terbit dalam selang waktu 1962-1965. Adapun Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat dibentuk pada 17 Agustus 1950 di Jakarta. Lembaga ini digagas oleh D.N. Aidit, M.S Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto. Anggota awalnya adalah para penggagas itu ditambah beberapa nama: Herman Arjuno, Henk Ngantung, dan Joebar Ajoeb. Pada awalnya Lekra punya lembaran kebudayaan tiap minggu di majalah Zaman Baru yang terbit di Surabaya. Lembaran itu dikelola oleh Iramani (alias Njoto), Klara Akustia (A.S. Dharta), dan M.S. Ashar. Setahun setelah berdiri, Lekra sudah punya cabang di 20 kota. Cepat dan sistematis sekali. /2/ Petikannya: /3/ /4/ /5/ Darah kemudian memang tidak saja tumpah, tapi mengucur dan mengalir dan merebak kemana-mana. Termasuk darah-darah mereka yang merindukan itu, juga mereka yang tidak tahu apa-apa, dan mereka yang tidak pernah tahu sajak itu. * Sumber bacaan: Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto, Prahara Budaya, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Mizan, Cetakan ke-4, 1995. » * Demikian postingan Hasan Aspahani yang suka menyingkatnya dengan HAH, lantas saya balas :
Balasan Hasan Aspahani, Apsas 4 Oktober 2008 : Bang Kohar yang baik,
Balasan saya atas balasan Hasan, Apsas 4 Oktober 2008 : Iya, deh. Terima kasih atas penjelasan Bung. Telah mengurangi kekhawatiran saya. Khawatir jika mengingat posisi Bung yang bukan sebagai "pemula" atau "anak kemarin", melainkan telah punya pengalaman dan berjasa di bidang kesusastraan Indonesia, juga di dunia pers, dimana Bung berposisi sebagai Pimred Harian Batam Pos. Dengan harapan, seperti yang sudah-sudah, semoga saja catatan saya kalini juga ada manfaatnya untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi yang berkenan. *** (27 Oktober 2008) Catatan : Ilustrasi foto bersejarah Mawie Ananta Jonie – berdiri, kelima dari kiri - ketika sebagai mahasiswa di RRT, tahun 1964. (Foto : Dokumentasi MAJ).
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











