Stigma Yang Berdarah Darah
Oleh A. Kohar Ibrahim    Minggu, 28 Desember 2008 13:33    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Stigma Yang Berdarah Darah


Sekitar Prahara Budak Budaya (2)
Oleh : A. Kohar Ibrahim

 

STIGMA Yang Berdarah Darah dibudayakan dalam masa terorisme Orde Baru (OrBa), untuk mengkambing-hitam-kan lawan politik demi menegakkan dan melanggengkan kekuasaan rampokannya dengan kudeta militer. Meski sudah sekian lama Era Reformasi, rupanya masih kentara menyisa dalam kehidupan masyarakat maupun aparat pemerintah.  Halmana tergema dalam perbincangan di Apsas dan di pers seperti yang saya utarakan dalam naskah terdahulu (1), Apsas 12 Oktober 2008.

Bahaya laten stigma ciptaan OrBa itu pun terbuktikan adanya berita jadwal peluncuran buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku yang sedianya dilangsungkan di musium NU dibatalkan, sehingga panitia terpaksa mencari tempat lain, yakni di Gedung Bapelkes, Jalan Bendul Merisi 7, Surabaya. Juga, ketika sedang menyusun naskah ini, datang berita dari sang editor/penulis Muhidin & Ria, bawa tanggal 27 Oktober 2008, Toko Buku Gramedia meretur Trilogi tersebut ke alamat mereka di Jogya.

Budaya teroris berupa pemberian cap yang menakutkan sekaligus ketakutan akan lawan politik OrBa yang mereka sebut « G30SPKI », « PKI » sekalian yang secara serampangan mereka cantelkan sebagai « onderbow PKI » macam Lekra itu memang sudah menjadi mentalitas OrBais sejak awal mulanya. Sejak mula terjadinya Tragedi Nasional 1 Oktober 1965. Demi memberikan citra buruk dan kejam atau yang berdarah-darah. Citra buruk sebagai propaganda hitam yang dilakuan dengan menghalalkan segala cara, dalam ragam ruang, sarana, institusi dan media massa (pers) yang mereka hegemoni sudah sejak hari-hari pertama bulan Oktober 1965 itu.

Dari perbincangan di milis Apsas, seperti saya utarakan di bagian pertama rangkaian tulisan ini, yang terutama sekali menggelitikku adalah justeru yang langsung berkenaan dengan « citra berdarah-darah » itu. Jelasnya berupa postingan dari sang Penyair Sejuta Puisi asal Kalimantan tapi bermukim di Kepri yang baru-baru ini memegang posisi sebagai Pimred Harian Batam Pos : Hasan Aspahani. Postingannya tertanggal 3 Oktober,  sebagai komentar atas komentar Ikranagara yang antara lain mensitir buku « Prahara Budaya » Dr Taufik Ismail dan D.S. Mulyanto itu, sebagai berikut :

« Ini dari blog saya, postingan  24 Mei 2007. Saya punya buku yang disebut Pak Ikra dan sempat agak tekun membacanya.
Hasan Aspahani
------------
Sebuah Sajak dan Selembar Surat Menjelang Darah Tumpah
Oleh Hasan Aspahani

/1/
Penyair itu bernama Mawie. Di Lampiran Kebudayaan Lentera, Bintang Timur, 21 Maret 1965, ada sebuah sajaknya terbit. Judulnya "Kunanti Bumi Memerah Darah". Enam bulan sebelum Gestapu 1965 alias G30S/PKI. Pada bait terakhir dari sajak itu tujuh bait itu terbaca:
malam ini ia petik kecapi
bersama nyanyi
Ciliwung airnya merah
walapun merah hidup tampaknya
kunanti bumi memerah darah
kuserahkan engkau kepadanya.

Sajak itu dimulai dengan baris: bulan arit di langit. Baris bumi memerah darah itu adalah pengulangan dari baris yang sama di bait kedua. Enam bulan sebelum bumi Indonesia benar-benar memerah darah.

Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakjat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera). Tema yang memanglimakan politik. Tilik judul-judulnya: Kepalaku Marxis, Diriku Leninis (Sobron Aidit), Leningrad (Setiawan Hs), Kepada Konferensi (Hersat Sudijono), Gayang Malaysia, dan Peking (Nusananta), Penerbangan Malam ke Leningrad (Verga Belan). Sajak-sajak itu terbit dalam selang waktu 1962-1965.

Adapun Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat dibentuk pada 17 Agustus 1950 di Jakarta. Lembaga ini digagas oleh D.N. Aidit, M.S Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto. Anggota awalnya adalah para penggagas itu ditambah beberapa nama: Herman Arjuno, Henk Ngantung, dan Joebar Ajoeb. Pada awalnya Lekra punya lembaran kebudayaan tiap minggu di majalah Zaman Baru yang terbit di Surabaya. Lembaran itu dikelola oleh Iramani (alias Njoto), Klara Akustia (A.S. Dharta), dan M.S. Ashar. Setahun setelah berdiri, Lekra sudah punya cabang di 20 kota. Cepat dan sistematis sekali.

/2/
Iwan Simatupang, pengarang sejumlah novel dan kumpulan cerita pendek itu, ada menulis sejumlah surat politik sepanjang antara tahun 1964-1966. Akan kita kutip salah satunya yang sewaktu dengan sajak di bagian di atas. Surat itu ditulis 4 Februari 1965. Kurang lebih 7 bulan sebelum G30S/PKI.

Petikannya:
Larto,
        Suatu psikose menjalar kini di seluruh nusantara: bila persis PKI mau coup? Aidit boleh seribu kali membantah, rakyat dan AB kita makin teringat pada Madiun. Dan Aidit secara seratus prosen - Aidit sudah pula menggertak.
        Bila di tahun 1948 PKI dengan anggotanya yang cuma 100.000 orang bisa bikin korban begitu banyak sudah, maka bagaimana dengan PKI sekarang yang sudah punya anggota tiga juga (resmi)? Secara aljabar kelas 1 SMP: tentu seramnya bakal tiga puluh kali! Jadi, mayat yang bakal bergelimpangan akan berjumlah tiga puluh kali; darah kering di gedung-gedung pembantaian (yang mungkin juga nantinya bakal mereka sebut Marx House) tebalnya tiga puluh kali dari darah kering yang ditemukan di ubin Marx House di Madiun tempo hari.
        Semua gambaran seperti ini memang seram, Larto! dan memang, bukan tak punya alasan rakyat kita untuk mengenangkan kembali Madiun di tingkat pergolakan politik seperti kini ini di tanah air kita...

/3/
Apakah Marx House? Saya lupa apakah pernah atau memang  tak pernah mendapatkannya dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. Marx House adalah rumah pembantaian di Madiun, di lantainya darah kering setebal 2,5 cm! Rumah itu ada juga, di Dungus, Walikukun, Tulung Agung, Pacitan, dan nama-nama kota lain-lain.

/4/
Surat itu dtulis tujuh bulan menjelang darah tumpah. Darah yang dinanti oleh sebuah sajak lain, enam bulan sebelum benar-benar tumpahlah darah. Surat Iwan yang tinggal di Bogor ditujukan kepada sahabatnya pengarang B. Sularto (Yogya). Surat-surat pribadi yang kala itu tidak dibaca umum. Ia kelak dibukukan jauh hari, dan baru kita bisa membacanya dengan bebas. Sementara sajak itu? Ia terbit di surat kabar, yang tentu dibaca orang banyak. Bayangkanlah, semuanya terjadi enam-tujuh bulan menjelang darah tumpah. Ada sajak yang merindukan tumpahnya darah itu, ia dalam sajak itu menanti sambil memetik kecapi dan nyanyi. Dan surat itu meramalkan dengan kengerian -- tapi si penulis surat tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, selain menulis surat untuk sahabatnya.

/5/
Selembar surat. Sebuah sajak. Dari keduanya kini kita bisa melihat banyak hal: ada penguasa yang lupa, ada partai dengan sebuah ideologi yang laku dijual dan pemimpinnya yang taktis dan jenius yang amat efektif merangkum massa dan menggerakkannya, sebuah catatan sejarah yang begitu mudah dilupakan, dan ancaman pertumpahan darah yang eh justru ada yang "merindukan" .

Darah kemudian memang tidak saja tumpah, tapi mengucur dan mengalir dan merebak kemana-mana. Termasuk darah-darah mereka yang merindukan itu, juga mereka yang tidak tahu apa-apa, dan mereka yang tidak pernah tahu sajak itu.

* Sumber bacaan: Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto, Prahara Budaya, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Mizan, Cetakan ke-4, 1995.  »
 

*

Demikian postingan Hasan Aspahani yang suka menyingkatnya dengan HAH, lantas saya balas :

 


Bung HAH Yb,
 
Menyimak postingan Bung di bawah ini, saya jadi tergelitik sekalian penasaran. Pertanyaannya sederhana saja: Bung susun/siar tulisan tersebut 24 Mei 2007, setelah sekian usia dengan pengetahuan dan aktivitas-kreativitas sekalian, apakah sikap pendirian atau opini Bung sampai detik ini masih seperti yang Bung ekspresikan itu?
 
Atas penjelasan Bung, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih. Semoga akan menjadi tambahan pengetahuan saya dalam aktivitas-kreativitas tulis menulis.
 
Salam,
(Kohar)


*

Balasan Hasan Aspahani, Apsas 4 Oktober 2008 :

Bang Kohar yang baik,
 
Makanya saya posting di sini, mumpung ada diskusi yang kena mengena dengan hal ihwal itu. saya berusaha menjadi wartawan yang baik. cek dan balik-cek.  verifikasi. cuma itulah, selain urusan mencari nafkah, tentu saja urusan sastra menyastra begini hanya diurus sesempatnya, mungkin tulisan yang disebut akmal tadi ingin saya dapatkan.
 
bang kohar, bisakah mengomentari apa-apa yang saya kutip disitu? sajak itu? judul-judul sajak itu? surat iwan simaputang? saya belum memferivikasi ke mana-mana. buku Prahara Budaya itu saya kira buku yang mengutip fakta-fakta (isinya kan kliping koran). tapi apakah kemudian fakta itu disusun dengan netral? saya kira tidak. paling tidak saya berusaha membaca dengan kritis untuk menghindar dari ketidakberimbangan dua editor penyusun buku itu.
 
itu, Itu saja, bang.
 
Hasan Aspahani


*

Balasan saya atas balasan Hasan, Apsas 4 Oktober 2008 :

Iya, deh. Terima kasih atas penjelasan Bung. Telah mengurangi kekhawatiran saya. Khawatir jika mengingat posisi Bung yang bukan sebagai "pemula" atau "anak kemarin", melainkan telah punya pengalaman dan berjasa di bidang kesusastraan Indonesia, juga di dunia pers, dimana Bung berposisi sebagai Pimred Harian Batam Pos.
 
Bukan hanya mengingat harapan dari Hasan Aspahani tersebut di atas, tapi juga untuk membuktikan keseriusan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan lainnya, terutama terhadap Ikranagara, maka saya mulai mengkontak penyair Mawie Ananta Jonie sekalian melacak beberapa dokumentasi atau catatan budaya saya sendiri, baik yang belum maupun yang sudah disiarkan seperti majalah Kreasi dan majalah Arena dan lainnya lagi.

Dengan harapan, seperti yang sudah-sudah, semoga saja catatan saya kalini juga ada manfaatnya untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi yang berkenan. ***

(27 Oktober 2008)

Catatan : Ilustrasi foto bersejarah Mawie Ananta Jonie – berdiri, kelima dari kiri - ketika sebagai mahasiswa di RRT, tahun 1964. (Foto : Dokumentasi MAJ).

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Vnet

Iklan Kampanye

Advertising

Top Kontributor

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.