Geliat Tubuh Tak Akan Pernah Mati
Oleh AJ Susmana    Sabtu, 06 Desember 2008 20:13    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Seorang teman bertanya: apa hikmah dari pro dan kontra RUU Pornografi yang begitu gencar dan massif di Indonesia saat ini? Ia pun menjawab sendiri: setidaknya, orang-orang mulai memperhatikan tubuh dan membicarakannya, terlepas dari sudut pandang, tujuan dan kepentingan masing-masing.

Memang sejak dahulu bahkan ketika saya masih kecil, pun sampai saat ini, ada bagian-bagian tubuh yang terlarang untuk dibicarakan secara terbuka. Untuk menyebutkannya pun bila perlu, harus menggunakan kata-kata kiasan atau asosiasi. Sebab, bila dikatakan terbuka, pengucapan itu dikatakan (dalam Bahasa Jawa): saru dan untuk orang-orang tertentu mungkin bisa disebut omongan kotor dan porno. Orang terpelajar kemudian lebih suka menyebutkannya dalam bahasa asing, misalnya dalam Bahasa Latin seperti vagina dan penis.

 

Tubuh dengan begitu dalam sebagian tradisi masyarakat kita, menjadi sakral (baca juga: disakralkan) dan cenderung anti untuk dibicarakan secara terbuka, ilmiah dan rasional walau percakapan tentang tubuh secara dewasa dalam artian ilmiah, dapat berguna untuk (semakin memahami) kemanusiaan manusia sendiri, terutama dalam soal-soal seksualitas, alat-alat reproduksi dan juga untuk kepentingan ilmu-ilmu biologi dan kedokteran. Pemahaman yang misterius tentang tubuh dan cenderung irasional justru dapat menimbulkan berbagai takhayul berkaitan dengan tubuh manusia misalnya dalam soal-soal kecacatan tubuh yang dianggap tak normal dalam masyarakat (seperti manusia cebol, albino, kebutaan sejak lahir..), proses kesakitan tubuh dan kematian tubuh.


Walau begitu, di tengah dominasi sakralitas tubuh, dalam sebagian tradisi Sastra Jawa, percakapan tentang tubuh pun sering dikemukakan secara vulgar. Misalnya dalam Serat Centhini dan Gatholoco (dan tak menutup kemungkinan: di luar Sastra Jawa pun ada) Hanya saja, kedua karya sastra ini dianggap berada di luar nilai-nilai resmi yang  berlaku. Katakanlah sastra liar yang tak didukung dan direstui oleh kekuasaan politik yang berlaku. Dengan demikian, jelas bahwa percakapan tentang tubuh tak bisa dilepaskan dari kekuasaan. Tubuh pun menjadi bagian dan wilayah perebutan kekuasaan politik. Menguasai wacana tentang tubuh adalah juga salah satu cara untuk mempertahankan kekuasaan. Dengan cara itulah politik tubuh dikendalikan dari pusat kekuasaan untuk mengatur nilai-nilai kemasyarakatan dan tidak menimbulkan benih-benih pemberontakan.

Dengan caranya sendiri pula, kekuasaan dapat menistakan tubuh lawan tanpa ampun. Babad Tanah Jawi bercerita bagaimana tubuh Trunajaya, orang kecil (bukan ningrat?) yang dianggap bercita-cita menjadi raja dibunuh dengan sadis: tubuhnya dirusak, dipotong-potong bahkan kepalanya dideplok, dihancur-leburkan di lumpang. Kenapa? Apakah begitu bencinya terhadap pribadi Trunajaya? Atau ketakutan yang tak masuk akal akan keutuhan tubuh Trunajaya dan kemungkinan menyatunya kembali tubuh Trunajaya? Padahal perlakuan terhadap tubuh Trunajaya dengan sadis itu berlaku di tengah masyarakat yang tertutup dalam membicarakan tubuh…?

Dan perlakuan sadis terhadap tubuh itu masih terus berlanjut hingga masa kini. Kita ingat pada Marsinah, buruh yang berjuang menuntut haknya itu, organ seksualnya dirusak dan tubuhnya dibuang begitu saja; juga Gilang,  penyanyi jalanan dari Solo yang getol menentang kekuasaan Orde Baru itu, tubuhnya dirusak dan dibuang begitu saja di pinggiran hutan; pun para aktivis yang diculik sebelum Soeharto jatuh. Dalam skala tertentu, penistaan terhadap tubuh masih dilakukan Kepolisian Republik Indonesia terutama ketika meminta pengakuan bersalah dari orang (yang belum tentu bersalah) untuk dipaksa mengaku bersalah. 

Dan hari-hari ini, dalam momentum pro-kontra RUU Pornografi, percakapan tentang tubuh: membatasi atau membunuh geliatnya atau membiarkan saja berekspresi (walau di tengah terkaman industri pornografi), membuka setiap mata dan pikiran orang bahkan orang-orang awam untuk bertanya: ada apa dengan tubuh kita ini? Mana yang perlu ditutup dan mana yang boleh dibuka? Mengapa kita tidak hidup sesuai tradisi yang sudah ada? Begitu pentingkah semua percakapan tentang tubuh ini bagi kemanusiaan dan tingkat kesejahteraan kita?

Dolorosa Sinaga, melalui Pameran Patung bertajuk Have You Seen A Sculpture from the Body? Pernahkah Kamu Melihat Patung tentang Tubuh? di Galeri Nasional Jakarta, 15 Oktober- 1 November 2008, mengajak kita untuk melihat geliat kekayaan tubuh manusia dalam berbagai pose, emosi, cita-cita dan penderitaanya. Pameran yang tampak menuntut jawaban sebelum Anda menyaksikannya langsung atau memasuki ruang pameran ini pun membuat batin saya menjawab: “Ya pernah yakni patung tubuh Yesus yang terluka di kayu salib dan patung Budha alias Mbah Reco yang hilang di desa saya dan membuat saya ingat bagaimana orang-orang desa harus sedikit membungkukkan badan bila lewat di depan patung ini sambil berkata pelan: ndherek atau nyuwun langkung, Mbah.. (minta ijin lewat, Eyang)  

Melalui patung-patung sentuhan kreatif Dolorosa itu seakan kita diajak untuk merenungi hakikat ketubuhan, baik keindahan,  kegembiraan dan luka-lukanya yang semua itu merupakan isyarat kemanusiaan kita sendiri agar semakin arif dalam memahami manusia secara utuh. Dolorosa melalui patung-patungnya  itu menggambarkan derita manusia korban gempa, korban Lumpur lapindo, korban penggusuran namun tak lupa juga, menggambarkan ekspresi geliat kegembiraan tubuh: Dance to the Moonlight, misalnya.

Sentuhan keakraban yang dilandasi cinta dan persahabatan antar anak manusia, antara Ibu dan Anak yang bagi sebagian orang bisa mengingatkan pada Yesus dan Bundanya,  Maria, pun disampaikan dalam pameran ini, termasuk juga kemungkinan hubungan yang tak berlanjut antar dua jenis manusia yang berbeda kelamin dalam patung “Sia-Sia” misalnya. Dalam ruangan yang lain, kita pun seakan diajak untuk memahami ekspresi religiositas Dolorosa sendiri. Ketika kita berjalan menuju ruangan itu, kita seperti berjalan menemui perempuan yang suci: The Lady dengan hallo tanda kesantaannya.

Dolorosa dalam pameran ini tampak betul-betul hendak mengeksplorasi berbagai geliat dan gerak tubuh manusia dalam berbagai ekspresi. Seakan-akan ia hendak berteriak: “Geliat tubuh tak akan pernah mati apapun yang terjadi.” 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.