 Satu lagi bukti, tak ada yang bias menyangkal ketentuan yang pasti Sang Illahi, kapan kita kembali asal yang mendasar. Menghadap Illahi ke pemukiman abadi. Dan giliran itu mendatangi, Gus Dur. Seorang yang berbeda yang pernah memimpin negeri ini, dengan pemikiran melampaui kebanyakan siapapun di negeri ini. Moga jalanmu tenang Gus…
Sejak tadi malam, media televisi tak henti menyampaikan kabar duka hingga siang ini, prosesi pemakaman yang disiapkan di Jombang.
Saya pun tidak bisa tidak, terseret ke belakang, ke waktu yang tak cukup lama berselang. Sekitar setahun lebih saja, Gus....
Hobi cuap-cuap saya di seminar dan dialog, mentakdir saya hari itu, Senin 24 November 2008, harus duduk di kursi pentas kecil berhadapan dengan ratusan orang lainnya di hotel Novotel, Batam. Berselang satu kursi di sebelah saya seorang kolega yang akademisi sebuah perguruan tinggi di Batam, juga telah duduk dan siap menjalankan tugas. Iya hari itu kami mendapatkan tugas yang bagi saya bersejarah, menengahi seorang tokoh cendekia sekalugus mantan presiden republik ini, Gus Dur.
Hari itu direncanakan Gus Dur akan berdialog dengan masyarakat kota tentang pemimpin di negeri ini. Tentang segala soal demokrasi di negeri ini. Dan ini kali pertama saya menjadi penengah dialog alias moderator seorang mantan presiden.Tentu akan sangat berbeda dibandingkan pengamalan sebelumnya, dengan Putri Indonesia Atika Sari Devi, atau semacam politikus yang juga artis Marissa Haque yang kemudian menjadi sahabat.
Hari ini, pikir saya saat itu, akan sangat berbeda, bukan karena jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga pemikiran-pemikirannya yang bernas dan melampaui umumnya berpikir kebanyak orang. Dan lebih lagi, ceplas-ceplos.
Panitia pun mewanti-wanti tentang ini itu yang supaya cendekia bangsa itu tidak "terlalu ceplas-ceplos",karena bisa saja banyak orang yang tersentil merasa tersengat.Maklum kita belum terbiasa menerima kritik apalagi yang agak sedikit pedas.Sekalipun benar, dan fakta. Iya, di sinilah agak bedanya.Jika sebelumnya-sebelumnya, saya harus "mengkompori" pembicara, kali ini saya justru sebaliknya.
Tak lama menunggu, sang cendekia hadir ditemani beberapa orang, dan seorang diantaranya, ketua panitia, Basith. Gus Dur memasuki ruangan dengan kursi roda menuju pentas. Semakin dekat, kursi roda berhenti persis di pinggir pentas yang hanya beberapa centimeter tingginya dari lantai. Gus Dur dipapah, dan duduk di kursi kursi berselang satu kursi sebelah saya yang memang telah menunggunya.
Mengenakan kemaja batik lengan pendek sederhana, dan lengan kirinya mengenakan gelang dari rajutan benang, selain jam tangan khas laki-laki. Teman saya mengatakan itu gelang persahabatan dari Bali. Mikropon saya coba lebih dekatkan untuknya, sang cendekia mengucap "terimakasih." Saya mengenalkan diri, sebagai salah seorang yang akan memoderatari dialognya. Dia menatap saya dari balik kacamata, bertanya: "Mbak, berapa banyak yang hadir dan kelompok apa saja?"
Mulai saat itu, dialog dimulai,berjalan hangat penuh canda, tawa. Soal bangsa ini dibedah dengan kritis dan ceplas-ceplos.Dan benar tak perlu dikompori. Gus Dur bicara mengalir, hampir satu jam tanpa henti. Mulai soal orang-orang yang menyiapkan diri sebagai kandidat di negeri ini. Soal tipa-tipu demokrasi oleh beberapa petinggi. Gus Dur ketika itu mengatakan negeri yang sakit ini, bisa diobati jika setiap kita tidak keluar dari konsep hakiki: jujur. Apalagi petinggi. Kekuasaan ujian untuk membuktikan kejujuran itu. Sayangnya, tak banyak yang mampu untuk berbuat dan berkata jujur.
Ada yang masih tersisa ingat di kepala saya,ujar katanya: "Seorang jendral mendatangi saya, dia minta saya memberikan dukungan untuk langkahnya menjadi calon presiden, dan saya akan diberi kursi, menjadi menteri...hehehehehe..." Gus Dur terkekeh hadirin tertawa.
Pembicaraan semakin gurih, ketika bapak multikultur itu menyinggung bagaimana menciptakan harmoni antar kultur tidak hanya sebatas semboyan."Mana ada orang bisa memilih dilahirkan sebagai siapa dan dari suku apa.." Juga soal-soal fatwa yang dilahirkan MUI.
Sesekali ia mendekatkan kepala dan meminta saya mengulang beberapa pertanyaan yang disampaikan hadirin. Satu pertanyaan saja membuat Gus Dur bisa mengupas banyak hal lain yang selama ini masih dibungkus. Gus Dur mengupasnya tanpa tedeng aling-aling. Iya, itu juga bukti kejujuran, tidak menutupi fakta yang sebenarnya.
Kini, sang bapak bangsa menuju peristirahatan terakhir, dengan banyak pesan yang telah ditinggalkannya untuk bangsa ini. Seberapa paham kita akan pesan-pesan itu? Salah satunya soal kejujuran. Iya Gus...kejujuran pelajaran yang paling hakiki, untuk kita bisa menapaki langkah ke mana pun...... Batam, 31 Desember 2009.
Oleh Lisya Anggraini
teks foto: Lisya di tengah, dan Gus Dur saat dengan masyarakat batam, Senin, 24 november 2008.
|