| Bintang Utuy Tatang Sontani | ||||
|
|
Bintang Utuy Tatang Sontani Esai Sastra Oleh : A. Kohar Ibrahim
Buku tersebut disusun dan disertai kata pengantar oleh sastrawan Ajip Rosidi yang bukan saja sama-sama asal etnis Sunda tapi juga pakar bahasa dan sastra Indonesia yang cukup mengenal Utuy sejak masih muda. Selain isi tulisan Utuy yang berupa memoar itu layak disimak, juga pengantar sang pakar layak pula menjadi perhatian. Terutama sekali perihal bagaimana sang dramawan kaliber besar itu sampai masuk Lembaga Kebudayaan Rakyat. Hingga diapun menjadi salah seorang korban kebiadaban penguasa Orde Baru. Ada apa dengan judul dari saya tersebut diatas? Kok berani-beraninya memberi penilaian afirmatif segala? Ah, sederhana saja fasalnya. Karena saya juga termasuk yang mengenal Utuy Tatang Sontani yang kelahiran Cianjur 1920 meninggal di Moskow 1979 itu. Saya sering ketemu dalam kegiatan di salah satu lembaga seni Lekra, yakni Lembaga Sastra Indonesia di Jalan Cidurian 19 Jakarta. Kemudian, selama beberapa tahun pernah sama-sama bermukim di negeri Naga Merah. Yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRC). Nah lho! Ajip kepergok saya -- jadinya! Dalam hal kenapa-bagaimana-nya Utuy itu! Bahwasanya saya juga menyaksikan Utuy adalah Utuy, dimanapun dia berada. Apakah di tanah Parahiyangan, di Jakarta, ataukah di Peking atau di Moskow sekalipun! Kerna ketika masuk Lekra ketika itu dia sudah jadi tokoh. Seperti halnya juga Pramoedya Ananta Toer, S. Rukiah, Rivai Apin, Hr Bandaharo, Boejoeng Saleh dan yang lainnya lagi. Artinya, Utuy sebagaimana juga yang lainnya itu, menjadi besar atau terkenal bukan "dicetak" atau "digarap" Lekra -- apalagi PKI! Dan tidak pula lantaran "terjerat oleh kelihaian orang-orang PKI menarik para pengarang dan seniman yang tidak tahu politik masuk ke dalam strateginya" seperti kata Ajip (hlm 19). Melainkan karena kreativitas dan kecendekiawanannya sebagai individu-individu yang sudah jadi. Maka apapun terjadi, mereka atau yang semacam Utuy tetaplah demikian adanya. Begitulah, halnya dalam kaitannya dengan ideologi yang diharamkan penguasa Orde Baru: "komunisme, marxisme, leninisme." Sebagaimana juga cap "G30S/PKI", cap ideologi semacam itu bukankah hanya rekayasa sang penguasa Orde Baru itu sendiri dalam rangka aksi perampokan dan pelanggengan hasil rampokan kekuasaan negara (kudeta) yang mereka lakukan? Main cantel-cantelan, main cap-capan dalam kampanye besar alias propaganda-hitam itulah penguasa Orde Baru telah menistakan ideologi lawan politiknya seraya menistakan secara serampangan siapa saja, golongan mana saja, yang dianggap membahayakan kekuasaan hasil rampokannya. Maka orang-orang semacam Utuy pun yang "seniman individualis" terkena prahara teroris Orba. Padahal, apa buktinya? "Keyakinan saya dulu bahwa mustahil Utuy menjadi komunis, ternyata dibenarkan oleh memoarnya. Utuy menganggap komunisme sebagai sesuatu yang indah, tapi itu hanya menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui komunisme..." (hlm 19). Itulah buktinya. Itulah kenyataannya. Begitulah Utuy. Tetapi, hanya begitupun ("yang tidak mengetahui komunisme") dan tanpa pembuktian apa dosanya dia sudah harus menerima penindasan yang dahsyat. Sejak hari-hari pertama kreasinya sudah diberangus penguasa Orde Baru. Dia sendiri menjadi pariah di negeri asing hingga akhir hidupnya. Bahkan sudah jadi mayatpun masih dinaziskan oleh kaum Orbais! Tanpa mempedulikan pesan harapan Utuy agar kalau meninggal dia dikuburkan secara Islam. Katanya: "Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji..." (hlm 20). MENURUT hemat saya, buku ini memang layak disimak, bukan hanya dua bagian isinya. Yakni Bagian Pertama yang meraup subjudul "Mengapa Mengarang", "Haru yang tak Kunjung Kering" dan "What is in a name?"; Bagian Kedua dengan subjudul sekalian judul buku tersebut: "DI Bawah Langit Tak Berbintang", melainkan juga tak kalah pentingnya Pengantar oleh Ajip Rosidi itu sendiri yang bisa dijadikan salah satu bahan kajian sekaligus perdebatan yang menarik. Dalam rangka upaya kita untuk melempangkan sejarah yang telah dibengkokkan penguasa Orde Baru, khususnya di bidang kebudayaan. Dan lebih khusus lagi di bidang seni sastra dan seni drama Indonesia. Yang selama tiga dasa warsa telah menggelapkan Utuy Tatang Sontani hingga bangsa dan rakyat Indonesia tidak bisa lagi melihat karyanya "Di Langit Ada Bintang". Akan tetapi, bagaimana pun sukar-lambannya, angin perubahan terus berhembus membawa khabar yang lamat-lamat menjadi kian kentara. Hembusan angin segar itupun telah menguakkan mega mendung. Hingga belakangan ini terdengar berita: "Di Lampung Ada Bintang" ! Seperti yang dilaporkan oleh Nur Zain Saleh. Berita itu berita peristiwa budaya yang penting, khususnya bidang seni drama atau teater. Karena memberi penjelasan, bahwa telah dilangsungkan suatu Festival Teater Utuy Tatang Sontani di Taman Budaya Lampung 23-26 Januari 2003. Dalam mana 9 kelompok teater mementaskan 5 karya Utuy: Awal dan Mira (Tetar Gemma), Bunga Rumah Makan (Komunitas Berkat Yakin), Di Langit Ada Bintang (Teater KaeM), Sayang Ada Orang Lain (Teater Sudirman 41, Teater Kolastra, Teater Moderatsis), dan Pengakuan (Teater Sumba, Teater Kurusetra, teater KSS). Sungguh apa yang terjadi di Lampung itu merupakan peristiwa bersejarah. Sebagaimana diingatkan oleh Alex Supartono, anggota Tim Peneliti Sastra Eksil Indonesia. Bahwasanya, "sejak Amarzan Ismail Hamid dan kawan-kawan tahun 1950-an di Medan untuk pertama kalinya menyelenggarakan pekan drama karya Utuy Tatang Sontani, festival ini adalah kali kedua setelah lebih setengah abad. Karenanya, sebagai peristiwa dia menjadi sangat penting. Menjadi bentuk pertanggungjawaban kita terhadap sejarah teater kita sendiri." Sekalipun saya belum lagi membahas isi lengkap buku tersebut, maka saya rampungkan saja catatan ringkas ini. Dengan kesimpulan bahwa setelah periode Di Langit Ada Bintang, lantas disusul dengan Di Bawah Langit Tak Berbintang, maka kini bintang Utuy Tatang Sontani muncul lagi. Karena hasil kreasinya itu memang bagaikan bintang-bintang. Dan sosoknya sendiri adalah salah satu bintang cemerlang di alam kebudayaan Indonesia. ***
|
|||
| Terakhir Diupdate ( Sabtu, 15 September 2007 11:29 ) |

















