Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim    Jumat, 27 Maret 2009 15:22    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Memaknai Warna Merah Darah Rakyat

Sekitar Prahara Budak Budaya (7)
Oleh: A.Kohar Ibrahim

 

SPBB (6) mendapat sambutan antara lain dari salah seorang anggota Milis HKSIS, yang ternyata adalah salah seorang teman lama Mawie Ananta Jonie.  Bernama : Rachmat Hadi-Soetjipto. Teman lama dalam makna sejak masa muda, sejak melakukan aktivitas bersama di Ibukota Jakarta dan juga selama bersama-sama bermukim di Republik Rakyat Tiongkok.

Penjelasan Bung Rachmat sekaligus juga kesaksiannya atas segi-segi dari perjalanan kehidupan Mawie. Kiranya layak disimak, sebagai pelengkap bahan pertimbangan, seperti saya sitir sepenuhnya di bawah ini.

*

Rachmat Hadi-Soetjipto :

« Dengan adanya diskusi ini saya ingin sekedar memberikan pendapat saya.
Saya kenal Bung Mawi sejak tahun 1964. Waktu Kongres IPPI yang ke VII tanggal 20 sampai 24 Juli 1964 di Gedung Senayan Jakarta.

Dia pada waktu itu mengorganisasi Kongres, terutama memimpin Bagian Olahraga, adapun saya dibidang Transport yang menyediakan kendaraan untuk peserta-peserta Kongres.

Sesudah itu (setelah Kongres berachir) kita bersama-sama tinggal di Asrama untuk mengadakan persiapan pergi (belajar) keluar negeri.

Diluar negeri kita bersama-sama belajar bahasa asing sebagai persiapan untuk belajar fach kita masing-masing.

Setelah terjadinya perebutan kekuasaan oleh Soeharto dari Soekarno lewat SuperSemar, karena dia dan saya mendukung Presiden Soekarno, dan me-
ngutuk Soeharto ; passport kita dicabut oleh KBRI , dan kita terpaksa lagi untuk bersama-sama disatu tempat  di Tiongkok sebagai orang-orang gelandangan yang tak punya kewarganegaraan.

Jadi dengan tidak putus-putusnya saya sejak pertengahan tahun 1964 sampai tahun-tahun 70-an selalu bersama-sama disatu tempat yang dapat memberikan syarat untuk mengetahui dan mengenal satu sama lain.

Dia bukan seorang Jayabaya atau Ranggowarsito yang dapat mengetahui atau meramalkan tentang apa yang akan terjadi (PERAMAL). Dia adalah seorang Seniman yang suka ber-Puisi dan ber-Sajak. Waktu tahun-tahun jamannya Bung Karno, banyak Seniman yang menyintai warna MERAH sebagai DARAH didalam karya-karyanya yang menandakan kabanggaan mereka tentang adanya Situasi Revolusioner Rakyat Indonesia pada waktu itu.

Selain itu juga kata-kata REVOLUSI dan kata-kata REVOLUSIONER selalu dibibir dan diujung pena Senimanseniman yang maju untuk berkarya, terutama bagi pendukung-pendukung, pemuja-pemuja dan pengikut-pengikut Soekarno yang selalu mengajak Rakyat Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat gerakan-gerakan Revolusioner di dunia. Ini termasuk juga Bung Mawi.

Jadi kalau karya-karya dia itu ada kata-kata MERAH seperti DARAH, atau Revolusi, itu bukan berarti bahwa dia dapat meramalkan tentang adanya peristiwa apa yang akan terjadi (misalnya : Gerakan 30 September 1965) seperti Ronggowarsito atau Jayabaya. »

Demikian Rachmat Hadi-Soetjipto dalam postingannya untuk Milis HKSIS Minggu 9 Nopember 2008.

*

KATA merah maupun kata darah atau metaforanya bukanlah merupakan hal yang patut dijadikan persoalan baik dalam bahasa sehari-hari yang biasa-biasa saja maupun dalam alam perpuisian, nyanyian dan bentuk ekspresi kesenian lainnya. Soal persoalan bisa timbul dalam hubungannya dengan daya apresiasi tiap orang. Apresiasi yang tak lepas dari kepentingan yang bersangkutan ; tak lepas dari motivasi atau maksud-tujuannya ; dari sikap pendiriannya.

Dalam mengapresiasi, bisa saja terjadi, jika yang bersangkutan kurang memahami situasi dan kondisi serta sejarah dari apa yang diapresiasinya. Penyair sekali pun penyair sekaliber Hasan Aspahani yang juga jurnalis profesional, ternyata bisa menyusun lantas menyiar tulisannya yang jadi persoalan itu. Ia menjadi persoalan penting, bukan lantaran mutu tulisannya itu melainkan saling kait berkaitannya dengan tulisan-tulisan atau buah pikiran penulis lain. Terutama sekali tulisan berupa buku macam « Prahara Budaya » itu.

Dalam hal memahami situasi dan kondisi ketika Mawie Ananta Jonie menulis sajaknya berjudul « Kunanti Bumi Memerah Darah » saja, kentara kecenderungan Hasan yang cuma mengikuti nada suara penulis senior Taufik Ismail. Dia mengalami kesukaran memahami bagaimana situasi dan kondisi sosial dan politik Indonesia zaman pemerintahan Presiden Sukarno. Dengan politik persatuan besarnya yang disebut Nasakom (nasionalis, agamis, komunis) ; dengan garis perjuangannya untuk membina masyarakat Indonesia yang merdeka penuh,  adil dan makmur serta aman-tenteram yang disebutnya sebagai Sosialisme ala Indonesia ; dengan garis perjuangannya untuk membina kebudayaan nasional ; dan dengan garis politiknya yang anti-feodalisme dan anti-nekolim yang dikepalai oleh kaum imperialis Amerika Serikat ; dengan garis politik luarnegerinya yang didasari oleh Semangat Bandung – semangat perjuangan teriring jalinan solidaritas pada rakyat dan bangsa Asia-Afrika mencapai kemerdekaan dari belenggu nekolim. Sedangkan di dalam negeri, perjuangan untuk membina persatuan erat sekali dengan perjuangan untuk melawan perpecahan yang berupa rongrongan dari kaum kontra-revolusioner yang bersekongkol dengan pihak asing untuk meletuskan pemberontakan macam DI/TII, RMS, PRRI/PERMESTA. Dalam perjuangan mana cukup banayak darah tertumpah, cukup besar korban jiwa yang berjatuhan.

Iya. Memang iya dan benar : pada masa gelora perjuangan itu kata-kata merah dan darah kerap digunakan dalam ragam macam ekspresi yang mencerminkan kesinambungan perjuangan, keberanian dan pengorbanan di sepanjang sejarah perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Maka kiranya tidaklah janggal pun tidak mengherankan kalau dalam masa perjuangan itu lahir kreasi sastra dan seni serta ragam ekspresi yang mencerminkan situasi dan kondisi obyektip kehidupan masyarakatnya. Termasuk ekspresi atau ungkapan dengan menggunakan kata-kata :  rakyat, darah, merah, juang, berani, korban, revolusi, kontra-revolusi, reaksioner, feodal, kolonial, komprador, kabir atau kapitalis-birokrat dan sebagainya lagi.

Iya. Memang iya. Bisa dipahami juga, kalau daya apresiasi orang macam Hasan Aspahani berbeda dengan orang macam Mawie. Misalkan saja dalam menyanyikan atau mendengar lagu populer berjudul : Darah Rakyat. Salah sebuah lagu perjuangan, selain Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar serta lagu-lagu lainnya yang populer di masa pergolakan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

Lagu Darah Rakyat yang sudah hadir sepuluh tahun sebelum diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia itu, kini bisa didengar via channel YouTube, dibawakan oleh Majib Salleh, liriknya :

Darah Rakyat masih berjalan

Menderita sakit dan miskin

Padanya datang pembalasan

Rakyat yang menjadi hakim

Rakyat yang menjadi hakim

Hayo ! Hayo !

Marilah bergerak sekarang

Merah Putih panji panji kita

Merah warna Darah Rakyat

Merah warna Darah Rakyat

*

Dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda, besar kemungkinannya terjadi perbedaan tertentu dalam mengapresiasi lagu tersebut. Pas bahkan bisa menggetarkan hati dan pikiran bagi seseorang, biasa-biasa saja atau bahkan meremehkan lagu tersebut. Sedangkan bagi diri saya sendiri, saya tergolong yang pertama, dan malah tergugah untuk meneruskan perjuangan demi kemerdekaan, tegaknya kebenaran dan keadilan.

Itu dan begitulah adanya dorongan untuk menyusun bloknota SPBB ini. Dan dalam menyusun bagian ke-7 ini, saya jadi ingin menegaskan apa yang telah disebutkan oleh Pak Wertheim. Yakni soal yang jadi persoalan sekaitan dengan pemberian « citra yang berdarah darah » secara sewenang-wenang. Kesewenangan yang berdampak negatip lantaran sarat akan pembodohan, kental akan rekayasa dan pemutarbalikan sejarah bangsa dan rakyat Indonesia.

Tulisan yang disitir Pak Wertheim itu adalah berupa Pengantar Redaksi yang saya susun untuk terbitan Majalah Arena N° 21 Th 1990-97 : Benarkah « PKI Memberi Citra Berdarah » ? Dengan affirmatif : Tangan-tangan Rezim Zalim Berlumuran Darah.

SALAH satu ocehan yang paling memuakkan sejak berdirinya rezim Orde Baru – pakah itu keluar dari mulut pentolannya ataukah dari epigon atau budak-budaknya – adalah yang bersifat tudingan terhadap Partai Komunis Indonesia. PKI. Contoh yang paling gamblang adalah dari salah seorang yang berpredikat « pakar sejarah » dan bertitel « Dr ». Dalam Mutiara (8.8.1996) secara gegabah dia ngoceh tentang « keberatan masyarakat Indonesia pada paham komunisme. » Pada PKI. Hal itu dikemukakan dalam konteks terjadinya « Peristiwa Juli 1996 » yang menurut propaganda rezim Orde Baru sebagai peristiwa yang « ditunggangi oleh Partai Rakyat Demokratik, dengan cara-cara yang mirip seperti dilakukan PKI pada 30 tahun lalu dan kejadian-kejadian sebelumnya ».  (Pemberontakan 1926-1927, Peristiwa Madiun 1948 dan Peristiwa 30 September 1965, Red.). Karena itu sang pakar menarik kesimpulan bahwa « PKI memberikan bloody image, citra berdarah ».

Ocehan semacam itu merupakan suatu manipulasi yang licik dan keji. Ia menunjukkan cara dan gaya typikal dari orang yang menempatkan dirya sebagai budak atau pengabdi penguasa zalim. Ocehan dari seorang intelektual gadungan itu pada hakekatnya sama saja dengan ocehan seorang serdadu berpangkat letnan jenderal dalam rangka kampanye untuk selalu memper-hantu-kan PKI.

Terlebih dulu, soal yang katanya sebagai « keberatan masyarakat Indonesia pada paham komunisme » itu sebenarnya mesti dibaca : « keberatan penguasa Orde Baru pada paham komunisme ». Hal itu selaras dengan keinginan bos internasional mereka, yaitu kaum nekolim yang dikepalai AS sejak mula berdirinya RI. Yakni untuk « membendung komunime » di kawasan dunia ini. Dalam prakteknya, mereka bukan semata-mata membendung paham komunisme, melainkan juga membinasakan secara fisik para penganutnya atau para simpatisannya atau malah mereka yang hanya diduga berpaham komunis. Jutaan manusia menjadi korban kebiadaban mereka, suatu kejahatan politik terbesar yang belum pernah terjadi di bumi Indonesia.

Selanjutnya, orang yang berpredikat « pakar sejarah » bertitel « Dr » ini telah secara tak tahu malu mengkorup dan memanipulir fakta-fakta sejarah yang terjadi dalam lembaran sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penghisapan dan penindasan kaum penguasa yang zalim demi mencapai kemerdekaan dan kemakmuran.

Hukum alam kehidupan ummat manusia yang dinamik itu menunjukkan bahwa di mana ada penghisapan dan penindasan di situ pasti ada perlawanan atau pemberontakan. Dari zaman kuno hingga zaman modern lembaran-lembaran sejarah ummat manusia di kolong langit ini terhiaskan perjuangan demikian. Dalam sejarah bangsa Indonesia pun terjadi rangkaian perjuangan sedemikian itu yang dipimpin oleh tokoh-tokoh atau organisasi yang mewakili kaum terhina, terhisap dan tertindas. Dari berbagai aliran, agama atau ideologi !

Dalam melakukan penilaian atas pemberontakan rakyat dibawah pimpinan PKI pada tahun 1926-1927, sang « pakar sejarah » bertitel « Dr » itu telah bukan saja melecehkan semangat puluhan ribu pejuang yang telah dengan gagah-berani melancarkan perlawanan terhadap kekuasaan penjajah Belanda, melainkan juga telah secara tendensius hendak mempertentangkannya dengan para pejuang kemerdekaan dari golongan lain (islam, nasionalis – Red.). Lebih jauh, sang « pakar » berdaya-upaya untuk menyalahkan komunisme, seolah-olah garagara pemberontakan rakyat yang mereka pimpinlah maka dimulai « tradisi pembuangan oleh pemerintah kolonial ». Dungu !  Atau akal bulus lagi untuk menipu orang ! Sebab, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa tradisi kebiadaban seperti itu bukan dimulai karena ulah kaum komunis dan juga tidak cuma dilakukan oleh penguasa kolonial, melainkan sudah dimulai sejak zaman kuno dan dilakukan rezim zalim mana pun dan di mana-mana pun adanya. Pengucilan, penangkapan, penyiksaan, pembuangan atau pembunuhan (individual, kolekttip atau massal) itu merupakan adat-kebiasaan atau tradisi dari penguasa yang biadab.

Lebih lanjut, sang « pakar sejarah » berdaya-upaya untuk mendiskreditkan PKI kerna kepemimpinannya dalam pemberontakan rakyat tahun 1926-1927 dengan menjadikan peristiwa itu sebagai bukti bahwa « PKI memberikan bloody image, citra berdarah ». Tetapi, citra tersebut sesungguhnya adalah citra sang penguasa yang melakukan penindasan berdarah dengan kekerasan bersenjata, tiang gantungan, penjara dan tanah pembuangan ! Dalam peristiwa bersejarah itu, patutlah dikemukakan di sini, bahwa tangan-tangan berdarah kekuasaan penjajah telah mendera puluhan ribu korban manusia : 23.000 tertangkap, 4.700 dijatuhi hukuman, beriru-ribu dibuang di tanah pembuangan Nusa Kambangan dan Digul atau mengalami berbagai bentuk penindasan lainnya. Selain tewas di depan regutembak atau di tiang gantungan, seperti Hassan, Dirdja dan Egom !

Dari fakta-fakta tersebut saja, orang yang patriotik, yang mendambakan kemerdekaan dan keadilan, yang anti segala bentuk penghinaan, penghisapan dan penindasan, pertama-tama tentulah akan menghargai semangat perjuangan yang luar biasa tersebut. Bahwa ada kesalahan dalam taktik-taktik dan atau kelemahan lainnya, itu soal kedua. Mengingat pula, antara lain, bahwa PKI baru berusia enam tahun ! Satu hal yang tidak bisa disangkal, yalah bahwa peristiwa pemberontakan 1926-1927 itu merupakan mata-rantai yang tak terpisahkan dari perjuangan-perjuangan rakyat Indonesia sebelumnya. Yaitu, Pemberontakan Ambon (1648), Pemberontakan Ternate (1650), Pemberontakan Jawa dibawah pimpinan pangeran Diponegoro (1825-1830), Pemberontakan Sumatera Barat yang dipimpin oleh Imam Bondjol (1837) dan Pemberontakan Aceh (1873-1908). Maka menurut logika sang « pakar sejarah » itu, apakah semua itu pun telah « memberikan bloody image, citra berdarah » ? Sedangkan menurut logika kita, adalah jelas bahwa pemberontakan-pemberontakan semacam itu adalah wajar dan dapat dibenarkan !

Bagi kita, jelas pula, bahwa sang « pakar sejarah » itu telah benar-benar menempatkan dirinya di bawah telapak penguasa Orde Baru. Suatu rezim zalim yang hanya bisa melampung di atas lautan darah dan keringat rakyat Indonesia. Korban kebiadaban mereka. Sebagai budak atau pengabdi kekuasaan semacam itu, sang « pakar sejarah » tak sudi (lantaran ketakutan dan demi kepentingannya yang picik) melihat kenyataan bahwa yang ber-citra beringas dan haus darah, yang tangan-tangannya berlumuran darah itu justru penguasa zalim. Sama sekali bukan mereka yang justru sebagai korban kebiadaban atau yang dijadidkan tumbal bagi tegaknya rezim zalim.

Ada beberapa hal penting lainnya yang tersurat maupun tersirat dalam artikel yang dimuat « Mutiara » itu. Di antaranya tentang Peristiwa Madiun 1948. Kita berikan kesempatan pada kawan lain untuk membahasnya. Juga yang berkenaan dengan Peristiwa 30 September 1965 dan Peristiwa 27 Juli 1966, kita sudah dan akan sedang terus memberikan sumbangan pertimbangan – sejak mula hingga kini dan selanjutnya. Aapakah itu datangnya dari kalangan generasi muda atau senior, apakah itu dari orang awam atau pakar, kita sembut dengan gembira. Asal bertujuan baik dan cerah. Demi mencari dan menegakkan kebenaran serta keadilan.

« Sesungguhnyalah sejarah itu ciptaan manusia. Kekuasaan gelap melakukan penggelapan, kekuatan yang cerah kecerahan, » tulis saya yang selayaknya digarisbawahi, dari bagian naskah edito atau pengantar redaksi Majalah Arena N° 21 pda halaman 3 sampai halaman 6 itu. Edito yang mengekspresikan sikap pendirian saya yang mendasar. *** (10.11.08)

Catatan : Bloknota SPBB ini masih akan disambung dengan mengutarakan soal yang jadi persoalan lainnya. Sekedar ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim : Rimbaraya Terbakar, cat akrilik di atas kertas.

Comments
Add New Search
Anonymous   |125.160.213.xxx |2009-04-17 04:38:36


jeeny  - mac dvd to 3gp     |183.17.98.xxx |2011-04-21 03:34:42
Leawo DVD to FLV for Mac is the best converter to convert DVD video to FLV format for online video
sharing. No matter you are going to upload your DVD videos to your
blog, or to social website like YouTube, MySpace, Google video, Yahoo
Video, etc.Leawo Mac DVD to iPhone Converter helps you realize this by ripping and converting DVD to iPhone
compatible video and audio formats. Leawo DVD to iPhone for Mac Converter is a powerful DVD to iPhone converting tool for Mac users who
want to watch DVD on  iPhone, iPhone 3GS and iPhone 4.Besides
converting DVD to iPhone, it also supports output devices like iPod,
Apple TV, iPad, etc. Fast conversion and high output quality make it the
most popular DVD to iPhone ocnverter. Leawo Mac DVD to 3GP Converter is a perfect and cool software to help Mac users watch DVD on
mobile phones without any limitation.Leawo DVD to 3GP for Mac is ...
watches  - watches     |110.84.198.xxx |2011-11-28 10:47:57
Crafted from the finest steel and utlizing the highest grade of diamonds
worthy of the Replica Vacheron Constantin watches and Replica Rolex watchesname.of0enobpo0 Tag Heuer Alter Ego Watches and Copy Richard Mille RM 016 watches and Replica Patek Philippe watches have dominated the industry of elegant watches. Mens and ladies Audemars Piguet watches alike are assured attention to detail internally and externally. We are
proud to offer the largest selection of brand new, Replica Bell & Ross Collection Instrument BR 01..., discount Hublot Big Bang watches,Cheap Patek Philippe The essence of classicism watches and IWC Aquatimer watches copy.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.