Citra Yang Berdarah Darah
Oleh A.Kohar Ibrahim    Senin, 23 Maret 2009 09:25    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Sekitar Prahara Budak Budaya (6)
Oleh: A.Kohar Ibrahim


SETELAH menelaah penjelasan Mawie Ananta Jonie berkenaan dengan sajaknya Kunanti Bumi Memerah Darah yang jadi persoalan itu (SPBB 3), saya simak postingan Hasan Aspahani di Apsas tertanggal 1 Nopember 2008, sebagai berikut:

“Bang Kohar, saya kira penjelasan Mawie itu ya bisa mengesankan buang badan. Kok kesannya berkelit jauh sekali. Tapi, okelah, itu kan penjelasan si penulis sajaknya sendiri.” Seterusnya: “Lantas bagaimana kemudian dengan surat Iwan Simatupang yang saya kutip juga di postingan saya itu. Apa yang bisa dijelaskan?”

OK. Baiklah, sebaiknya saya salin ulang bagian dari surat Iwan Simatupang yang Bung Hasan kutip itu, untuk memudahkan pembaca nelusuri catatan ini:

« Larto,
        Suatu psikose menjalar kini di seluruh nusantara: bila persis PKI mau coup? Aidit boleh seribu kali membantah, rakyat dan AB kita makin teringat pada Madiun. Dan Aidit secara seratus prosen - Aidit sudah pula menggertak.
        Bila di tahun 1948 PKI dengan anggotanya yang cuma 100.000 orang bisa bikin korban begitu banyak sudah, maka bagaimana dengan PKI sekarang yang sudah punya anggota tiga juga (resmi)? Secara aljabar kelas 1 SMP: tentu seramnya bakal tiga puluh kali! Jadi, mayat yang bakal bergelimpangan akan berjumlah tiga puluh kali; darah kering di gedung-gedung pembantaian (yang mungkin juga nantinya bakal mereka sebut Marx House) tebalnya tiga puluh kali dari darah kering yang ditemukan di ubin Marx House di Madiun tempo hari.
        Semua gambaran seperti ini memang seram, Larto! dan memang, bukan tak punya alasan rakyat kita untuk mengenangkan kembali Madiun di tingkat pergolakan politik seperti kini ini di tanah air kita... »

Kutipan tersebut sungguh menggelitik, sangat menarik malah. Semata-mata sebagai fakta betapa akar sosial sekaligus akar ideologi dan politik rezim OrBa yang Paranoia. Rezim yang terjangkiti penyakit jiwa, dengan idapan sekaligus penjalaran Psikose-nya yang gawat. Isi surat Iwan tertuju kepada Manikebuis lainnya itupun bukti cukup menarik bagaimana mereka kalau dimulut anti semboyan « politik adalah panglima » tapi dalam perbuatan dilakukannya secara konsisten. Dan dalam hal ini, politik yang dijadikan panglima itu tak lain kecuali politik anti-komunis sang Panglima militeris alias Jenderal-Jenderal AB.

Selaku pasien psikosis alias paranoia, Iwan berandai-andai (ber-bila-bila) terjadinya pembantaian oleh PKI dengan kekuatannya yang sudah jauh lebih besar dari pada ketika terjadinya Peristiwa Madiun. Tapi, dasarnya kejangkitan penyakit yang berpanglimakan politik anti-komunis kaum militeris, Iwan hanya menyimak satu pihak yang jadi sasaran, tapi tidak menyimak kekuatan apa yang sebenar-benarnya menyiapkan aksi-kekerasan dan bahkan yang sudah melakukan serangkaian aksi-kekerasan bersenjata sejak awalnya. Dengan kata lain, mereka yang sesungguhnya haus darah dan tangannya berlumuran darah namun men-citra-kan pihak lain yang jadi lawan politiknya sebagai yang berdarah-darah. Dengan kata lain pula : Kaum militer fasis itu tak ubahnya seperti kata pepatah :  maling teriak maling !

Dalam soal yang dipersoalkan yang bersangkutan dengan sejarah ini sungguh selalu menjadi perhatianku. Meski aku bukan sejarawan, tapi peduli dan beritikad memahami apa yang sesungguhnya terjadi demi menghindari kesalah-kaprahan pun untuk tidak sekedar jadi orang yang cuma ikut-ikutan.

Begitulah, sebagai penulis, meski di tanah air sendiri diberangus, namun dengan sarana sederhana yang tercipta, aku kesempatan mengekspresikan diriku. Menunjukkan sikap-pendirianku yang mendasar, yakni membela kebenaran, keadilan dan kemerdekaan – seperti tercermin dalam terbitan majalah-majalah Arena dan Kreasi yang aku sendiri mengeditorinya.

Istimewa sekali, dalam kaitan persoalan « citra berdarah darah » ini, kami pernah mengetengahkannya. Seperti tersaksikan sekaligus terkesankan oleh seorang cendekiawan Belanda Prof. Wim F. Wertheim. Dalam sambutannya atas upaya penerbitan kami. Maka mengingat makna pentingnya, saya turunkan di bawah ini.

*

Prof. Wim F. Wertheim :
Tangan Siapa Sebenarnya Berlumuran darah

« TELAH sejak lama saya dapat mengikuti terbitan-terbitan dari Yayasan Budaya dan Yayasan ISDM, yaitu Kreasi dan Arena.  Seringkali saya jumpai dalam majalah-majalah itu karangan, yang penting dan benar berharga. Oleh karena saya bukan ahli dalam lapangan sastra, perhatian saya selalu khususnya mengenai karangan-karangan di dalam majalah Arena, yang memuat peristiwa bersejarah dan politik.

Misalnya dalam Arena yang terakhir ini, N° 21, saya dapat membaca tiga karangan tentang peristiwa bersejarah, yang penting sekali bagi banyak pembaca. Ketiganya membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan dari penguasa Orde Baru, seolah PKI itu yang sejak lahirnya « memberikan citra berdarah » kepada masyarakat Indonesia adalah omong kosong belaka, dan memutar-balik sejarah yang aslinya ; yang tangan-tangannya berlumuran darah dalam hal-hal yang disebut, sebenarnya selalu bukan komunis, melainkan rejim yang berkuasa, sedangkan komunis selalu menjadi korban dari ‘teror resmi’.

Karangan yang pertama dari A. Kohar Ibrahim membantahi pendapat seorang ‘Pakar sejarah’ bertitel ‘Dr’, yang dalam suratkabar Mutiara mendiskreditkan pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan kolonial Belanda pada tahun 1926-1927, seolah pemberontakan itu merupakan suatu bukti bahwa PKI selalu « memberikan citra berdarah ».  Sebenarnya, pemberontakan itu merupakan tanda yang terpenting bahwa rakyat Indonesia ingin berjuang demi kemerdekaannya dari pendudukan asing yang kolonial. Mustahil para pendukung Orde Baru yang sekarang rupanya berpihak pada penguasa kolonial, dan bukan pada rakyat !  Tetapi kita harus ingat, bahwa sang pencipta ‘Orde Baru’ itu, Suharto dalam tahun 1940, sesudah Negeri Belanda telah diduduki oleh Jerman (Nazi, Red.), secara sukarela menjadi anggota KNIL, yakni tentara kolonial Belanda. Apakah ini bukan menjadi suatu bukti yang jelas sehingga ‘orde’ yang disusun militer Suharto itu, sebenarnya bukan menjadi suatu Orde ‘baru’, melainkan suatu ‘Orde Lama Sejati’, yang sangat menyerupai ‘Orde Kolonial’ ? Sesungguhnyalah, yang ‘berlumuran darah’ dalam peristiwa 1926-1927 bukanlah yang memberontak, melainkan, seperti Kohar dengan terus terang menegaskan, penguasa kolonial yang mereaksi atas pemberontakan rakyat dengan « pengucilan, penangkapan, penyiksaan, pembuangan dan pembunuhan ».

Karangan lain yang sangat penting, yaitu karya S. Kromohardjo tentang Peristiwa Madiun 1948. Dalam mana dijelaskan, bahwa strategi Pemerintah Hatta dalam tahun 1948, yang menekankan ‘re’ dan ‘ra’ – yaitu reorganisasi dan rasionalisasi TNI – bukan tercipta kebetulan saja oleh kabinet baru itu. Karangan ini dengan jelas membuktikan, bahwa dari semula kabinet-Hatta pada waktu itu menuruti suatu diktee yang dirumuskan oleh penguasa asing, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Belanda, dengan maksud akan menyingkirkan Sayap Kiri. Perjanjian dari pemerintah AS yaitu agar Indonesia akan menerima bagian dari ‘Bantuan Marshall’. Sangat penting cerita si penulis bahwa strategi itu telah disediakan dalam beberapa pertemuan-pertemuan rahasia antara wakil AS dan pemerintah Indonesia bersama Dewan Siasat Militer, pertemuan yang terakhir terjadi di suatu hotel di Sarangan, dalam kabupaten Madiun, jauh sebelum ‘Peristiwa Madiun’. Jadi telah terbukti, seperti ditulis dalam judul karangan ini, bahwa ‘Peristiwa Madiun’ itu sebenarnya ‘Hasil persekongkolan dan provokasi kaum reaksioner’.

Sayang bahwa dalam cerita tentang prolog peristiwa itu, mengenai penculikan Sjahrir pada 3 Juli 1946, terdapat suatu kekeliruan (hlm 38). Benar bahwa grup Tan Malaka terlibat dalam ‘kup’ itu. Tetapi tidak benar, bahwa « Suharto gagal dalam menangkap Tan Malaka », oleh karena Tan Malaka sebenarnya sudah sejak Maret 1946 ditangkap Pemerintah Sjahrir-Sjarifudin, dan pada awal Juli berada dalam tahanan di suatu rumah di Tawangmangu. Tetapi dari tempat itu dia punya cukup keluangan akan mempersiapkan kup itu bersama konco-konconya.

Kami sungguh berminat membaca kelanjutan karangan yang sangat menarik ini.

Karangan ketiga yang sangat penting, yaitu wawancara dengan Professor Ben Anderson yang termasyhur sebagai ahli sejarah Indonesia. Beliau dalam tahun 1987 di majalah Indonesia, dengan judul ‘How did the generals die ?’ ,  mengumumkan laporan otopsi jenasah jenderal-jenderal yang dibunuh pada tanggal 1 Oktober 1965. Pertanyaan yang baru ini ditujukan kepadanya, yaitu : « Apakah laporan otopsi itu asli ? Dari mana Pak Ben mendapat laporan otopsi itu ? »

Jawaban Ben Anderson bahwa laporan ini benar asli. Teks yang beliau terima dari orang-orang CSIS merupakan dokumen resmi yang ditanda-tangani oleh dokter-dokter Universitas Indonesia. Mereka disuruh Suharto untuk mengadakan pemeriksaan mayat-mayat yang ditemukan di Lubang Buaya. Otopsi selesai pada siang hari tanggal 5 Oktober 1965. Tanda-tangan Suharto memang ada di situ.

Segala cerita di koran dan TV dalam bulan Oktober dan Nopember 1965, seolah mata para korban dicungkil dan kemaluan disayat, adalah bohong melulu. Menurut laporan sama sekali tidak terdapat tanda siksaan atau penganiayaan. Dan Anderson juga yakin bahwa pembunuhan, baik di rumah jenderal maupun di Lubang Buaya, semuanya dilakukan oleh anggota tentara sendiri, bukan oleh orang PKI, Gerwani atau Pemuda Rakyat.

Ucapan dari Ben Anderson itu sepenuhnya cocok dengan penyelidikan ilmiah oleh pakar sosiologi Belanda, saskia Wieringa, yang pada 6 Oktober 1965 mendapat gelar Dr Ilmu Kemasyarakatan dari Universitas Amsterdam dengan disertasinya yang berjudul The Politicization of Gender Relations in Indonesia. Studi itu mengenai sejarah pergerakan perempuan di Indonesia, dan khususnya sejarah Gerwani ( Gerakan Wanita Indonesia ) sampai Orde Baru. Ben Anderson dalam wawancaranya menjelaskan bahwa sesudah perisstiwa 1 Oktober 1965 serta-merta oleh oknum tentara diciptakan suatu taktik untuk melawan pandangan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai akibat perselisihan di dalam angkatan bersenjata. Dosanya harus ditujukan kepada golongan di luar angkatan bersenjata itu, yaitu PKI dan Gerwani. Menurut Wieringa jelas sekali bahwa khususnya Gerwani yang menjadi sasaran fitnah yang tanpa batas, oleh karena pemimpin militer sangat kuatir terhadap kekuatan yang di bawah Orde Lama presiden Sukarno tumbuh di kalangan pergerakan wanita, dan khususnya di kalangan Gerwani. ‘Gender aspect’ ini merupakan inti dari analisis saskia Wieringa dalam disertasinya, yang kelak juga akan terbit dalam edisi yang ditujukan kepada umum…. »

*

ITULAH Bung Hasan Aspahani yang budiman dan pembaca sekalian yang berkenan, sebagian penjelasan saya untuk memenuhi harapan Anda berkaitan dengan sajak Mawie Ananta Jonie yang dikait-kaitkan dengan Surat Politik karya Iwan Simatupang. Surat politik Iwan kepada temannya Larto, dalam suasana kejangkitan psikosis alias paranoia, sambil be-randai-andai dan ber-akan-akan : Bila terjadi pertumpahan darah dengan pelakunya PKI pimpinan DN Aidit. Maka akan  menimbulkan korban tiga puluh kali banyaknya. Perandaian dengan halusinasi peristiwa bersejarah kontrovesial Peristiwa Madiun. Selaras suara komando politik Jenderal-Jenderal militer yang dijadikan panglimanya.

Jika dibanding dengan metafora dalam puisi Mawie Ananta Jonie, makna yang tersurat lagi yang tersirat dari pernyataan Iwan Simatupang kepada Larto itu, lebih mendekati kebenaran yang memungkinkan dan kebenaran kejadian yang sesungguhnya terjadi. Karena besar kemungkinannya Iwan maupun kaum Manikebuis dan Karyawan Pengarang Indonesia yang dibeking kaum militeris Indonesia itu memperoleh masukan dari pihak perencana tragedi yang sesungguhnya. Yakni kaum militeris. Mengingat adanya sederetan tokoh pengarang yang memang bekerja untuk militer – seperti Wiratmo Sukito dan Nugroho Notosusanto.

Seperti diketahui Wiratmo adalah konseptor Manikebu, sedangkan Nugroho adalah sastrawan-sejarawan yang  meng-otak-i penyusunan sejarah yang direkayasa selaras kepentingan politik/ideologi anti-komunis kaum militeris OrBa. Perekayasaan yang memang sudah sejak awal mula perampokan kekuasaan oleh kaum militer dengan modal dusta sekaligus fitnah sekitar Lubang Buaya. Seperti yang ditunjukkan oleh Ben Anderson tersebut di atas. Dusta yang dilanggengkan dan didjadikan handalan untuk melancarkan propaganda hitam teriring pembantaian massal dan penindasan jutaan manusia di seantero Nusantara. Dusta dan fitnah dengan pengabadian sekaligus penyiaran foto dan komentarnya, bukan saja di berbagai media massa yang dihegemoninya, melainkan juga di berbagai penerbitan macam buku Taufik Ismail berjudul « Tirani dan Benteng » (hlm 56).

Buku kumpulan puisi « Tirani dan Benteng » Taufik Ismail itu diterbitkan tahun 1993, disusul oleh penerbitan buku « Prahara Budaya » dalam tahun 1995. Isinya saling mengisi saling melengkapi. Kelengkapan isi yang secara ideologis dan politis mendemonstrasikan aplikasi semboyan « politik adalah panglima ». Berpanglima politik yang ber-ideologi anti-komunis rezim OrBa paranoia. Dengan metode tujuan menghalalkan cara, namun bisa diringkas sebagai « maling teriak maling ».  Dengan teriakan menuduh pihak lain memiliki « citra berdarah-darah » padahal faktanya  -- iya faktanya, bukan per-andai-an atau yang dibayangkan akan terjadi seperti halusinasi ala Iwan Simatupang – faktanya : tangan-tangan mereka sendirilah yang berlumuran darah !

Sudah sekian lama juga adanya. Tapi, apa lacur ! Tradisi atau budaya buruk kekuasaan paranoia itu masih juga dipertahankan dan hendak diberlakukan hingga dewasa ini. *** (8.11.08)

Catatan :
Opini Prof. F. Wertheim dimuat majalah Kreasi N° 32 Th 1997 (ISSN 0923-4934), penerbit Stichting Budaya Amsterdam ;  dan majalah Arena N° 22 1997 (ISSN 0925-5575), penerbit Stichting ISDM, Culemborg Nederland. Kedua majalah tersebut dieditori oleh A.Kohar Ibrahim.
Akan disambung dengan catatan berkenaan dengan soal yang dipersoalkan lainnya.
Ilustrasi : karya lukis Abe alias A .Kohar Ibrahim,  cat akrilik di atas kertas. Beberapa kata cetak huruf miring atau huruf tebal oleh saya sendiri – Aki. ***

Comments
Add New Search
jeeny  - dvd to vcd     |121.37.38.xxx |2011-04-21 08:10:23
Leawo DVD Ripper is the best DVD to YouTube Converter that helps you convert home DV or DVD to YouTube supported video
MPEG-4(DivX,XviD) with fast conversion and excellent output quality,
in only few clicks. Wanna convert DVD to RMVB or RM videos to fit for network transmitting for video sharing online? The
easy to use yet powerful Leawo DVD to RMVB Converter provides right
the assistance for you. Inserting DVD to PowerPoint with the help of Leawo DVD Ripper is simply an easy matter at your will.
Searching for a green DVD to Flash Video Player to help you? Leawo
DVD Ripper is the right DVD to player converter to rip DVD to MPEG player video and even convert DVD to all
other videos that can be played in flash player. You are able to
convert any DVD to player as you like. As the best DVD to VCDconverter,Leawo DVD Ripper helps you convert DVD to VCD and SVCD video fast
and e...
watches  - watches     |110.84.198.xxx |2011-11-28 10:47:13
Crafted from the finest steel and utlizing the highest grade of diamonds
worthy of the Replica Vacheron Constantin watches and Replica Rolex watchesname.of0enobpo0 Tag Heuer Alter Ego Watches and Copy Richard Mille RM 016 watches and Replica Patek Philippe watches have dominated the industry of elegant watches. Mens and ladies Audemars Piguet watches alike are assured attention to detail internally and externally. We are
proud to offer the largest selection of brand new, Replica Bell & Ross Collection Instrument BR 01..., discount Hublot Big Bang watches,Cheap Patek Philippe The essence of classicism watches and IWC Aquatimer watches copy.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.