| Apresiasi Atas Kreasi Puisi Penyair Lekra | ||||
|
|
Sekitar Prahara Budak Budaya (5) Oleh: A.Kohar Ibrahim SAYA kira memang iya, bahwasanya apresiasi seni dan sastra tak lepas dari kepentingan dalam segala ragam dan format atau skalanya. Kepentingan orang perseorangan, sepasangan, golongan atau kelompokan, faksi, gundukan, kawanan atau klik . Kepentingan itu bisa saja macam kepentingan rasa kepuasan, kepentingan ideologi, politik dan ekonomi ataupun gabungan dari padanya. Seringkali kepentingan demi selera, demi sesuap nasi atau sepotong roti yang bisa berdimensi posisi atau kedudukan atau yang UUD (ujung ujungnya duit) ! Begitulah yang hakiki, disamping embel-embel atau busah-busahnya.Ketika kaum Manikebuis mengapresiasi hasil karya seni, khususnya seni sastra, lebih khusus lagi puisi-puisi karya penyair Lekra, nadanya adalah kental sekali ber-panglima-kan politik bos mereka, yakni kaum militer kanan yang anti-komunis. Dengan angkuh dan gegabah menilai hasil karya orang-orang Lekra itu rendah. Cuma “seribu slogan nol puisi”. Sikap arogan karena merasa kaum elit pengibar panji “l’art pour l’art” terhadap pengibar panji “seni untuk rakyat” yang bersemboyankan “politik adalah panglima”. Semboyan yang dimulut dikecam habis-habisan oleh kaum Manikebuis tetapi dalam perbuatan dilakukannya juga – dulu bahkan sampai detik ini. Sikap arogan dan kemunafikan itu berkesinambungan – lebih-lebih lagi semasa jaya-jayanya rezim paranoia OrBa. Demikian aku terkesankan, dalam katian sebuah sajak Mawie Ananta Jonie “Kunanti Bumi Memerah Darah”. Oleh Hasan Aspahani sajak itu diapresiasi sebagai bukti “Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakyat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera).” Sungguh disayangkan cara Hasan dalam mengapresiasi hasil kreasi berupa sajak-sajak penyair Lekra (bahkan juga LKN – bukannya “LKM” seperti tulisnya) kentara hanya ikut-ikutan nada kaum Manikebuis senior macam GM, Ikra dan Taufik Ismail. Saya bilang demikian lantaran tak yakin Hasan telah menyimak banyak sajak-sajak para penyair Lekra periode 1950-1965 yang tersiar bukan hanya di koran-koran seperti yang disebutkan itu, melainkan juga koran-koran lainnya di Pusat maupun di daerah; juga di majalah-majalah, terutama sekali majalah Sastra dan Seni Zaman Baru. Bisalah dimaklumi, kalaupun Hasan akan bilang bahwa gara-gara politik budaya OrBa paranoia, dia tak berkesempatan dengan mudah melacak-simak hasil kreasi sastrawan dan penyair Lekra yang dibrangus sang penguasa. Maka dari itu hanya bisa mengikuti nada irama kaum Manikebuis senior saja, seperti sebuah buku yang disitir Ikra dan yang dengan bangga ditekuninya itu. Tetapi, baru-baru ini, kiranya bisa disimak dalam terbitan berupa buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku. Dalam kumpulan puisinya berjudul Gugur Merah yang berisi beratus-ratus sajak karya 111 penyair. Bukan tak mungkin, setelah menyimaknya, Hasan bisa dengan jitu dalam menggunakan daya apresiasinya. Sementara itu, dalam kaitan ini, sebagai pelengkap, saya turunkan seberkas puisi dari 3 penyair Lekra: Rivai Apin, S. Rukiah dan Agam Wispi. * E l e g i Oleh: Rivai Apin Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan Janganlah kau bersedih – dan mari kami lanjutkan Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya. Kami pun tahu, karena ada satu kata dari kau yang kami simpan Satu pandang dari tanah retak menggersang, Lalu sedu menyesak dada, Ah, kenangan padamu kan terus memburu, - menakutkan seperti bayang di pondok seloyongan, bila pelita telah dipasang. Tapi penuh kasih seperti Bapak yang mengulurkan tangan Dan kau kembali, seperti di hari-hari dulu ketika kau dan ini bumi mendegupkan hidiup. Kami tak kan lupakan kau, ketika memburu dan ketika lari - karena apa yang kami buru dan apa yang kami lari untuk itu mau serahkan nyawamu Dan kami yang menimbang jasamu Pun tahu, seperti kau pun tahu, bahwa tak ada Dewa atau Tuhan lain yang berharga untuk dihidupi selain itu Berhembus pun topan di padang tandus ini Tapi tampak kami yang tertanam di padang gersang, di mana kau dalam terkubur Melanjutkan nyala, dan kami yang tegak berdiri di sini ialah api. Kita tahankan hidup di ini malam, yang akan melahirkan siang. Kita adalah anak-anak dari satu Bapa Kita adalah anak-anak dari satu Ibu Dan mati bagi kita hanyalah soal waktu Tapi kita semua mempertahankan satu Tuhan. Adik yang akan datang, Kakak yang telah pergi Kita angkutlah ini tanah-tanah yang retak, ini tanah-tanah yang gersang, Keberatan beban, kesakitan bahu memikul, dan kepahitan hati akan kekalahan Akan menyaratkan cinta pada kepercayaan yang kita peluk. (Majalah Siasat, 9 Januari 1949; Majalah Kreasi N° 24 1995) * Kenangan Gelita Oleh: S. Rukiah (buat Eska di Kaki Gunung) I Malam ini aku mau lagi bercerita, dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan ketika malam kosong berpisahan dengan bulan Seperti juga kita di hari kini di mana batas sampai tepi langit di jauhan di mana segala anak-anak manusia terima satu perintah jangan melanggar ini batas di sini kita berpisah antara dinding penjara dan pegunungan Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini engkau diburu macam hantu pelarian jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang sedang aku di balik terali dingin tergolek mau bermimpi malam kenangan. II Biar sekali ini aku tak ada melihat laut kapal-kapal juga semua sudah berlayar angin lari dan bintang tidur satu-satu tapi aku tak kepergian suaramu meski malam selalu warnanya hitam sebab lantai dingin dan tembok putih ini sekali-sekali ia mau memberikan jalan buat angin pagi dari suara pegunungan. Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati akan kupinta satu pena kuno yang runcing serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang atau menulis sajak yang banyak meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan ! III Tapi pernahkah melintas di tempatmu malam kenangan di malam gelita pegunungan ? Pabila ada juga padamu di antara rintik-rintik hujan senja atau bunga-bunga hutan yang berserakan tak kan kuhabiskan kenangan ini biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara karena sekali kenangan ini akan berakhir kita bertemu di antara meja dan bunga merah sambil minum air yang bergula manis-manis. Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk dan aku akan ketawa dan ketawa ! hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini ketika malam kosong berpisahan dengan bulan. IV Tapi bila dalam satu pagi bulan ini masih tampak seperti gambar sabit emas atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang atau aku bacakan sajak penjara yang dulu dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka. Cuma di sini Masih ada yang mau aku katakan: Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan. Kita bukan orang pelarian yang masing-masing tidak punya satu dunia. Tapi Eska ! Kenanglah sekali cerita kenangan ini bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan atau telah benci mendengar cerita darah atau cerita maut, dan cerita busukan manusia engkau akan tulis di satu buku harian: kita dua manusia yang cinta kepada cinta ! (Majalah Zaman Baru 25-26 1958; Majalah Kreasi N° 40 1999) * Sajak-sajak oleh: Agam Wispi Perahu Pinisi Tak Boleh Merapat begitu cepat matahari tenggelam kilau emasnya tinggallah tembaga begitu cepat sarat muatan perahu pinisi, daratan bagimu hanyalah duka Makassar, 2 April 1964. * Menjelang Mendarat pulau-pulau jamrut cemerlang memanggil dengan suara lantang berdentang hasrat kuat akan kemerdekaan dan berkelilingan kilau danau dengan laut terbentang jam berapa pesawat melambai Menado ? anakku, di atas awan kuingat kau Makassar-Menado, 4 April 1964. * Menyusur Tondano jip melambung berguncang-guncang hadap-hadapan bukit, danau dan hutan tenang kereta-kuda berderak memintas sawah kusirnya petani muda yang ketawa dan gadis bersutera merah menyusur danau jip berguncang-gucang Tondano tak berteriak, bagai rumah tua yang ditinggalkan dan kulik elang menjauh hilang tapi petani itu mukanya riang mentertawakan: jalan jelek ! sabarlah, kita baru habis perang * Tinoor para lelaki sudah pergi atau mati yang kembali ketinggalan hati di tanah seberang di kota ramai pulangnya tak berarti kami yang meromok tinggal di sini tak lagi bisa bersedih dulu dari jaman kompeni para lelaki sudah pergi atau mati maka minumlah saguer, abang selagi singgah di sini dan gunung akan didaki pandanglah lembah menjemput lautan sebelum Menado ditinggalkan, mari bersenang mari bersenang – walau dilupakan Tondano, 8 April 1964. * Pertemuan Di Danau danau putih sajakpun putih di Toba tenggelam sepenggal kasih sampan telungkup aku berenang megap-megap ke tepi tapi menang apalah arti kalau indah hanya seperti buih asap mesiu mengantarku ke danau Manindjau dan kenangan melayah ke duniaku yang hijau sungguh, danau tiada lagi putih seremaja dahulu dan kebahagiaan hanya tergenggam bagi yang tahu jip mendaki dan menyusur danau Sentani Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari betapapun becermin rimbun daun dan akar berjuntai kemenangan yang remaja, padamu juga hari-tua melambai sampai aku di danau paling utara Tondano, dukamu tak bisa kulupa para lelaki tak pulang, entah mengapa aku terkenang pahlawan kebahagiaan mati di tanah buangan: Ali Archam dan di sini, diantar perjuangan yang sedih danau Batur, kubu dari lahar dan abu menyembur para turis kagum berpura sedih tapi rakyat itu dengan tangannya yang perkasa jalan bergandengan dan bernyanyi meski mengantar mayat ke kubur Kintamani, 26 April 1964. * Catatan: Sajak-sajak Agam Wispi – Perahu Penisi, Menjelang Mendarat, Mercusuar Tondano, Tinoor dan Pertemuan Di Danau -- dipetik dari majalah Zaman Baru N° 7 1964; dimuat ulang majalah Kreasi N° 9 Th 1991. Majalah Kreasi terbitan Stichting Budaya Amsterdam, ISSN-0923-4934. Editor: A.Kohar Ibrahim, mantan redaktur majalah Zaman Baru (1963-1965) di bawah pimpinan Rivai Apin dan S. Anantaguna. Ilustrasi: Komposisi Eksekusi II – karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akril di atas kanvas. ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||




SAYA kira memang iya, bahwasanya apresiasi seni dan sastra tak lepas dari kepentingan dalam segala ragam dan format atau skalanya. Kepentingan orang perseorangan, sepasangan, golongan atau kelompokan, faksi, gundukan, kawanan atau klik . Kepentingan itu bisa saja macam kepentingan rasa kepuasan, kepentingan ideologi, politik dan ekonomi ataupun gabungan dari padanya. Seringkali kepentingan demi selera, demi sesuap nasi atau sepotong roti yang bisa berdimensi posisi atau kedudukan atau yang UUD (ujung ujungnya duit) ! Begitulah yang hakiki, disamping embel-embel atau busah-busahnya.



