Percikan Budaya : Selang Seling Bersilang Saling Berkaitan
Oleh Abdul Kohar Ibrahim    Jumat, 13 Maret 2009 21:44    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Oleh : A.Kohar Ibrahim

Upaya Memaknai Hidup Kehidupan

APSAS 13 Maret 2009. Kali ini aku upayakan menyaji percikan sapa-menyapa di ruang milis Apsas belakangan ini – yang aku anggap layak dicatat ingat. Layaknya juga bukan bagi kami semata, melainkan bagi umum yang berkenan menyimaknya.

Pasalnya ? Lantaran sedikit banyaknya, baik tersurat maupun tersirat, adalah muatan perihal hidup kehidupan – paling tidak menyangkut pandangan hidup. Pandangan atau wawasan dalam cakap-cakap yang selang seling malah bersilang namun saling berkaitan pula adanya. Suatu pertanda adanya keaneka-ragaman makhluk yang disebut manusia yang sekalipun sesama umat manusia, kepala sama berbulu namun benaknya berbeda-beda. Sekalipun keberbedaan itu bisa terdampingi kebersamaan tertentu --  selaras situasi dan kondisinya yang tersediakan. Misalnya, berbeda dengan pandangan sebagian orang, namun sebagian yang lain ada kesamaan denga orang macam Albert Camus. Seorang intelektual sekaligus sastrawan dan filosofis yang secara bebas merdeka mengutarakan tentang ke-absurd-an hidup kehidupan di alam dunia ini.

Camus, dengan eksistensialismenya itu merasa telah membebas-merdekakan diri dari pandangan yang dianggap membelenggunya. Semata-mata demi lebih nyata untuk upaya kiprah mengubah kondisi hidup kehidupan umat manusia yang amat memprihatinkan adanya ; kebebas-merdekaannya untuk melawan ketidak-adilan. Pandangan yang kental solidaritas kemanusiaan itu ada yang menganggapnya sebagai suatu kemenangan atas « nihilisme » yang ditentangnya.

Camus, seperti halnya kebanyakan kaum seniman atau sastrawan, nampaknya tergolong kaum individualistis. Namun dalam kenyataannya tidak mutlak demikian. Baik disimak dari pandangan maupun aktivitas-kreativitasnya sebagai sesosok manusia. Sosok manusia bermasyarakat. Namun dia memiliki haknya yang azasi untuk mengekspresikan diri secara afirmatip maupun mempertanyakan makna hidup kehidupan di atas bola bumi yang bundar ini. Sebagaimana pula berhaknya seniman macam Paul Gauguin mengajukan pertanyaan dengan komposisi lukisannya yang menggugah-gugat lagi menggemparkan : « D’où venons nous ? Que sommes-nous ? Où allons-nous ? »

« Dari manakah (asal) kita ? Apa-siapakah kita ? Mau kemanakah kita ? » Demikian pertanyaan sekaligus judul lukisan monumental yang dikomposisi Gauguin dalam usia 43 tahun di Martinika, pada tahun 1891. Komposisi dengan warna-warni yang melukiskan tiga masa hidup kehidupan manusia – masa awal muda, dewasa dan lansia – itu, lama kemudian menjadi pajangan prestisius Musium Senirupa Boston Amerika.

Tak urung, baik opini berupa pandangan Camus maupun Gauguin senantiasa mampu menggugah-gugat alam pikiran manusia dari dulu hingga dewasa ini. Pasalnya berkenaan sekali dengan salah satu pandangan manusia yang mendasar. Pandangan yang tercermin dari segala macam lagak lagu manusia manusia yang manusiawi maupun yang bersifat kebinatangan atau kesetanan – seperti yang diungkapkan penyair Baudelaire dalam puisinya berjudul : Au Lecteur atau Kepada Pembaca. Semata-mata untuk mengingatkan musuh yang paling berbahaya dalam hidup kehidupan itu tak lain berupa : kebosanan atau kejenuh-jengkelan.

Dengan ini – dengan adanya semacam rangkai selang seling silang saling kait berkaitan dalam cakap-cakap Apsas – aku kenakan uraianku di atas terutama sekali pada pernyataan sastrawan, kritikus Hudan Hidayat yang, sepertinya tak mau peduli lagi pada sesamanya. Pernyataan  atau pengakuan yang aku tapik ; menganggapnya sebagai nyap-nyapan orang lagi kebanyakan minum Calsberg atau Duvel.

Akhirul kalam, naskah « percikan budaya » ini, sebaiknya disimak selaras urutan yang dibubuhi nomor dari (I) – paling ujung halaman ini. Maka, kepada pembaca yang berkenan saya ucapkan banyak terima kasih. ***

(A.Kohar Ibrahim)


*

(V)
Hudan Hidayat :


Apsas, 11 Maret 2009.
bung kohar lebay ini memang dunia. seperti kata sajak buldrey yang anda kutip ini: pembaca munafik, yang sebenarnya kata yang tepat bukan munafik tapi pembaca yang terpecah jiwanya.

dari apakah jiwa itu sampai terpecah? tidak dari apa apa kecuali dari kedalaman jiwanya sendiri. seperti yang berulang ulang dilengkingkan oleh para pemahat kata di sepenjuru dunia.

alam adalah kuil kuil di mana tiang tiangnya hidup, kata larik baudelaire.
mendendangkan omongan omongan kacau
manusia lewat di sana menyeberang hutan dunia
yang menatapnya dengan pandang mesra

seperti bung sendiri yang nyeberang hutan terowongan maut mu itu. tapi di sana ada kaca bening juga. kaca lalu lalang orang.

"tapi kali ini jejak langkahku terasa lebih ringan dengan lantaran hatiku girang seketika menampak dan langsung memasuki ruang beranda berbentuk separuh lingkaran. ruang yang mungil, berdinding jendela kaca bersih layaknya tembus pandang jelas jemelas suasana seputar di luar.

pilih hidup atau mati!

aku mau hidup!"

sering aku bertanya tanya dengan diriku sendiri:

apakah lagi beda antara sastra dunia dengan sastra semisal yang bung buat itu: sitoyen saint jean. nyaris tak ada. semuanya bertemu seolah garis tangan kita: kadang putus kadang bersambung. kadang hidup di novel kecil bung itu kadang hidup di puisi buldrey.

nyatanya hutan lambang atau pilar dunia dalam puisi yang dilambangkan atau melambangkan atau meremas dunia ke dalam puisi selebaran 10 jari untuk kalimat atau larik itu, hidup juga di dalam novel kecil terowongan maut mu itu.

"bagai gema yang memanjang di kejauhan bergalau," kata larik pemabuk dari perancis itu - sang simbolik.

atau kata bung:

"di kedua belah pelupuk mataku, lukisan kenyataan dan impian beruntun silih berganti, kadang menggugah rasa senang kadang pula rasa gundah resah datang begitu mencengkam, malah merejam..."

begitulah dunia ini seolah selang seling puisi dan prosa. dalam prosa ada watak puisi seperti dalam puisi tercium bau prosa.

itulah kenyataan hidup dalam dunia kata tapi itulah kenyataan hidup dalam dunia realita juga.

semua bergerak berjalan bolak balik.

kulihat kualitas puitis yang bisa dirujukkan pada asosiasi puisi pada penutup novel bung yang berkertas tipis tapi berjiwa besar itu - seolah jiwa dari novel novel dunia atau puisi papan atas yang telah kukutip tadi.

lihatlah kata kata yang telah bung tuliskan ini:

sang pepohonan besar kecil deret berderet teratur rapih dengan warna hijau kehijauan yang ragam nuansanya. begitu pula tanaman pohon bunga bunganya, mulai mempertandakan kesegar bugaran putik putik yang kian hari kian merekah cantik.

tidak kah itu bisa kita sebut sebagai bait dari puisi? bait yang sama tapi dengan nada dasar muram dalam puisi "alam" charles itu, yang sejajar benar lariknya dengan yang bung tulis:

luas bagai malam dan bagai benderang
bau bauan, warna warna dan bunyi bunyian saling
bersahutan

tapi toh rimbaud naik kuda di musim dingin dan berkata:

kita naik kuda merah jambu
dengan bantal bantal biru

seolah lah optimis sajak itu. sebelum larik berakhir dan benda mengerikan itu datang:

kita perlu waktu untuk menemukan itu binatang gila
yang mengembara jauh sekali.

kita memang telah jauh mengembara bung kohar. menembus hidup menembus mati. kita dari situasi dan diri kita sendiri. situasi yang menghenyakkan, kata iwan simatupang.

"berapa kali aku mesti gemerincingkan loncengku?"

oh lonceng itu tidak pernah istirahat menggemerincing. icih.

aku tak tahu apa yang ada di kedalaman hatiku. mungkin serupa energi penyanyi rock yang membuka bajunya membuka celananya dan memperlihatkan burungnya di hadapan panggung. ia tenggak ia tenggak ia melompat dengan suara parau dari paraunya kehidupan.

tidak aku tetap di sini sampai mati. memegang loncengku yang bergemerincing. mungkin aku dari tokoh telegram itu melompat dari dunia tanda di sana untuk menyelinap ke dalam diriku. memainkan permainan iseng dari setelah tak berdaya.

apalah daya kita ini
kaki terantai tangan terantai
dikutuk sampai mati

datanglah neraka datanglah neraka datanglah neraka hay! kutiup surga.

ai bung kohar hehe

aku kangen

hudan


*


(IV)
A.Kohar Ibrahim :

Hadapi Musuh Kebosanan Secara Jantan
 
Hudan Yb,
Berulangkali aku simak ekspresimu "tak mau bantu bantu kawan lagi". Sesekali aku gemas, sesekali aku malah marah, sesekali pula aku mesem tawa. Ah, macam macam saja dikau ini, lanjut ujar kataku dalam hati. Seraya maklum: sesekali wajar wajar saja berkeluh kesah atas situasi dan kondisi hidup kehidupan, sekali pun sebatas dunia kesusastraan yang digeluti. Tapi, aku peras keras "ungkapan" perasaanmu itu menjadi sepatah kata saja, sebagai ekspresi: kebosanan. atau: kejenuhan. Dan itu pertanda nyata dikau memang manusia yang manusiawi. Sorang manusia yang syak-jibun kali membela bela, membantu bantu, tapi dampak manifestasi aksinya tak atau belum lagi seperti yang diharapkan. Lebih-lebih lagi malah mendapat kecaman? Maka dalam kekecewaan dan terkaman kejenuh-bosanan, dikau "muntahkan" kata-kata: "tak mau bantu bantu kawan lagi".

Aku garisbawahi: Perasaan seperti itu wajar timbul, Hudan. Tiap orang bisa begitu. Seperti aku juga. Kita. Sesama manusia. Manusia yang menurut ungkapan Utuy Tatang Sontani, tak lain hanyalah seonggok daging dengan tulang belulang dalam jaringan otot-urat terbungkus kulit tipis. Iya, begitulah : Sosok tubuh yang selagi hidup melakukan perjuangan hidup-mati dalam aneka-ragam bentuk manifestasi aksi sebagai kelanjutan perasaan dan pikiran yang dimiliki masing-masing.

Tetapi, dalam keadaan apa dan bagaimanapun juga, sebagai sosok manusia kita tak bisa lari terpisah menyediri dalam artian sebenarnya. Kita tak bisa lari dari realita hidup kehidupan sosok manusia lainnya yang disebut masyarakat, Hudan. Masyarakat atau umat manusia yang sekian milyar banyaknya, Hudan. Sekian milyar sosok manusia dengan tanggungan perjuangan hidup-mati-nya masing-masing, Hudan. Dalam mana termasuk tanggungan ragam-macam perasaan, seperti rasa yang merupakan ancaman yang paling gawat berupa kejenuh-bosanan itu. Seperti yang secara plastis puitis diungkapkan oleh penyair Baudelaire dalam sajaknya berjudul "Au Lecteur" (Kepada Pembaca).

Tetapi juga, dalam kaitannya dengan dirimu, terus terang saja aku tidak yakin dikau akan konsisten dan konsekwen dengan ungkapanmu yang "tak mau bantu bantu kawan lagi". Sungguh! Aku anggap itu hanya ucap Hudan yang lagi nyap-nyap saja. Sepertinya barusan mereguk tribotol Calsberg atau Duvel...!

Aku yakin: Hudan adalah Hudan Hidayat sosok manusia yang aku juluki sebagai salah satu Pendekar Kesusastraan Indonesia.
 
(A.Kohar Ibrahim)
 
Semar 2009
 
Btw:
Sebagai pelengkap, kulampirkan sajak Baudelaire yang kumaksudkan di atas itu, yang kuterjemahkan dari bahasa aslinya: Prancis.
 
Kepada Pembaca
  Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran,
Menghuni jiwa kita dan menggeluti raga kita,
Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita,
Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka.
Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ;
Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,
Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur
Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa.
Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis
Yang melobang lama lama jiwa senang kita,
Dan logam adi kemauan kita
Dan semua diuapkan oleh ahli kimia ini.
Adalah iblis pemegang talikendali kita!
Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ;
Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka,
Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk.
Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan
Payudara korban dari pelacur tua,
Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh
Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh.
Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat,
Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis,
Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung,
Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan.
Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran,
Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan
Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan
Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh.
Tetapi di antara para serigala, macan tutul, anjing buruan,
Monyet, kalajengking, gagak, ular,
Raksasa melengking-lengking , berteriak-teriak,  merangkak,
Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita,
Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji !
Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras,
Ia hanya menjadikan tanah debu
Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ;
Itulah Kejenuh-jengkelan ! – mata menanggung tangisan terpaksa,
Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka.
Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini,
-- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!
  (Charles Baudelaire : Au Lecteur)
*


(III)
Hudan Hidayat :

Objet: [*Apresiasi- Sastra*] Re: tak mau bantu bantu kawan lagi
À: Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com
Date: Mercredi 11 Mars 2009, 8h18
cpunai, cpuni, cpu cermin di hati. apalah gitu. kusimak ombak kecil kecil kau dan neon neon. seolah ia hendak mematikan terangnya dan kau hendak memutar terus saklarnya.

kusimak yang belum sampai kau simak: sumpah dila si gadis remaja. seolah kulihat ada alur tipis, dari jembatan genting di atas genting. kau dan neon berjalan di sana: ah dia dorong kamu ke tepi tapi kulihat dilla si remaja mengungkit kau kembali aha, kulihat kohar ibrahim seolah bermain mata. apa yang dilihatnya?

waktu yang mendekat serupa tanah yang menampakkan diri. jangan dulu, kata kohar. aku sapa dia dan kubarut kakinya. belum waktunya, kataku. mungkin ia mau datang padaku. mungkin ia mau datang padamu. mungkin ia mau datang pada kita.

aku melihat lubang kata kata yang pecah di tanganmu, neon neon hendak menampalnya tapi dia tak menampalnya: dia sendiri pun sibuk membebahi lubang pecah di kakinya. ia hentakkan kakinya tapi lubang itu malah bocor seperti separuh langit afrizal malna.

cpunai sang dila gadis remaja yang bersinar lampu neon neon dari wajah kohar. aku pegangi tubuh kalian dan knop lampu kutekan sampai mati tapi lihatlah sinarnya hidup kembali.

kalian tahu bahwa kita tak tahu seperti aku tahu bahwa kalian tak tahu.

mari menari bersama tuhan
bersama setan

mari menari bersama tuhan
bersama hudan

aduh cpuni duri di hati

hudan

*


(II)
C.Punai :

--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "c.punai" wrote:

aduh duh tuan nampak hampa
memang orang-orang tak mengerti kita
mahunya kita di bawah telunjuk mereka.

aduh duh tuan janganlah kecewa
ada yang bersama kita
dalam suka dan duka
yang bertahta di dalam jiwa.

aduh duh tuan janganlah hamba dan kecewa
bikin luka,
kita terluka mereka tambah suka dan gembira.

aduh duh tuan yang bijaksana
bahagia bukan dimereka
yang tak pernah mahu mengarti kita.

aduh duh tuan mari terus cipta kata-kata
dikata-kata bisa dijumpa sejahtera
yang bisa menenang minda dan jiwa.

aduh aduh tuan
kadang sendiri menang lebih berarti
memurni dan mengharmoni hati.

aduh duh tuan
apa arti berbasa-basi
kalau tiada jujur di hati.

aduh duh tuan
ini rap untuk tuan yang sedang patah hati
melodinya kena tuan cipta sendiri.
hihihi....

salam kenal tuan,
cpunai
dari brunei

*


Hudan Hidayat :

-- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "hudanhidayat"  wrote:
aku jadi ingat sama kawanku bobby fiser. dia jenius catur yang lalu menolak bertanding lagi. terus puluhan tahun kemudian kubaca lagi tentang dia: seorang jenius catur mati kesepian di usia tuanya. ditusuk oleh orang tak dikenal dan sang jenius ini saat ditusuk dalam keadaan miskin, terlunta, putus asa, dan dalam keadaan mabuk.

indah sekali pilihanmu kawanku. memang begitulah seharusnya hidup: tak perlu berkawan sama orang. hidup sendiri saja.
 
tapi mengapa kamu mati ditusuk?
 
nasib ya.

ah nasib.

*

(I)
Hudan Hidayat :

--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, "hudanhidayat"  wrote:
mulai hari ini aku tak mau buat esai atau bantu bantu kawan yang kukenal lagi. capek. lelah. ujung ujungnya juga kita yang kena salah. baik dikatakan mau tidak dikatakan. tapi kan kita kadang tahu maksud orang yang marah pada kita. jadi mendingan nulis semau kita sajalah. apalagi menulis tentang orang yang belum pernah kenal pada kita.

tetap aja walau kita baik kepada orang kita yang kena salah kalau laku kita kebetulan tak pas sama keinginan orang.

mulai sekarang sungguh sumpah aku gak mau lagi hadir di acara budaya apa pun kecuali aku sendiri yang memang mau datang.

hidup sendiri sunyi sendiri seperti yang selama ini kujalini sudah keren abis kok.

secara aku yang paling malas ribet perasaan ini inilah yang paling asyik untukku: sendiri, sunyi, kalau aku pun kelak mati, biarlah aku mati sendiri. aku tak butuh kawan atau teman untuk mati. biar aja mayatku tak usah dikubur tak apa, karena aku harus fair juga telah jadi orang yang egois.

keren juga kan kita mati dan tubuh kita membusuk langsung bersatu dengan bumi. lagi pula untuk apa dikubur kubur. kita hidup sendiri tak butuh orang lain. orang lain pun tak butuh kita.

oh indahnya hidup sunyi sendiri.

aku tak mabuk nulis ini. sepenuhnya sadar. tapi hatiku sudah terlalu banyak memendam perasaanku sendiri.

ah kamu itu hudan hehe

hudan hidayat

***
Comments
Add New Search
jeeny  - mac flv converter     |121.37.38.xxx |2011-04-19 10:31:04
Leawo Mac PSP Converter can let you enjoy any videos on your PSP or PS3. Leawo PSP Converter for Mac can be taken as the best video to PSP/PS3 converting software on Mac. With
it you can easily convert MOV, 3GP, AVI, RM, MPEG, ASF, FLV and so on
to PSP movie on Mac OS X. Mac FLV Converter is an excellent video to FLV converting tool on Mac OS that can convert
FLV to video and audio in other formats, such as FLV to AVI, FLV to VOB,
FLV to 3GP, FLV to MP4, FLV to MOV, etc. Leawo FLV Converter for Mac is actually a combination of Free YouTube Video Downloader for Mac and FLV
Video Converter for Mac. It helps you deal with FLV videos
downloaded from YouTube,Yahoo, Google, Metacafe, MySpace and other
video sharing websites.Leawo Blu-ray DVD Ripper can decrypt all Blu-ray discs with AACS and BD+ protection and the latest
MKB level to most popular video formats like MP4, H.264, AVI,
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diupdate ( Sabtu, 14 Maret 2009 09:25 )
 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.