| Mencium Hajar Aswad Perlu Kiat yang Tepat | ||||
|
|
Tentu, ketika mengambil miqot itu jemaah sudah mengenakan pakaian ihrom. Jadi, tak heran, jika di tengah kota di panas terik terlihat banyak orang mengenakan pakaian ihrom, begitu pula pada malam hari di bawah benderang sinar lampu kota. Orang berpakaian ihrom inilah yang merupakan pendatang baru, sekaligus menjadi tamu Allah. Dan,pada hari Idul Adha 1428 H/2007 nanti, mereka yang berpakaian ihrom itu akan melaksanakan salah satu rukun Islam, berhaji. Panas terik, bibir dan kulit telapak kaki pecah-pecah merupakan pemandangan keseharian yang diderita pendatang baru yang akan menunaikan ibadah haji. Tetapi hal itu tampaknya bukan menjadi penghalang. "Bibir pecah, kaki pegal dan telapak kulit kaki pecah, adalah tantangan bagi kita," kata Asnawi, salah seorang petugas haji Indonesia dari Daerah Kerja (Daker) Mekkah. Belum ada data berapa besar jemaah haji dari berbagai negara yang sudah tiba di Mekkah hingga Ahad ini. Yang jelas, tatkala sholat Jumat (23/11) lalu, kawasan Masjidil Haram penuh. Itu berarti, menurut perkiraan, sekitar 40 persen dari enam juta warga yang melaksanakan ibadah haji sudah tiba di Mekkah. Sedangkan jemaah haji Indonesia, yang kini kebanyakan berada di Madinah, akan bertolak ke Mekkah pada 26 Nopember 2007, dan diperkirakan pada Selasa pagi, terutama dari kelompok terbang (Kloter) pertama, sudah berada di Mekkah. Dari jutaan calon haji yang sudah berada di Mekkah, melaksanakan sholat lima waktu setiap hari di Masjidil Haram kebahagiaan tersendiri. Kebanyakan dari mereka itu memanfaatkan waktu dengan mengisi berbagai ibadah penting, seperti zikir, membaca Alquran dan tawaf. Dan, yang paling dinantikan adalah mencari kesempatan dapat mencium Hajar Aswad. Untuk dapat mencium Hajar Aswad ini, banyak orang menceritakan kiat-kiatnya. Seperti merapat ke dinding Kabah dan maju perlahan-lahan. Namun ada pula yang menyebutkan untuk dapat mencium Hajar Aswad harus pandai menyelinap di antara ketiak orang banyak berbadan tinggi dan besar. Maklum, ketika mencium Hajar Aswad, orang dari negara asia timur dan tenggara yang berbadan kecil kerap kalah jika berebut. Banyak yang terpental. Apalagi ketika terjadi adu saling dorong. Tak heran, banyak orang mengurungkan niat untuk mencium Hajar Aswad dengan pertimbangan, daripada menyakiti orang lain dan lebih-lebih mencelakakan diri sendiri. Namun demikian, banyak juga orang dari Asia memperoleh kesempatan mencium Hajar Aswad. Itu pun tergantung dari kemurahan sang askar, penjaga yang bergelantungan di sisi kiri pintu Kabah. "Saya beruntung, dapat mencium Hajar Aswad," kata Naimah, jemaah haji dari Malaysia, menceritakan pengalamannya. Ia tiba bersama suaminya, Jumat lalu, dan dapat mencium Hajad Aswad pada dini hari menjelang Subuh. Menurut dia, untuk mencium Hajar Aswad perlu perhitungan matang dan tindakan nekad. "Cerita orang, tunggu waktu akan sepi. Nyatanya, di sini tak pernah sepi. Orang selalu ramai," katanya lagi. Keistimewaan Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Kabah dengan ketinggian 1,10 m dari tanah, panjang 25 Cm dan lebar 17 Cm. Diceritakan dalam beberapa buku sejarah, awalnya adalah batu bongkahan tapi sekarang menjadi delapan gugusan batu kecil karena pernah pecah. Hal itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syiah Ismailiyyah Al Batiniyyah dari pengikut Abu Thahir al Qramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa pada 319 H. Kemudian dikembalikan pada 339 H. Bagi umat Muslim meyakini bahwa warna Hajar Aswad awalnya putih. Namun kemudian berubah lantaran dosa manusia. Ini sesuai dengan sabda Rosullah, "Hajar Aswad diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa cucu Adam yang menjadikan hitam." Karena berasal dari batu-batu mulia (yaqut) dari surga yang diberikan dari Nabi Ibrahim agar diletakkan di salah satu sudut Kabah, Lalu Nabi Muhammad SAW mengambil dan menempatkannya di tempat semula (pada saat renovasi masa Quraisy). Hajar Aswad merupakan bertemunya para bibir nabi, orang saleh, para haji. Ia menjadi tempat permulaan dan berakhirnya tawaf, sekaligus mustajab, dikabulkannya doa. Pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan menjadi saksi. Ibnu Abbas mengingatkan: Janganlah kalian berdesak-desakan di Hajar Aswad, jangan menyakiti atau disakiti. Lebih baik bertakbir dan tidak menyakiti saudara muslim lain adalah lebih disukai daripada berusaha menciumnya. Dalam konteks ini, jemaah haji Indonesia kiranya perlu memperhitungkan penting tidaknya mencium Hajar Aswad. Sekiranya berbahaya dan menyakiti diri dan orang lain, menghindar jauh lebih penting. Bukan nekad tanpa perhitungan. (Edy SS/MCH Mekkah)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Terakhir Diupdate ( Sabtu, 14 Agustus 2010 13:09 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||




Mekkah, Bekasinews.com.- Jemaah haji dari berbagai negara mulai berdatangan, dan umumnya pendatang yang baru menginjakan kaki di tanah suci itu mengawalinyadengan ibadah umrah dengan mengambil miqot di beberapa tempat yang sudah ditentukan. Di tempat miqot itulah, seperti di Tan'im yang berjarak 7,5 km dari kota Mekkah, atau dari Nakhlah (13 km), Adlat Laban (16 km), Ji ranah (22 km), Hudaibiyah (22 km) dan Bikit Arafah (22 km), jemaah membersihkan badan kemudian melaksanakan sholat sunat melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram. 



