|
Perempuan Berlesung Pipit AJ Susmana “Aku harus segera pulang, kawan-kawan. Harus. Tak bisa aku menunggu. Aku sudah tak bisa berpikir.” Golak tak dapat menahan rindu yang menderu dari kalbu. Bening air matanya jatuh perlahan. Dibiarkannya dan untuk itu ia tak malu. Suasana begitu hening sekaligus tegang. Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah kawan-kawannya. Ada lima orang dalam ruangan itu termasuk dirinya. Asap rokok mengepul deras mengusir rasa gundah. Jendela dibuka lebar-lebar sehingga asap rokok leluasa menggelombang, menari-nari mencari jalan keluar. Belum ada yang menanggapi permohonan Golak. Masing-masing kawan berusaha menjawab bila peristiwa itu terjadi pada dirinya sendiri. Ketika itu tahun 1951. Tiga tahun sesudah geger Madiun.
Tiga tahun yang lalu ia tak merasa seperti ini: rasa rindu yang tak tertahankan. Tiga tahun yang lalu itu ketika pimpinan pusat Pesindo memerintahkannya untuk pergi meninggalkan rumah dan desanya untuk jangka waktu yang tak ditentukan dan bergabung dengan sel gerilya terdekat untuk menggempur kolonialisme Belanda dan berjaga dari provokasi yang ada, ia yang sedang menimang bayi perempuan pertamanya pun langsung pergi tanpa ada beban. Hanya sedikit pelukan dan ciuman untuk isteri dan anaknya. Saat itu ia sudah mendengar bagaimana Pesindo di Madiun dan sekitarnya dihajar dan dikejar pasukan Siliwangi yang hijrah dari Jawa Barat. Sel gerilyanya sendiri tak diperintahkan memasuki wilayah konflik Madiun tapi justru ke Jogja untuk bersiap melawan pasukan Belanda. Betapa heroiknya tiga tahun yang lalu itu. Rasa rindu yang cengeng yang dapat mendemoralisasi perjuangan dapat diusir menjauh. Orang-orang desanya pun mendengar dan tahu perihal tekad dan keberaniannya itu. “Golak tak pernah panik dalam situasi sesulit apapun. Itulah yang menyebabkan ia sering diikutsertakan dalam operasi gerilya mencegat konvoi pasukan Belanda.” Begitulah orang-orang desa, tua maupun pemuda seangkatannya bila bercerita tentang sepak-terjang Golak selama revolusi fisik pasca proklamasi 1945. “Ia pula pemuda pertama desa ini yang berhasil membunuh kempetai Jepang dengan lebih dahulu merebut pistolnya dan dengan cepat menembakkannya tepat di jidat si Jepang bengis itu. Entah darimana ia belajar menembakkan pistol.” Yang lain menambahkan prestasinya dengan rasa kagum. Tapi kini tiga tahun sesudah itu, betapa ia tak dapat melawan rindu yang mendesak hati dan pikirannya sehingga ia tak sanggup membendung otak yang memerintahkan menjatuhkan butir-butir air mata yang hanya pantas dikeluarkan pemuda cengeng. Anak keduanya yang lagi-lagi perempuan itu begitu cantik, bersih dan bersinar. Ada lesung pipit di pipinya. Ia pun menamakan putri keduanya itu Pipit Merdeka. Belum ada 24 Jam ia menimangnya, perintah untuk sekali lagi pergi meninggalkan rumah dan desanya untuk jangka waktu yang tak ditentukan datang lagi. Tapi kali ini bukan untuk bergabung dengan sel gerilya tapi sembunyi dan menghindari Razia penangkapan orang-orang merah yang dilancarkan Kabinet Sukiman. Memang Golak kini sesudah revolusi fisik selesai dan Indonesia menerima perjanjian KMB, 1949, menjadi tokoh pemuda yang disegani di desanya, sekaligus tentu saja dianggap sebagai tokoh komunis di desanya. PKI yang menjadi partainya sendiri sudah menanggalkan sayap bersenjatanya; memilih jalan parlementer dan bersiap mengikuti pemilu yang akan diselenggarakan. Pada kongres Pesindo tahun 1950, Pesindo – yang dikenal sebagai laskar pemuda bersenjata yang kuat itu pun, diubah menjadi Pemuda Rakyat, organisasi pemuda onderbouw PKI yang tak bersenjata. “Kita harus disiplin. Razia masih berlangsung dan perintah untuk keluar dari persembunyian belum ada.” Diman yang termuda di antara kelima kawan itu berkata perlahan mengusir kesenyapan. “Situasi ini tak akan berlangsung lama. Tak akan sekeras provokasi Madiun. Kabinet Sukiman pasti jatuh. Jadi usirlah rindumu pada anakmu dengan berbagai cara, Lak. ” Yoso yang merupakan pimpinan dari kelima sekawan itu berusaha menasehati. “Aku akan hati-hati, kawan dan hanya sebentar saja. Sebentar saja. Begitu aku melihat putri mungilku dengan lesung pipitnya dan kutimang ia sebentar aku akan segera kembali.” Golak memohon dengan sangat. *** Malam remang terang rembulan. Ia yakinkan langkah-langkahnya melewati desa-desa sunyi mendekati desanya sendiri. Penduduk desa dengan malam seperti ini memilih tertidur dalam pelukan mimpi dengan iringan nyanyian jangkrik atau burung-burung malam. Golak pun tahu beberapa pemuda desa yang tak terlibat konflik tentu berjaga seperlunya di gerbang-gerbang desa. Untuk itu ia tak melewati jalan-jalan utama yang menghubungkan desa-desa itu tetapi memilih melewati pematang-pematang sawah, ladang-ladang tebu, kebun-kebun sunyi dan hutan-hutan desa. Golak pun sebenarnya tahu desa-desa yang dilewatinya setidaknya tidak memusuhi PKI bahkan sebagian menjadi simpatisan aktif. Ia pun mengenal dengan baik beberapa pemuda yang menjaga pintu-pintu gerbang desa itu. Hanya saja dalam situasi seperti ini gerombolan bersenjata liar yang setidaknya mendukung politik Sukiman dapat bergerak leluasa, berpatroli, main hakim sendiri: menangkapi, menculik dan membunuh orang-orang merah atau dituduh merah karena soal-soal dendam pribadi. Ia dalam ketenangan dengan diselubungi rasa was-was yang tersisa terus menyusuri malam; mendekati desa dan rumahnya. Setidaknya ia juga bisa belajar dari peristiwa tiga tahun yang lalu: tak ada satu orang pun komunis atau yang dituduh komunis dibunuh di dusun-dusun desanya. Justru ia tahu bagaimana beberapa orang dari desanya bahkan dusunnya telah menjadi orang buangan di Boven Digul, Papua, karena ikut berontak melawan kolonialisme Belanda di tahun 1926. Mereka yang pulang dari Boven Digul itu kemudian menjadi orang-orang yang disegani dan dihormati di desanya. Golak pun bangga dengan keberanian dan tradisi baik berjuang melawan penjajahan yang sudah dimulai pemuda-pemuda desanya sebelum dirinya itu. Pun pada sepasang suami-isteri yang bekerja sebagai Guru dan Bidan yang menemukan cintanya di Boven Digul. Sepasang suami isteri itu pula yang telah mendidiknya sampai pada kerelaan berjuang melawan penjajahan tanpa takut menanggung resiko: dibunuh, dibui dan dibuang. Kebetulan rumahnya sendiri berada di pinggir sawah. Jadi, setelah melewati sawah di belakang rumahnya, ia bisa mengendap-endap melewati kebun sunyi belakang rumahnya; mengetuk pintu perlahan tanpa perlu menjadi perhatian tetangga-tetangga sekitarnya yang mungkin belum tidur dan juga tak perlu mengganggu tidur nyenyak tetangga-tetangganya yang mungkin sudah tertidur. Begitulah Golak sampai di rumahnya; menimang dan menciumi putri keduanya yang berlesung pipit itu. “Oh, Pipit Merdeka..betapa aku rindu kepadamu. Ayah sampai tak bisa menjauh dari bayangan wajahmu.” Ia terus menimang putri mungilnya yang cantik. Sementara isterinya memasang telinga waspada bila ada langkah-langkah yang mendekati rumahnya. *** “Seharusnya Ayah masih bersama kami lebaran tahun ini.” Perempuan berlesung pipit yang kini sudah melewati setengah abad itu dan kecantikannya masih terjaga itu tampak berusaha menahan tangisnya agar tak pecah. “Ayah diculik, lalu dibawa ke luar desa ini dan dibunuh di malam itu juga.” Tak urung butiran-butiran bening air matanya jatuh perlahan di pipinya; beberapa berhenti sebentar di lesung pipitnya. Ia membiarkannya; tak berkehendak menghapus jejak-jejak air matanya dengan tissue yang terletak di meja. Untuk itu ia pun tak perlu malu pada pemuda dan pemudi yang datang kepadanya untuk sekadar bersilaturahim di hari yang fitri ini. *** Jakarta, 31 Oktober 2007
|