Pemelintir Kumis Di Bawah Pohon Cemara
Oleh A.Kohar Ibrahim    Minggu, 12 Oktober 2008 16:14    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Cerpen : A.Kohar Ibrahim


 BERITA ku baca barusan teriring desah tarikan napas panjang dan desis tanpa ulang mengulang : « Sang Pemelintir Kumis itu akhirnya mendahuluiku juga --  seperti Agam seperti Kamal seperti Sobron seperti Aziz seperti Afif seperti Khaidar dan Orang Medan lainnya ? »

Kini, setelah mencapai usia delapanpuluhan tahun, dia pun wafat. Ah berbeda dengan para penulis yang dapat sebutan « orang Medan » tapi sebenarnya lebih tepat disebut « orang Sumatera Utara » yang pernah aku kenal itu, dari padanya bukan baris-baris puitis atau teoritis yang terlebih dulu terkesankan di benak kepalaku, melainkan kumis. Kumis yang cukup lebat lagi panjang melintang jadi andalannya baik selagi melamun maupun ngobrol mengisi waktu senggang untuk elusan atau pelintir-pelintirannya.

Seperti seringkali aku saksikan manakala sesudah sarapan pagi di Tangsi Cengkareng kami ngobrol di bawah pohon cemara yang barisannya mengitari lapangan sepakbola. Maka ketika obrolan ngalor ngidul mengutarakan soal yang jadi persoalan hangat lokal maupun internasional, seperti pertarungan dalam GKI dengan segala variasi is-is-an macam anarkis, oportunis, revisonis, dogmatis, faksionis, sektaris, sosio-fasis, sosio-imperialis dan macam-macam lainnya lagi, dia yang panggilannya kemudian jadi Tungbela tak ambil suara. Biasanya hanya jadi pendengar saja sembari mengelus atau memelintir kumisnya. Tetapi kalau soal yang diobrolkan menyangkut soal-soal praktis di lapangan – apakah melancarkan kegiatan di kalangan masyarakat atau malah di medan juang yang gawat seperti peperangan, dia paling antusias.  Seperti perjuangan melawan serdadu fasis Jepang, Sekutu dan pemberontakan DI/TII di Sumatera Utara ; seperti perjuangan pembentuk sekalian pembinaan organisasi yang digelutinya sejak masih masa muda remaja. Berkat sepak-terjang dalam perjuangannya yang tanpa kenal lelah, maka diapun dikenal sebagai orang yang berjasa besar. Terutama sekali di wilayahnya. Teristimewa sekali wilayah Pantai yang jadi puja-pujiannya teramat sangat. Pantai tempatnya tumbuh berkembang ; yang menjaga maka diapun menjaganya seperti menjaga bijimatanya sendiri.

« Coba coba saja kalau memang berani menghina atau mengotori Pantaiku, » katanya yang sering dibilang ulang, kalau sedang bicara soal yang jadi persoalan yang dianggapnya merupakan prinsip, sembari membusungkan dada dan tanggannya siap sigap seperti menggenggam sebilah rencong. « Langkahi dulu mayatku … ! »

Dalam menjaga dan membela nama wilayah Pantainya dia memang bukan hanya dalam kata-kata melainkan dibuktikannya dalam perbuatan sepanjang jalan perjuangan hidupnya. Kecintaannya nyaris fanatik yang pantang mendengar kritik. Lantaran pengakuannya sendiri : « Kalian tau, aku ini sebangsa Syahdon, Go Sek, Hasyim Sirait, Lubis, Hutajulu, Bachsan dan teman seperjuangan lainnya lagi. Mereka yang berjuang demi kemerdekaan tapi mereka pula  yang menderita siksa dan mati di penjara Orba, selain difintah semena-mena… »

Seketika itu kami – aku dan Khaidar – yang paling sabar jadi pendengar, menyaksikan dengan jelas suaranya tertahan-tahan lantaran menahan amarah ; pandang matanya berbinar seperti lagi menyaksikan ombak besar gemuruh gulung gemulung menerjang sepanjang panjang pantai. Kami tentu saja memakluminya. Memaklumi kutukannya pada tindakan kekerasan penguasa, pun pada fitnahan yang sewenang-wenang. Tapi aku coba mengutarakan adanya kekurangan atau kelemahan kaum yang tertindas. « Seperti yang diutarakan dalam dokumen Kritik Otokritik itu, » ujarku, datar tapi jelas.

Sepatah kata yang mengingatkannya itu seperti sengat saja rupanya. Membuat dia gemetar menahan gusar. Gusar terhadap musuh gusar pula pada diri sendiri agaknya. Sehingga terucapkan kata-kata kasar : « Pukimak… ! »

Seketika itu pula kami – aku dan Khaidar – terkejut, melongo. Dia menatapku tajam, bola matanya nampak kemerah-merahan, lantas melengos sembari mendengus, bergumam : « Pencuri manouk lam tutupan, pencuri intan ateuh kurusi ! »

Untuk beberapa saat obrolan kami terhenti. Hanya untuk disudahi dengan dimulainya acara olahraga setelah para peminat berdatangan – apakah lari-lari saja, ataukah main bola basket atau sepakbola. Sesaat sebelum kegiatan itu, aku masih kesempatan bilang dengan tenang : « Coba kita kaji dokumen Kritik Otokritik  yang baru kita terima itu yah, Pak ? Nanti kita turut dalam grup diskusi… »

Dia tidak mengucap jawaban, tercenung menung sembari megelus-plintir kumisnya perlahan-lahan. Sepintas kilas dia melirikku. Kunampak pandangnya meredup seperti diidap kemasygulan.

Untuk beberapa lama, lebih dari seminggu, sesudah sarapan pagi, dia tidak seperti biasanya mengobrol ngalor ngidul di bawah pohon cemara. Penasaran, sekali aku mampir mendadak masuk kamarnya di Gedung 5 bekas tangsi TPR itu.

« Sibuk yah, Pak ? » sapaku ramah, pura-pura tak tahu menahu di atas meja kecil terletak dokumen penting yang jadi persoalan itu, selain sebuah patung Mao Tje Tung berdiri agung di hadapannya. Seketika aku senyum, tapi hanya dalam hati saja.

Senyumku benar-benar senyum terbuka lega, ketika masa diskusi grup studi tiba, dia begitu bersemangat mengeluarkan pendapat – mengutip-sitir isi dokumen yang dikaji. Bahkan, saking semangatnya, pada waktu itulah dia memproklamirkan diri ganti nama panggilannya. Dari panggilan biasanya menjadi : Tungbela. Alias  Sang Bapak Tukang Pelintir Kumis itu. ***

10 Oktober 2008.

Catatan :
« Penguni manouk lam tutupan, penguni intan ateuh kurusi ». Pribahasa Aceh, artinya : «Pencuri ayam dijebloskan kedalam penjara, sedangkan pencuri intan menjadi penguasa. »
TPR : Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.
Ilustrasi : Foto Kohar dan Bokar di lapangan sepakbola, NK 1967.

Comments
Add New Search
jeeny  - mac dvd to 3gp     |183.17.98.xxx |2011-04-21 05:05:37
Leawo DVD to FLV for Mac is the best converter to convert DVD video to FLV format for online video
sharing. No matter you are going to upload your DVD videos to your
blog, or to social website like YouTube, MySpace, Google video, Yahoo
Video, etc.Leawo Mac DVD to iPhone Converter helps you realize this by ripping and converting DVD to iPhone
compatible video and audio formats. Leawo DVD to iPhone for Mac Converter is a powerful DVD to iPhone converting tool for Mac users who
want to watch DVD on  iPhone, iPhone 3GS and iPhone 4.Besides
converting DVD to iPhone, it also supports output devices like iPod,
Apple TV, iPad, etc. Fast conversion and high output quality make it the
most popular DVD to iPhone ocnverter. Leawo Mac DVD to 3GP Converter is a perfect and cool software to help Mac users watch DVD on
mobile phones without any limitation.Leawo DVD to 3GP for Mac is ...
Other Men Shoes   |220.160.158.xxx |2011-06-23 02:21:29
Air Jordan 25
Air Jordan 29
Air Jordan Shoes
Air Jordans Diamond Shoes
Jordan Carmelo Anthony
Jordan Chris Paul
Jordan Flight Team Shoes
Jordan Kobe Bryant
Jordan LeBron James
Jordan Six Rings
Garnett Basketball Shoes
Howard Basketball Shoes
James Basketball Shoes
Kobe Basketball Shoes
Other Basketball Shoes
Penny Hardaway Edition
Pippen Basketball Shoes
T-MAC Basketball Shoes
Gucci High Shoes
Gucci Leather Shoes
Gucci Men Shoes
Lacoste Men Shoes
MBT Men Shoes
Air Max 87
Air Max 90
Air Max 91
Air Max 95
Air Max 180
Air Max 2009
Air Max 2010
Air Max 2011
Air Max LTD
Air Max TN
Air Max Uptempo 97
Air Max Wan Premi
Nike Air Classic BW
Nike Air Max 24/7 Shoes
Air Force one
Air Hoop Structure
Air Wildwood Supr
Dunk SB Shoes
Nike Ken Griff
Nike Zebra Shoes
Air Max NoMo Shoes
Air Yeezy Shoes
Nike shox moster
Nike Shox NZ
Nike Shox OZ
Nike Shox R3
Nike Shox R4
Nike Shox R5
Nike Shox TL
Nike Shox Turob
Asics Running Shoes
Cole Haan Men Shoes
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.