| Danton Subrata | ||||
|
|
Cerpen: A. Kohar Ibrahim
"Tak usah heran," kata isterinya mencoba menyirap waswas yang menggeluti dirinya. "Apa yang terjadi di Timtim jarang ditulis orang." Namun demikian, tak berarti tidak ada berita sama sekali. Sebaliknya malah. Berita tersiar dari mulut ke mulut. Banyak orang mempergunjingkan peperangan yang berlangsung di separuh pulau kecil itu. Mengenai sejumlah orang yang tidak sudi dikirim kesana untuk menjadi umpan peluru. Mengenai adanya pasukan-pasukan yang tak sudi menjadi tukang-jagal. Bahkan ada yang melakukan pembangkangan dengan bermacam cara, sampai ada yang menyeberang ke pihak Fretilin. Lebih jau lagi, sampai ke soal diri pribadinyapun sudah digunjingkan orang. Lantaran tidak secara sungguh-sungguh menunaikan tugas. Para tetangganya yang dulu begitu ramah-tamah, kini kalau memandangnya seperti membidikkan tuduhan keji. Sebagai prajurit pengecut. Desertir. Pergunjingan itu sangat menggundahkan hati dan pikirannya. "Ngomong memang gampang," gumamnya. "Pernahkah mereka meneteskan darah? Diancam maut setiap saat?" Diulang-ulangnya gumam itu. Di depan orang lain -- terutama isteri dan anak-anaknya -- maupun lagi sendirian. Sembari meremas-remas pangkal lengan kirinya. Merenung-renung masa lalu. SERINGKALI dia teringat, sampai-sampai dalam tidurnya, peristiwa-peristiwa yang tergores dalam hidupnya. Terutama, ketika pasukannya melucuti sejumlah kaum muda remaja di sekitar Gedung Pemuda yang terletak di Lapangan Mereka, Jakarta. Pada tanggal 1 Oktober 1965. Pemuda-pemuda itu memang bersenjata. Tetapi bukan untuk menghadapi ABRI, karena ABRI yang mempersenjatai mereka, melainkan dalam rangka menghadapi ancaman nekolim. Pelaksanaan Dwikora. Baru beberapa minggu saja mereka mengenal senjata api. Betapa tidak. Pagi-pagi mereka gembira kedatangan pasukan-pasukan ABRI yang menduduki posisi-posisi strategis di kawasan seputar Istana Negara. Namun beberapa jam kemudian yang disambutnya itu melucuti senjata mereka. Tanpa perlawanan. Memang terdengar beberapa letusan senapan. Kelangit. Karena panik dan kebingungan. Akan tetapi kemudian peristiwa itu disebarluaskan di media massa sebagai suatu pertempuran antara pasukan ABRI dengan pasukan pemberontak "G30S/PKI". Pemberitaan yang membikin terkenal Kapten Duillah, komandan pasukannya. PERNAH dirasakan perutnya sangat mulas, nyaris muntah-muntah. Lantaran pesawat yang mengangkut pasukannya meluncur dengan guncangan-guncangan, tak stabil. Kerna cuaca buruk. Dia masih ingat sekali, sekalipun hal itu terjadi lima tahun kemudian. Setelah peristiwa Jakarta. Di bawah pimpinan Letkol Sonto Waluyo, menjelang hari Natal 1970, pasukannya diterjunkan di Lembah Balliem. Dalam rangka Operasi Cenderawasih. Sasaran utama operasi adalah yang disebut-sebut sebagai gerombolan pengacau keamaman OPM. Disertai oleh para wartawan televisi Indonesia dan Amerika. Lewat pesawat televisi digambarkanlah keberhasilan operasi itu. Dilatarbelakangi kepulan asap dari perumahan dan hutan terbakar dan penduduk lembah itu menyatakan kesetiaan mereka pada pemerintah Pusat. Pasukan Organisasi Papua Merdeka diporak-porandakan. Menyerah kalah. Atau ngacir ke seberang perbatasan. Ke wilayah Papua Niugini. Sesungguhnya operasi itu adalah suatu operasi unjuk-gigi. Operasi aksi-aksian ... di bawah berondongan laras-laras kamera. Yang menjadi bintang utama adalah Letkol Santo Waloyo. Dia dapat penghargaan hebat. Berupa tanda-jasa dan pemberitaan di berbagai media massa. Demi karir, diapun merasa bangga juga. Karena tiap kali menjalankan tugas yang terkait masalah keamanan yang penting namanya turut terangkat. Siapa pula gerangan menolak pujian dan meningkatnya pangkat? DIBANDING dengan yang sudah-sudah, kenangan yang selalu menggeluti jiwanya adalah pengalamannya yang terakhir sebagai prajurit tempur. Ketika pasukan ABRI secara besar-besaran dikirim untuk menguasai Timor-Timur. Sebelum melakukan penyerbuan, selagi masih di Jakarta, mereka telah dibriefing. Bahwa di daerah itu mereka akan menghadapi gerakan pengacau keamanan Fretilin. Dikiranya semula, operasi besar-besaran itu hanyalah akan merupakan show belaka. Piknik-piknik-an. Dugaannya meleset. Pasukan bersenjata rakyat Timor-Timur yang diperkirakan antara seribu lima ratus sampai dua ribu orang itu ternyata sangat gigih dan lincah. Mereka tersebar di beberapa daerah. Mengenal sekali lapangan tempur. Sedar dan terlatih mengangkat senapan selama beberapa tahun melawan kekuasaan kolonial Portugis. Setelah Portugis gulung tikar, lalu mereka berhadapan dengan pasukan raksasa Republik Indonesia. Serba lengkap dan modern persenjataannya dan berlipat-lipat ganda jumlahnya. Mereka dengan terpaksa menyingkir ke pelosok-pelosok pedesaan, hutan dan perbukitan. Dili dan beberapa kota lainnya dengan cepat dikuasai ABRI. Lewat pertumpahan darah. Korban di keduabelah pihak cukup besar. Tewas atau luka-luka. Sudah lazimnya, massa rakyat biasapun menjadi korban keganasan. Untuk meratakan jalan mengejar pasukan Fretilin, seringkali dilakukan penangkapan secara besar-besaran, pembakaran rumah-rumah dan seisinya sekaligus. Sebagai yang terjadi di kota Vicheque. Untuk menguasai separuh pulau kecil Timor itu ternyata benar-benar tidak mudah. Semula dikiranya hanya akan berdinas di sana selama beberapa bulan saja, namun kenyataannya mesti beberapa tahun. Semasa itulah baru dirasakannya benar-benar apa arti perang anti-gerilya. Perang yang menggerowoti urat syaraf. Mereka, pasukan Fretilin yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu, sulit dilokalisasi. Karena selalu berpindah-pindah. Serangan-serangan yang dilancarkannya selalu secara tak terduga-duga. Mendadak. Mengejutkan. Cepat muncul dan cepat pula menyelinap di tengah hutan atau di kalangan penduduk. Hal yang paling memusingkan semua komandan tempur. Sebagai yang dialaminya sendiri selaku Danton. Seringkali dalam melakukan operasi-opersi pengepungan dan penumpasan dia bingung apakah harus menangkap menembaki tiap orang atau sejumlah orang yang dijumpai ataukah membiarkannya. Karena kenyataannya seringkali orang-orang yang disasar itu tidak bersenjata apa-apa. Bagaimana menentukan mereka itu anggota Fretilin atau bukan? Setelah sering terjadi pelancaran operasi-operasi yang membabi-buta yang menyebabkan banyak korban jatuh dikalangan penduduk biasa, perwira atasannya memperingatkan, agar lebih ketat lagi menggenggam disiplin, lebih teliti dan hati-hati. "Kita harus betul-betul melipatganda kewaspadaan dan kecermatan kita," ujar Kolonel Purnomo, perwira atasannya itu, dalam suatu briefing di depan para komandan. "Mereka itu licik. Yang di desa atau yang di kota, di siang hari nampak seperti pekerja biasa. Megang palu di pabrik-pabrik, megang pacul atau arit di sawah-ladang, tapi di malam hari megang bedil." Waktu berlalu terasa lamban sekali. Kekacauan di kota seringkali terjadi. Begitu juga pertempuran kecil-kecilan atau penghadangan-penghadangan di beberapa pelosok desa. Adanya protes-protes dari kalangan penduduk dan siaran-siaran gelap sangat menggelisahkan hati. Mereka tidak menyukai tentara pendudukan dan menghendaki kemerdekaan serta hak menentukan nasib sendiri. Sedangkan ABRI menghendaki keamanan dan penyatuan wilayah. Sementara itu diusahakan perundingan pendahuluan untuk melakukan gencatan senjata demi terselenggaranya ketertiban dan perundingan untuk menyelesaikan segala sesuatunya lewat perdamaian. Terbetik berita kemungkinan diadakan referendum di bawah pengawasan PBB. Seiring dengan itu usaha pengenalan lebih baik mengenai kekuatan dan tempat-tempat yang jadi andalan pasukan Fretilin dilakukan secara intensip. "Kita tak boleh membuang-buang waktu. Tiap menit sangat berharga," ujar Kolonel Purnomo. "Kita harus berhasil menguasai seluruh daerah dalam bulan-bulan ini. Jika tidak, Pusat akan mendatangkan balabantuan besar-besaran. Maka jika hal itu terjadi, akibatnya akan lebih parah lagi." Dia agak terheran-heran mendengar suara Kolonel yang bernada jengkel campur penyesalan itu. Tetapi dirasakannya sendiri memang, hampir semua orang telah kehilangan kesabaran. Tidak sudi mati konyol itu sudahlah pasti. Yang lebih pasti lagi, semua ingin selesai tugas dan rindu pada sanak keluarga serta kampung halaman. Sesudah briefing terakhir itulah dia ditugaskan memimpin pasukannya untuk mengkonsolidasi keamanan di kota Vechique. Lebih khusus lagi, untuk bersiap-siaga menghadapi keadaan gawat yang mungkin terjadi di sekitar gereja kota itu. Karena disinyalir tempat itu merupakan salahsatu tempat aksi politik Fretilin. Untuk mendapat dukungan massa. Lewat salah seorang aktivis. Pastor Carlos Da Silva. Tak lama kemudian balabantuan dari Pusat pun tiba. Dia terheran-heran ketika mendengar berita mengenai penggantian beberapa perwira dengan yang baru datang. Termasuk Kolonel Purnomo itu. Lalu, tersiar pula desas-desus tentang penangkapan dan penyiksaan terhadap sejumlah anggota tentara. Sedangkan dia sendiri mendapat teguran keras. Dituduh lamban, tidak punya inisiatip dan kurang tegas. Maka terjadilah peristiwa yang melukai jiwa-raganya. Pada hari-hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, secara serentak dilancarkan operasi khusus di tempat-tempat yang telah ditentukan. Berlangsunglah pengepungan, pengejaran, penangkapan, penyiksaan dan eksekusi-eksekusi atas mereka yang disangka sebagai anggota Fretilin. Termasuk di kota Vechique itu. Dimana pasukannya mesti menyerbu gereja dan menangkapi sejumlah orang yang dicurigai. Memang terjadi tembak-menembak. Karena baik yang di dalam maupun di luar gereja, di antara massa itu ada beberapa orang yang membawa senjata api atau senjata tajam. Dia ingat sekali, ketika telinganya menangkap suara berondongan senapan otomatis dan seketika tangan kirinya luka-luka parah, itu bukan dari laras senapan lawan. Melainkan datangnya dari arah pasukan balabantuan yang baru didatangkan. Beberapa waktu lamanya dia dirawat di rumah sakit khusus untuk militer. Tidak segera dipulangkan ke kampung halamannya di Jawa. Batang tangan kiri terpaksa dipotong. Rasa sedih bercampur gundah menggeluti dirinya. Selama dalam perawatan sering kali dia mimpi yang mengerikan. Ketika itu pula dia tahu bahwa, sebagai kelanjutan peristiwa di sekitar gereja kota Vechique, beberapa ratus orang telah dieksekusi. Perihal yang hampir serupa juga terjadi di kota dan tempat lain. Dalam keadaan terkepung pasukan bersenjata Fretilin berlawan dengan sengit. Korban di keduabelah pihak sangat besar. Semua itu mewujudkan ramalan Kolonel Purnomo. Dengan datangnya balabantuan dari Pusat sebanyak duapuluh ribu orang, Timor-Timur boleh dikata sudah dikuasai sepenuhnya. Empat bulan kemudian dia kembali ke tengah-tengah sanak keluarganya. SORE itu, persis ketika makan, dalam acara tayangan warta berita disampaikan keadaan di Timor-Timur yang telah aman tenteram. Di kota Dili berlangsung rapat raksasa mendukung Pemerintah Pusat. Diperkenalkan -- dalam acara untuk bukti itu -- beberapa perwira yang telah berjasa dalam usaha penyatuan Timor-Timur ke dalam wilayah Republik Indonesia. Di antaranya dia kenali seorang perwira atasannya. Kolonel Purnomo. Dia sangat terharu. Tapi begitu gambarnya sirna dari layar televisi itu, dia tercenung sebentar. Menggeleng-gelengkan kepala. Mukanya berubah merah. Darahnya seketika mendidih. Bangkit. Menggebrak meja. Isteri dan anak-anaknya terkejut. Dan dia memekik: "Bah! Pendusta! Pendusta! Dasar orang keparat!" Lantas tangan kanannya ringan sajak membanting piring-mangkuk di atas meja itu. Dia begitu garang seperti orang kesetanan. Isteri dan anak-anaknya tak sempat melaukan apapun. Terbungkam keheranan. Setelah beberapa detik mengamuk itu dia menghenyakkan diri di atas kursi. Melohok sembari mengelus-elus pangkal tangan kirinya. Dia tahu, Kolonel Purnomo yang dikenalnya dengan baik itu, yang potretnya dijejerkan dengan yang lain-lain sebagai pahlawan, sebenarnya bukan gugur di medan tempur. Melainkan dieksekusi oleh koleganya sendiri. (1985) *** Catatan : Ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim – Jungle on Fire, cat akrilik.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








