| Pengembaraan | ||||
|
|
Pengembaraan Cerpen Lisya Anggraini* Dimuat di Harian Batam Pos, 17 Januari 2006
AKU mendengarkan lantunan ayat suci Alqur’an, jika tidak keliru surat Yasin. Guru mengajiku ketika di madrasah dulu, mengatakan surat itu biasanya dibacakan ketika melepas seseorang ke alam baqa. Agar perjalanan arwah diterima baik di sisi Illahi. Telingaku jelas sekali mendengarnya, dibaca secara bersama-sama susul menyusul. Dan terdengar pula isak tangis menyelingi sehingga bacaan ayat menjadi tersendat. Entah untuk melepas siapa surat itu dibacakan. Mataku menangkap jelas sekali sekelilingku. Namun semakin menjeratku kian tidak paham pada semua ini. Aku melihar tubuhku terbujur dengan mata tertutup, tak bergerak sedikit pun. Ada sehelai kain panjang menutupi, hanya menyisakan bagian wajah yang terlihat diam. Begitulah kiranya wajahku jika mata terpicing, dingin dan kaku. Ini pertama kalinya aku berkesempatan melihat tubuhku sendiri tanpa bantuan cermin, bahkan tanpa membuka mata. Di sebelah Bapak, pamanku yang dipanggil Mak Dang dengan wajah sedikit ditegakkan menjadi terlihat angkuh. Aku selalu menampak dirinya seperti itu. Sulit menerka kapan ia merasakan bahagia, karena hampir tak pernah aku melihatnya tertawa. Apalagi menunjukkan kesedihan. “Pantang laki-laki menangis,” katanya. Lalu ada adikku Aditya. Ia terlihat cukup tenang,membaca Surat Yasin. Dan hai..ada pula Buyung, lelaki yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Ia membaca surat Yasin padaku, tapi tak terlihat khusuk. Juga sahabat-sahabatku, dan banyak tetangga lainnya. Tak jauh dari sisi tubuhku, terdapat kain putih yang masih digulung. Lengkap dengan kapas, kapur barus, air mawar serta helaian bunga melati. Mak Dang dengan suara berat berkata,”Sekarang kafani saja jasad si Gadih, untuk apa ditunda. Apa kalian tak paham, mayat mesti cepat dikubur!” Ha? Aku hendak dikafani? Kini aku mulai paham, surat Yasin dan semua perlengkapan itu memang ditujukan untukku. Tapi kenapa? Aku tak sedikitpun merasakan alam akhirat dating menjemput, tidak ada pula dentuman tambur kematian. “Ambo* tahu Uda. Tapi, si Gadih belum siap untuk dikafani…” bantah Amak cepat. “Ada-ada saja kau ini. Bagaimana kau tahu. Apa mayat bisa bicara? Ah! Kejadian apa pula itu. Pikiran kau sudah dirasuki, tayangan mistis di televisi barangkali.” Suara Mak Dang terdengar ketus. “Hati Ambo yang mengatakannya,…”jawab Amak. “Apa kau menganggapnya masih hidup?” “Uda, Ambo ibunya.Hati Ambo belum melepas dia sepenuhnya. Ambo percaya dia masih belum pergi….” “Sudah payah kau ini! “ “Setidaknya tunggulah sebanyak dua kali membaca Surat Yasin,” pinta Amak, suaranya bergetar. “Terserah kau, lah! Aku sudah mengusulkan yang terbaik.” Bapak cuma diam. Dan memang itu sikap yang dia punya. Karena tidak ada untungnya membantah kata Mak Dang. Kakak lelaki Amak itu memang menjalankan perannya sebagai Paman dengan baik, menurut pemahamannya dia. Hingga Bapak tidak bisa menentukan arah hidup kami. Konsep kemenakan dibimbing membekali dia untuk mengeliminir peran Bapak atas ku juga adikku. Dan Aditya adikku, masih memilh membaca surat Yasin, sembari menepuk-nepuk pundak Amak. Sandiwara kehidupan apa sebenarnya yang tengah kujalani ini? Benarkah aku sudah sampai pada alam kematian? *** ENTAH kenapa kini aku berada di padang rumput hijau nan luas. Hanya aku sendiri. Tak jauh dari depanku, terdapat sungai. Aku beranjak lebih dekat ke tepiannya. Airnya deras mengalir dan jernih. Terlihat jelas bebatuan berbagai ukuran di kedalamannya. Di seberang sungai ternyata ada seekor kuda yang menepis kebenaran bahwa aku di tempat ini sendiri. Ah, sudah lama sekali aku tak melihat kuda secara langsung, sejak kepindahanku ke tanah rantau Batam ini. Ketika aku masih berada di Padang, aku suka sekali melihat kuda yang dijadikan angkutan. Orang di kampung menyebutnya Bendi. Namun, aku dan Aditya lebih suka memberi nama sendiri, yakni Kudmenben, kependekan dari “Kuda Menarik Bendi”. Bapak dan Amak tentu juga tahu. Aku selalu merayu Amak jika diajak ke pasar, naik Kudmenben. Walau sering tak diluluskan, sesekali Amak menuruti permintaanku. Biasanya awal bulan, ketika Bapak menerima gaji dari hasil kerjanya di penggilingan padi. Aku maklumi, karena ongkos naik Kudmenben lebih mahal dibanding angkutan kota, Bemo” dan Oto City*. Apalagi kini jumlah Kudmenben kian menyusut. Aku suka melihat ekor kuda yang menari-nari selagi berlari. Juga bunyi sepatunya: tak..tak..tak..tak…. seperti irama dengan aturan dan melodinya yang khas. Namun, aku juga suka kesal, pada kusir yang ringan saja mencambuk punggung kuda agar berlari kencang. Tak jarang pula aku melihat mulut-mulut kuda berbuih. Mungkin akibat letih. Pengalaman sedemikian sudah menjadi kenangan indah di masa kecil kampung halaman. Kecuali sekarang ini, pada kuda di seberang sungai itu. Walaupun cukup jauh, aku bisa melihat jelas sekali. Kuda itu berwarna putih bersih. Tubuhnya besar dan gagah. Berbeda dengan Kuda menarik Bendi di kampungku dulu. Tidak ada pelana, ia hanya dengan tubuh tegapnya sendiri. Namun, bagaimana bisa? Karena sungai ini cukup lebar. Airnya yang deras, membuatku bergidik untuk mencemplungi apalagi menyeberanginya. Seandainya tidak ada sungai yang merintangi, atau kuda itu tidak berada di seberang sungai, tentu aku bisa menyentuhnya. Upaya berfikir pun tak mampu kulakukan, karena kuyakini tak akan berbuah jawaban. Artinya, aku mesti berdamai dengan kenyataan, kuda itu hanya bisa kutatap dari kejauhan. Keinginan menyentuhnya, kusimpan dalam impian. Dan…hei! Kuda itu menyeberangi sungai menjelangku. Tubuhnya melesat diseret angin. Sekejap saja, selagi aku tak mampu mengedipkan mata. Ia sudah berada persis dihadapanku. Amboooi…tak pernah aku melihat kuda seindah ini. Tubuh tegapnya, putih bersih tak ada noda. Kakinya pun kokoh sekali. Wajahnya bisa kulihat jelas, lebih-lebih matanya, mengabarkan ajakan persahabatan dan sapaan hangat. Aku benar-benar tak bisa berbuat apapun. Kecuali hanya memandang dan gugup sekali. Bahkan tanganku, tak mampu bergerak untuk mengelusnya. Entah berapa lama, memandangnya saja yang kulakukan. Masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Apakah ia titisan kuda Sembrani? Atau kuda Troya seperti mitologi Yunani? Atau kuda yang menjadi sahabat Gandalf di Lord of The Ring? Aku kembali dikejutkan keadaan. Kuda itu terbang menjauhiku, ketika aku masih termangu. Dan menuntaskan harapan tidak kesampaian mengelusnya, hanya terkesimak tanpa mampu berbuat apa-apa.Mengutuk kelalaianku, adalah mungkin paling tepat bagiku kini! Entah berapa lama putaran itu. Hanya ada sekarang, semuanya kembali tenang, meski menyisakan letih tiada kepalang. Tubuh melunglai. Aku coba buka mata. Ah, langit ternyata masih saja gelap. Namun, aku mampu melihat orang-orang yang ramai sekali. Tak terhitung jumlahnya. Mungkin saja seisi dunia? Semuanya muda, mungkin seusia antara 20 hingga 30 tahun. Namun tidak satupun yang berbicara. Mereka dengan diri masing-masing. Walau tak persis berbaris, mereka nampak teratur melangkah. Juga ketika melewatiku, tak satupun melihat keberadaanku. Bahkan, diantanya Amak, Bapak, Aditya dan kekasihku Buyung. Aneh! Sampai pada satu titik, ada tangga dari kayu sederhana. Hanya cukup menampung satu orang saja. Tangga itu tergantung, tidak jelas menancap ke bawah mana, dan berujung ke atas mana. Rupanya ini lah tujuan semua orang yang tak terhitung jumlahnya itu. Satu persatu menaikinya, raib ditelan kegelapan. Kini giliranku! Tubuhku tak mampu menyembunyikan rasa takut jiwaku. Kaki terasa mengigil, tubuh mendingin. Untuk berbalik mundur juga tak mampu kulakukan. Karena tak seorang pun berbuat begitu. Ku ikuti saja langkahku, menaikinya. Ah, tangganya bergerak. Aku kehilangan keseimbangan, tergelincir. Tubuhku meluncur ke bawah. Entah karena apa, dorongan kuat membuat tubuhku terpelanting ke atas. Daya tarik bumi seperti tidak berlaku lagi. Tak ada anak tangga tempatku berpijak, aku mengawang. Kenapa semua ini sedemikian sulit untuk dimengerti. Lantunan Surat Yasin kini kembali menyergap telinga. Susul menyusul. Juga tangis Amak semakin melengking menyebut namaku.Aku masih mendengar semuanya!*** Catatan:
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








