| Istri Yang Selalu Pergi | ||||
|
|
AJ Susmana Pagi benar. Jam empat, aku antarkan istriku ke bandara. Kali ini ia hendak terbang ke Hongkong. Satu tahun, ia akan tinggal di sana untuk penelitian dan hidup bersama Buruh Migran. Dalam dingin kami tak banyak bercakap. Taksi melaju perlahan lalu semakin kencang. Menembus pagi buta seperti memburu waktu. “Santai saja, Bang. Masih banyak waktu.” Aku tegur sopir taksi yang masih tampak muda itu dan ia mulai mengurangi laju kecepatannya yang membuat kami bisa duduk bersandar. Santai. Aku rangkul istriku erat sebagai dukungan untuk pekerjaannya. Nampaknya ia mengantuk dan kubiarkan ia tidur di bahuku. Lalu di atas pangkuanku sambil kubelai-belai lembut rambutnya. Aku memang tak pernah melarang kemana dia hendak pergi. Aku punya pekerjaan sendiri. Begitu pula dia, istriku. Aneh? Tak ada yang aneh untuk kami berdua. Kami sama-sama berjanji untuk menghargai pekerjaan yang menjadi pilihan kami masing-masing. Begitulah kami sebelum memasuki pernikahan tujuh tahun yang lalu. Konsekwensinya semakin hari semakin jelas: istriku tampak selalu pergi karena pilihan pekerjaannya itu sementara aku tampak di rumah saja juga karena pilihan pekerjaanku menjadi pekerja kantoran biasa sambil mengurus cetak-mencetak dan sablon-menyablon dan sesekali menulis untuk beberapa koran harian. Hanya mamaku yang selalu mengomel. “Wanti, istrimu itu jangan kau biarkan selalu pergi. Apa kata orang? Apa kamu tak malu: dikatakan lelaki tak berdaya. Tak berkemampuan? Mengatur dan memimpin istrinya sendiri tak bisa. Lelaki itu kepala rumah tangga. Istrimu itu mau jadi apa? Presiden? Seperti Megawati atau Sekjen PBB? Ya ampun, Sar?! Sar?! Kamu ini kan lelaki. Sarjana. Dengan pekerjaan mapan. Apa istrimu itu tak puas dengan kelelakianmu?” Biasanya kalau Mama sudah ngomel seperti itu bila istriku pergi lagi, aku mengambil buku apa saja untuk mengalihkan perhatian dari caci-maki yang bisa berlanjut atau cukup berkomentar singkat saja. “Mama, kenapa sih?” Begitulah. Suatu kali pernah karena komentar singkatku itu bikin Mama tiba-tiba terdiam agak lama. Saat itu istriku pergi ke Mataram. Nafasnya diatur untuk mengeluarkan keinginanannya yang terpendam. “Bagaimana mungkin istri yang selalu pergi akan dapat memperoleh anak?” Ia tak melirik kepadaku dan aku tertawa kecil. “Jadi, Mama ingin kami segera punya anak?” “Sudah tujuh tahun perkawinanmu itu, Sar? Apa kamu tak malu dibilang mandul? Tak ada keturunanku yang mandul.” Kalimatnya terakhir bernada menyesalkan dan tak bisa percaya pada apa yang kami jalani. “Mama. Mama,” aku mendekat dan hendak meyakinkan pada Mama hidup macam apa yang sedang kami jalani agar kesedihan dan kekuatirannya yang tak berdasar untuk kehidupan perkawinan kami tak berlarut. Kataku perlahan: ”Mama sudah banyak cucu yang lucu-lucu dan cantik: laki dan perempuan dari anak-anak mama yang lain. Jadi, seharusnya tak perlu sedih dan khawatir bila kami tak punya anak.” Tapi ia justru meradang: “Apa Wanti berkehendak tak ingin punya anak?” “Perkawinan macam apa yang tak ingin menghasilkan keturunan.” Tujuh tahun perkawinan tanpa anak memang terasa sepi. Kesibukan kerja yang kemudian menjadi anak-anak kami masing-masing. Sahabat-sahabat beserta anak-anaknya yang kadang mampir ke rumah sedikit meramaikan kekosongan hatiku. Entahlah Wanti. Ia tak pernah nampak cemburu pada mereka yang telah melahirkan anak-anak. Tak pernah merasa sepi. Wanti sendiri sangat sayang dan menaruh perhatian pada anak-anak kecil entah anak sahabat atau saudara. Wanti memang belum berkehendak ingin punya anak. Dan untuk punya anak, dia sendiri yang harus memutuskan. Entah sampai kapan? Itu pun menjadi salah satu perjanjian kami sebelum kami menikah. Pernah juga aku bersikeras untuk punya anak, Wanti hanya tersenyum sambil berkata ringan: “Mengapa tak melakukan adopsi saja? Banyak anak-anak dan bayi-bayi terlantar yang tak terurus?” Aku diam tak membalas. Lantas hampir satu bulan lamanya kami tak bicara. Makan juga sendiri-sendiri. Malahan ia sering pulang malam. Kadang kelewat malam hampir pagi baru pulang dengan mulut bau wine, bir dan sejenisnya. Lalu tergeletak di kamar tidurnya sendiri sampai siang. Kami memang punya empat kamar tidur. Itu pun salah satu perjanjian kami sebelum menikah. Masing-masing punya kamar tidur sendiri untuk menghadapi kondisi dan situasi yang tak diinginkan. Bagaimanapun perkawinan adalah dua pribadi yang tak mungkin disatukan. Jadi kami putuskan untuk tetap punya kamar privat. Kamar ketiga untuk memadu asmara dan keempat untuk sahabat-sahabat atau saudara-saudara yang datang menginap. Tapi aturan itu pun bisa dilanggar bila kami kehendaki. Jadi tak kaku-kaku amat. Dalam situasi perang dingin seperti ini, kami hanya menunggu siapa yang lebih dulu sadar atau berinisiatif untuk memperbaiki situasi. Kadang istriku lebih dulu bisa dengan alasan sepele: “Eh, HP-ku rusak bisa bantu memperbaiki?” Kadang aku lebih dulu dengan alasan sepele juga: “Mau kubikinkan teh sebelum pergi kerja?” Ia cukup mengangguk. Lalu aku menyeduh teh hijau kesukaannya. Kami minum teh bareng. Apa saja bisa terjadi setelah ini: termasuk bercinta hingga lupa kerja. Pernah kami bertengkar lama dan hampir bercerai. Alasannya aku dianggap patriarkhi dan tak memahami esensi janji perkawinan. Dia hendak pergi ke Aceh saat itu untuk program trauma healing akibat gempa dan tsunami. Malam terakhir sebelum dia pergi ke Aceh untuk enam bulan, aku sampaikan maksudku ingin punya anak dari rahimnya karena mamaku mendesak aku agar aku segera punya anak biar tak dianggap mandul. Aku bilang: Mamaku malu. Ia bangkit dari tidur dan marah besar. Malam terakhir yang seharusnya menjadi malam asmara itu justru menjadi malam pertengkaran dan awal dari pertengkaran yang panjang. “Rahimku adalah milikku. Aku mau punya anak kek mau tidak kek itu hakku. Tak ada orang lain yang berhak memaksa aku punya anak. Termasuk, Mamamu!” Ia mulai berteriak dan berkata keras. Karena ia masih berteriak-teriak tentang hak-hak politik perempuan, tentang Mamaku yang feodal dan sebagainya. Aku tinggalkan dia dan masuk ke kamar privatku. Rupanya ia masih marah dan menendang pintu kamar privatku:
Siangnya ketika sudah bersiap hendak berangkat ke Aceh dan mengangkat kopor. Mamaku datang berpapasan dengan istriku. Istriku hanya melewati saja tanpa menyapanya. Mamaku langsung memasuki kamar tidur privatku dan membangunkan aku. “Kemana lagi istrimu pergi?” “Sar! Sar! Mengapa kau biarkan istrimu selalu pergi?” ia mengeluh menyesali sikapku. Dan katanya:”Istri macam apa istrimu itu. Cantik sih cantik tapi tak bertanggung-jawab pada suami. Sudah ceraikan saja!” Enam bulan di Aceh, hanya dua kali dia melakukan kontak. Itu pun hanya via SMS. Pertama, mengirimkan kutipan yang diambil dari Bumi Manusia, novel terbaik Pramoedya Ananta Toer: “...begini mungkin kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya. Bumi Manusia h. 194.” Aku tahu dia menyindir mamaku yang telah melahirkan aku. Mungkin juga aku yang yang telah dilahirkan itu telah membuat mamaku tambah menderita. Jadi kubalas: ”No Comment.” SMS kedua bunyinya singkat: “Mau jemput aku di bandara jam empat sore?” dan kubalas: “Ok. Aku jemput!” Kupeluk dan kuciumi dia di bandara selayaknya kekasih yang lama tak bertemu.
“Aku masih ngantuk. Semalam tak tidur sih.” Ia berbisik manja di telingaku sebelum melewati pintu keberangkatan sambil kedua tangannya melingkari pinggangku. Ia pun pergi. Satu tahun, kali ini.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











