| Pejuang Liberty | ||||
|
|
A.Kohar Ibrahim: Pejuang Liberty
Sejak beberapa lama dia menggabungkan diri dalam pasukan relawan itu selalu dalam satu kesatuan. Sekali pun dalam keadaan yang macam-macam. Sekali pun kenyataan tidak selalu menyenangkan. Sejak pada mulanya, dia merasa jauh lebih dipersatukan, jauh lebih dekat dari suasana kekeluargaan pribadinya. Sekali pun kadangkala dia merasa juga kerinduan dan bisa memaafkan ejekan teman-teman semasa mudanya, dan bahkan ejekan nakal saudara lelakinya Steven. Yang belakangan ini, misalnya pernah mengejeknya sebagai John Ali-Lenon. Lantaran perubahan perjalanan pencarian keyakinannya. Dari Kristen ke Hinduis dan akhirnya sebagai Islamis. Benar saja, dia memang pernah menjadi penggemar musik Beatles. Tetapi kemudian menjadi pengagum petinju Mohamad Ali. Hingga yang paling akhir mengagumi Osama Ben Laden beserta pejuang-pejuang Liberty yang telah gagah berani mengalahkan dan mengusir pasukan imperium keburukan Uni Soviet. Perjuangan mana tidak sia-sia belaka, apalagi dengan ditegakkannya kekuasaan Taliban sejak tahun 1996 di hampir seluruh kawasan Afghanistan. Setelah kekuasaan lama dan pasukan pendudukan Uni Soviet dikalahkan, maka segera terjadi keberbedaan dan pertikaian hingga pada pertempuran antara pasukan-pasukan mujahidin. Pasukannya sendiri sering melakukan taktik gempur-mundur demi memperluas dan mempertahankan kekuasaan Taliban. Satu-satunya kekuasaan negara Islam yang sejati di dunia fana ini, sebagaimana dinyatakan sang pemimpin tertinggi Osama Ben Laden. Dan sebagai pejuang, pengalaman pertempurannya kian kaya. Sepertinya pasukannya itu benar-benar pasukan berani mati dan kuat seperti baja selain ia yakin mendapat lindungan dari Tuhan Mahakuasa. Sekali pun setelah sekian tahun dan apalagi setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001. Akan tetapi, setelah beberapa bulan mengalami gempuran dahsyat Amerika dari udara dan juga dari darat oleh pasukan Koalisi Utara, pasukannya tergempur hebat dan terisolasi di kawasan Kundus. Ribuan pasukan Taliban berantakan atau menyerah. Beratus-ratus relawan tertawan dan digiring ke dalam benteng kuna yang dijadikan penjara raksasa, dekat Mazar-I-Syarif. Dan tak lama kemudian terjadilah pembantaian besar-besaran menyusul pemberontakan. Dia termasuk salah seorang yang tersisa dari pembantaian dari udara dan daratan di penjara raksasa itu. Terluka tapi masih bisa bernafas sekali pun tertindih mayat-mayat para pejuang liberty lainnya. Hingga akhirnya diikat dan digiring ke tempat tawanan di kota Kabul itu. Di mana dirasakan terjadi pengulangan suasana yang aneh. Jika di bawah kekuasaan Taliban orang-orang asal Arab mendapat perhatian istimewa, kini oleh penguasa baru mereka menjadi paling terhina dan dibenci. Disusul oleh orang asal Pakistan, Cehcenia dan negeri asing lainnya. Sedangkan orang asal Afghanistan mendapat perhatian lebih baik dan bahkan banyak yang sudah boleh pulang ke kampung halaman setelah berjanji menyatakan kesetiaan pada penguasa yang baru. Padahal semuanya sama-sama sebagai pejuang atau relawan di bawah bendera serupa.
Dia bingung, tak tahu mesti berbuat apa kerna tak ada sesuatu yang mesti dipersiapkannya. Setelah sang penjaga melepas belenggu pada kedua belah kakinya, dia dikejutkan lagi oleh bentakan: « Bersiap ! » Meskipun dengan susah payah kerna kelemahan badannya Dul Jafar alias John Dulles berupaya untuk tegak berdiri seperti layaknya serdadu menerima komando. Maka sedetik kemudian dia menjadi ternganga ketika masuk seorang berbadan tinggi dan besar. Menampak rautmukanya John berteriak « Mister Dul Jalil … ! » Tapi teriakan itu hanya sampai di tenggorokannya saja. Lantas ditelan kembali. Menampak orang besar di hadapannya itu maka yakinlah dia bahwa sesungguhnyalah orang itu bukan saja bertubuh besar melainkan juga sebagai pembesar dari pasukan keamanan kawasan Afghanistan itu. Dan dia juga pasrah saja menerima hujaman pandang yang sangat tajam dari seorang yang juga pernah mendapat binaan CIA, seperti Osama. Begitu pun, sesaat kemudian dia berkata dengan nada tegas namun tanpa ancaman : «Mister John, bersiaplah. Kamu segera berangkat ke tempat yang lebih aman. Di tangsi US Marine. » Dul Jafar alias John Dulles ingin mengucap sepatah kata. Tapi tak sempat. Kerna sang Komandan Keamanan itu segera keluar dan meninggalkan tempat tahanan perang di situ. Ketika John Dulles dan beberapa pejuang internasional lainnya beranjak menaiki jip militer, sesaat sempat dia menampak sang Komandan Keamanan tak jauh dari tempat tahanan itu. Berpikir keras, menyegarkan ingatannya. « Ah, dia ‘kan Komandan Dul Hakim ? Dulunya juga pejuang liberty melawan pasukan Uni Soviet ? » Jip militer menderu, bertolak cepat seraya mengepulkan asap dan meninggalkan gumulan debu. ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|








