| Kaos Kaki Putih Suci | ||||
|
|
A.Kohar Ibrahim : Kaos Kaki Putih Suci Cerpen « afghan » (1) SERANGAN dalam Peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington berupa penghancuran gedung kembar pencakar langit dan gedung simbol kekuatan militer Amerika Serikat hingga menelan ribuan korban itu sungguh tak pernah terbayangkan dalam benaknya. Itu adalah merupakan kejadian kedua yang paling mengejutkan selama hidupnya. Sedangkan kejadian yang pertama adalah serangan berskala mini, namun kesan nistanya begitu dalam menghujam hati nurani. Sekalipun salah satu sebabnya lantaran luapan naluri keinginan-tahunya yang tak terkendalikan. Tanpa berpikir panjang dalam mengayunkan langkah kaki sendiri. Di luar acara yang telah disepakati bersama.
Serangan itu datangnya dari kaum lelaki. Tiga orang lelaki bersenjata pecut dan bedil. Begitu mendadak. Seperti pemburu menyergap sang mangsa. Yang lemah tak berdaya. Seorang wanita. Sendirian. Di negeri asing. Di bagian kota Kabul yang berdekor puing-puing di sana sini dan tembok-tembok bopeng diserang badai peluru. Persisnya, dia diserang di dekat sebuah warung makanan yang terletak antara Cai Kana dan toko-toko lainnya. Tidak banyak orang baik di jalanan maupun di Cai Kana, warung atau toko-toko. Ada terkesan suasana kelengangan di kota yang diliputi langit mendung bulan Agustus 1998 itu. Namun seketika dia dikejutkan oleh suara orang seperti saling mengumpat. Makin lama makin dekat. Hingga dia menutup telinga dengan kedua-belah tapak tangannya. Lalu hujatan itu diiringi pecut yang menyambar-nyambar menyentuh dan menyakitkan punggungnya. Bahunya. Kepalanya. Mukanya. Mulutnya berdarah. Dia memekik sempoyongan kena deraan pecut dan terjatuh ketika dihantam tendangan dari belakang. Lalu kakinya kini yang dijadikan sasaran pecut. Dia menjerit dan menjerit minta tolong. Akan tetapi beberapa lelaki yang kebetulan berada di depan warung makanan itu cuma bisa menonton. Beberapa wanita juga hanya bisa tegak mengkerut dalam selubung cadrianya masing-masing. Dia meringkuk, terus menutup muka dengan kedua-belah tapak-tangannya. Nyaris pingsan. Hingga dia mendengar teriakan santer bagai kilat berdenyar. Melengking nyaring menggetarkan hati dan pikiran. Suara-suara wanita yang melompat serempak dan memposisikan diri sebagai pagar antara tiga lelaki penyerang dan seorang wanita korbannya. Pertengkaran terjadi. Hingar bingar. Kerna segera saja banyak orang berkerumun. Dan sepertinya semua orang berebutan kesempatan bicara. Keras-keras. Hujat menghujat. Sang wanita korban tidak banyak memahami bahasa mereka. Sesekali ada terdengar nada dalam bahasa farsi. Lantas Inggris. Lantas Arab. Sekalipun campur-aduk dia berupaya menangkap maknanya sedapat bisa. "Itu penghinaan...! Itu penghinaan...!" teriak seorang dari tiga lelaki bersenjata pecut dan bedil itu. "Orang asing kwalat!" susul lelaki bersenjata pecut dan bedil yang kedua. "Berani-beraninya menghina bendera kita! Dasar kafir!" "Bohong!" tukas salah seorang dari lima wanita berselubung cadria, tubuhnya nampak paling tinggi kebanding yang lainnya. "Tidak benar itu! Kalian cuma bisa berprasangka. Menghinakan kaum wanita!" "Prasangka? Menghina?" Lelaki bersenjata yang ketiga menyalak galak. Sambil memperagakan bedil dengan cambuknya dia menuding: "Lihat itu! Kaki setan itu!" "Itu cuma prasangka kalian!" tukas wanita yang bertubuh tinggi. "Tapi dia tak berdosa apapun. Itu 'kan pakaiannya sendiri. Mana ngerti dia pada prasangka kalian? Ayo, sudah. Jangan ganggu lagi dia. Tak tahu malu menyerang kaum wanita...!" MEMANG wanita itu tidak bersalah. Ketika dia menunjukkan keherannnya, wanita yang bercadria dan bertubuh paling tinggi itu menjelaskan, bahwa dia merupakan korban dari perasaan dendam kebencian serta sakwasangka milisi Taliban terhadap kaum wanita. Yang antara lain mewajibkan kaum wanita keluar rumah dengan mengenakan burka atau cadria. Pakaian penutup seluruh tubuh dari kepala sampai kaki. Tanpa sedikitpun boleh menampakkan wajah atau kulitnya. Antara hidung dan alisnya. Dan dia, sang wanita korban itu, hanya mengenakan pakaian wanita biasa seperti sebelum ada peraturan dari penguasa Taliban yang kini mendominasi dua-per-tiga wailayah Afganistan. Selain itu, meskipun dia mengenakan pakaian yang sopan dan bersepatu, tapi nampak jelas bahwa warna kaos kakinya adalah putih. Itulah yang membikin ketiga serdadu Taliban itu naik pitam dan melakukan serangan terhadapnya. Kerna merasa simbolnya dihina. Menghina warna bendera putih suci mereka. Menginjak-injaknya. "Ngerti kamu?" tanya wanita yang tinggi berselubung cadria itu menandaskan. "Be careful, OK?" Dan wanita korban itu hanya bisa tercenung seketika. Melohok. Masih tercengkam ketakutan dan keheranannya yang luarbiasa. "Tapi saya orang Eropa. Nama saya Rosemari..." ujarnya. Komat-kamit ingin menambahkan bahwa dia puteri campuran Belgo-Italia. "Rambutmu tidak pirang," bilang wanita tinggi itu lagi. Tangkas dan tegas namun bernada ramah. "Wajahmu malah mirip wanita sini, Rosa. Tanpa mengenakan cadria pula. Dan yang paling celaka kamu dianggap menginjak-injak warna putih yang suci itu. Lihatlah warna kaos kakimu..." Lantas suaranya merendah, dan anehnya seperti dalam tawa kecil. "Ah, sudahlah. Kaum lelaki macam itu, mana mau tau siapa kamu." Rosemari mencoba menenangkan perasaan resah dan mencerahkan pikirannya. Keresahan hatinya kini berbaur dengan rasa haru. Lebih-lebih ketika wanita yang tinggi bercadria itu menasehatinya agar berhati-hati dalam membawa diri. Dengan nada kental akan penyesalan dan ketulusan menambahkan: "Sebaiknya kamu segera kembali pulang. Pulang ke tempat penginapanmu. Atau malah ke negeri asalmu. Sekarang ini, di sini, sebagai wanita itu sulit. Lain kali, kalau keadaan sudah berubah menjadi lebih baik, baru kamu kembali ke sini. Kami tau kamu beritikad baik." Kelima wanita itu segera beranjak, ketika Rosemari menyatakan rasa terimakasih seraya hendak memeluknya. Tapi dihindari oleh wanita yang tinggi itu. Berkata: "Tak usah. Pada saatnya nanti kita beramah-tamah dalam kedamaian." "Tapi nama Anda?" tanya Rosemari dengan nada sendu. Seperti berbisik, namun jelas, wanita tinggi bercadria itu menjawab dengan nada bangga: "Rawa. Sahabatmu: Rawa." Sesaat kemudian terdengar suara mobil sedan yang meluncur perlahan berhenti di tepi jalan dekat warung makanan itu. Seseorang telah memberitahukan kejadian itu kepada mereka. Grup lembaga swadaya masyarakat yang baru datang dari Eropa. Grupnya Rosemari yang mengenakan kaos kaki putih suci. ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








