Ori Sang Gadis
Oleh Lisya Anggraini    Sabtu, 06 September 2008 02:44    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Ori Sang Gadis
Novel: Lisya Anggraini

Satu

DI DEPAN  adalah gaib. Tidak ada yang mampu menembus kepastian yang bakal terjadi. Sekali pun para cenayang mengabarkan tentang berbagai hal, hasil persekutuan dengan jin dan setan mencuri informasi kehidupan. Yang terbanyak hanyalah kekeliruan. Sebaik-baiknya setan tetap lebih tengik dari manusia sebejat apapun. Karena itu, kabar yang diberikannya bukanlah kebenaran, hanya bayangan, hanya ilusi.
Ketika sudah di hadapan, realitas kadang sangat  mengejutkan. Tidak pernah terbayangkan. Tapi, sekalipun menyuguhkan kegamangan,  realitas tidak akan peduli,  berwujud perih dan tangis sekalipun! Realitas hanya meminta, jalanilah! Dengan cara apa pun. Sejauh mana kah bekal di jiwa mampu tersenyum, wujud dari keihlasan  yang ternyata hanya mudah untuk diucapkan?


Ori  baru menjalani hari-hari pertama mengenakan seragam sekolah menengah pertama dan menanggalkan seragam sekolah dasar. Sekaligus menanggalkan semua yang pernah menjadi realitas miliknya. Sebentar lagi, akan menjadi masa lalu. Menjadi sejarah. Sejarah yang tidak boleh dilihat sering-sering karena realitas adalah kekinian untuk dilakoni guna menuju ke depan. Dan  membutuhkan penantian kesiapan diri menjalaninya. Sejarah hanya menjadi spion yang diperlukan ketika akan bergerak menyalip atau bergeser arah ke kiri dan ke kanan. Hanya sesekali untuk dilihat. Tidak terus menerus apalagi terpaku, karena hadangan di depan menunggu konsentrasi penuh. 
Ya, di sini di kamar besar berdinding krem, berlampu temaran dan berpenyejuk ruangan ini akan menjadi sejarah dalam catatan kehidupannya. Ia akan berusaha mencatatnya dalam kenangan secara rapi dan detil, serapi apa yang tersaji di sini dan dilaluinya.  Kamar yang telah dikuasainya selama lima tahun. Tepatnya sejak berubahnya warna Peneng Ayah yang berisikan nomor induk pegawai. Warna Peneng  adalah ukuran rumah,  ukuran fasilitas di dalamnya dan ukuran status di lingkungan social serta yang terpenting ukuran nilai nominal dari lembaran-lembaran rupiah yang didapatkan Ayah setiap bulannya.
Sejarah teriak pertama melengking mengumumkan kehadirannya,  Peneng Ayah  berwarna berbeda. Ia pun bermula menoreh sejarah masa bayi hingga menjelang sekolah dasar  di rumah komplek Sebanga. Rumah itu lebih kecil dan sederhana tapi layak. Karena tidak ada rumah yang tidak layak bagi setiap pemilik Peneng di komplek perumahan ini. Berkamar  dua dan ruang tamu serta dapur. Seiring berganti warna Peneng, kehidupannya  berubah ke komplek lain bernama gunung Dempo dan kini bernama Krakatau. Dan di komplek bernama gunung di selat sunda ini rupanya sejarahnya berakhir. Mana pernah ia mengira?!
Hei, Ori, segera berbenah menuju ke hadapan yang  tidak sabar menunggu akan menjadi realitasmu. Tak ada kesempatan menunda waktu. Segera mengemasi semua perasaan cengeng, lalu barang-barang yang memang milikmu. Segera!
Iya..iya...’ Ori meyakinkan diri. Sekaligus menelan realitas tentang apa yang dimilikinya. Tepatnya milik orangtua yang diberikan untuknya. Hanya pakaian, buku-buku, alat-alat sekolah serta beberapa boneka-boneka lucu yang sengaja disimpan di kotak di sudut lemari karena tak lagi disentuh. Hanya itu!
Dan selebihnya, kenyamanan di kamar ini hanya pinjam pakai selagi Peneng dipunyai ayahnya. Secepat waktu yang mendesak berlalu, semua yang ada di sini akan menjadi asing baginya. Keasingan yang baru saja tersadar, begitu Peneng Ayah tak lagi miliknya. Meskipun setiap apapun yang ada di sini, sangat detil diketahui dan dirasakannya. Tempat tidur yang cukup besar untuk ukuran dirinya, sendiri. Pendingin udara yang dikontrol secara central oleh pengelola komplek perumahan. Lemari setinggi kamar, meja belajar Bahkan lampu belajar dan lampu tidur, kain gorden,  semuanya berlabel “Milik Caltex Pacivic Indonesia (CPI)”.  Segalanya itu, sudah tidak sabar untuk ditinggalkan dan tidak lagi disentuh apalagi untuk merasakan kembali kenyamanannya. Beginilah realitas menitahkan kekuasaannya.
Ibu melongok di pintu kamar. Kegelisahan di wajahnya jelas terpancar. Ia terlihat letih.”Ri, masukkan ke koper ini semuanya. Jangan sampai terbawa barang yang bukan milik kita,” katanya.
“Koper ini milik CPI juga, kan?”
“Tidak. Ini pemberian sewaktu masa cuti ayahmu.” Jelas ibu segera berlalu dan beranjak ke luar kamar.
Di ruang tengah, berderet kotak-kotak besar berisikan perlengkapan rumah milik yang tentu saja tidak berlabel milik CPI . Bang Edi, kakak lelaki Ori masih di kamarnya, juga tengah menyelesaikan pengemasan barang-barang. Tentu juga sudah diingat kan ibu, jangan sampai membawa barang-barang berlabel milik CPI. Dan Melati, yang masih kelas tiga SD bersama Ibu di dapur basah. Sebuah dapur dari dapur lainnya, yakni dapur kering.
Melati membantu menyusun sendok dan garpu. Ibu memastikan piring-piring dan gelas-gelas berkualitas baik yang dibelinya  melalui arisan ibu-ibu sekomplek sudah tersimpan baik di kardus. Jangan sampai ada yang pecah, yang akan terus bersamanya dibawa keluar dari dapur ini, karena tidak berlabel “MILIK CPI”
Kecuali semua perlengkapan dapur yang menfasilitasi semua kebutuhan memasak yang digemarinya akan ditinggalkan. Tak lagi dirinya yang menjadi majikan atas semua alat-alat itu ketika difungsikan. Kompor listrik memiliki ruang pemanggang cukup lebar itu selalu beroma masakan lezat karyanya. Terutama sekali kue-kue panggang dan bolo gulung berselai nenas. Lemari es se ukuran lemari pakaian orang dewasa, selalu tersusun rapih dari setiap apapun di dalamnya. Yang akan membuat ibu menjadi rewel jika pembantu menaruh sesuatu tidak sesuai tempat yang sudah di tetapkan Ibu.
Ibu berbalik ke ruang keluarga, tempat berkumpul  dan menyaksikan siaran dari televise berukuran 36 inci dengan beragam siaran yang tidak akan ada di televise nasional. Seperti siaran memutar film-film tanpa jeda iklan sedikitpun.  Karena layanan televise kabel yang dikelola perusahaan hanya untuk penghuni seantero komplek saja. Ruang ini adalah ruang yang menfasilitasi kenyamanan juga sebagai saksi bagaimana Ori bersama adik, abang dan ayah ibunya menjalani kesantaian-damaian. Meskipun kadang ayah suka mengomel udara  yang terlalu dingin yang tak bisa dinaikkan menjadi lebih hangat karena ukuran celciusnya ditentukan oleh pengontrol AC perumahan.
“Sudah dipastikan tak yang ketinggalan atau yang terbawa yang bukan milik kita?” tanyanya pada Ori yang sedari tadi duduk bersandar di sebuah kardus lumayan besar berisikan pakaian.
Ori mengangguk. Ibu berlalu ke kamar lagi. Menjadikan Ori kembali leluasa melanjutkan perenungannya, tentang realitas yang tak sabar berganti menjadi kenangan baginya. Si belangtiga kucing betina yang masih gadis remaja mendekati Ori. Tanpa ragu naik kepangkuan dan tidur meringkuk. Dengkurannya terdengar halus setiap Ori membelai bulu-bulu di lehernya.Kemanjaan yang tak pernah berubah sekalipun seisi rumah tengah ruwet tak sempat lagi untuk bermanja-manja.
CPI memang menyediakan semua keperluan yang dibutuhkannya selama ini. Dan CPI juga merenggutnya kembali dari mereka. Ketika mereka telah dilenakan begitu manja oleh semua fasilitasnya. Tdak peduli mereka tergagap, terhenyak kenyataan bahwa mereka bukan pemilik sesungguhnya atas semua kenyamanan yang dinikmati.
Yang kami punya hanya koper-koper berisi pakaian dan barang remeh temeh. Karenanya, hanya itu yang bisa kami, dan benda-benda selebihnya harus tinggal.
Juga halaman tempat ia bermain sepak kaleng sondok bersama teman-teman tetangga. Permainan menguras keringat, membuat Ibunya segera menyuruh mandi karena tubuhnya berbau kambing. Apapun tudingan Ibu permainan itu sangat mengasyikkan Ori. Yang lebih asyik adalah permainan Yeye. Menggunakan karet gelang yang dibuat menyambung satu sama lain hingga menjadi jalinan karet panjang. Dua orang teman sebagai pihak yang kalah akan memegang ujung-ujung jalinan karet yang akan dilompati oleh siapapun yang menang. Dengan tahapan pertama dimulai dari seukuran pinggang. Ukuran sebegini sangat mudah dilompati. Meningkat lagi meninggikan di bahu. Jika bias terlewati, maka naik lagi ke telinga. Untuk melompatinya, mulai agak sulit. Lalu rintangan dengan lintasan karet setinggi kepala. Nah, inilah puncak dari perjuangan untuk melompatinya. Ancang-amcang harus sejauh-sejauhnya, juga berlari sekuat-kuatnya agar tubuh bias terdorong melompat tinggi dan kaki bias menjangkau karet tersebut tanpa tersangkut ketika melewatinya. Perjuangan ini jarang mudah untuk dilalui. Layaknya ancang-ancang atlet lompat jauh. Ori sering terpeleset karena salah srategi ketika melompat.
Namun, mereka tidak tidak lecet  jika terjatuh. Halaman rumah Ori ditanami rumput padat dan subur dirawat Pak Badu, tukang kebunnya. Rumput itu bisa malah menjadi tempat ia dan teman-temannya tidur-tiduran usai permainan dan melepas kelelahan.
“Mau diambilkan mangga?” tanya Pak Badu begitu melihat Ori di depan pintu halaman belakang. Di halaman itu ada pohon mangga yang ditanam ayah bersama pak badu beberapa tahun lalu tengah berbuah.
Ori menggeleng.
Lelaki yang baik. Dulu suka membawakan Pisang Tanduk dari kebun miliknya untuk keluarga Ori.  Lelaki yang selalu senyum sumringah bahagia ketika pemberiannya diterima. Karena merasa berarti bisa memberi dari apa yang menjadi miliknya. Senyum yang serupa ketika diberi upah berikut minyak goreng, apalagi berikut obat nyamuk semprot. Ia akan senang sekali. Senang tidak hanya mrndapatkan upah yang akan tetap mengebulkan dapurnya, terumata sekali mendapatkan ibat semprotan nyamuk. Nyamuk di rumahnya dan lingkungan sudah menjadi keseharian yang harus dilawan dengan susah payah. Membakar sabut kelapa kering ketika senja tiba, agar mengeluarkan asap dan nyamuk beranjak pergi. Namun kembali merubungi ketika asap sudah sirna. Cara lain, adalah menyapu kerumunan nyamuk yang bertebangan dengan wadah ceper yang diolesi minyak goring. Setiap nyamuk yang tersentuh akan menempel di wadah ceper itu kemudian mati. Namun, tentu saja nyamuk tetap akan berkerumun lagi dari  sarangnya di sekitar rumah Pak Badu.
Rumahnya penuh semak ilalang, belum lagi drum-drum yang menyimpan air untuk keperluan sehari-hari. Air yang sangat diperlukan dari tadahan tumpahan hujan itu menjadi sarang jentik-jentik nyamuk. Seorang anaknya berpulang ke ramhatullah akibat kekejaman dari salah satu jentik yang menjadi nyamuk.  Obat semprotan nyamuk adalah penyelamat dari trauma sekaligus kemewahan bagi Pak Badu juga orang-orang di lingkungan tinggalnya. Ia tidak akan mudah menemukan, kecuali di kedai yang menjadi tadahan penjualan ransum oleh orang CPI, itupun harganya sangat tinggi.
 Sedangkan bagi ibu, selain obat semprot nyamuk, deterjen, beras, gula, kopi, susu, mentega, tepung terigu, hingga garam, adalah jatah yang didapatkan tiap bulan. Semua itu ransum yang diambilnya dengan hanya menunjukkan Peneng ayah ke comessary.
“Itu mobil sudah dating!” tunjuk Pak Badu.
Mobil angkutan barang yang disediakan CPI sudah siap mengangkut apa yang menjadi milik keluarga Ori.  Ternyata cukup besar untuk kotak-kotak kardus dan koper-koper yang akan dibawa. Sangat banyak ruang yang kosong. Sekosong kenyataan yang baru disadari Ori sekarang. Betapa semuanya yang ia cicipi dari sejak ia menghirup udara pertama kali hanya pinjaman dari pemilik sesungguhnya, CPI.
Di samping petugas CPI yang mengawasi kalau-kalau barang milik CPI terbawa,  wajah Ayah keruh. Namun jauh lebih keruh dan sangat gelisah, dua minggu lalu. Suatu sore yang paling muram. Dengan topi kerja yang masih melekat di kepalanya, ia masuk ke rumah tanpa sedikit pun melihat wajah-wajah anak-anaknya. Beberapa jam kemudian, usai magrib dan makan malam, ia menyampaikan kenyataan baru untuk kehidupan keluarganya.
”Ayah dipecat..”. hanya dua patah kata. Lalu segera beranjak dari hadapan anak-anaknya menghilang kembali ke kamar.
Dua kata yang menyumpal mulut Ori dan dua saudaranya dan melongo. Kecuali mata ibu sangat gelisah hingga berkaca. Seribu pertanyan menghulu di benak juga sejuta pertanyaan menyesak di kepala, di hati dan tertahan di mulut, tak terucap. Hanya hati yang berteriak nyaring; Kenapa ayah dipecat?
Sekarang Ayah memang tak semuram kala itu. Selintas ia memalingkan muka ke rumah yang hitungan detik ini segera ditinggalkan menjadi sejarah. Akan berlalu. Sekalipun samar terdengar dalam suaranya bergetar ketika menyuruh anak-anaknya menaiki kendaraan yang hari ini juga akan menjadi sejarah terakhir ayah menggunakannya. Tapi ayah tetaplah ayah, yang selalu akan menjadi teladan keluarga dalam ketegaran.
Ori tidak sanggup memalingkan wajah ke belakang, tidak hanya melihat rumah yang detik ini telah menjadi sejarah lalu, juga wajah-wajah sahabatnya. Siska yang baik dan suka menggambar. Reni pintar bermain pianika dan si aleman Hani yang banyak sekali pantangan terumata sinar matahari. Mata mereka masih berkaca-kaca. Sebelumnya, mereka telah menangis bersama. Berjanji persahabatan akan selalu terjaga dengan saling mengunjungi dan akan bermain bersama. Tapi Ori harus sadari, mereka itu menjadi bagian milik CPI. Bukan lagi miliknya. Kecuali kenangan yang tidak diberi label Milik CPI. Mereka bebas membawanya dari komplek yang dikurung kawat berduri dua kali tinggi orang dewasa ini. Tapi
“CPI tidak bisa melarang mengenang kenangan di dalamnya Itu punyaku sepenuhnya….”

      ****

Comments
Add New Search
jeeny  - mac dvd to 3gp     |183.17.98.xxx |2011-04-21 05:04:11
Leawo DVD to FLV for Mac is the best converter to convert DVD video to FLV format for online video
sharing. No matter you are going to upload your DVD videos to your
blog, or to social website like YouTube, MySpace, Google video, Yahoo
Video, etc.Leawo Mac DVD to iPhone Converter helps you realize this by ripping and converting DVD to iPhone
compatible video and audio formats. Leawo DVD to iPhone for Mac Converter is a powerful DVD to iPhone converting tool for Mac users who
want to watch DVD on  iPhone, iPhone 3GS and iPhone 4.Besides
converting DVD to iPhone, it also supports output devices like iPod,
Apple TV, iPad, etc. Fast conversion and high output quality make it the
most popular DVD to iPhone ocnverter. Leawo Mac DVD to 3GP Converter is a perfect and cool software to help Mac users watch DVD on
mobile phones without any limitation.Leawo DVD to 3GP for Mac is ...
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.