| Lelaki Beranak Satu | ||||
|
|
Lelaki Beranak Satu AJ Susmana.1 Lelaki beranak satu itu memandang ke langit. Awan mendung. Gelap pekat dengan angin bergemuruh tak membuatnya gentar walau ia tahu hujan lebat disertai petir akan segera datang. Waktu itu sore, sebentar lagi mahgrib. Seharusnya ia sudah bersiap pulang tapi ia tak mengindahkan teriakan Urip, kawan bertaninya yang sudah siap pulang: ”Ayo, tinggalkan saja. Rusak dan gagal panen serahkan saja pada nasib! Jangan gila!” Ia terus saja bekerja: mempercepat membuat parit dan ia yakin hanyalah parit ini yang sanggup mengarahkan gerak arus deras air hujan ke sungai sehingga tak meluap ke areal sawah yang dapat merusak tanaman padi yang tak sampai satu bulan lagi dipanen. Kalau tak panen bulan ini, lebih baik bertarung dengan petir sore ini. Begitulah pikir lelaki beranak satu itu. Ketika hujan begitu deras turun ke bumi dan sawahnya, ia pun berseru: “Hai, aku ini cucu ki Ageng Sela!” sambil terus bekerja mempercepat membuat parit. Tinggal beberapa meter saja. Ia tak akan berhenti. Yang teringat adalah cerita bapaknya. “Ki Ageng Sela adalah priya agung (2) di bawah kekuasaan Demak yang mulai angkuh. Ia sahabat Ki Ageng Pengging, penerus darah Majapahit. Seorang Ki Ageng tapi juga petani yang ulung dan berani. Di tengah hujan badai dan petir menyambar yang membuat takut para petani, ia sumpahi petir itu. “Bajingan kau, kalau berani lawanlah aku!” Ketika petir hendak menyambar tubuhnya, tanpa takut ia hadapi petir itu dan ditangkapnya dengan tangan petaninya yang kokoh. Petir itu, hanyalah jelmaan jin muda yang jahat. Dengan tangannya yang kokoh, ia ikat kedua tangan petir itu. Walau tangis ampunnya menghiba, Ki Ageng Sela tak peduli. Dingin sorot matanya membawa petir taklukan di jalan-jalan dan mempertontonkannya kepada kumpulan petani di depan Masjid Agung Demak. Betapa tersiksanya petir itu: dihina dan diludahi oleh kawula (3) tani, orang-orang miskin dan para pendukung Kerajaan Baru Demak. Ia menangis dengan segala kekuatan yang tersisa. Menangis pada neneknya. Tangisnyapun didengar. “Minggir! Minggir! Aku membawa air panas!” Kerumunan yang memadati halaman Masjid Demak pun terkuak memberi jalan pada nenek tua dengan rambut panjang beruban. Nenek tua itu terus berjalan tertatih-tatih dan terbungkuk-bungkuk membawa air dalam tempurung kelapa. Ketika dekat dengan makhluk petir yang lemah terikat, nenek tua itu pun melemparkan air dalam tempurung itu ke mukanya. ”Cucuku, Petir, bangkitlah!”. Kerumunan petani yang masih terheran-heran itu semakin dilanda rasa takut ketika makhluk petir yang dipanggil cucu itu memperlihatkan sorot mata kemarahan dan bangkit mematahkan belenggu tangannya.. Kerumunan yang berdekatan dengan makhluk petir pun beringsut perlahan: menyingkir dan kecut hatinya sehingga menghentikan teriakan-teriakan yang masih mengejek. Ki Ageng Sela pun berlari dari keheningannya di Masjid dan ia mendengar: “Ki Ageng Sela, kamu memang sakti tapi hati-hati dengan cucu-cucumu!” Petir tawanan itu mengancam sambil mengeluarkan teriakan amuk amarahnya dan hujan badai deras mengucur di halaman Masjid Demak. Ki Ageng Sela sekali lagi tak gentar. “Apa yang kamu maksud dengan hati-hati, cucu petir?!” tantangnya. “Berilah tanda pada cucu-cucumu agar aku tak salah membunuh, Ki Ageng Sela!” teriak cucu petir itu terus menjauh dan hujan badai yang datang tiba-tiba itu pun tiba-tiba berhenti. Lelaki beranak satu itu tak hendak berhenti. Kalau Ki Ageng Sela bisa, aku juga bisa! Tak berapa lama. Ia pun melakukan cangkulan (4) terakhir yang membuatnya terhempas bahagia di sungai yang menandai pembuatan parit itu berakhir. Ia memandang hujan badai dan indahnya petir menyapa para petani di antara kegelapan mendatang. Ia membasuh wajahnya dengan air yang deras menerpa wajahnya. Seperti Ki Ageng Sela sendiri, ia telah menaklukan petir yang menjadi sumber ketakutan petani. Ia pun bangga tak seperti pemuda sebayanya dan beberapa petani lain yang percaya bahwa tanda cucu Ki Ageng Sela adalah daun Jarak. “Semua itu takhayul dan terbukti”. Lelaki beranak satu itu telah bekerja di bawah ancaman petir tanpa selembar daun Jarak pun di caping (5) petaninya. Ia pun bernyanyi gembira lagu Hujan Badai. Petani-petani lain pun dan orang-orang sedesanya melihat bagaimana ia berjalan santai kadang meloncat dan berlari-lari kecil memanggul cangkul dan terus bernyanyi lagu Hujan Badai. *** Malam dalam tidur yang tampak damai dengan obat nyamuk dari ontel (6), lelaki beranak satu itu pun terhanyut dalam mimpi. Mimpi yang selalu hadir di saat seharusnya ia berdamai dengan hidupnya. Ia berlari ke utara. Ke utara. Semarang. Semarang kota pelabuhan tempat paman-pamannya telah menjadi Pedagang mapan. Semarang, kota tua, tempat dahulu ketika jaman bergerak dan Serikat Islam di bawah Semaun yang muda menggerakkan kaum buruh dan orang-orang miskin melawan penindasan dan penghisapan. Dari Semarang ia bisa pergi ke mana suka. Singapura? Tapi malang, ia tertangkap sebelum sampai di Solo. Digiring ke Penjara Klaten. Tapi tiga bulan kemudian ia bebas tanpa tahu sebabnya. Lalu, Tinah membayang dalam wajah prihatin menyusuri malam dan siang di jalan-jalan dusun menggendong anak perempuan satu-satunya, Agni. Ia pun terbangun. Lalu menghabiskan sisa malam dengan berjalan-jalan. Begitu gelisah. Apakah yang akan terjadi di hari-hari mendatang? Ia tak paham. “Ngelmu iku, Kalakone kanthi laku” (8). Itulah baris pertama salah satu tembang Pocung (9) yang dia ingat. Itu pulalah yang menjadi falsafah hidupnya kini. Begitulah ia menjalani hidup ini dan untuk ini ia tak sendiri. Beberapa dari kawan-kawannya yang dijuluki Markatul (10) sebagaimana juga dirinya, membantu mengerjakan sawah mertuanya. Di pinggir desa, ia menatap langit dengan bintang-bintang yang berterbangan seperti jutaan kunang-kunang menerangi jutaan butir padi yang menyala kuning keemasan di bawahnya. Bukankah tak kurang dari Ki Gede Pandan Arang sendiri menyamar dan membantu berjualan beras di Wedi sebelum mendirikan padepokannya di Bukit Bayat? Ah, Ki Ageng Gede Pandan Arang, masih sempat bermain sulap untuk mengumpulkan pengikut. (11) Ia pun bersyukur pada Sing Nggawe Urip (12) yang telah menyelamatkannya dari kematian karena petir. Sambil berjalan tenang kembali ke rumah, ia pun teringat. Banyak dari orang Jawa bila sedang gelisah tak tentram hatinya melakukan jalan telanjang di malam hari atau hanya sekadar mengelilingi beberapa kali rumahnya sendiri. Tapa Wuda (13) begitulah orang-orang desa menyebut. Tapi di masa yang lalu orang-orang desa juga ingat bagaimana di tahun 1839, sepasang suami-isteri, Bagus Jedik dan Raden Lara beserta sejumlah pengikutnya berkeliaran sambil bertelanjang bulat di daerah Solo. Aksi-aksi mereka dianggap mengganggu ketentraman masyarakat alias rust en orde (14) kolonialisme Belanda. Bagus Jedik, pimpinan aksi telanjang dan isterinya itu ditangkap dan dibawa ke Batavia. Sepasang suami-isteri itu pun dirawat dan dinyatakan sebagai orang gila. Sekitar delapan belas di antara pengikut-pengikutnya dibuang ke Banda (15). Begitulah akhirnya juga Bapaknya yang menganggap Tapa Wuda sebagai jalan menyucikan diri dan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dan merupakan tindakan yang bisa dilakukan beramai-ramai atau sendiri saja. Tapi jangan lupa: tak kurang dari Ratu Kalinyamat sendiri melakukan ini demi membalas dendam kepada Arya Penangsang yang telah membunuh suaminya. “Aku orang Solo, cucu Ki Ageng Sela…” Lelaki beranak satu itu pun tersenyum geli dan tertidur. Jakarta, 25 November 2006 Catatan: 2. priya agung: lelaki besar karena kemuliaan hatinya. 3. kawula: rakyat jelata 4. cangkulan: kata kerja mencangkul. Cangkulan sebagai kata benda yang berarti bentuk kerja mencangkul 5. caping: semacam topi yang sering dipakai petani di Jawa. 6.ontel: bunga atau tunas dari pohon nangka yang tak menjadi buah nangka. 7. ilmu itu sejatinya hanya terbukti dalam praktek 8.. Pocung: salah satu jenis lagu dalam genre Macapat, aturan lagu Jawa. Karena itu kita mengenal Macapatan. 9.Markatul: marhaen atau marxist Katulik 10.lihat: Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu Bagian II: Jaringan Asia, Denys Lombard, Gramedia Pustaka, Jakarta, Cetakan III,Maret, 2005;123) 11. sing nggawe urip: yang membikin hidup. Sang Pencipta 12. Tapa Wuda (bertapa telanjang) 13. Rust en Orde: ketentraman dan ketertiban di jaman kolonialisme Belanda 14. Lihat: Vincent J.H. Houben, Keraton dan Kompeni, Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870, Bentang, Yogyakarta, 2002;437)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








