Eyang Putri Aminah
Oleh AJ Susmana    Senin, 28 Juli 2008 23:30    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Eyang Putri Aminah
 
AJ Susmana*
 

Bendera merah putih itu dengan tiang bendera dari bambu apus mulai berkibar di halaman depan rumah Eyang Putri Aminah. Pagi  tadi Sutar, anaknya yang tertua, dan kini beranak lima; pun sudah memberikan cucu-cucu yang manis, menancapkannya. Tiang bendera dari bambu apus yang masih berwarna hijau itu dipotong Sutar dari kumpulan  bambu apus yang tumbuh alami di halaman belakang rumah Eyang Putri Aminah. Sambil sedikit menggoyangkan kursi malas tuanya, bikinan suaminya sendiri sebagai hadiah untuknya karena Si Kecil, Sari, anak perempuan yang ditunggu-tunggu berhasil dilahirkan dengan selamat,   Eyang Putri Aminah menatap nanar pada kibaran bendera yang tampak riang menari karena hembusan angin jalanan.
 
Tiba-tiba ia merasa Si Kecil berlari-lari, meloncat-loncat dan berputar-putar di bawah bendera merah putih yang berkibar menggelora  di halaman depan rumah yang masih banyak ditumbuhi rumput Jepang itu.  Eyang Putri pun melihat Si Kecil, Sari, dengan bendera merah putih kecil bertiang lidi di tangan kirinya yang mungil. Umurnya baru tiga tahun. Ia ingat itu menjelang hari kemerdekaan tahun 1948, sebelum PKI Amir-Musso dikalahkan di Madiun.
 
“Ibu! Ibu! Bikinkan Sari satu bendera lagi!” teriaknya nyaring sambil berlari dari halaman rumah.
“Ah..sudah Sar, Ibu sedang sibuk. Coba kamu bikin sendiri dari kertas. Tuh, masih banyak sisa kertas merah dan putih di meja.”
“Ah..Ibu?”
 
Si Kecil yang sebenarnya bernama Sari itu berjalan malas ke meja panjang berdudukan rendah di teras rumah. Meja panjang  dari bahan kayu Jati dengan lebar 1, 5 meter dan panjang hampir 4 meter itu pun bikinan suaminya sendiri untuk tempat belajar ke tujuh anak-anaknya. Walau semula Sari, Si Kecil tampak malas, akhirnya ia melihat Si Kecil mulai sibuk membuat benderanya sendiri. Ia pun tenggelam dalam sulaman telapak meja makan yang di pesan Ibu Pendeta, tetangga barunya.
 
Tak berapa lama, Si Kecil mulai berlari riang ke halaman rumah dengan mengibarkan dua bendera merah putih kecil bertiang lidi di kedua tangannya.  Di kanan, bendera dari kertas buatannya sendiri dan di kiri dari kain, buatan ibunya.
 
“Ibu! Lihat!” Si Kecil berlari mendekat.
“Ya?”
“Baguskan? Ini juga dapat berkibar ketika kubawa berlari.” Si Kecil mengibarkan bendera kertasnya.
“Ya. Kamu memang pintar, Sar. Anak ibu yang paling cantik dan pintar”. Si Kecil pun kembali bermain: berlari, berputar dan terus mengibar-ngibarkan dua bendera kecilnya yang bertiang  lidi seakan tak kenal lelah.
 
Sambil menggoyangkan kursi malas tuanya, yang juga seusia Si Kecil Sari, yang kini berumur 62 tahun, bikinan suaminya  sendiri, ia terus menatap nanar bendera merah putih bertiang bambu apus yang melambai-lambai kencang di halaman rumahnya yang masih ditumbuhi rumput Jepang. Ia menolak ketika Sudir, anaknya yang kedua meminta halaman depan rumah berumput Jepang itu untuknya saja sebab di sana hendak didirikannya bengkel mobil. Halaman depan rumah itu memang strategis untuk bisnis dan memang cukup luas. Letaknya tepat di jalan raya menuju pasar kecamatan. Kira-kira 500 meter menuju ke pasar. Halaman-halaman rumah tetangganya sendiri, kiri dan kanan serta depan sepanjang jalan raya menuju pasar sudah dibangun ruko-ruko atau sekadar warung makan sederhana. Jadi, sebenarnya wajar bila anak keduanya itu yang lulusan Sekolah Teknik hendak membangun bengkel mobil di situ. Tapi, ia tetap bersikukuh tak hendak mengijinkan bangunan apapun berdiri di halaman itu.
 
“Si Kecil pasti kembali. Halaman itu punya Si Kecil. Kalian semua sudah dapat jatahnya masing-masing. Apakah aku tidak adil?”
“Bukan begitu, Ibu. Ibu sudah sangat adil.”
“Ya sudah! Jangan berani ganggu kepunyaan Si Kecil!” teriaknya marah
“Ibu kurang mengerti. Dengar penjelasan kami sebentar,” Sutar anak yang tertua memberanikan bicara,” sudah 20 tahun tak ada kabar Si Kecil. Satu berita pun tak ada. Entah lewat radio, koran, televisi ataupun mulut tetangga. Sementara hidup melaju terus dengan cara-cara modern. Bisnis. Sudir bisa bikin bengkel di situ. Sunar pun bisa bikin penyelepen beras atau tepung di situ. Warung makan dan minum bisa didirikan pula oleh Sudar. Intinya halaman yang cukup luas itu bisa bermanfaat untuk kemajuan ekonomi keluarga. Tak hanya mengandalkan dari padi melulu. Kami harus berubah. Si Kecil, Sari kalau ada di sini pasti juga bersepakat kalau halaman rumah yang kosong hanya bunga dan rumput Jepang itu dimanfaatkan untuk bisnis yang lebih kongkrit. Bapak pasti juga setuju seandainya masih hidup.”
“Sudah?” Ia menantang pada keempat anak lelakinya yang hendak membangun bangunan bisnis di halaman rumah yang asri itu. Matanya menatap mata keempat anak lelakinya. Tak ada yang menunduk. Tapi tak ada lagi mulut yang bicara. Angin malam menderu dingin menarikan harum bunga cempaka. Deru motor berlari menjauh hingga tak terdengar. Ia  pun  duduk di kursi malasnya, bikinan suaminya sendiri.
“Bahkan kalian tak mengerti.” Ia berbicara pelan seperti hanya untuk dirinya sendiri. “Keempat anak-anak lelakiku tak mengerti,” Lagi, ia bicara seperti orang berbisik,”bahkan aku masih melihat Si Kecil, Sari, berlari riang, berputar dan meloncat-loncat di halaman rumah dengan bendera kertas bertiang lidi buatannya sendiri.” Keempat anak lelakinya  itu pun satu persatu pelahan meninggalkannya tanpa hasil.
“Sutar,” panggilnya pelan.
Sutar berhenti. Menatap ibunya yang semakin tua dan ringkih tapi ia tahu: berprinsip.
“Kamu, anak Ibu yang paling tua, dengarkan baik-baik.”
“Ya. Ibu.”
“Seandainya pun aku mati sebelum Si Kecil, Sari kembali. Jagalah halaman depan itu dan rumput Jepangnya untuk Sari, Si Kecil. Adikmu sendiri, satu-satunya anak perempuan di keluarga ini.  Anak tercinta Bapakmu. Walaupun nanti dua adik lelakimu yang lain, Sumar dan Suhar bersepakat untuk membangun bangunan bisnis di situ, berjanjilah padaku bahwa halaman depan rumah ini tetap tak diganggu dan hanya untuk Si Kecil”
“Ibu.”
 
Ia ingat: perjanjiannya dengan Sutar itu tahun 1982. Saat itu cucu lelaki pertamanya, dari  anak keduanya, Sudir, melanjutkan sekolah ke Solo, di  sebuah sekolah Katolik yang populer di desanya. Mungkin hanya cucunya yang melanjutkan ke sekolah swasta kenamaan itu sementara yang lain memilih melanjutkan ke sekolah negeri karena memang lebih murah. Ia pun ingat betapa bahagianya ia ikut berombongan dengan keluarga Sudir mengantarkan cucu lelakinya yang pintar bermain gitar itu ke rumah pondokan di Solo. Klaten-Solo terasa begitu dekat. Begitu ringan. Tak melelahkan.
 
1998, saat ia seperti biasa memandangi halaman yang berumput Jepang itu, ia dikejutkan dengan teriakan  orang-orang muda di jalanan: “Hidup Reformasi! Hidup Demokrasi! Rakyat Pasti Menang!” Untuk pertama kali, ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada pemuda-pemudi yang berjuang tersebut. Di halaman rumahnya, ia pun menyediakan nasi bungkus dan air putih juga teh gratis untuk  pemuda-pemudi pejuang yang bersemangat itu.  
 
Suatu hari tiba-tiba ia tertawa kecil, sehabis membuka surat . Dan berteriak riang pada Sutar yang memang tinggal dekat rumahnya sehingga orang-orang lain pun bisa mendengar: “Sutar! Sutar! Si Kecil masih hidup! Lihat potretnya dan bacalah!” Surat itu diantar langsung Pak Kepala Dusun. Alamatnya sendiri kurang jelas. Isinya hanya potret Si Kecil Sari. Berdiri di Jembatan yang memanjang dengan latar gunung-gemunung berkabut putih. Sendirian. Hanya senyum riangnya tak hilang dari bibirnya. Di bawah potret itu tertulis: “Untuk Ibu dan Handai Taulan. Bahagia Selalu. Si Kecil, Sari. Tak ada pesan yang lain. Sesudah itu, di desa pun di mana tempat orang berkumpul mulai membicarakan Si Kecil, Sari.
 
“Si Kecil masih hidup. Ia tak hilang. Tidak mati.”
“Tampaknya ia akan kembali.”
“Tapi di mana dia gerangan?”
“Mungkin di Rusia. Bukankah dia satu-satunya dari desa ini, perempuan lagi, yang mendapat beasiswa belajar ke luar negeri tahun 1965 sebelum Gestok?”
“Itu dulu. Sekarang?”
“ Cuba ?”
“ Korea Utara?”
“RRC atau justru melanglang buana di Eropa?”
“Ah tak pasti..”
“Tapi Eyang Putri Aminah tampak bahagia sekarang.”
“Dan ia pun menyanyi.”
Hari itu juga menjelang kemerdekaan. Agustus 1999.  Tapi kegembiraan mendengar kabar masih hidupnya Si Kecil makin lama hilang juga. Tak ada lagi kabar yang datang mengenai Si Kecil. Makin sedikit orang-orang  menyebut nama Si Kecil. Justru yang datang adalah gempa bumi yang tak pernah terbayangkan. Semua pun seakan tenggelam dengan problem dan kesulitan masing-masing dan sebisa mungkin bergotong-royong.
 
Hari ini, 2007, di Hari Kemerdekaan. Bendera merah putih itu terus berkibar. Melambai-lambai tak bosan dan tak membosankan di atas halaman rumahnya yang berumput Jepang. Ia masih menatapnya dengan mata tuanya yang mulai rabun dari kursi malasnya yang juga sudah tua, seusia Si Kecil, Sari, 62 tahun. Ia berbisik pada dirinya: “Sari pasti kembali.” Ia pun tak merasa lelah walau tongkat dari Jati, bikinan suaminya sendiri, kini menjadi penopang jalannya. Sebagian orang-orang desa percaya dan bilang: Eyang Putri Aminah tak akan mati sebelum Si Kecil, Sari, kembali.

***

Jakarta, 12 Agustus 2007
Comments
Add New Search
louisvuittonreplicashandbags  - louisvuittonreplicashandbags     |59.58.149.xxx |2011-07-01 04:10:56
lv bagsdestroyer in the Philippines before the fishery is like 311 children in
general. “Boy, it ships a big ah. louis vuitton scarf ” Liu Ziguang like Road. “Displacement of 4450 tons, which is by
collision, but also in the waters of sideways.” Chen Jinlin proud to
say. “Oh, little old fiercely.” Liu Ziguang boast a very
complementary, in fact, 311 of the great achievements on the fishery, the
Internet has long been wantonly spread, and the South China
Sea fishery ship just like monkeys renowned teachers  like the
students met,lv bags on sale was not immediately white louis vuitton belt good the. The arrival of 311 fishery completely reverse the situation
immediately, the ship lights flashing words, big horn stern warning:
 “You have entered the waters of the PRC buy louis vuitton, please exit now.”replica lv handbags Philippine Seven-y...
tom  - link watches     |101.66.53.xxx |2011-08-29 07:33:42
best watches watches replica tluminor marina watches organizations replica breitling fake breitling watches replica cartier watches fake cartier watches spring teeth casaba omega replica omega replica fake rolex watches for sale fake rolex aphasia fake u boat watches tag heuer replica watches tag heuer.
katharine  - mid-autumn moon     |101.66.53.xxx |2011-08-29 11:10:25
watches brand karl watches rolex replica rolex watches adolescents fake tag heuer watches replica tag heuer watches libre watches watches replica panerai watches strong watches breitling replica breitling breitling super avenger watches fake cartier watches watches cartier replica omega watches for sale replica omega.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.