Surti
Oleh Fitra Anugerah    Sabtu, 20 November 2010 07:34    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Surti melihat tumpukan cucian depan matanya. Cucian yang tak biasanya, berupa potongan tubuh yang bersimbah darah. Ada bibir beraneka rupa, potongan jari tangan, dan maaf beberapa kelamin pria dan wanita terselip diantara potongan-potongan cucian. Semua terkumpul dalam ember besar, agak bau amis sih, dan seperti yang sudah-sudah Surti harus selesaikan pekerjaan itu dengan cepat dan benar. Sebab tatap mata juragan perempuannya yang gendut selalu mengawasi dan mana sempatlah dia mengeluarkan HP-nya barang sebentar yang sedang menderingkan sinyal SMS.

Tak perlu banyak tanya darimana adanya ini. Dengan cekatan Surti menyiapkan detergen dan memilah-milah cuciannya. Untuk cucian sepotong bibir tak ia campur dengan potongan kelamin. Potongan kelamin dia tempatkan dalam ember terpisah, sedang potongan bibir dibarengkan dengan potongan jari tangan. Lalu dia mengucurkan air dari sebuah slang ke dalam mesin cuci.

Potongan bibir dan jari tangan rupanya lebih dulu dia masukkan dalam mesian cuci. Surti pun mulai menyetel mesin cuci sesuai bahan yand dicuci. Dia memutar knop pengontrol cucian.

"Awas jangan sampai cucian hancur. Ingat kalau hancur tubuhmu sendiri jadi gantinya !!!!" tiba-tiba juragan perempuan sambil berkacak pinggang membentak Surti.

Surti kaget dan hampir saja terpleset mendengar bentakan juragannya dari belakang. "Tubuhku sendiri buat gantinya???" ancaman juragannya begitu cepat memecah kosentrasinya pada cucian, hingga ketakutan yang disembunyikan di bingkah keberanian hayinya memecah bagai putar cucian memecah kotoran yang menempel di pakaian. Ah deru putar mesin cuci semakin membuat dia cemas. Sesekali Surti membuka penutup mesin cuci buat memastikan keadaan cuciannya.

Lalu keringat deras mengucur detik perdetik, berbaur dengan bajunya yang telah terciprat air dan detergen. Seakan berkejaran dengan maut, alur nafas Surti mulai naik-turun. "Duh Gusti, aku bermohon agar kerjaanku ini menjadi baik" pelan-pelan Surti mengalunkan doa seirama dengan gerak mesin cuci yang berderak perlahan. Tak lama berhentilah putaran cucian. Pelan-pelan Surti mengambil potongan cucian dalam mesin cuci dan ditaruh dalam ember kering.

Mata juragan perempuannya ternyata tak sedikit pun mau melepas dari derak-derik Surti. Lalu dia menuju ember yang sudah penuh dengan potongan cucian yang sudah dicuci dan dibilas. Juragan itu mengambil sepotong demi sepotong potongan cucian, memeriksa setiap detil hasil cucian, sangat cermat hingga ke dalam-dalam. Surti cemas menunggu penilaian akhir dari majikannya, wajahnya pucat dan tubuhnya kaku seakan mayat yang menunggu pertanyaan dari malaikat. 

"Bagus. Bagus. Sempurna pekerjaanmu. Sekarang keringkan dulu cucian ini. Habis itu jangan lupa mencuci potongan kelamin itu" kata juragan perempuan lalu dia mendeluarkan sigaret, menyalakan sebatang, dan menyemburkan kepulan asapnya pada muka Surti. Surti mendengus lalu segera berdiri sambil mengangkat ember menuju tempat penjemuran.

Tak lama Surti kembali dengan ember kosong, menunduk-nunduk dia berjalan melewati juragan perempuannya yang sedang duduk dan menenggak sebotol bir di meja. Surti kembali menekuni cucian. Kali ini dia akan mencuci potongan-potongan kelamin pria dan wanita. Surti tertegun beberapa saat melihat potongan kelamin itu. Seperti sedang mengingatkan dia pada sebuah kenangan di desanya. Dia pernah memandang potongan kelamin itu, potongan kelamin mas Sutris.  Potongan kelamin yang penuh lelehan cairan putih. Surti tersenyum mengingat saat itu di rumahnya di kampung. "Mas Sutris" dimamnya pelan.

"Hai ngapain aza kamu!!! Cepat cuci kelamin-kelamin itu" sebuah bentakan disertai dorongan kasar di punggungnya mengagetkan lamunan Surti. Cepat-cepat Surti segera membereskan potongan kelamin dan segera mempersiapkan pencucian. Tanpa sepengatahuan juragannya Surti mengantongi sebuah kelamin pria. Disembunyikan dalam pakaian dalamnya. Surti segera memutar knop pengontrol setelah cucian, air dan detergen mengumpul dalam mesin cuci.

Perasaan Surti kali ini lebih tenang dibandingkan mencuci sebelumnya. Tanpa ada rasa cemas Surti menunggui putaran cucian sampai berhenti. Sesekali dia membuka tutup mesin cucinya, melihat keadaan cuciannya. Juragan perempuannya kelihatan juga mengendurkan pendawasannya, kelihatan dia sedang berbicara dengan seseorang lewat handphone-nya. Ketawa-ketawa dan sesekali menyebutkan angka rupiah. Surti mengerti juragannya sedang berbisnis, begitu istilahnya menurut pikirannya. Surti tak terlalu memperhatikan perbincangan juragannya. Tangannya tiba-tiba memegang sepeotong kelamin yang disimpan dalam pakaian dalamnya. Matanya menerawang kosong pada kampung yang lama ditonggal. Ada sebersit kerinduan untuk kembali. Menemui kembali Mas Sutris.

Surti masih ingat ketika Mas Sutris mengantarkan dia ke terminal bis. Mas Sutris membisikan pesan bahwa dia akan menjaga rumah, sawah, dan desa ini serta menunggu kembali kehadiran Sutris. Putaran nasib yang memang tak bersahabat hingga Surti merelakan diri bekerja ke kota sebagai pembantu rumah tangga. Sejak kemarau panjang melanda di desanya, sedang Surti tak ingin berpangku tangan menunggu kelaparan menghinggapi orang tuanya dan Mas Sutris. Sedang Mas Sutris, suaminya tak mampu apa-apa sebab dia harus menjaga mertuanya yang sakit-sakitan sambil menggarap petak kecil sawah. Surti pun takut bila Mas Sutris harus pergi merantau dan bekerja di kota, seperti kata beberapa ibu-ibu tetangga di desanya, bila lelaki sudah bekerja jauh dari istri dan mapan di sana kemungkinan besar akan lupa dengan istrinya dan kemungkinan buruk dia akan menikah lagi. Surti tak mau bila itu terjadi dengan mas Sutris. Surti merelakan diri untuk bekerja di kota dan akan mengirimkan duit untuk keluarganya di desa.

Surti tenggelam membasah dengan kenangannya. Surti keasyikan sendiri dengan pikirannya tentang desa dan suaminya. Surti tak mengetahui bila putaran  mesin cuci sudah berhenti. Surti tak menyadari bila juragan perempuannya telah memegang sebuah benda keras dari kayu. Juragannya sedari tadi tampak geram, kesal dan marah.

"Goblok. Ini buat kamu...!!!!" seru juragan perempuan sambil melayangkan 'dingklik' kayu ke arah kepala Surti. Dapat dibayangkan bila 'dingklik' itu tepat mengena kepala Surti dari jarak kurang dari 3 meter dilempar. Surti menjerit kesakitan. Tetes darah lambat-lambat mengucur dari belakang kepalanya.Surti membalikkan tubuh dan menunduk meminta maaf pada juragannya.

Tapi karena terlalu kesal dan marah juragan perempuan mendatangi dia. Menjambak rambut panjangnya sambil membentak-bentak dan sesekali menampar wajahnya.

"Kamu tahu siang ini seorang temanku mau datang dan membeli potongan-potongan tubuh ini. Kamu tahu bila dia gak jadi membeli karena barangnya masih kotor. Aku rugi beberapa juta. Dan Kamu tak mungkin mampu menggantinya. Kamu jangan bikin susah aku. Kamu kubayar buat membantu aku. Plaaakkkk......!!!!" tamparan dan nyerocos cacian begitu saja keluar dari amarah juragan perempuan. Surti berteriak keras, meminta ampun, menangis.

"Sudah cepat ambil potongan kelamin itu dan keringkan...."bentak juragan dambil mendorong kepala Surti dengan keras ke arah mesin cuci.

Dengan tergesa-gesa Surti mengambil potongan kelamin dari dalam mesin cuci. Potongan-potongan itu diletakkan dalam ember kosong. Segera tanpa menunggu juragan memeriksa hasil pencucian seperti hasil cucian yang pertama, Surti segera menuju tempat penjemuran.

+++++++++++

Siang yang gerah, seorang lelaki dengan tampang parlente membawa koper hitam berbicara kepada juragan perempuan di depan pintu rumah.

"Barangnya sudah siap pak. Sudah dikemas rapi. Silahkan masuk ke rumah dulu" selirih juragan perempuan.

Lelaki itu masuk dan duduk di kursi tamu dengan gagahnya. Matanya mengawasi keadaan sekeliling ruanga tamu.

"Mana barangnya" tanya lelaki itu penasaran sambil menaruh kopernya di atas meja.

"Sedang diambil pembantu saya, pal" jawab juragan perempuan dengan tenang. Tak lama juragan otu berteriak memanggil nama Surti adar datang dan membawa kemasan plastik berisi potongan-potongan tubuh.

Tak lama Surti datang dengan tergopoh-gopoh membawa barang itu. Meletakkan di atas meja. Lelaki itu hanya memeriksa sebentar lalu membuka kopernya dan menyerahkan sejumlah uang kepada juragan perempuan.

"Aku tak memeriksa berapa jumlah potongan-potongan tubuh dalam kemasan ini. Aku hanya membayar sesuai dengan pesananku. Malah anda tak kasih lebihan uang dalam pembayaran" seru lelaki itu yang segera mendemasi kemasan dan kopernya. Segera dia beranjak dan melangkah ke kuar dari rumah itu.

Juragan perempuan tersenyum-senyum melihat lembaran-lembaran uang berwarna merah di tangannya. Dia pun mengipas-ngipaskan uang itu sambil melirik ke arah Surti.

"Sana pergi. Kerjakan tugasmu yang lain" perintah juragan itu dengan setengah mengusir kepada Surti.

+++++++++++++

Tengah malam telepon berdering di kamar juragan perempuan. Segera dia beranjak bangun dan mengangkat telepon. Yerkejut saat mengetahui suara di telepon itu adalah suara lelaki yang datang pada siang hari tadi. Ada komplain barang yang diterimanya. Tak lama kemudian perdebatan sengit tentang barng itu terjadi. Hingga perdebatan itu berakhir dengan kata "maaf besok pagi kusediakan barang yang kurang itu lengkap pak" dari mukut juragan perempuan.

Juragan perempuan itu segera keluar dari kamarnya. Menuju ke dapur. Mengambil sebuah pisau. Memandang pisau itu sejenak sambil sengit tersenyum. Dengan mantap dia mengenggam posau itu menuju ke kamar di belakang rumah. Kamar Surti dia datangi.

Dalam kamar yang bercahaya remang, Surti masih terlelap tidur. Lirih yerdengar suara ngoroknya. Sangat pulas kelihatan barangkali karena dia lelah sangat. Surti tak menyadari kehadiran juragan perempuannya masuk ke dalam kamarnya dengan mengenggam pisau tajam.

Sebuah hentakan. Hentakan mendorong amarah yang terpendam. Dan gerak tangan begitu mudah menjawab kekesalan. Bibir Surti pun teriris dengan kasar oleh gerak pisau dapur. Tak peduli teriak menyayat Surti yang kesakitan. Pisau itu mencari tubuh yang lain dari Surti. Tak puas hanya bibir saja, pisau bergerak dengan gerak amarah yang tak terkendalo menjelejah setiap tubuh Surti. Potongan tangannya, telinga, hidung, kelamin Surti, dan banyak potongan tubuh sudah bercecer di ranjang dan lantai kamar Surti.

Dengan tenang seperti tak ada peristiwa mengerikan yang sedang terjadi, juragan perempuan mengumpulkan potongan-potongan itu dalam tas plastik hitam. Setelah semua terkumpul dia menuju ruang pencucian. Potongan-potongan tibuh itu dimasukkan dalam mesin cuci. Tak lama mesin cuci berputar membersihkan potongan-potongan tubuh sampai tuntas.

++++++

"Pak kekekurangan potongan tubuh bisa diambil besok pagi. Maafkan pembantu saya yang lalai" perlahan juragan perempuan itu menutup gagang teleponnya. Dia kembali menuju ranjangnya dan kembali meneruskan tidurnya.
 

Bekasi, 17-11-2010 



BIODATA 

Fitrah Anugerah. Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, Bekasi News, dan aktif menulis di Apresiasi satra serta Blog. Sekarang bekerja di Bekasi, di perusahaan ekspedisi dan bertempat tyinggal di Jl. Patuha Raya No.01 Blok 21, Perum Wika, Bekasi Selatan. No HP. 021 94571950. Alamat e-mail : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya dan Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Comments
Add New Search
Chanel Bags  - Chanel Bags     |117.22.72.xxx |2012-05-16 11:46:04
This will expose and open up your hair follicles so that [b]Coach Purses Outlet[b]. the chemical metabolic process like oxidative [b]Burberry Outlet[b]. that it is going to take several sessions [b]Louis Vuitton Purses[b]. This will help you return to work rejuvenated and ready to [b]Gucci Belt[b]. It has at all times been confirmed that training not [b]Coach Handbags[b]. In Aventura laser hair removal is increasing in popularity [b]Gucci Outlet[b]. In general it is going to cost more to get hair removed from [b]Coach Bags Outlet[b]. treatment over waxing When you wax [b]Coach Purses Outlet[b]. and in addition give us a greater bone density [b]Coach Outlet Online Store[b]. and you can find professionals in the area to provide you with this
service [b]Chanel Bags[b].
******
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
 

Blog Bekasinews

Biker's

Berita Unik

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.