|
Cerpen Secangkir Kopi
|
|
Oleh A.Kohar Ibrahim
Sabtu, 24 April 2010 22:18 |
|
|
|
|
Cerpen Secangkir Kopi
Oleh
A.Kohar Ibrahim
CEPAT aku tegak, sembari memberikan uang bayaran tanpa menikmati sajian, bilang dengan nada kecewa pada sang pelayan : « Tuan, yang aku minta tadi kopi hitam, bukan kopi susu ! » Langkah pun kuayun kembali ke rumah.
Begitulah. Memang. Salah satu sebab yang membikin aku menggerutu karena kecewa. Kekecewaan, hendak menjalani hari yang diawali sarapan pagi dengan tenang senang, tapi dikecewakan oleh layanan yang keliru. Padahal pesanan yang aku ajukan kepada pelayan di kafetaria Bonappetit itu sederhana saja : sarapan pagi secangkir kopi dengan sebiji croissant alias roti bulansabit. Dengan penekanan kata : Kopinya tanpa susu. Kopi Item. Café noir.
“Une tasse de café sans lait, Monsieur. S’il vous plait.” begitulah kalimat Perancis lengkapnya. Secangkir kopi tanpa susu. Dan sang Monsieur Pelayan mengangguk mengiyakan : « Oui, Monseur ». Iya, Tuan. Katanya dengan nada sopan. Akan tetapi, apa nyatanya, beberapa saat kemudian yang disajikannya secangkir kopi campur susu. Malah warnanya jadi nyaris putih, karena kebanyakan susunya. Entah kenapa, aku begitu merasa tersinggung. Selain aku tak begitu suka susu, lantaran sudah cukup merasakannya dari Ibu kandungku semasa bayi, kesukaanku memang kopi tubruk, atau kopi tanpa susu.
« Tak ada layanan yang paling memuaskan kecuali melayani diri sendiri, » gumamku. Begitu sampai di rumah, masuk ke ruang dapur, menyalakan kompor, mengisi air dalam cerek dan merebusnya sampai mendidih. Lantas aku ambil cangkir besar, yang aku isi dua sendok kecil gula pasir putih seputih salju, dan tentu saja aku pilih kopi kesukaanku. Ada yang merknya Rombouts, ada kopi Afrika, kopi Max Havelaar, kopi Timor Leste. Kali ini aku pilih Max Havelaar. Secanting. Kumasukkan dalam cangkir dan segera seduh dengan air yang sudah mendidih. Hanya semata-mata untuk aku nikmati dengan rasa tenang dan senang, sembari menyimak layar kaca komputer. Halaman Facebook. Ah, hanya seketika pula aku temukan salah satu komentar dari rekan pembaca atas tulisanku berjudul “Sang Kekasih”:
“Aku memang gak ngerti apa itu cerpen atau bukan, tapi aku merasa enak membacanya – simpel dan penuh arti”. Dan, hanya seketika lagi aku menerima notafikasi dari yang lain, berbunyi: “Pak, tolong ajari saya, bagaimana sih nulis cerpen?”
Sejenak aku menghela nafas panjang sembari menaikkan alis. Segera tangan kiriku bergerak mengangkat cangkir kopi tubruk yang masih hangat itu. Aku seruput nikmat. Sembari senyum aku tulis jawaban singkat : « Gimane nulis cerpen ? Ah, mudah saja, kok. Seperti bikin : Secangkir Kopi. Cobalah. Asyik, deh. » ***
Catatan : Café : kopi. Une : satu. Tasse : cangkir. Lait : susu. S’il vous plait : sudilah kiranya, silakan ; please. Monsieur : tuan, pak. Bonappetit : selera enak, silakan makan. Naskah cerpen ini ditulis lantas disiar sama tanggalnya di Facebook 31 Maret 2010. Siar ulang di ABE-Kreasi Multiply Site : http://16j42.multiply.com/journal/item/503/ Apresiasi Sastra dan lainnya.
|