| Teriak | ||||
|
|
A.Kohar Ibrahim : Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (8) Teriak TERIAK kini bukan lagi seperti yang sudah sudah. Bukan lagi hanya berorasi atau membacakan puisi. Dia berteriak teriak keras sekeras kerasnya sampai serak. Hadirin pun bersorak sorak kian semarak hingga kedua-belah tapak tangan memar merah di telapak. Namun rupa rupanya teriak menuntut hak, kebenaran dan keadilan dari ratusan juta jiwa kaum miskin sengsara itu tinggallah teriak terlempar-hampar angin begitu saja berlalu. Tak sepatah kata pun masuk telinga sang penguasa tiranika asyik maksyuk terduduk di singgasana raksasa. Begitu pun dia terus juga berteriak teriak sekeras kerasnya teriak sampai serak. Tanpa kenal lelah pun tidak putus asa. Penuh keyakinan. Jika segalanya mampet. Padat. Terkungkung. Terbendung. Pada saatnya nanti teriak menuntut kebenaran dan keadilan itu jadi kekuatan maha dahsyat menggeletarkan penguasa zalim membuta tuli. Kerna suara teriakan berubah pemberontakan maha dahsyat. Maka tiada berapa lama kemudian yang diperkira ternyata menyata sang penguasa pun terpaksa turun takhta. Seketika. Kaum pemberontak berdiri tegak mengacungkan tinju seraya berteriak sorak : Bebas. Merdeka ! Sekali Merdeka tetap Merdeka ! Dalam khusyuk maksyuk mengkaji peta situasi, manalah bisa terlupa baris baris Gurindam Duabelas yang ringkas bernas : « …Hendaklah jadi kepala / Buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat / Buanglah khianat. » ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||








