| Kosong Nan Berisi Puisi Mulia | ||||
|
|
Oleh : A.Kohar Ibrahim
« Jika hendak mengenal orang mulia / Lihatlah kepada kelakukan dia », demikian antara lain baris baris kata puitis yang tersimak. Baris kata Gurindam Duabelas yang begitu mengena pada perempuan terkasihku. Sahabat seorang perempuan mulia pula bernama Suzana – penghuni pulau legendaris itu. Sejak beberapa waktu berlalu hingga kini kesegaran ingatanku tidaklah meluntur, sebaliknya malah. Lantaran aku tahu, aku dengar, aku saksikan sendiri, betapa perempuan perempuan yang aku kenal itu bukan hanya cakep melainkan juga cakap menjaga marwah. Iya. Akulah saksi mata sekalian pelaku selaku teman seperjalanan dalam hidup kehidupan, meski lika liku turun naik maupun berdekat atau berjauhan tempat. Peristiwa bersejarah maupun ajarannya senantiasalah erat melekat. Seperti kini. Aku berdiri di tengah siang hari barusan kegelapan sirna sendiri. Barusan barusan lagi bumi bermantalkan kegelapan malam dini hari dini bertanda cahaya bintang kejora pengisi kosong kekosongan carik larik larik puisi. Oh cinta kasih mu sungguh tiada terperi pertanda hakiki dikaulah puisi dikaulah bintang kejora malam hari dini Dewi Anggraini. Terang mu bintang meski tengah hari dalam hangat bincang bincang dalam tutur bahasa guru besar bangsa Gus Dur peneladan integritas berprilaku nan jujur. Suaranya renyah ditelaah mudah. Beraninya tabah nan gagah. Berani karena benar berpihak rakyat berjiwa besar. Aku berdiri di tengah halaman putih nampaknya kosong tapi berisi. Rambut hitam ku putih kian memutih. Sejak pagi hari langit kosong menuang isi serpih serpih salju putihnya suci murni semurni keperawananmu wahai kekasih yang pernah aku tahu dan rasa indahnya tiada terperi. Semua terpateri kesetiaan kejujuran ketabahan teruji layaknya kaidah kemuliaan menjaga marwah manusia nan hakiki. Dalam jalur jelujur segala musim ganti berganti dikau telusuri. Tajamnya musim dingin berubah gugah segar musim semi nan cerah. Duhai betapa segar rasa udara harini karena dari nusantara ku dengar suara merdu mesra dewiku terkasih dalam rindu merindu selalu. Srikandiku kiprah gairah menunaikan tantangan tugas baru menyusun kerangka membina sarana pendidikan mencerahkan bangsa. Syukur Alhamdulillah. Karena semua itu erat kaitan akan kemuliaan kelakuan selaku insan berpendidikan pula adanya. ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|




Gubah Tergugah Gurindam Duabelas



