|
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (4) Lagak Lagu Wanita : You’re Beautiful A. Kohar Ibrahim SEPERTI telpon biasa saja bunyi ponsel itu pun bisa menyebabkan bola mata tertutup terbuka segera teriring suara menyapa mesra. Sepertinya lagak lagu pembawaan rutinitas saja, namun sebenarnya tidak, melainkan hanya pertanda belaka. Kemesraan wanita.
« Ah, dikau wanita memang makhluk perasa, » bisikku di relung hati, membalas kemesraan sang penghuni. Sedang di bola mata wajahnya cerah ceria senyum tersungging menghiasnya tambah cantik dan indah. Wajah semakin ayu bermahkota rambut panjang terurai mengundang belai.
« Subhanallah ! » bisikku, seperti bisik pertama kali pada pertemuan kemesraan duaan yang pertama kali pula. Meski dia mengenakan kerudung merah marong. « Subhanallah», bisikku juga, dalam hati, ketika itu. Setelah tiga tahun berkenalan hanya di alam maya, saling berbagi bermesra, termasuk kesukaan musik – seperti lagu You’re Beautiful James Blunt. Dan dengan iringan irama merdu lagu itulah, setelah mohon pamit beberapa menit ke kamar mandi, keluar lagi tanpa kerudung, dengan rambut panjang terurai. Sungguh suatu hal yang membuatku kagum campur keheranan, menggeleng kepala perlahan, menumpu tatapan mesra yang terbalas lebih mesra lagi, dengan senyum yang nyaris tertawa, memaklumi kalau aku sedang amat terpesona. « Subhanallah, dikau memang sungguh perasa, » bisikku, di telinganya.
« Janji harus ditepati, kan ? » ujarnya lembut, nyaris berbisik, ketika jari jemari kedua belah tapak tanganku membelai rambut hitam panjangnya yang terasa begitu halus seperti sutera.
« You’re beautiful, really. So lovely, » ujarku merayu.
Dan senyumnya nyaris tawa beneran, seraya berkata mesra: “Really, Tuan James Blunt Betawi?”
“Iya. Sungguh: dikau tak hanya cantik melainkan indah,” konfirmasiku. Seketika pipinya didekat-lekatkan ke dadaku. Dekapannya pun terasa semakin erat pula. Rasa yang memang beda antara dekapan di alam maya – layar kaca ordina – dengan alam nyata beneran.
MANAKALA ponsel bergetar bertandakan panggilan lagi, begitu aku buka dan klik, terdengar tanya: “Sudah di depan PC? Sudah sarapankah?” Dan aku meng-iya-kan saja, apa adanya, yang sebenarnya. Termasuk mengiyakan adanya secangkir kopi di sisi seporsi pisang goreng yang disajikannya. Salah satu macam makanan kesukaanku, selain getuk lindri. Dia tahu nyaris semua apa yang aku suka dan tak suka. Dan dia berusaha menyajikan apa saja yang aku suka, menghindari apa yang aku tak suka. “Maklum, yah, hanya sajian dalam foto saja. Nanti yang beneran akan dikau nikmati sepuas hati.”
“Iya, nanti – ketika aku pulang mudik kembali,” konfirmasiku, dengan suara nyaris tertelan kembali, lantaran menahan rindu sekali. “You’re beautiful, kasihku!” bisikku. Pada perempuan pengisi bolamataku. Sedangkan dibenak layaknya tersimak benarnya baris kata Gurindam Duabelas, bahwasanya “apa bila perkataan yang lemah lembut / lekaslah segala orang mengikut.” Ah, apa pula kelemah-lembutan itu bermakna cinta kasih adanya. ***
|