|
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (3) Membuka Kerudung Sutera Putih A.Kohar Ibrahim SAAT sesaat itu bukan lagi dalam bayang bayangan, bukan pula dalam karya reka rekaan atau khayalan, melainkan beneran. Dia berada di hadapanku : seorang perempuan perawan rupawan pujaan hatiku yang berbusana sederhana namun begitu anggun dalam pandanganku. Ah, ternyata kerudung yang dikenakannya itu memang begitu mengena, membuat wajahnya yang sumringah kian bercahaya mesra. Seketika teringat daku akan ujar katanya : « Hanya lelaki yang jadi muhrimku berhak membuka kerudungku ». Demikianlah sebaris kata kata dari padanya. Sekian masa yang lalu, tatkala aku menyatakan terkejut campur kagum menerima sehelai fotonya. Sehelai foto bersama Ibu dan Ayah serta adik perempuannya. Foto tertanda bukan hanya kenangan namun sarat pegangan betapa peranan ortu terhadap buah cinta-kasih mereka, melahirkan dan membesarkan dengan selayaknya anak yang berpendidikan. Pendidikan di bangku sekolah pun teramat pentingnya pendidikan di rumah, baik oleh sang Ayah apa pula oleh sang Ibu. Terutama sekali dari Bunda kepada sang puterinya yang menekankan inti didikannya : menjaga marwah. Marwah sebagai sosok makhluk manusia yang manusiawi dalam budi bahasa dan budi pekerti. Dalam memaknai sekaligus menghayati bagaimana menjaga marwah itulah atas kesedarannya sendiri dia mulai mengenakan kerudung pada masa berkerudung malah belum lagi dianggap lumrah di kalangan anak sekolah atau selagi sebagai mahasiswa. Mula pertama kali dikenakannya kerudung warna putih seperti warna bunga anggrek kesukaannya : anggrek bulan. Kemudian, bertahun-tahun kemudian, setelah selesai kuliah dan kiprah mencari nafkah, dikenakannya warna hitam. Kedua warna yang menjadi identitasnya, meski dia pun suka sesekali mengenakan warna-warni lain seperti biru muda, cokelat dan merah marong. Kesetiaannya mengenakan kerudung itulah salah satu bukti kukuhnya menjaga marwah dari bocah remaja puteri sampai usia dewasa. Saksinya adalah keluarga, teman-sobat terdekat dan akhirnya daku sendiri. Saksi baik selama dalam perkenalan via komunikasi dari kejauhan puluhan ribu kilometer maupun ketika kesempatan jumpa langsung. Kesaksian dengan pengakuan ketika berhadapan di hadapan Ibu kandungnya bahwa bagiku, sang puterinya adalah : permata mutiara. Permata yang selayaknya juga kujaga. Lamaranku pun diterimanya. Maka jadilah daku dan sang puteri seperti « permata dengan cincin » saja layaknya. Selayaknya makna memaknai baris kata Gurindam Duabelas Raja Ali Haji : « Cahari olehmu akan isteri / Yang boleh menyerahkan diri ». Duhai ! betapalah bermaknanya akhirnya perjalanan hidupku, manakala salah satu impian yang paling menggairahkan masa muda remajaku dahulu lalu berubah kenyataan. Terlebih lebih lagi manakala kekasihku menjadi perempuan swargaku. Justeru mulai dari sesaat saat-saat Dewi pujaan hatiku itu berada dekat di hadapanku begitu dekat nyaris melekat. Sedangkan jari-jemariku perlahan tetapi pasti mulai membuka kerudung sutera putih yang menghias rambut hitam legam menggelombang. Rambutnya begitu lembut terasa oleh jemariku dan oleh gerakan kepala spontannya jadi terurai burai teriring senyum dan tatapan mata mesra, meski kedua bibirnya yang merekah tanpa suara mengucap kata, tapi sarat isyarat bermakna pasrah menyaji anugerah terindah setulus-penuh hati nan murninya : « Sukamu lah, Abang ». Suaranya begitu mesra begitu lembut sehalus-lembut sutera putih yang kubelai kubuka perlahan-lahan dalam keindah-gairahan tiada terperikan. ***
|