|
Pautan Kata Budi Bahasa
|
|
Oleh A. Kohar Ibrahim
Sabtu, 09 Mei 2009 17:16 |
|
|
|
|
|
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (2) Pautan Kata Budi Bahasa SANG Surya berangkat perlahan-lahan ke dalam pelukan Sang Malam sejuk santai. Jalur jelujur kilau berkilaunya bagai anak panah menunjuk arah Pulau Penyengat masih membekas beberapa saat. Kilau kemilau yang sesaat kemudian aku dapatkan dari sepasang pandang mata Gadisku. Kilau pancaran kata hatinya yang rasanya terasa sekali mesranya. Tercurah secara lumrah dalam bisiknya, nyaris bareng dengan bisikku juga – kesan serupa terkesankan cahya senja Sang Surya : « Indah… » « Iya. Indah… » Kata sepatah kata itu memang terucapkan. Meski tak terucap-katakan sekali pun namun secara hakiki sarat samanya dalam kesan relung hatinurani. Tak urung jadinya keselarasan kata hati dan kata pikiran yang terucap-katakan itu bagai nada irama merdu merasuk relung telinga. Ah, semakin yakin saja daku akan kuat-indahnya pautan kata budi bahasa manusia, apalah pula pasangan pautan hati. Paut saling berpautan yang sudah sekian lama teruji. Dalam ujian masa kebersamaan batiniah-badaniah maupun masa keterpisahan badan namun kepautan hati senantiasa terjaga. Semenjak masa awal mula, Syukur Alhamdulillah, sudahlah sedemikian itu adanya. Memanglah begitu. Masa awal mulanya itu dari jarak keterpisahan teramat jauh, dua puluh ribuan kilometer rentangannya, pertautan kami memang hanya dimulai dengan kata sepatah kata. Sepatah kata ucap silaturahmi dalam pautan profesi selaku penggiat aktivitas-kreativitas tulis menulis. Selaku penulis. Selaku jurnalis. Ah, betapa dekat erat saling pautannya memang. Dari berkas-berkas naskah masing-masing yang ditelaah sudah terasa betapa makna kebernasannya. Lantaran memahami akan apa yang tersurat sekalian juga yang tersirat. Bahasa yang diekspresikannya cerminan budi atau prilakunya. Faham pemahaman ini menjadi begitu jitu karena adanya pula kesamaan kegemaran dan kajian kami sudah sejak semasa studi di bangku sekolah. Seperti terbuktikan pula tadi siang ketika mengunjungi Pulau Penyengat singgah di Balai Pustaka menyimak naskah Gurindam Duabelas, terbaca baris-baris kata Pasal Kelima : « Jika hendak mengenal orang berbangsa Lihatlah kepada budi dan bahasa ». Ketika itu, seketika pandang mata kami pun bertemu, teriring senyum terkulum, tanpa mengucap kata setelah bersama menyimak poin Gurindam yang amat bermakna mendalam itu. Pasalnya kami sudah dengan mudah saling maklum dan memahaminya. Begitulah. Maka tatkala Sang Surya meninggalkan senja untuk berpelukan Sang Malam di balik Pulau Penyengat, dengan ringan kami beranjak meninggalkan koridor pelabuhan Sri Bintang Pura Tanjungpinang. « Kita pulang ke hotel sekarang yah, Bang ? Setelah ngasoh sebentar, maka kita cari makanan masakan khas Pinang ? Setuju ? » Bak gayung bersambut aku jawab kontan dengan senang : « Iya. Setuju sekali, sayang. » Kami ayunkan langkah berdampingan terasa amat ringan, apalagi sayup-sayup tergema irama lagu melayu Melati : « Sarangkuah Dayung » disusul dengan « Digemai Cinto. » Sesekali sesaat saat pandang mata bertemu teriring senyum mahfum, sudah sama-sama tahu makna pautan kata lirik lagu maupun pautan kata hati masing-masing. Bak pepatah : Seperti cincin dengan permata saja layaknya. ***
|