|
Senja Di Pantai Tanjungpinang
|
|
Oleh A. Kohar Ibrahim
Selasa, 05 Mei 2009 08:00 |
|
|
|
|
|
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (1) Senja Di Pantai Tanjungpinang WAKTU senja tiadalah terasa sebagai penyebab gundah gelisah apa pula kesedihan, meskipun sang mentari mulai beranjak ke dalam pelukan sang malam. Ah, suasana yang aneh berbaur kewajaran, seperti manusia pula tatkala usia menjelang senja. Bukan hanya kepedih-sedihan melainkan juga kemungkinan merasakan benar sebenar-benarnya anugerah keindahan yang membahagiakan. Kebahagiaan lantaran pertemuan langsung dengan kekasih yang pertamakali, juga sang pengundang telah membawa daku berkunjung ke Tanjungpinang. Untuk berkelanjutan dengan simbahan cahya mentari pagi menyeberang ke Pulau Penyengat. Pulau legendaris Kepri yang menarik hati sudah semenjak masa dikaji di bangku seolah. Terutama sekali kajian « Gurindam Duabelas » gubahan pujangga Raja Ali Haji. Maka benarlah benar kebenarannya opini, bahwasanya kebenaran itu indah. Iya, seperti terbukti yang terungkapkan baris-karis kata puitis mengawali « Gurindam Duabelas » berbunyi : « Simpanan Yang Indah Ialah Ilmu Yang Memberi Faedah » Sungguh ! Dalam sehari sejak pagi hari berkunjung seraya mengkaji inti makna Pulau Penyengat sampai kembali ke tepian Tanjungpinang lagi, pandang mata masih terpaut bahkan tertumpu pada tepian pulau legendaris itu. Sinar mentari kilau-kemilau menelusuri gerak riak ombak putih keperak-perakan berubah kuning keemasan lantas kemerah-merahan. Seketika pandang mataku beralih ke wajah sang gadis yang membawaku ke sini. Duhai ! wajahnya begitu cerah sumringah, berhias senyum berseri layaknya anugerah setulus hati. « Tidakkah keindahan nan indah itu sesungguhnya bermuara dari paduan hati dalam suasana keindahan yang dialami ? » bisikku di kedalaman relung hati. ***
|