Mbah Warno
Oleh Fitrah Anugerah    Kamis, 12 Februari 2009 14:42    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

"Sekarang giliranmu." kata mbah Warno sambil menyodorkan secangkir minumkan ke Supri. "Tidak terima kasih Mbah. Saya tidak minum" jawab Supri. "Pemuda kayak apa kau? minum gak suka, main gak mau, nglonte nggak doyan" kata Yakob teman Mbah Warno setengah emosional karen dipengaruhi oleh minuman keras. "Dasar bujangan tahi!" tambahnya mengejek Supri. Lalu Supri pun cepat-cepat meninggalakan kerumunan temannya yang lagi minum.
Supri malam itu kebetulan pulang dari jalan-jalan mau menuju ke kontrakannya. Dia melihat teman-temannya berkumpul di sebelah warteg(warung tegal) langganannya. Sebagai teman nggak enak rasanya kalau ia gak datang dan sekedar basa-basi menyapanya. Ternyata teman-temannya pada mlitur (jawa=minum). "Mabuk lagi, mabuk lagi. Kayak gak ada kerjaan yang bermanfaat aza." pikir Supri. "Itu juga Mbah Warno sudah tua, malah ngajak anak-anak muda minum"pikirnya pula. Di kalangan pemabuk itu memang ada Mbah Warno, teman kerja Supri yang paling sepuh (senior). Dia memang paling doyan minum dan selalu ngajak anak-anak teman kerjanya yang lain untuk minum bareng. "Maaf saya pamit dulu. Ngantuk." kata Supri setelah melihat teman-temannya pada minum. Supri memang nggak doyan minum, haram menurut ajaran agamanya, dan dia bisa dimarahi oleh orang tuanya.
"Mengapa sih orang-orang pada doyan minum. Apalagi umur sudah pada tua-tua dan sudah pada berkeluarga. Apa nggak sayang duit dibuang buat minum-minum aza? apa nggak takut dosa? apa nggak takut sakit?" gerutu Supri dalam kamarnya dan ia pun siap-siap tidur. "Mbah Warno umur udah tua malah doyan mabok, ngajak-ngajak lagi". Pikiran Supri pun menerawang jauh mencari jawaban pertanyaan itu, hingga tak terasa ia pun tertidur.
Mbah Warno memang salah satu yang paling tua dari kumpulan teman-temannya yang doyan mabuk. Ia memang dikenal sebagai jagoan dalam hal minuman keras. Sepanjang malam, sepanjang hari, sepanjang waktu mbah Warno tak pernah lepas dari botol minuman. "Membunuh kesepian malam. Hangatkan badan. Dan Malam ini indah, Mabuk lagi, kelakuan kucing garong, betapa Ku mencintaimu, Andai ku tahu, oh bukankah kupernah mengenal bintang, bidadari datanglah malam ini, tuhan kirimkan aku kekasih, ....." begitulah ocehan, nyanyian dan puisi yang diucapkan Mbah Warno ketika mabuk. "Yang penting enjoy, nikmati hidup ini, jangan seperti Supri. Bujangan tahi! gak doyan mabuk, gak doyan perempuan. Lalu doyannya apa? Cuma bengeng aza di kamar. Lagi ngloco" katanya kalau tiba-tiba kepingin ngledek si Supri temannya seprofesi yang tak mau ikutan mabuk. Tapi sayangnya Supri telah tertidur.
"Supri ayo bangun. Ayo mabuk. Menyanyi, menari dan bergoyang. Masa mudamu harus kau nikmatin. Goblok kamu" teriak Mbah Warno yang sudah mulai teler berat. "Hahahaha.....betul itu mbah. Supri emang banci. Ayo tambah lagi mbah. Malam belum berakhir dan minuman belum habis nih. Kalau habis beli lagi. Syik asyik....."kata teman-teman Mbah Warno ngegongin ulah mbah Warno yang teler berat. Hingga akhirnya suasana menjadi sepi, entah mengapa? Hanya terdengar langkah kaki yang berat berjalan ke rumahnya masing-masing. Mungkin mereka pulang atau mungkin mereka diusir oleh pak RT karena mengganggu ketertiban kampung.
Malam semakin menuju pagi, sayup-sayup suara ayat suci berkumandang dari sebuah mushola kampung. Subuh pun akan masuk. Supri pun bangun, cepat-cepat ke kamar mandi. Kebelet kencing sekalian mandi buat sholat subuh. Entah sadar atau tidak ketika mau masuk kamar mandi tiba-tiba dia melihat seorang manusia yang tak lain adalah mbah Warno tidur di kamar mandi sedang badannya dipenuhi dengan kotoran muntahan serta tahi manusia. "Dasar pemabuk. Badannya penuh kotoran sampai gak sadar. Hoeek...hoeek." Supri pun segera menutup hidung dan muntah melihat pemandangan jorok tersebut.

"Mbah. Mbah. Bangun" Seru Supri sambil mengguyur badan Mbah Warno dengan seember air. "Mbah eling. Ingat" teriak Supri sambil mengguyur badan Mbah Warno lagi. "Ada apa Pri? Kok saya di kamar mandi? badan saya kotor dan bau" tanya Mbah Warna yang sudah mulai bangun dan sadar. "Mbah habis mabok. Cepat mandi sana. Bau badannya. Sekalian bersihkan kamar mandinya" pinta Supri ke mbah Warno. "Ya Pri" kata mbah Warno sambil menutup pintu. Tak lama suara guyuran air terdengar di dalam kamar mandi.
Supri nyari kamar mandi yang lain. Segera mandi dan siap-siap sholat subuh. Sesudah sholat subuh. "Supri aku boleh masuk kamarmu? aku mau tidur dulu di kamarmu? maafin aku pri? kata Mbah Warno yang mengagetkan Supri yang asyik dzikir. "Baiklah mbah" jawab Supri. "Oh Tuhan kenapa aku punya teman seorang pemabuk? Aku takut suatu saat kalau imanku tak kuat aku akan ikut ajakannya dan menjadi pemabuk" rintih Supri dalam doanya. "Oalah memang apes nasibku punya teman seperti mereka, tapi ya gimana lagi? begitulah adanya" gerutu Supri sambil melihat mbah Warno yang tertidur dan mendengkur keras di kamarnya. Baring teeth


Luka Supri

Bertahan menguatkan hati dan menjaga segenap perasaan serta keyakinanyang membuat Supri mampu bertahan hidup di kota besar. Kebutuhan hidupyang naik, harga barang, tarif tol, bensin, harga rokok, serta makanan
di warung yang juga ikutan naik membuat Supri pusing, sedang
penghasilannya pas-pasan. Tak ada lagi penghasilan tambahan atau sisa
uang buat dia nabung, ngirim duit ke kampung, atau buat jalan-jalan
dan bersenang-senang. Supri kembali harus sabar, dan hidup dalam
keprihatinan. "Mau gimana lagi ? Harus apa lagi ? Selain nrima saja.
Apa gunanya protes. Terus cari tambahan duit dimana lagi ? Bisa aku
cuma nyopir, nyuci mobil....? Lebih baik aku gak usah mikirin nikah
apalagi pacaran. Lha wong hidup aza masih numpang, makan ngutang, baju
ngemplang punya teman, HP hilang di tukang gadai, terus aku mau
mikirin pacaran apalagi nikah. Apa kata dunia !" pikir Supri
merenungkan keadaan dirinya yang sepanjang hari tak berubah baik,
namun umurnya semakin bertambah.

"Eh. Supri ada yang mau pesen ban serep pick up. Elo mau ambil
ban serep mobil yang diparkir itu. Tinggal elo kempesin, terus ditendang udah jatuh, lalu gue yang bawa. Duitnya bagi bareng beres khan. Tar kalo boss tanya bilangin aza gak tahu. Sopirnya yang dapat jatah mobil kiriman itu gak nge-chek mobilnya." tiba-tiba si Acimmasuk ke kamar Supri lalu membicarakan rencana mencuri ban serep. "Elo jangan takut. Elo sendiri yang cerita kalo gak punya duit. Elo mau nebus HP, mau jalan-jalan, nyari cewek, mau pingin pacaran, mau nikah....Tapi elo gak berani spekulasi dan usaha nyari duit tambahan. Gimana sih ? Jangan goblok-goblok jadi orang apalgi sok alim. Hidup di kota besar ini kalo gak berani usaha begituan mana lagi bisa dapat
duit. Emang orang-orang yang banyak duit itu dapetnya dari mana ? ya
dari korupsi dan nyolong. Elo juga harus nglakuin " bujuk si Acim pada
Supri yang nampaknya ragu-ragu itu.

"Gue takut bang. Sungguh gue takut, gak berani nglakuin. Gue takut dosa, takut ketahuan. tar uang hasil gituan gak berkah, uang panas. Gak mau deh Supri" jawab Supri tegas ketika si Acim nampaknya mau melancarkan paksaan dan rayuan. "Elo emang goblok. Elo emang bukan teman gue. Elo tak akan kaya kalo caranya begitu. Awas elo kalo pinjem duit sam gue kalo ada keperluan mendadak. Duit gue hasil begituan, elo cuma mau duitnya aza" kata bang Acim yang sudah mulai kegerahan dengan sikap Supri. "Biarin yang penting gue enjoy. Gak pa2 deh gak berteman sam Elo. Elo emang teman yang ngeselin kok. Gak ngajak temannya hidup enak malah mau njerumuskan temannya. Gue ingat berapa kali elo niat mau njerumuskan gue, ngrayu gue ngikutin cara elo. Kagak bisa, kagak mungkin bang" sahut Supri. "Sana cari orang yang lainnya aza yang mau nglakuin" kata Supri setengah mengusir si Acim keluar dari kamarnya. "Aku gak mau dan akan melakukan cara-cara kotor buat nyari tambahan duit. Biarpun hidupku pas-pasan, utangku numpuk di warung banyak dan aku gak punya tabungan apalagi sisa uang yang cukup buat pulang kampung atau ngirim orang tua uang" pikir Supri kembali. "Banyak cara lain bang Acim buat cari uang yang halal" teriak Supri entah didengar atau tidak oleh si Acim yang sudah ngleyor pergi.

Hati nurani Supri tidak bisa menerima dan memberontak dengan adanya cara-cara seperti itu, namun bukan hanya dalam hal itu saja. Sebetulnya hatinya sakit ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa dalam pekerjaannya, dalam kehidupannya dia harus bergaul dengan para pemabuk, penjudi, pezinah, dan bergaul dengan orang-orang yang tak pernah terpikirkan ketika dia masih sibuk ikut pengajian dan semasa sekolah dulu. Supri terpaksa menerima kenyataan seperti itu karena dia bekerja di sebuah usaha pengangkutan yang mengharuskan bergaul dengan orang seperti itu. Dia bisa menerimas orang itu dalam hal pekerjaan, dalam hal nyari duit, namun dia tak akan menerima bila dia harus mengikuti kehidupan dari teman-temannya yang bandel itu. "Gak apa-apa
gak punya teman. Gak pa-pa tiap hari harus dihina, diledekin karena
gak mengikuti caranya. Gak pa-pa hidupku kayak begini, yang penting
aku bisa hidup, bekerja dan sembahyang dengan baik. Siapa tahu Gusti
Allah akan berbaik hati dengan memberi aku hidup yang lebih baik.
Gusti Allah khan Maha Suci, Maha Mendengar, Maha Tahu, Maha Kuasa, dan
Maha Kaya, dan Maha Welas Asih" pikirnya bila ia mendengar ledekan dan
hinaan dari temannya tentang keadaannya.

Sore menjelang perut Supri yang belum sarapan dan makan siang tiba-tiba minta diisi makanan. Supri selama ini hanya mengganjal perutnya dengan Secangkir kopi hitam, pisang satu biji, dan rokok dji sam soe. Ini dilakukan buat menghemat pengeluaran buat makan. Supri pun ke warung langganannya. "Mbakyu (jawa:kakak perempuan) biasa nasi putih, sam telur dadar dan tempe goreng. Minumnya es teh manis" permintaan Supri ke penjual warung tegal. "Baik mas" jawab mbak Dewi si penjual warung. Tak lama nasi pesanannya pun dihidangkan. "Nih Mas" katanya.

Supri pun melahap nasi pesanannya. Setelah makan dia mengeluarkan rokok dji sam soe ecerannya dari kantong baju, ia nyalakan dan menghisap dalam-dalam. Entah apa yang dibayangkan dan dikeluarkan dari hisapan rokoknya itu. "Mbakyu boleh tanya hutang saya sudah berapa ya?" tanya Supri. "Masih belum habis bulan kok tanya Mas" jawab Dewi. "Gak gitu takut hutang saya gede tar gaji bulanan bisa kebobolan. Maaf lho Mbakyu" jawabnya dengan nada sedikit malu. "Gak usah dipikirin mas. Percaya kok mas mesti bayar hutangnya tiap akhir bulan biar dikit atau banyak. Gak kayak teman mas yang lain pada nunggak, bingung mau ditagih jawabanya tar-sok, tar-sok, nunggu
gajian. Padahal kalo gajian jarang bayar lho mas" terang Dewi.

"lho.lho kok bisa begini. Bisa bangkrut nih warung. Uangnya khan buat modal ya mbakyu? Siapa sih orang itu mbakyu? " tanya Supri menyelidiki dan tak lupa ia menghisap lagi rokoknya dalam-dalam. "Ya itu si Acim, mas Bambang, mbah Warno, Mad Uung" jawab Dewi. "Mereka khan juga punya gaji. Mereka khan punya uang. Malah lebih jika dibandingkan dengan uangku ini. Wah kok bisa begitu ya? Mbak gak nagih atau nglaporin ke pak Bambang (bos/pimpinan mereka)" terang Supri. "Nggak ah. Biarin aza. Kalau inget ya sudah. Kalau nggak inget ya di akhirat aj nagihnya. hihihi....." jawab Dewi sambil tersenyum untuk menutupi kekesalan dirinya. "Ya sudah mbakyu. Saya pulang dulu. Biasa
ya. Saya dicatet dulu. Maaf lho mbakyu. hehehe...." kata Supri ketika
mau meninggalkan warung. "Ya gak pa-pa aku ngerti kok" jawab Dewi
sambil tersenyum melihat Supri yang agak malu-malu kalau ngomong mau
hutang makan dulu.

"Ada apa ini kok teman-temanku pada nunggak di warung? emangnya
duitnya buat ngapain aza sih. Kasihan tuh penjual warung. duitnya mau
diputar buat modal. Wah kayak gini harus kuselidiki nih. Teman-temanku
ngapain aza?" pikir Supri dalm perjalanan menuju ke kamar kostnya. Tak
lama ia masuk kamar mandi mau mandi sekalian sholat maghrib.

 

Supri dan Supri

"Kau kira kau begitu senang dengan kerja yang kau lakukan. kau kira kau bangga dengan dirimu yang begitu alim, tak pernah berbuat maksiat apalgi dosa. Kau kira kau orang hebat, berhasil, dan masuk surga nantinya?...." sebuah suara yang begitu nyaring masuk gendang telinga Supri merasuk dalam hati membuat dadanya berdebar-debar, lalu nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang sudah berlari jauh. Ia pun terbangun dari tidurnya yang nyenyak malam itu.

"Astaghfirullah. Siapa yang bersuara itu?" kata dia lirih sambil mengucek matanya dan melihat kiri kanan. "Sepi. Suasana masih sepi masih malam baru jam 03.00. lalu siapa yang bersuara itu?" begitu pertanyaannya dlam hati. Supri pun bangun, meneguk air dalam botol aqua, lalu membuika pintu kamarnya, berjalan ke luar sambil membuka pintu pagar rumah kost dan melihat-lihat keadaan sekeliling. Hanya ada yakob, si penjaga keamanan serta beberapa orang yang kumpul di pos ronda depan rumah kostnya ya sedang minum-minum nampaknya. Ada mbah Warno, mas Guntur, Wawang, dan Sugeng mereka bermain kartu sambil minum. "Mana mungkin orang-orang itu berteriak di kamarku? mereka lagi main kartu tentu gak sempat ke kamarku" pikir Supri. "Lalu siapa ya? Wah daripada pusing mikirin lebih baik ke kamar mandi, cuci muka, lalu balik tidur. Waktu subuh masih lama" tegas Supri lalu ngeloyor ke dalam rumah kostnya. "Hei Supri, ngapain elo?"teriak Yakob. "Nggak apa-apa bang" jawab Supri sambil menoleh sedikit ke arah Yakob dan tersenyum. "Dasar orang aneh" kata Yakob.

Kembali Supri ke kamartnya dan meneruskan tidur setelah dari kamar mandi. Tak lama Supri tertidur pulas, rupanya ia juga ngantuk berat setelah seharian penuh kerja nganterin barang dari kota-ke kota. "Hei Supri. Apa sih yang telah kamu lakukan. Bekerja keras siang-malam, nyopir, nyari duit, lalu istirahat, sholat, makan. Itukah yang kamu kerjakan. Betapa sia-sia dan membnosankan juga. Betapa tak bermakna dan hidupmu dan berwarna. Rutinitas saja kamu lakukan tanpa ada isinya. Lantas kalau begini-begini saja, buat apa kamu hidup? dan menjalani hidup? lantas hidupmu kau arahkan kemana? hidupmu tanpa tujuan? Oh kasihan sekali. Kau hanya menunggu saja, menunggu waktunya tiba" suara yang membuat ia terbangun tiba-tiba terdengar kembali. Antara sadar atau tidak antara hidup dalam mimpi atau nyata tiba-tiba dia melihat dirinya sedang berdiri di depannya. Semuanya persis sama, wajah, badan, pakaian yang dikenakan dan Supri hanya terpaku dengan peristiwa yang dialami. Antara takut dan berani, Supri mencoba bertanya, "Siapa kamu?!". Bulu kuduk Supri berdiri, merinding, "apakah ini hantu atau jin penunggu kamar ini, atau .....ah, bodoh yang terjadi biar terjadi" pikirnya antara sadar atau tidak.

Tiba-tiba Supri merasakan keadaan menjadi gelap sangat gelap sekali, Supri seakan-akan terbang dalam alam gelap, dalam gelombang gelap, ia merasa dirinya melayang pada suatu tempat yang ia sendiri tak tahu kemana? ia hanya mengikuti sebuah gelombang yang mengantarkan dirinya. ia pasrah dan luluh terbawa suasana yang tidak menentu, hingga tiba-tiba berada dalam sebuah lapangan yang terang. Dia pernah mengenal tempat itu, tempat dia bersama orang tuanya melaksanakan sholat 'ied, dan tempat itu sangat ramai. Orang-orang berjalan bertakbir serta mempersiapkan shof lalu duduk rapi sambnil mengumandangkan takbir. Tapi Supri merasa asing di keramaian itu, tak ada yang memperhatikan dirinya dan geraknya seperti orang yang bingung dan kehilangan sesuatu. Supri pun duduk dim pinggir lapangan hanya mengawasi orang-orang itu.

Tiba-tiba bapak, ibunya, saudara-saudara kandungnya, keponakannya kelihatan olehnya berjalan berombongan menuju lapangan itu. Mereka nampak riang gembira sambil bertakbir. Ibunya yang menggendong keponakannya (cucunya), bapaknya yang mengumandangkan takbir sambil seskali ngomong dan bercanda dengan adiknya, lalu kakaknya yang merapikan kerudungnya. "Ha. Itu Orangtuaku, adik-adikku, oh ponakanku yang lucu" terikanya. "Ibu. Bapak. Ini Supri" ia berteriak sambil berlari tapi aneh mereka tidak mendengarkan dan memperhatikan teriakannya padhal jaraknya ia dengan rombongan orangtuanya begitu dekat. Ia mencoba memegang ibunya tapi aneh mereka seakan tidak menghiraukannya malah mereka sibuk mencari tempat untuk sholat, "aneh aku kok diacuhkan"pikirnya. Lalu teman-teman mainnya juga datang ke tempat itu, Supri mengira mereka mendatanginya dan dia pun tersenyum melihat mereka. "Mansur, Dodi, Yunan, Mahmud, Yanto, Eko, gimana kabarnya????"teriak Supri melihat teman-temannya datang. Tapi sekali lagi mereka tak memperhatikan Supri hanya melewatinya begitu saja seperti tak kenal. "Oh. Kenapa mereka tak kenal dan tahu aku ada di sini? Oh aku ini siapa? Aku ini anakmu ibu, aku ini anakmu bapak, aku ini saudaramu, aku ini temanmu. Mengapa kau tak perhatikan aku?" lirih Supri yang tiba-tiba air matanya menetes. Diam-diam Supri terisak menangis, "apakah mereka sudah melupakan aku? apakah memang aku bukan teman mereka, bukan anaknya, bukan saudaranya? lantas mereka itu siapa? dan aku siapa?".

Supri terisak dan terus terisak menangis lirih sambil memanggil nama kedua orang tuanya, saudaranya, dan teman-temannya. Dia menangis dalam kamar itu, sendirian hingga tiba-tiba Yakob datang ke kamarnya dan membangunkannya. "Mas Supri. Mas Supri bangun. Elo habis ngapain? Elo tadi manggil nama siapa? Ngapain Elo nangis?" kata Yakob sambil menggoyangkan kaki Supri untuk membangunkannya. Sontak Supri pun terbangun, "Hah jam berapa ini? Sudah adzan Subuh belum Kob?" Supri bangun sambil melihat jam wekernya. "Sudah dari tadi. Elo habis mimpi apa? sambil nangis serta panggil nama-nama orang?"tanya Yakob. "Kagak ada apa-apa Kob. Cuma tadi antara sadar atautidak ada oran g kayak aku datang nemui aku. Tiba-tiba semuanya gelap entah aku nggak ingat apa-apa. Untung kamu bangunkan kalau tidak, wah sudah bablas" jawab Supri sambil tersenyum lalu Supri pun cepat-cepat ke kamar mandi.

Supri pun kembali kerja seperti biasa seperti tidak ada peristiwa apa-apa dan tak teringast dengan kejadian yang barusan dialami seperti dalam mimpinya. Selalu bekerja buat nyari uang, ngumpulin uang buat pulang mudik di hari raya, begitu mungkin yang ada di benak Supri dalam bekerja. Sebetulnya dia sangat kangen pada orangtuanya, saudara kandung, ponakannya yang lucu, serta teman-temannya, namun kehidupan membuat Supri harus berpisah dengan mereka. Supri pun menyimpan rasa kangennya pada jalanan kota yang macet, pada teman kerjanya, dan pada warung makan.


Maybe Night Will Kill Supri

Tumben kamu kelihatan senang" kata Ali kepada Supri ketika melihat Supri memasuki kamar kontrakannya.

"Tadi aku dapat tabokan lumayan waktu ngirim barang ke rumah orang kaya. Untung aku mau waktu disuruh bos biarpun keadaan hujan deras dan syukur bisa buat bayar utang di warung"katanya sambil senyum-senyum wajahnya. "Tar malam ajak teman-teman kita makan bareng di warung nasi bebek, ya" ajaknya lallu masuk ke kamarnya dan bernyanyi-nyanyi.

"Oke bos. Siap kerjakan" jawab Ali setengah berteriak melihat Supri langsung masuk kamar. "Baik. Tapi jangan nagajak orang banyak, bisa tekor aku" teriak Supri juga dalam kamar.

***************

Malam itu Sesudah isya' Supri dan teman-temannya ada 5 orang sudah berada di Warung nasi bebek. Namanya juga mereka orang kampung dan profesinya Supir tentu banyak canda, cerita, guyonan, dan saling meledek antar sesama teman. Yang menjadi bahan omongan mereka tentu saja tak lepas dari dunia sopir-menyopir, tentang barang yang mereka bawa, tentan orang yang ditemui di jalanan, tentang keluarga mereka, teman mereka, dan bos mereka. Paling dominan dari pembicaraan mereka tentu saja tentang wanita, karena mereka semuanya lelaki dan yang menjadi korban pembicaraan tentu saja si Supri karena masih membujang.

Mereka bercanda tidak melihat suasana, sebelum makanan nasi bebek dihidangkan, ketika makan, maupun sesudah makan. Warung Nasi bebek malam itu menjadi milik mereka biarpun ada beberapa orang yang membeli makanan, tak dipedulikan mereka bahkan malu sendiri lalu cepat-cepat keluar. Entah mereka sedang melampiaskan semua unek-unek dan kekesalan mereka, mereka kaum sopir yang bercanda dengan cara mereka endiri yang kadang orang melihat canda mereka kadang-kadang konyol, tak tahu etika, dan jorok.

"Cukup. Cukup. Sudah malam kasihan mbakyu(penjual warung). Lihat dia mulai mengantuk" kata Ali melihat teman-temannya yang tak juga meninggalkan warung.

"Mbaknya itu gak ngantuk, tapi kebelet sunnah Rasul. Sekarang khan kamis malam jum'at, waktunya jalankan sunnah Rasul. Bener Mbakyu" sahut Guntur yang orangnya asal ceplos saja dalam ngomong.

Mbaknya senyam-senyum aza mendengar Guntur berkata begitu. "Ah nggak Mas Guntur. Ada-ada saja. Masak mau begituan diceritain, tar kalau sudah waktunya khan bisa dimulai. Tanya saja sama Mas Pariyin (suami mbakyu). Nunggu malam dulu, nutup warung, gitu loh Mas" kata Mbakyu menanggapi omongan Mas Guntur.

"Ngerti kok. Cuma bercanda. Kita juga kepingin tapi gak ada lawannya. Lawannya jauh di kampung. Ya terpaksa nganggur deh"jawab Guntur yang tentu saja gara-gara omongannya ini teman-temannya tertawa. Entah mereka menertawakan diri mereka sendiri atau memang omongan Guntur yang lucu.

"Ada lagi . Nih punya teman tapi gak pernah sunnah rasul, padahal tuh anaknya ngerti. Heran aku kenapa bisa begitu?" Tiba-tiba Irfan yang paling gendut ngomong.

"Kamu nyindir aku ya. Kok jadfi aku melulu, kamu sendiri juga bujangan gitu" Supri yang sedari tadi diam saja nyerocos ngomong karewna merasa tersindir.

"Saya sih gak nyindir, cuma ngomong kenyataannya. Buktinya boro-boro punya bini, pacar saja gak punya. Sementara umur sudah tua. Kalau aku khan masih muda tiap malam minggu ada yang kuapelin" jelas Irfan yang emang usianya paling muda diantara teman-temannya.

"Iya mbak carikan nih temanku pacar, tetangga kampung atau anaknya atau ponakan" sahut Edi.

"Anakku masih kecil. Ponakan ada tapi jauh di kampung, kalo janda ada sih tetangga sebelah. Mas Supri suka tipe yang bagaimana sih?" jelas Mbakyu yang juga bertanya pada Supri.

"Ya sementara nggak mikirin dulu, mkir kerja cari duit yang banyak. lau punya rumah, punya mobil, habis itu nikah" jawab Supri.

"Kelamaan Lo. Keburu mati. Elo itu cuma sopir kagak mungkin bisa jadi orang kaya. Ngaca dong. Kalo lihat kaca pion tuh lihat juga wajahmu" kata Uung dengan ketus.

"Elo khan tahu sendiri. Aku makan ngutang, baju ngemplang, tidur numpang, mau buka kutang, ya bisa ditendang. Apa kata dunia sama Supri. hehehe..."kata Supri menngkis omongan dari Uung. Kontan mendengar jawaban itu teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Mereka pun meninggalkan warung. Sepertinya mereka juga punya rencana untuk menggunakan waktu di malam hari sesuai dengan keinginan hati masing-masih. Si Irfan langsung masuk ke kamarnya dan mulai bermain dengan hp-nya dan ngebel ke pacarnya, sambil tidur-tiduran. Si Guntur bersama teman-temannya membuka lingkaran lalu mulai main kartu remi. Si Uung mengambil gitarnya dan bernyanyi lagu-lagu cinta biasanya dia mojok di ruangan. Si Ali yang mantan anak pesantren mengambil wudhu dan mulai mengaji surat Yasin, Ashabul Kahfi. Dan Si Edi bersama mbah Warno ngumpul lalu membeli anggur, bir bintang, mereka mulai pesta minuman keras.

Sementara Supri bersiap-siap tidur. Sebelumnya dia mengerjakan sholat 2 raka'at dan baca qur'an sebentar. Kebiasaannya dulu yang selalu diingatkan orangtuanya bial mau tidur agar tidak diberi mimpi buruk dan dilindungi dari gangguan setan, mahluk jahat, serta bencana. Supri pun yakin akan hal itu. "Supri jangan tinggalkan sholat serta selalu berdoa" begitu pesan orangtuanya ketika mau berangkat merantau ke kota besar.

Tapi malam itu sesudah melaksanakan sholat Supri tidak mengantuk. Dia hanya berdiam diri dan kebiasaannya bila tidak mengantuk dia pergi menyendiri naik ke lantai atas rumah, tempat jemuran pakaian. Mungkin dia pingin melakukan perenungan. Sambil melihat keadaan sekeliling yang dipenuhi rumah-rumah petak kecil, jalanan yang lenggang dan sepi dan hanya beberapa orang yang lewat, suara binatang malam, nyamuk-nyamuk yang berterbangan serta suara pemuda yang bermain gitar dan bernyanyi. "Oh pemandangan yang menjemukan. Hidup yang tanpa pernah ada perubahan hanya menjalani dan menerima hidup" begitu kata dia melihat keadaan lingkungan sekitarnya yang seperti itu, lingkungan kampung.

Sementara penglihatannya diarahkan ke atas, ke arah langit lepas di malam hari. Ada bulan yang bercahaya , bintang yang bersinar di langit yang kebetulan malam itu tidak mendung, dan sesekali melihat benda langit yang bergerak. "Sungguh ini suatu pemandangan yang indah. Menyejukkan hati, Menyenangkan mata. Bulan yang bersinar. Bintang yang bersinar" kata Supri. Dia pun tak bosan-bosan memandang langit, melihat pesona langit yang begitu menakjubkan. "Tentu Gusti Allah bersemayam di atas sana dan Dia pun memandang aku hambanya yang begitu hina ini. Bersama malaikatnya. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan permohonan hambanya di malam sepi ini" kata Supri lirih lalu sambil melihat langit mulutnya komat-kamit seperti berdo'a.

Malam semakin larut sepertinya supri semakin tenggelam dalam perjalanan malamnya. Entah jiwanya terbang kemana, pikirannya melayang kemana, dan Supri pun seperti orang gila atau bodoh yang selalu memandang langit. Pikirannya kosong, sedang tatap matanya setengah ngantuk setengah sayu memandang ke atas langit, kadang smabil mengeluarkan air mata. dia duduk bersandar di sebuah dinding.

Supri tenggelam dalam hayal dalam fantasi, dalam imajinasinya yang tidak karu-karuan. Supri berjalan melewati waktu-waktu yang pernah dilalui dalam kabut gelap. Dia sangat menikmati perjalanan itu, pun dia ingin berjalan menembus kabut yang gelap itu. Terasa jauh meninggalkan awal, dia pun menghilang di balik kabut gelap itu.

"Mas Supri kemana?" tiba-tiba ada suara wanita yang menghentikan perjalanannya.

"Gak tahu aku mau kemana. Aku cuma pingin jalan-jalan mencari sesuatu yang bisa membahagiakan hati" jawab Supri. Dia pun sedikit kaget melihata wanita yang menyapa adalah anak dari orang kaya yang ditemui ketika mengirimkan barang. Wanita itu berpakaian dalam pakaian busanan adat jawa, sangat cantik seperti seorang putri raja, dan Supri hampiur tidak percaya tiba-tiba dia hadir dan muncul.

"Kenapa kamu kok disini?" kata Supri sambil terenyum. Mungkin hati Supri sangat senang dan bangga tiba-tiba bisa bertemu dengan anak itu. Anak orang kaya yang cantik dan masih sekolah di perguruan tinggi namanya Ajeng.

Saat Supri mengirim mobil pada siang harinya. Ajeng itu pertama kali menemuinya. Supri tentu saja blingatan, serba salah, jaim, serta ge-er melihat wanita cantik yang tak pernah ditemuinya kecuali di acara sinetron atau film. Wanita ramah menyapa Supri dan mengajak masuk ke rumahnya buat nemui orang tuanya, tentu saja Supri tambah melayang dan bangga. Masuk ke dalam rumah orang kaya yang rumahnya gedenya gak bisa dibayangkan sebelumnya.

"Gimana kabar bapakmu. Dimana sekarang?" tanya Supri mencoba untuk memecah kebisuan.

"Untuk itu saku datang menemui mas Supri. Aku disuruh papa mencari mas Supri diundang ke rumah papa" jawab Ajeng.

"Ada apa. Ada salah apa?" pikir Supri yang merasa dia hanya orang kecil yang tak pantas bertemu orang kaya.

"Jangan kuatir dan takut, Mas. Datang saja bersam aku. Cepat ditunggu" jawab Ajeng yang melihat ada keraguan pada Supri. Lalu tanpa disadari Supri, tangan Ajeng dengan cepat memegang tangan Supri lalu terbang ke rumah papanya. Supri pun antara senang dan bingung ketika tangannya dipegang oleh Ajeng.

"Baru kali ini tanganku disentuh oleh wanita. Betapa halus tangannya, dingin" pikir Supri. Sambil terbang di samping Ajeng menuju ke rumah papanya. "Wangi juga bau Ajeng. Anak orang kaya tentu terawat semuanya lain dengan anak orang miskin yang ngurus dirinya aja gak pernah" pikir Supri saat mencium bau wangi dari tubuh Ajeng.

Perjalanan ke rumah orang tua Ajeng telah sampai di depan pintu rumah. Di depan pintu rumah ternyata papa- mama Ajeng menyambutnya dengan iring-iringan musik kebo giro (musik tradisional Jawa untuk upacara pernikahan). Banyak orang tapi tak satupun Supri kenal. "Wah ada apa ini" pikir Supri.

Tak lama Supri pun dihadapkan pada meja penghulu. enatah upacara pernikahan model apa? tiba-tiba penghulunya cuma bilang sah. Supri bertambah bingung dan ia seperti kerbau dicocok hidungnya. Duduklah dia di kursi pengantin dan melihat tamu-tamu pada seliweran dan hiburan tarian jawa. hingga waktunya dia masuk pada ruasng pengantin.

Supri tak tahu harus berbuat apa dalam kamar pengantin ketika hanya ada dia dan Ajeng. Supri hanya takjub melihat sebuah kamar yang begitu luas, indah, segar dan membandingkan dengan kamarnya yang begitu sempit, pengap, dan bau karena dekat dengan kamar mandi. "Supri. Ayo kita minum-minum dulu. Rasakan minuman ini yang bisa bikin segar dirimu" tiba-tiba Ajeng berkata dan memecah kebisuan yang terjadi dalam kamar itu.

Supri menerima minuman itu dan melihat minuman itu berwarna hitam segar dalam gelas yang selama ini ada pajang di lemari tamu rumah bosnya. "Ini bukan minuman keras. hanya minuman yang bisa menyegarkan dan membangkitkan semangat kita Mas Supri" kata Ajeng yang sudah berdiri terlalu dekat dengan dengan Supri dan menempelkan badannya. "Ayo diminum mas Supri".

Supri pun meneguknya. "Puhbrur...fuh...cuh..cuh...cuh.." Supri berteriak ketika tahu-tahu dia minum ampas kopi yang telah dingin. "Hah kok aku ada di sini dia atas loteng. Astaghfirullah aku habis ngimpi apa?" kata dia pelan dan memperhatikan suasana sekeliling. Suasana kampung benar-benar sunyi, cuma bunyi dengkuran orang tidur, dan pemabuk yang bernyanyi lagu cinta tak karua-karuan. Lalu tiba-tiba dia bergidik, merinding, dan sebuah angin menghembus dirinya.

"Jangan. jangan aku tadi bertemu dengan........"Supri cepat-cepat turun, ketakutan, dan masuk ke kamar. Tidur menutupi wajahnya dengan bantal. Sementara tanpa disadari oleh Supri dan orang sekitar seorang wanita cantik berwajah pucat dengan rambut terurai panjang dan memakai baju hitam panjang mengikuti Supri dari tadi. Dia pun berdiri memandang Supri dari jendela kamarnya. Memandang Supri dengan tersenyum lalu tiba-tiba menghilang dan hanya ada suara jeritan dari seorang wanita.

Bekasi 01 maret 2008

BIODATA

Fitrah Anugerah. Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, dan aktif menulis di Apresiasi satra serta Blog. Sekarang bekerja di Bekasi, di perusahaan ekspedisi dan bertempat tyinggal di Jl. Patuha Raya No.01 Blok 21, Perum Wika, Bekasi Selatan. No HP. 021 94571950. Alamat e-mail : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya dan Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Vnet

Iklan Kampanye

Advertising

Top Kontributor

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.