| Menguatnya Ideologi | ||||
|
Percakapan tentang ideologi tampak semakin penting diajukan dalam mengatasi persoalan bangsa di tengah menguatnya krisis dunia saat ini. Orang kembali membongkar dan mengkaji sistem dunia yang sedang berjalan serta berusaha mencarikan alternatifnya. Tantangan ini tampak jelas disampaikan Ahmad Erani Yustika, dalam “Menelanjangi Liberalisme” opininya yang dimuat Kompas, 13 Oktober 2008. Ahmad Erani Yustika menulis:”Jadi, yang dibutuhkan saat ini adalah kontestasi pemikiran genial yang tidak diikat fanatisme dua fundamentalis ideologi ekonomi itu.” Yang dimaksud yaitu ideologi liberalisme dan sosialisme. Ahmad Erani Yustika memang tidak memberikan alternatif ideologinya. Karena itu justru kembali terkesan mencari jalan tengah atau kompromi di antara dua karang ideologi tersebut. Percakapan tentang ideologi ini terpaksa harus ditarik ke belakang agar berada dalam situasi-situasi yang pas atas kemunculan ideologi yang dimaksud serta cara pandang terhadap dunia yang mempengaruhi atau menjadi syarat-syarat keberlangsungan ideologi tertentu. Cara pandang terhadap dunia ini tentu saja adalah problem filsafat yang sepanjang abad sampai kini masih berkutat pada pertarungan dua dasar pemikiran yaitu materialisme dan idealisme. Mengapa hal ini perlu dikemukakan? Karena jelas Ahmad Erani Yustika memulai artikelnya dengan apriori yang negatif terhadap gagasan yang mengusung “indahnya pemerataan” dan menganggapnya sebagai sebuah khayalan pun serta tak mempercayai impian kapitalisme. Sementara, dua ideologi ini bila digali lebih dalam, akan kembali ditemukan watak hakiki dalam cara memandang dunia yaitu berdasarkan materialisme atau idealisme. Masing-masing memiliki akar sejarahnya yang panjang yang memaksa kita harus kembali ke bacaan-bacaan klasik hasil kontemplasi filsuf-filsuf Yunani Kuno dan perkembangan yang mencerahkan dalam peristiwa besar Revolusi Prancis tahun 1789. Nilai penting apa yang bisa diambil dari Revolusi Prancis untuk perkembangan dunia saat ini? Yakni tentu saja “kepercayaan” bahwa dunia bisa diubah. Feodalisme yang sudah mendarahdaging dan berakar urat itu dapat ditumbangkan. Kapitalisme pun tampil di panggung dunia dengan segala efek buruknya yang menyengsarakan umat manusia sehingga memunculkan gagasan akan kehidupan “sama-rata, sama rasa” di dunia. Semua itu menjadi percakapan yang keras dan meluas di Prancis pasca revolusi yang tercermin dalam dua aras sosialisme yakni sosialisme utopi dan sosialisme ilmiah. Di Prancis pula, Karl Marx menggali dan mensistematisasi ajaran sosialisme ilmiahnya sebagai alternatif dari Kapitalisme dan ketidakmungkinan cara kerja sosialisme utopi model Saint Simon dan Proudhon misalnya, atau Robert Owen. ![]() Kapitalisme, sebagai kenyataan sistem ekonomi dan politik, memang masih merajai dunia sampai saat ini setelah menghadapi tantangan ideologi yang keras dari sistem sosialisme Uni Soviet selama hampir satu abad. Bila dihitung dari semenjak kemenangannya dalam Revolusi Prancis, kapitalisme baru berusia 220 tahun, dua abad lebih sedikit. Dan dalam kenyataan, sistem ekonomi politik sosialisme juga tidak semuanya rontok di dunia ini. Masing-masing terus memperbaiki diri. Berganti kulit dalam menyesuaikan kelangsungan masing-masing sistemnya. Kapitalisme dengan berbagai wajah dan ornamennya sedangkan sosialime mulai dari kekakuan menjalankan sistem sampai pada Sosialime Abad 21 yang diusung Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Keduanya pun, tak bisa dihindari: saling serang, mencari pengikut dan berusaha memperbesar pengaruh di panggung dunia bahkan tak segan-segan, Rusia yang sementara sudah anteng tak terlibat dalam percaturan politik dunia, tiba-tiba dengan kekuatan sumber daya nasional penuh terlibat dalam konflik dengan Georgia, negeri tetangganya, hanya karena kepentingan nasionalnya merasa terancam. Apa yang menggerakkan semua itu? Dan hari-hari ini, kita terus dikejutkan dengan perkembangan temuan alam semesta, simulasi Big Bang sebagai awal mula terjadinya jagad raya; keterlibatan China; pun India dalam penguasaan angkasa raya dan seterusnya. Sementara, kita di sini, masih sering disibukkan dengan urusan-urusan yang begitu menguras energi tapi jauh dari kepentingan memajukan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia seperti porno dan tidak porno. Apa yang menggerakkan semua ini? Usia manusia memang singkat. Umumnya, tak lebih dari satu abad saat ini. Tetapi sejarah manusia dan alamnya membentang jutaan tahun. Hanya cara pandang terhadap dunia dan ideologilah yang dapat merangkum tugas kemanusiaan dan cita-citanya. Sebagaimana ruang angkasa tampak tak terbatas, ia terbatas sesuai dengan kemampuan daya pikir dan pergulatan ilmu pengetahuan kita sendiri. AJ Susmana
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||
| Terakhir Diupdate ( Selasa, 06 Januari 2009 22:45 ) |




Percakapan tentang ideologi tampak semakin penting diajukan dalam mengatasi persoalan bangsa di tengah menguatnya krisis dunia saat ini. Orang kembali membongkar dan mengkaji sistem dunia yang sedang berjalan serta berusaha mencarikan alternatifnya. 




