JF Kennedy : Ich bin ein Berliner
Oleh A.Kohar Ibrahim    Kamis, 13 Desember 2007 15:53    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

JF Kennedy : Ich bin ein Berliner
Variasi Impresi Tembok Berlin

Esai Sosio-Budaya
Sekitar Tembok Berlin (2)
Oleh: A.Kohar Ibrahim


« ICH bin ein Berliner », Saya seorang Berliner, ujar John Fitzgerald Kennedy  yang merupakan ekspresi paling masyhur dari impresi Presiden Amerika Serikat itu ketika mengunjungi Berlin 26 Juni 1963. Ungkapan simbolistis dari pidatonya di depan ribuan massa di sisi barat Tembok Berlin itu merupakan bagian dari sejarah tegak-runtuhnya alat pemisah hubungan manusia yang paling masyhur di abad modern ini.

 

Tak pelak lagi, tegak-runtuhnya Tembok Berlin sesungguhnyalah merupakan simbol bersejarah perjuangan masyarakat manusia bukan saja bagi rakyat Jerman, melainkan juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perjuangan antara kebiadaban dan peradaban yang dalam bentuk tertingginya berupa kekerasan bersenjata atau peperangan. Apakah perang itu sebagai peperangan terbuka ataukah yang disebut perang dingin.

Dampak perjuangan hidup-mati itu secara langsung maupun tak langsung dialami manusia di mana-mana. Seperti terbuktikan adanya ekspresi dan impresi yang sangat bervariasi – baik yang secara spontan maupun sebagai hasil pemikiran,  perenungan, memoar atau kenangan.

Ekspresi saya dalam bentuk tulisan, apakah prosa maupun puisi, hanyalah sebagai salah satu macam impresi atas Tembok Berlin yang bersejarah. Tak ubahnya sebagai setetes air di Sungai Spree yang dilintasi Tembok Memalukan itu. Tembok Memalukan sekaligus mengerikan yang ditegakkan manusia untuk memisah-misahkan atau menghalang lalu lintas manusia secara bebas merdeka. Yang memecah belah bangsa dan keluarga orang Jerman.

Tembok yang didirikan sejak 13 Agustus 1961 itu telah bersimbah darah dan air mata. Tembok yang di sisi baratnya penuh corat coret  dan gores garis warna serta baris baris kata yang mengekspresikan aneka ragam perasaan dan pikiran. Tembok yang tergemakan dalam lagu, terungkapkan dalam beragam terbitan, lukisan, foto dan gambar hidup yang ditayangkan layar kaca internet, layar lebar maupun televisi nasional dan internasional.

Di depan tembok yang menjijikkan sekaligus mempermalukan manusia beradab itu berbagai perasaan dan pikiran bisa terekspresikan dalam beragam cara pula. Apakah berupa dendam tersimpan bagai api dalam sekam, ataukah kesedihan, ataukah kemarahan yang menggelegak ; ataukah juga dalam ragam wacana dan pertanyaan. Kenapa hal itu terjadi di abad modern kehidupan masyarakat manusia ini.

«Tembuk itu memang menjijikkan tapi juga mampu mengusik hati dan pikiran, » kata Elke, mahasiswi Jerman ketika menemaniku menelusuri Bethaniendamm, kwartir Kreuzberg. Sepertinya merupakan ekspresi yang berbaur pengakuan dan penyesalan sekalian konstatasi yang hakiki. Dia adalah salah seorang Berliner asli sekaligus saksi mata, sejak usia 10 tahun ketika daerah itu dibatasi hanya oleh pagar kawat berduri maupun selanjutnya ketika tembok berbeton itu ditegakkan. Gadis itupun mengaku, kerap kali dia mencatat dalam buku hariannya yang berkenaan dengan tembok yang melukai hati dan pikirannya itu. Terutama sekali pada saat-saat tersiar berita adanya korban tewas atau luka-luka, lolos maupun tertangkap ketika berdaya upaya melintasinya. Bahkan, dia pun turut meniru para pelukis, grafitis atau tagis untuk mengisi ruang kosong atau bertumpang tindih.

Elke mengajak aku mendekat untuk menyimak seruas tembok itu, sembari menuding : « Ini yang masih agak jelas, » ujarnya pada baris baris kata yang ditulisnya dengan gaya kaligrafi, sekalipun hanya setinggi belasan sentimeter, berbunyi : « I love Berlin but I hate this wall ! »

Sesungguhnya, timbulnya perasaan cinta dan benci itu adalah manusiawi. Baik yang  hanya terpendam ataukah yang bisa dinyatakan dalam beragam macam bentuk dan cara untuk mengekspresikannya. Perasaan itu bisa timbul dan diayomi dalam kesementaraan bisa pula lama bahkan dalam keabadian bagi yang memiliki keyakinan akan kehakikiannya. Cinta dan benci pun bisa silih berganti atau bercampur baur lantaran jaraknya yang tipis saja.

Sejalan dengan waktu, beragam variasi ekspresi pernyataan perasaan dan pikiran manusia tergores garis dalam beragam warna dan nuansa serta bentuk di sepanjang  dinding Tembok Berlin itu. Variasi ekspresi dari persoalan sederhana, sehari hari sampai pada hal ihwal yang pelik bersangkutan dengan politik. Dalam berbagai bahasa. Meski yang kebanyakan adalah dalam bahasa Jerman. Yang belakangan ini pada umumnya dibikin oleh orang Jerman sendiri. Sedangkan dalam bahasa lainnya bukan tidak jarang dilakukan oleh orang asing atau wisatawan yang memanfaatkan kunjungan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran seketika.

Ekspresi yang beragam bentuk dan warna warni ataukah hanya sekedar corat coret sederhana maupun sebagai hasil komposisi seni rupa itu sarat makna yang mendasar. Akar sejarahnya pun sangat panjang lagi mendalam. Sebagai suatu hasrat keinginan dan perbuatan untuk menyatakan perasaan dan pikiran selaku manusia. Bukankah apa dan bagaimana manusia mengekspresikan diri sudah terbuktikan dari penemuan lukisan dinding pra-sejarah di guha Pech-Merle. Gores garis gambar atau lukisan di kawasan Lascaux Perancis itu dibuat sekitar 35.000 tahun yang lalu ! Suatu bukti, sejak itu manusia senantiasa berhasrat mengekspresikan perasaan dan pikiran serta imajinasinya. Ekspresi yang  berkenaan dengan aktivitas-kreativitas kehidupan masyarakat manusia dan alam seputarnya.

Tak peduli apakah berekspresi itu dengan cara yang sederhana ataukah yang sempurna ; primitif ataukah modern. Dari segala variasinya yang tak terperikan, hakikatnya adalah sama saja : keinginan manusia yang mendasar atau yang azasi untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Selaras dengan situasi dan kondisi obyektif dan juga selaras dengan kemauan dan kemampuan diri manusia masing-masing.

Maka demikianlah bentuk dan ragam atau variasi ekspresi manusia yang terlihat di sepanjang Tembok Berlin itu. Masing masing dengan kemauan dan kemampuan serta caranya sendiri. Gores garis corat coret ataupun yang dikomposisikan, warna dan kata kata itu merupakan perwujudan ekspresi diri untuk berkomunikasi. Dengan begitu pula, dinding Tembok Memalukan itu telah menjadi media komunikasi antar manusia secara langsung maupun tak langsung. Baik tertuju pada perseorangan maupun – dan mau tak mau – kepada segala macam manusia dari segenap penjuru dunia.

Dari berbagai bentuk ekspresi di dinding Tembok Berlin itu, yang paling menonjol adalah ekspresi yang tergolong senirupa, lebih kongkretnya adalah yang berupa komposisi kaligrafi atau grafiti. Yang terselang seling oleh gores garis atau orat oret baris baris kata seperti : « I love you… », « Make love not wall », « LIEBE IST Leben, Leben IST Liebe », « Be human », « Wir sind das volk » dan sebagainya lagi dalam berbagai bahasa. Kesemuanya adalah hasil karya dari orang yang  dikenal maupun yang tak terkenal, yang awam maupun yang profesional.

Berbagai variasi ekspresi itu teristimewa sekali hadir dan tersajikan secara spontan pada saat-saat dinding tembok masyhur itu diruntuhkan. Yang disusul pada saat-saat memperingati tegak-runtuhnya. Hingga tak terbilang banyaknya orang biasa,  seniman atau pelukis menggubah karyanya dengan atau terinspirasikan olehnya. Maka disukai atau tidak, Tembok Berlin telah menjadi galeri ruang terbuka yang terpanjang di dunia !

Tak mengherankan memang, jika diingat bahwa Berlin pun memiliki tradisi kesenian yang tinggi – dalam beragam kesenian, termasuk senirupa. Pada bagian lain, ada baiknya kita singgung lebih khusus perihal ini. Hanya untuk mengungkapkan makna kedinamikaan kreativitas manusia dalam mengekspresikan perasaan dan pikiran dengan pesan, kesan atau impresinya.

Begitulah pula halnya ekspresi dalam bentuk dan cara yang lain yang didasarkan pada keberadaan Tembok Berlin atau terinspirasikan olehnya. Kesemuanya sarat akan makna. Seperti dalam seni musik, dengan karya yang paling terkenal dari Pink Floyd berjudul « The Wall ». Suatu gubahan musik monumental yang bukan hanya dalam bentuk berbagai rekaman, melainkan juga dikumandangkan lewat konser konser internasional bahkan dalam bentuk film animasi-musikal dengan judul serupa.

Ekspresi dalam bentuk film, selain « The Wall », juga tak terbilang banyaknya dalam  ragam film dokumenter ; ada pula serangkaian film fiksi atau semi-fiksi. Seperti antara lain yang terkenal dengan judul-judul « Le sauteur du mur » (karya Reinhard Hauff) ; « Les années de plomb » (karya Margarethe von Trotta dan Peter Schneider) ; « Good bye Lenin » (karya Wolfgang Becker).

Sedangkan dalam karya tulis atau kesusastraan, tak kurang pula ragam variasinya, baik  dalam bentuk prosa maupun puisi. Berkas berkas karya tulis yang makna pentingnya untuk memaknai kehidupan kota Berlin merupakan rangkaian yang berkesinambungan. Baik sebelum dan sesudah tegak-runtuhnya Tembok Berlin. Tertuma sekali yang diungkapkan oleh para penyair, baik Jerman maupun dari mancanegara, termasuk Indonesia. Seperti yang diekspresikan oleh penyair Indonesia asal Bali : Putu Oka Sukanta. Yang secara kebetulan berkesempatan menghayati harmal (hari-malam) bersejarah runtuhnya Tembok Berlin. Hasil kreasinya yang berupa kumpulan puisi berjudul « Die Mauer Die Sonne Berlin ». Tembok Matahari Berlin.

Kupuisi « Tembok Matahari Berlin » Putu Oka Sukanta itu meski tipis namun monumental maknanya dalam memaknai Tembok Berlin. Suatu karya yang turut menggores lembaran sejarah, tak kalah pentingnya dari ekspresi John Fitzgerald Kennedy : « Aku seorang Berliner ». Kebenarannya  memang: langsung maupun tak langsung, dari dekat maupun dari jauh,  kita semua yang hidup di zaman ini adalah « orang Berliner ». ***

Catatan : Serial esai STB pernah disiar Harian Batam Pos dan DepokMetro Online 2004. A. Kohar Ibrahim pelukis, penulis, kolomnis – aktivitas-kreativitas & biodata simak http://16j42.multiply.com

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diupdate ( Sabtu, 03 Januari 2009 11:53 )
 
 

Blog Bekasinews

Biker's

Berita Unik

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.