Membangun Ciseeng Dan Parung Menjadi Kota Satelit
Oleh Harrison Papande Siregar    Minggu, 20 November 2011 20:48    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 4
KurangTerbaik 
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Salah satu cara mengurangi  beban kepadatan penduduk dan bencana alam di DKI Jakarta dengan mengintegrasikan pembangunan infrastruktur kota  Kecamatan Parung dan Ciseeng. Namun, pembangunan  infrastruktur  di  sana  belum memadai, dibandingkan kota-kota satelit lainnya,

 Kira-kira  2,5 juta warga komuter  dari DKI Jakarta bertempat tinggal di  kota-kota satelit seperti Bogor, Bekasi, Tangerang dan Depok. Komuter  berasal dari bahasa  Inggiris  Commuter; yaitu seseorang yang  datang ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap  hari (pulang-pergi).  

 Idealnya penduduk Jakarta sekitar 6,5 juta jiwa. Pada siang hari, jumlah penduduk  mencapai 12,1 juta jiwa (9,6 juta penduduk DKI Jakarta dan 2,5 juta warga komuter). Padahal, daya tampung DKI Jakarta  maksimal 12,5 juta jiwa. Jika tidak ditangani secara serius, Jakarta akan menghadapi krisis multidimensi yang sangat parah, terutama  kerusukan lingkungan.

Sebagian anggaran infrastruktur 2011-2014 sebesar Rp 755 triliun pada program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) perlu  diperuntukkan bagi    pembangunan kawasan Kecamatan Ciseeng dan Parung. Karena untuk meningkatkan kesejahteraan  masyarakat diperlukan peningkatan infrastruktur  yang sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.

 

Tidak  mungkin tumbuh ekonomi,  kalau pembangunan infrastruktur, seperti sarana jalan  masih tersendat-sendat. Karenanya, untuk menciptakan Kecamatan Ciseeng dan Parung menjadi kota mandiri, kota hijau dan kota satelit, Pemda Bogor dan Pemerintah perlu memperbanyak pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur tidak hanya berfungsi sebagai generator ekonomi, tetapi juga  pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan kelestarian lingkungan hidup.   

 

Belum optimalnya  kualitas  pembangunan infrastruktur jalan desa dan jalan raya di  kedua kecamatan itu telah menghambat perekonomian, antara lain  berwirausaha secara berdaya saing melalui usaha kecil dan menengah (UKM).

 

 Tertundanya pelebaran jalan raya Cogreg jelas menghambat perekonomian.. Kalau dibiarkan terus, hal ini bertentangan dengan proyek MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang dicanangkan Presiden SBY. Proyek MP3EI sangat berperan dalam menjaga dan meningkatkan daya saing   produk barang dan jasa..

 

Prapatan Ciseeng dan Jalan  Raya Cogreg semula jalur alternatif agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di Ciputat dan Parung, malah kini  rentan  kemacetan. Maka,  pelebaran  prapatan Ciseeng dan Jalan  Raya Cogreg yang telah lama ditunggu masyarakat, harus  segera diwujudkan guna menambah daya tampung kendaraan yang keluar  masuk dari  Bogor dan BSD. Bila tidak diperlebar, kondisi jalan yang saat ini sempit dan semraut,  akan terus menimbulkan  kemacetan.                                                                                                    

Rencana pelebaran Prapatan Ciseeng dan Jalan  Raya Cogreg membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga Pemda harus memutakhirkan data-data daerahnya yang di lalui pelebaran jalan Cogreg, terutama berapa banyak  rumah dan lahan yang akan diganti.  Menunda-nunda pelebaran jalan raya Cogreg hanya akan merugikan negara karena  harga tanah per meter selalu naik setiap tahun. 

Harga tanah di sepanjang jalan raya  Cogreg, minimal Rp 500.000 per meter persegi. Bila pemilik tahan harga, harga jualnya bisa  lebih tinggi. Kalau punya uang, investasi yang aman  membeli tanah di Kecamatan Ciseeng dan Parung,. Sebab, harga tanah pasti makin tinggi dari tahun ke tahun.

Melonjaknya harga tanah di Kota Kecamatan Parung dan Ciseeng  dipicu rencana pelebaran jalan raya Cogreg sejak  tahun 2006 lalu. Orang pun  melirik tanah-tanah yang letaknya  strategis untuk pengembangan usaha. Kondisi ini ditangkap  sebagai peluang  mendapatkan uang banyak oleh orang-orang yang jeli  melihat pelebaran Jalan Raya  Cogreg dan  perluasan prapatan Ciseeng.      

Ditengah-tengah Jalan Cogreg  perlu dibuat taman yang dilengkapi dengan lampu, guna menghiasi wajah kecamatan Ciseeng dan Parung di kala malam hari. Kini Parung dan Ciceeng harus dijadikan kota mandiri dan kota satelit. Kita menginginkan perubahan wajah kecamatan tersebut, terutama pembangunan infrastruktur. pelebaran jalan  menjadi salah satu agenda besar DPRD dan  Pemkab Bogor dalam merubah dan mempercantik wajah Kota  Kecamatan Ciceeng dan Parung.

Dengan pembangunan infrastruktur yang memadai, Kota Parung dan Ciseeng akan menjadi incaran para pengembang, karena letaknya  strategis. Terlebih, masyarakat luas sudah  lama menanti pelebaran  jalan raya Cogreg. Berbagai upaya harus terus dilakukan Pemda dan DPRD, untuk merubah wajah  bundaran (prapatan) Ciseeng dan jalan raya Cogreg  menjadi lebih elok dan sedap dipandang. Salah satunya, dengan pelebaran jalan disepanjang Jalan Raya  Cogreg,  dengan  8 jalur  dan  ditambah jalur untuk  pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Walau hanya kota kecamatan, cukup ramai. Banyak orang berpindah dari  Serpong, Jakarta serta Tangerang, Depok dan  menetap di Kecamatan Ciseeng dan Parung. Buntutnya, harga tanah pun makin mahal. Akibatnya permintaan  bidang tanah terus  meningkat, karena jumlah penduduk kecamatan semakin  bertambah. Permintaan tanah yang semakin meningkat ini, membuat harga tanah atau lahan sebagai tempat berpijaknya bangunan atau rumah menjadi semakin mahal.

 

Harrison Papande Siregar-Mahasiswa Universitas Indonesia-FISIP

Comments
Add New Search
DpcSZgACjYbKdV  - 1bRlBqL6Q7     |1.195.241.xxx |2012-03-29 09:25:23
sweetheart wedding dresses wedding gowns uk wedding gowns uk halter neck wedding dresses plus size wedding gowns
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
 

Blog Bekasinews

Biker's

Berita Unik

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.