Kambing Hitam
Oleh Firman Rudiansyah    Sabtu, 10 September 2011 13:38    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
SALAH dan benar dalam kehidupan manusia itu, ibarat ada lelaki dan perempuan. Mereka sudah menjadi jodoh sejak manusia belum mengenal tentang yang namanya salah dan benar itu sendiri. Karena itu, wajar jika ada seorang lelaki senang kepada perempuan. Dan menjadi wajar juga, jika lewat sebuah kesalahan, manusia akhirnya bisa belajar dan mengetahui tentang apa itu kebenaran.

Apa sih sebetulnya yang disebut salah itu? Tentu tak mudah untuk menjawabnya. Sebab, masing-masing orang punya cara sendiri-sendiri untuk menentukan apakah sebuah perbuatan yang sedang dilakukan itu, layak untuk disebut sebagai salah atau benar. Karena itu, salah menurut si fulan, belum tentu juga berarti salah menurut orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Yang jelas, menurut orang-orang pintar, sesuatu itu bisa dikatakan salah, apabila ada sesuatu perbuatan yang tidak dilakukan sehingga mengakibatkan orang lain akhirnya menganggap perbuatan itu sebagai sebuah kesalahan. Sesuatu yang dimaksud bisa berupa etika, aturan hukum, syari’at, atau norma yang berlaku di masyarakat. Singkat kata, siapa saja melakukan sesuatu tetapi tidak mengindahkan etika, hukum negara, hukum adat, hukum agama dan norma yang berlaku di masyarakat, maka dapat dipastikan, perbuatannya itu akan dihukumi oleh masyarakat sebagai perbuatan salah.

***

BAGAIMANA jika yang melakukan perbuatan itu, misalnya, adalah seorang presiden, apakah masyarakat kita berani menjatuhkan hukuman salah atas perbuatan yang dilakukan oleh sang presiden tersebut? Kalau perbuatan itu terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru dulu, maka bisa dipastikan, tak ada satu pun anggota masyarakat kita yang berani untuk menjatuhkan hukuman salah atas perbuatan sang presiden.

Sebabnya kenapa? Karena, sebelum masyarakat mengatakan sang presiden telah melakukan kesalahan, maka biasanya mereka-mereka yang berani angkat bicara, akan ditangkap satu per satu oleh aparat intelejen negara.  Mereka akan dikenai pasal subversib atau pasal tentang pencemaran nama baik sang presiden. Tapi itu dulu. Hukumannya? Bisa seumur hidup. Sebab, biasanya, kasus seperti itu, tanpa harus diproses lewat pengadilan terlebih dahulu. Jadi, begitu tertangkap, langsung dijebloskan ke dalam penjara.

Bagaimana kalau sekarang? Wooow ... jangan ditanya. Masyarakat yang hidup di zaman reformasi seperti sekarang ini, rata-rata pemberani semua. Jangankan tertangkap mata tengah melakukan kesalahan, wong dalam kondisi benar saja, masyarakat berani menuding sang presidennya telah melakukan kesalahan. Apalagi, jelas-jelas sang presiden terbukti telah melakukan kesalahan, alamat bakal mendapat hujatan dari masyarakat secara bertubi-tubi.

Hal itu mereka lakukan, karena mereka tidak takut ditangkap oleh aparat intelejen. Sebab, kalau sampai aparat intelejen berani berbuat semena-mena --- seperti pada zaman Orla atau Orba dulu --- maka mereka akan ’nyanyi’ habis-habisan lewat media massa. Baik itu lewat media massa lokal, nasional maupun internasional. 

***

BAGAIMANA jika yang salah itu adalah diri mereka sendiri, apakah mereka juga berani menghukum diri mereka sendiri? Jawabnya, belum tentu. Mengapa bisa seperti itu? Sebab, rata-rata  jiwa pemberaninya manusia Indonesia itu akan muncul kalau persoalannya menyangkut tentang kisah perjalanan hidup orang lain. Apalagi jika kisah itu berisi tentang kejelekan, kejahatan dan kesalahan orang lain, wooow ... mereka terkenal sangat jago dan sangat piawai sekali.

Contohnya, lihat saja bagaimana sangat sigapnya orang-orang yang ingin membuka peti daftar kesalahan tentang Pak Harto saat beliau menyatakan lengser keprabon. Hanya selang waktu satu hari saja, mata rakyat Indonesia jadi terbelalak. Mereka seakan tak percaya saat menyaksikan dan membaca segudang daftar catatan tentang kesalahan yang pernah dilakukan oleh Pak Harto, baik lewat teve maupun media cetak.

Bahkan, tak jarang, beberapa di antara mereka itu ada yang bertanya-tanya dalam hati. ”Apa iya Pak Harto telah melakukan semua kesalahan itu? Jangan-jangan yang melakukan kesalahan itu adalah anak buahnya, bukan dia? Kalau ternyata yang melakukan kesalahan itu adalah anak buahnya, maka ndak adil dong namanya jika kesalahan itu ditimpakan kepada dirinya. Masak sih ndak ada sisi baiknya sama sekali pada diri Pak Harto?”

Sekarang, coba Anda perhatikan bagaimana sikap orang yang membongkar kesalahan Pak Harto itu ketika ia sedang ketanggor masalah hukum. Jelas-jelas banyak saksi melihat ia telah memukul muka seorang anggota dewan, tapi masih juga mau berkelit dengan mengatakan bahwa ia tidak secara sengaja ingin memukul sang anggota dewan, melainkan hanya ingin mengingatkan saja. Mengapa ketika membongkar aib orang lain berani mati-matian, sementara jelas-jelas telah melakukan perbuatan aib di depan banyak orang tak mau mengaku salah?

Itulah manusia Indonesia. Mereka sangat pandai dalam menguak kesalahan orang lain yang berada di seberang pulau. Sementara, kesalahannya sendiri yang nampak sangat jelas di depan matanya, ia ingkari dan ia nisbatkan pada orang lain. Binatang kambing berwarna hitam yang tak ada urusan dengan dirinya pun, ia sebut-sebut sebagai sumber biangkerok dari semua kesalahan yang telah ia lakukan saat itu.  

***

MENURUT banyak orang, salah satu pekerjaan yang paling enak dilakukan di dunia ini adalah, menunjuk hidung orang lain daripada menunjuk hidung sendiri. Sebab, menunjuk hidung orang lain itu jauh lebih gampang untuk dilakukan daripada menunjuk hidung sendiri. Cukup dengan mengacungkan telunjuk ke arah depan, dalam hitungan detik, sudah bisa sampai di tujuan. Sementara untuk bisa menunjuk hidung sendiri, maka kita harus memutar pergelangan tangan terlebih dahulu baru bisa sampai ke hidung kita sendiri.

Mungkin karena prosesnya agak sulit itulah, makanya banyak orang akhirnya memilih untuk berlomba-lomba menunjuk hidung orang lain daripada menunjuk hidungnya sendiri. Yang jelas, menunjuk batang hidung sendiri itu, jika arah dan caranya tidak tepat, maka bisa mengakibatkan mata kita jadi kecolok telunjuk jari kita sendiri. Kalau sudah kecolok dan mengakibatkan mata kita jadi buta, maka apa gunanya kita menunjuk hidung kita sendiri? Mending menunjuk hidung orang lain, itu kata mereka.

Bagaimana kalau, misalnya, ada orang lain yang tetap nekad untuk mengarahkan telunjuknya ke hidung kita? Untuk perkara yang satu ini, sungguh mati saya menyarankan, sebaiknya orang tersebut segera saja mengurungkan niatannya, agar peristiwa buruk yang tak diinginkan, tidak sampai terjadi.

 

*Firman Rudiansyah adalah seorang junalis, guru dan praktisi buku, tinggal di Jogjakarta.

Comments
Add New Search
HBwn1G8qZSOdc  - swy34u4D2k     |1.195.241.xxx |2012-03-29 09:25:04
short bridesmaid dresses princess wedding dresses grecian style wedding dresses mermaid wedding dresses 2012 wedding gowns 2012
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
 

Blog Bekasinews

Biker's

Berita Unik

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.