| Lapangan Merdeka & Monas Pancasila | ||||
|
Sekarang dikenali sebagai Lapangan MoNas, dahulu disebut Lapangan IKADA, tempo doeloe dikenang sebagai Lapangan Gambir, yang jelas sejarah mencatat bahwa Rapat Besar IKADA tanggal 19 September 1945 berperan selaku semacam Perayaan Kemenangan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yang produk Revolusi Rakyat Pro Indonesia Merdeka. Rapat Besar IKADA itu diprakarsai oleh Pemoeda-pemoeda jalan Menteng 31 yang menyebut dirinya Committee van Actie, yang fakta lapangan dikawal oleh perangkat bersenjata Penguasa Militer kala itu yaitu Pemerintah Pendudukan Militer Jepang.Situasi dan kondisi itu tampaknya menjadi reinkarnasi di Lapangan Tahrir (yang berarti Merdeka), Kairo, yaitu Perayaan Kemenangan Revolusi Mesir 11 Pebruari 2011 oleh elemen2 Pro Demokrasi dibawah kawalan perangkat bersenjata Pemerintah Sementara Transisi Militer. Oleh karena itulah selayaknya Lapangan MoNas itu segera menjadi LAPANGAN MERDEKA, apalagi faktanya memang sudah dikelilingi oleh Jalan-jalan Protokol Merdeka Utara, Timur, Selatan dan Barat. Sedangkan MoNas sendiri seharusnya bernama lengkap MONUMEN NASIONAL PANCASILA seperti yang telah dinyatakan oleh Petisi-17 tanggal 13 Januari 2011 yang baru lalu, antara lain beralasan yaitu : (1) Wujud Api Emas diatas bangunan tugu adalah dapat menjadi perlambang Sumber Cahaya Sila-1 Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan (2) Wujud Segi Empat bangunan tugu dan cawan adalah dapat menjadi perlambang kiprah Sila-sila 2, 3, 4. 5 Pancasila, sebagai turunan makna Sila-1 Pancasila itu sendiri, yaitu (2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan dan (4) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (3) Alinea IV Pembukaan UUD45 mengandung sila2 Pancasila yang diwakili oleh bentuk segi empat bujur sangkar komponen utama MoNas (4) Alinea IV Pembukaan UUD45 dapat diaktualisasikan berupa : 4.1 Atap Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia” 4.2 Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia” 4.3 Pelataran Bawah MoNas sebagai perlambang “mencerdaskan kehidupan bangsa” 4.4 Pelataran Dasar MoNas sebagai perlambang “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social 4.5 Sosok Tugu MoNas yang menjulang tinggi 132 meter sebagai perlambang “Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat” (5) Dan angka 132 itu bilamana dibagi angka 3 ditemukan angka 44 yang adalah perkalian angka 11 dengan angka 4, dan komposisi angka 114 itu adalah dipahami sebagai berarti Menerangi Jakarta, 19 Pebruari 2011 Komite Nasionalis Pancasila, Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545 / Anggota DHD45 Jakarta, Jl. Menteng Raya 31, JakPus 10340
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|




Sekarang dikenali sebagai Lapangan MoNas, dahulu disebut Lapangan IKADA, tempo doeloe dikenang sebagai Lapangan Gambir, yang jelas sejarah mencatat bahwa Rapat Besar IKADA tanggal 19 September 1945 berperan selaku semacam Perayaan Kemenangan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yang produk Revolusi Rakyat Pro Indonesia Merdeka. Rapat Besar IKADA itu diprakarsai oleh Pemoeda-pemoeda jalan Menteng 31 yang menyebut dirinya Committee van Actie, yang fakta lapangan dikawal oleh perangkat bersenjata Penguasa Militer kala itu yaitu Pemerintah Pendudukan Militer Jepang.



