| Percikan Budaya : Rekonsiliasi Gagal Total Taufik Ismail & JJ. Kusni Di TUK | ||||
|
DARI serangkum ekspresi tertera di beberapa milis atau blog internet yang saya saji ulang di bawah ini, mengenai pertemuan JJ Kusni dan Taufik Ismail 16 Februari 2009 di TUK yang dikumandangkan sebagai upaya « Rekonsiliasi Total », saya menarik kesimpulan lebih tegas. Bahwa, sesungguhnyalah forum itu bukan hanya merupakan rekayasa « Rekonsiliasi Individual » melainkan juga « Rekonsiliasi Gagal Total ». Pertanyaannya adalah : Kenapa hal itu bisa terjadi ? Sejauh manakah kekonsistenan sekaligus pemahaman kaum budayawan, para tokoh publisis, sastrawan dan penyair baik yang sebagai aktor utama maupun pengambil inisiatipnya dalam masalah besar lagi mendasar berupa Rekonsiliasi atau Rembugan Nasional ? Suatu pokok persoalan besar lagi mendasar yang tidak bisa lepas dari perihal mendasar berupa penegakkan HAM, penegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya penegakkan HUKUM ? Tanpa mana, jangankan tokoh-tokoh macam Kusni atau Taufik, sedangkan seorang yang berkaliber demokrat besar sekaligus Presiden Republik Indonesia Gus Dur saja gagal atau tergagalkan. Dengan ini saya jadi teringat ujar kata Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya dengan Forum Keadilan, Maret 2000, bahwa tanpa mendirikan Hukum : « Omong kosong saja Rekonsiliasi » !. 27 Februari 2009. (A. Kohar Ibrahim) * Asahan Aidit (HKSIS 26 Februari 2009) Apa yang dikatakan bung Kohar adalah betul bahwa peluk-pelukan antara Kusni dan Taufik adalah bukan rekonsiliasi. Hubungan pribadi yang membaik maupun tetap baik sejak semula tidak bisa dikait-kaitkan dengan telah terjadinya rekonsiliasi. Hubungan pribadi antara saya dan pengarang Ajip Rosidi yang kami mulai sejak klas dua SMA di Tama Siswa adalah murni hubungan pribadi. Sebagaimana banyak orang tahu, Ajip Rosidi adalah pengarang yang menolak Komunisme secara prinsip dan dia tahu siapa saya, adik siapa dan apa pandangan politik saya tapi hubungan pribadi kami tidak pernah terganggu hingga saat ini dan bahkan masih sangat erat meskipun sangat ditentang (kutukan di balik pungung) oleh sementara eks Lekra gadungan munafik yang frustrasi. Juga hubungan almarhum Sobron Aidit dengan almarhun Ramadhan KH selalu sangat baik meskipun pandangan politik Ramadhan KH adalah juga sama dengan Ajip Rosidi yaitu secara prinsip menolak Komunisme. Tapi Ramadhan selalu mendorong Sobron agar menulis terus dan dia tidak pernah mengkritik semua tulisan-tulisan Sobron dan bahkan ia selalu mengulang-ulang ucapannnya di depan Sobron setiap mereka ketemu: "Bron, dosamu terbesar adalah bila kau behenti menulis". Saya sendiri tidak pernah mengenal Ramadhan KH secara pribadi, tidak pernah bertemu muka, tapi setelah Ramadhan membaca novel saya "Perang dan Kembang" yang dia dapat dari Ajip Rosidi, Ramadhan menulis surat kepada saya (hingga sekarang suratnya masih saya simpan) yang menyatakan sambutan baiknya terhadap novel saya itu dan sambil mengatakan hasratnya untuk berkenalan dengan saya dan perkenalan kami terjadi dan berkembang baik. Ketika terbit buku "Di negeri orang" (kumpulan puisi para penulis eksil di Eropah), Ramadhan menulis surat pada saya yang mengatakan agar saya memberi kuasa pada penerbit agar penerbit menghadiahkan buku itu kepadanya karena katanya dia tidak mampu membeli buku itu dan terbitnya buku itu dia ketahui karena dia diundang untuk menghadiri peluncuran buku itu di sebuah hotel yang mahal di Jakarta dan dia melihat ada nama saya sebagai penyunting buku itu. Saya terheran-heran sambil terharu, seorang pengarang senior Indonesia klas Ramadhan KH, tidak mampu untuk membeli sebuah buku yang saya perkirakan harganya cuma 4 euro. Saya cepat bertindak agar buku itu segra bisa didapatkan oleh Ramadhan. Tapi yang penting pada cerita kecil ini adalah hubungan pribadi kami yang begitu tulus dan terus terang meskipun belum pernah bertemu muka dan Ramadhan adalah teman dekat Sobron sejak sangat lama yang tak pernah luntur ,meskipun digelapi peristiwa 65. Apakah semua ini bisa dibilang rekonsiliasi? Absolut tidak. Hubungan pribadi demikian, jauh lebih jujur dan murni daripada rekonsiliasi politik yang penuh dengan beribu macam motivasi gelap untuk kepentingan politik di kedua belah pihak seperti yang umpamanya diinginkan oleh Taufik dan Kusni. Menerima uluran tangan tangan berpestol dari Taufik Ismail saja, dengan syarat melepaskan ideologi Komunisme dan bersedia memaafkan untuk apa yang dia katakan dengan "Perdamaian total" adalah sebuah kesediaan kolaborasi politik, ideologi dan Kebudayaan, sebuah kesediaan hina dina, tidak berprinsip dan bahkan menodai dan mengesahkan fitnah terhadap Lekra yang dijejalkan oleh Taufik Ismail. Tapi memang Kusni sudah sejak mula pada saat Taufik memberikan komentar terhadap tulisan Kusni, Kusni merasa mendapat kehormatan agung karena ditanggapi oleh seorang musuh bebuyutan Lekra yang paling keras kepala, paling anti Komunis dan paling sombong serta yang paling terpencil di antara teman-teman Manikebunya yang lain yang lebih berkembang pikirannya. Tapi bagi Kusni tentu dia tidak membedakan siapapun dari Manikebu asalkan ada yang mau menanggapi tulisannya dan memang Kusni menjawab tulisan tanggapan Taufik denga super antusias, bertubi-tubi menjawabnya yang tidak dijawab oleh Taufik, namun Kusni tetap gigih meskipun cintanya tak berjawab dan terus saja bertepuk sebelah tangan. Namun Taufik rupanya, melihat sebuah lubang yang bisa mengait seekor kepiting gemuk yang bisa dinikmati dari tulisan-tulisan jawaban Kusni terhadap komentar tunggalnya yang selama ini tidak Taufik jawab. Dan di ahir kisah, Kusni mengumpulkan semua tulisan-tulisan jawabannnya terhadap Taufik yang tak kunjung mendapat jawaban dari Taufik itu yang lalu dijadikannya sebuah buku. Aksi spontan Kusni itu ternyata menjadikan mereka ahirnya punya maksud untuk bikin rekonsiliasi berduaan yang tentu saja dengan maksud semula, masing-masing ingin mewakili Manikebu(Taufik) dan Lekra (Kusni). Tapi orang-orang yang mereka anggap bodoh itu ternyata tidak sebodoh yang mereka sangka dan mereka berdua cepat-cepat mundur taktis dan strategis dengan mengatakan masing-masing tidak mewakili Manikebu atau Lekra. Dan sang Moderator yang tak kurang kental anti Komunis seperti yang dipunyai Taufik , Ikranegara, cepat-cepat mundur taktis dengan mengatakan: "Rekonsiliasi sesungguhnya sudah lama dimulai dan diadakan". Orang-orang yang berpikir logis tentu akan bertanya:."Nah, kalau memang sudah lama dimulai dan diadakan, untuk apa diadakan lagi seperti sekarang ini?".Tapi publik lebih memilih senyum-senyum sendiri saja atau pulang ke rumah tanpa kesan daripada memberikan komentar logis yang juga sudah tidak ada gunanya. Usaha Taufik dan Kusni bukan saja telah gagal secara memalukan tapi juga menunjukkan mental kehinaan mereka masing-masing. Taufik sebagai tokoh anti Komunis yang kesepian yang dipencilkan oleh teman-temannya sendiri sedangkan Kusni seorang eks Lekra gadungan yang konon kabarnya telah menukar Marxisme dengan Budisme( ah, itu sih urusan di sendirilah) tapi yang masih punya ambisi teramat besar untuk diakui sebagai pengarang besar, essais berbakat, penyair moderen made in France dan segala macam penonjolan diri yang begitu digilainya seorang diri, juga seorang tokoh nyepi seperti Taufik. Bedanya, yang seorang sebagai abdi restaurant yang menyuguhkan makanan, sedangkan yang lainnya yang duduk di meja restauran sebagai pembeli dan penyantap makanan lezat yang dihidangkan Kusni. Namun ke dua-duanya saling kesepian dan saling membutuhkan. Tapi yang kesepian bukan hanya dua orang itu, juga usaha mereka yang saling pelukan itu tidak bergema alias hilang diterbangkan angin begitu saja. Nah, ini ada sedikit tambahan untuk menyertai angin lalu menyambut kegagalan Kusni-Taufik. Rekonsiliasi politik adalah urusan rakyat Indonesia terutama para korban 65 yang masih hidup, dengan musuh kejam mereka yang pernah berlumuran darah dan bukan antara Kusni dan Taufik, bukan antara Manikebu dan Lekra. Secara pribadi atau perseorangan silahkan saja berbaik baikan tapi jangan mencatut nama rekonsiliasi untuk menggelembungkan tikus menjadi sapi. Asahan Aidit. * Subject: Re: [ac-i] Undangan Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK - Rekonindividual ACI 24 Februari 2009 : A. Kohar Ibrahim Bukan Rekonsiliasi Total Melainkan Individual Apa yang dilakukan JJ Kusni & T.I. itu bukan seperti yang dipropagandakan sebagai upaya "Rekonsiliasi Total" melainkan "Rekonsiliasi Individual" seperti yang sudah dilakukan para perorangan lainnya sejak beberapa tahun belakangan ini. Seperti pertemuan antara Sobron Aidit dengan Ramadhan KH, Ajip Rosidi dengan saya dan Asahan Aidit dan yang lain sebagainya lagi. Alhasil bukan merupakan "barang baru" yang layak dijadikan Berita budaya. Saya belum kesempatan menyimak buku karya tulis Kusni yang terbaru maupun pedatonya dalam pertemuan di TUK itu. Saya termasuk salah seorang teman lamanya, malah dari Delegasi Pengarang Indonesia (Lembaga Sastra Indonesia, Lekra) ke Tiongkok untuk turut merayakan berdirinya RRT 1 Oktober 1965 yang terdiri dari 5 orang (Aziz Akbar, Z. Afif, Soekaris, Kusni Sulang dan A.Kohar Ibrahim), kini hanya tinggal kami berdua yang masih hidup dan meneruskan aktivitas-kreativit as secara relatif aktif dan kreatif. Selain sebagai penyair, Kusni adalah salah seorang essais yang berbakat. Akan tetapi, dalam kaitan pertemuan TUK itu, saya tidak menganggapnya sebagai mewakili Lekra, kecuali dirinya sendiri. Uraiannya berkenaan dengan Lekra tak lain tak bukan bersifat ekspresi opini individual, seperti halnya juga uraian (tertulis) Aziz maupun Afif dan saya sendiri. (Seperti antara lain berkas naskah saya berjudul "Sekitar Prahara Budak Budaya" di milis Apsas ini (Oktober-Desember 2008), di Blog Apsas (Multiply) dan lainnya lagi). Demikian sekedar komen ringkas dari saya. Terimakasih atas perhatian pembaca yang berkenan. (A.Kohar Ibrahim) * D. Christanto --- En date de : Dim 22.2.09, dadang christanto a écrit : Objet: Re: [ac-i] Undangan Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK Rekonsiliasi tanpa transformasi adalah omong kosong. dc * Yuswantoro Adi Subject: Re: [ac-i] Undangan Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK To: artculture-indonesi a@yahoogroups. com Monday, 23 February, 2009, 2:46 AM Semoga bapak/ibu/sodara/ sodari sekalian sudah tahu bahwa Goenawan Mohamad (Manikebu) dan pelukis Djoko Pekik (pernah dipenjara karena ke-Lekra-annya) sudah lebih dari 10 tahun saling bertegur sapa, bahkan bersahabat sangat karib. Belum lama ini saya menghadiri acara ulangtahun GM yang dirayakan di rumah Pekik. Maka rekonsiliasi adalah sebutan yang terlalu berlebihan, maaf, menurut saya diheroik-heroikkan. Yuswantoro adi, pelukis tinggal di Yogyakarta * Firman Lubis To: artculture-indonesi a@yahoogroups. com Date: Saturday, 21 February, 2009, 9:38 PM Terima kasih Pak Asvi atas penjelasannya. Saya mungkin salah karena seperti Pak Bambang ketika membaca undangan itu mengira adanya pemakaian nama pengirim yang tidak mau secara jelas dan terbuka menyatakan dirinya dengan menggunakan nama tersamar. Karena terus terang memang banyak pesan disampaikan orang dengan nama samaran yang bunyinya aneh-aneh. Entah mungkin karena kurang PD atau pesannya cuma unek-enek atau penghujatan ungkapan kekesalan saja atau apa, saya kurang tahu. Tentunya saya sangat gamang kalau di zaman seperti sekarang orang masih enggan atau belum mau berdiskusi secara terbuka. Tetapi syukurlah kalau memang dugaan saya itu salah. Sayang saya tidak menghadiri diskusi yang menurut saya cukup penting itu. Tetapi saya membaca dari milis kita dialog atau upaya rekonsiliasi kelompok Manikebu (diwakili Taufik Ismail) dan kelompok Lekra (diwakilki oleh JJ Kusni) yang menurut saya baik dan perlu dilakukan ini demi perjalanan kita kedepan ditentang dan dihujat cukup keras oleh beberapa orang dengan alasan mereka tentunya. Tentunya ini sangat merisaukan saya. Saya kira Pak Asvi juga membacanya. Salam, Firman * Asvi Warman Adam Pak Bambang Hidayat dan Pak Firman Lubis, Saya kira tidak ada yang salah dari undangan Dialog Manikebu vs Lekra di Teater Utan Kayu itu. Saya hadir dalam acara itu yang tampaknya kurang dilaporkan oleh pers (saya lihat ada crew TV ONe, Nama dan Peristiwa). Undangan ini dikirim oleh Mohammad Guntur Ramli (MGR) yang menjadi koordinator dari kegiatan dialog tersebut. MGR adalah nama asli bukan samaran, ia menjadi korban dalam aksi brutal di Monas ketika terjadi heboh UU Pornografi beberapa waktu lalu. Ia juga menjadi Redaktur Pelaksana majalah Jurnal Perempuan. Salihara itu nama komunitas (perluasan dari Teater Utan Kayu) yang berada di Pejaten. Di Salihara diselenggarakan berbagai kegiatan budaya. Salam, Asvi Warman Adam * Firman Lubis --- Pada Rab, 18/2/09, Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Id menulis: Dari: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . id Topik: Re: [ac-i] Undangan Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK Kepada: artculture-indonesi a@yahoogroups. com Cc: salihara@yahoogroup s.com, artculture-indonesi a@yahoogroups. com Tanggal: Rabu, 18 Februari, 2009, 9:10 AM Saya mendukung usul dari Pak Bambang ini. Saya kira sudah zamannya kita berani berbicara apa saja secara terbuka dan menyampaikan nama diri kita. Sebab saya agak risih juga kalau menerima pesan yang sifatnya seperti surat kaleng. Atau lempar batu sembunyi tangan. Saya harap milis kita bisa lebih merupakan ajang diskusi dan pertukaran pendapat serta pikiran yang mencerdaskan dan mencerahkan. Salam, Firman * Rekan-rekan yang saya hormati, Kalau boleh saya mengusulkan agar dalam komunikasi ini--untuk menjaga, menjamin dan meneguhkan keterbukaan, kita semua mempergunakan nama diri masing-masing. Dengan cara itu penerima mail(s) sewaktu sebelum, apalagi setelah, membuka surat dapat mengetahui dengan siapa dia berkorespondensi, bertukar pikiran akal dan nalar. Dengan adanya nama aneh-aneh, mungkin eksotis dan humorous, masih terasa adanya benang merah yang tersembunyi atau sesuatu yang tersembunyi. Terima kasih untuk semua perhatian anda. Selamat bekerja dan selamat melanjutkan komunikasi dalam dunia maya--yang maya hanya medianya—tetapi manusianya tidak. Bambang Hidayat Pasir Muncang,Dago Atas Bandung Jawa Barat,Indonesia * Mohamad Guntur Romli --- On Mon, 2/16/09, MGR wrote: From: MGR Subject: [ac-i] Undangan Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK To: salihara@yahoogroup s.com Date: Monday, February 16, 2009, 2:46 AM Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK Komunitas Utan Kayu mengundang anda hadir dalam acara "Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra" yang akan diselenggarakan di Teater Utan Kayu (TUK), Rabu 18 Februari 2009 pukul 14.00 WIB. Acara ini diadakan untuk mendiskusikan buku "Menoleh Silam Melirik Esok" karya JJ Kusni (anggota Lekra) yang diterbitkan oleh Ultimus Bandung Februari 2009. Akan hadir sebagai pembicara JJ Kusni (Pengarang) dan Taufiq Ismail (Pengulas) dan Ikranegara sebagai moderator. Dalam diskusi ini nanti, kami mengundang tokoh-tokoh dari Manifes Kebudayaan dan Lekra serta organisasi-organisa si yang terlibat polemik di Indonesia tahun 60-an. Seperti Joesoef Isak, Amarzan Loebis, Goenawan Mohamad, Putu Oka Sukanta, Amrus Natalsya, dan lain-lain. Kami juga berharap sastrawan dan aktivis generasi muda hadir dalam acara ini untuk memberikan komentar dan tanggapan baik atas polemik yang pernah terjadi antara Manifes Kebudayaan dan Lekra atau dalam dialog ini nanti. Kami tunggu kehadiran anda di Teater Utan Kayu (TUK), Jalan Utan Kayu No 68H Jakarta Timur Salam, Mohamad Guntur Romli * BUKU JJ KUSNI : Buku ini menarik untuk dibaca bagi mereka yang ingin menilik lebih jauh perselisihan sastra di Indonesia di tahun 1960-an—yang umumnya disederhanakan sebagai “polemik antara Lekra dan Manikebu. Ia dimulai dengan statemen Taufiq Ismail untuk menyambut perdamaian total, atau rekonsiliasi antara kedua kubu itu. Dengan bahasa yang santun dan jelas, Kusni menyusun jawabannya terhadap statemen Taufiq Ismail. Maka sebuah dialog tampaknya kembali dibuka—meskipun saya tak tahu pasti apakah dengan demikian kita akan bisa menyaksikan sebuah rekonsiliasi. Sangat mungkin yang terjadi adalah sebuah daur ulang—meskipun tak berarti hanya sia-sia. Goenawan Mohamad dalam Pengantar di buku ini. Sebuah audit dendam akan berkepanjangan dan tak jelas kesudahannya. Dan dari kuburnya Marx dan Lenin tetap saja mengulurkan rantai kesumat yang di Indonesia ujungnya masih membelit bangsa. Saya menyarankan perdamaian total, lebih maju selangkah ketimbang rekonsiliasi. PERDAMAIAN TOTAL. Rantai dendam yang membelit bangsa itu harus segera dipotong habis. Taufiq Ismail "Tentang Rekonsiliasi, Tentang Perdamaian Total" Dogmatisme, keusangan, kerapuhan, dan kekeroposan terjadi baik pada kalangan kiri dan maupun golongan kanan JJ. Kusni ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||
| Terakhir Diupdate ( Jumat, 27 Februari 2009 22:46 ) |




DARI serangkum ekspresi tertera di beberapa milis atau blog internet yang saya saji ulang di bawah ini, mengenai pertemuan JJ Kusni dan Taufik Ismail 16 Februari 2009 di TUK yang dikumandangkan sebagai upaya « Rekonsiliasi Total », saya menarik kesimpulan lebih tegas. Bahwa, sesungguhnyalah forum itu bukan hanya merupakan rekayasa « Rekonsiliasi Individual » melainkan juga « Rekonsiliasi Gagal Total ». 



