|
Alamak...Ada Wartawan Peras Krakatau Steel
|
|
Oleh Administrator
Kamis, 18 November 2010 15:12 |
|
|
|
|
Jakarta, Bekasinews.com.- Kasak-kusuk penawaran saham PT Krakatau Steel ternyata dicederai oleh oknum wartawan yang coba memeras PT Krakatau Steel (PTKS).
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Wahyu Dhyatmika dalam siaran persnya mendesak pihak-pihak yang mengetahui ihwal kongkalikong ini untuk segera melapor secara resmi ke Dewan Pers dan Polisi. Laporan ini penting agar lembaga-lembaga tersebut bisa segera mengusut laporan adanya wartawan yang meminta jatah saham perdana KRAS ini.
"Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mendesak dugaan keterlibatan sejumlah wartawan dalam kongkalikong penawaran saham perdana Krakatau Steel, awal November ini, diusut tuntas. Jika terbukti, para jurnalis pelakunya harus mendapat sanksi tegas, karena telah mencemarkan kredibilitas jurnalis Indonesia." jelas wahyu.
Dijelaskannya dugaan ini berawal dari laporan sejumlah pihak yang terlibat langsung dalam proses penawaran saham Krakatau Steel (KRAS). Mereka menuding ada sejumlah wartawan dari beberapa media terkemuka yang berusaha memperoleh jatah saham perdana KRAS tanpa melalui prosedur yang berlaku di pasar modal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun AJI Jakarta, sejumlah wartawan ini meminta jatah saham sebesar 1.500 lot saham perdana KRAS yang bernilai Rp 637,5 juta. Permintaan itu kabarnya dibarengi dengan tekanan melalui pemberitaan negatif seputar IPO Krakatau Steel. Selain saham, sejumlah wartawan ini juga dilaporkan meminta uang tunai.
Jika terbukti, tindakan wartawan-wartawan ini jelas melanggar kode etik jurnalistik wartawan Indonesia (KEWI). Pasal 6 KEWI secara jelas dan tegas menyatakan bahwa wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Selain itu, tindakan wartawan yang meminta jatah saham perdana KRAS ini berindikasi tindak pidana pemerasan.
Cara kerja jurnalis yang dicemari oleh kepentingan komersial pribadi dan kelompok ini bisa mengancam iklim investasi di Indonesia. Berita-berita mengenai bursa saham yang dibuat secara tidak proporsional, tendensius dan tidak berimbang bisa membingungkan investor.
"AJI juga menghimbau semua jurnalis peliput Bursa Efek Indonesia, agar tetap kritis dan berimbang dalam memberikan informasi yang perlu diketahui oleh publik." tutup Wahyu. (sn01)
|