Tangerang, Bekasinews.com.- Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Ir Tian Belawati MEd PhD mengatakan UT kini menjadi perguruan tinggi terbuka jarak jauh (PTTJJ) yang semakin berkualitas dan keberadaannya diakui di mata dunia.
“Lulusan UT semakin berkualitas dan bisa dibanggakan, terbukti banyak alumni UT yang melanjutkan sekolah untuk program magister dan doktor di berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri,” kata Prof Tian dalam jumpa pers di Kampus UT di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (3/9).
Memasuki usia yang ke-26 pada 4 September 2010, banyak indikator yang memperlihatkan UT semakin berkembang dan maju dan para lulusannya diakui kompetensinya. Saat ini, semakin banyak masyarakat yang ingin kuliah di UT, kemudian ijazah S-1 UT setara dengan ijazah S-1 perguruan tinggi negeri dan diakui oleh perguruan tinggi di luar negeri. Saat ini, UT memiliki program akademik Fakultas Ekonomi, FISIP, FMIPA dan Program Pasca Sarjana.
Dari aspek manajemen, UT sudah memperoleh 42 sertifikat ISO dalam pengelolaan yang semakin profesional, termasuk sejak 2005 memperoleh akreditasi dan sertifikat pendidikan tinggi berstandar internasional berdasarkan International Council for Open and Distance Education (ICDE). “Saat ini, UT sudah menjadi perguruan tinggi terbuka jarak jauh yang diakui dunia, bahkan di Asia, UT sudah menjadi leader dan menjadi tempat studi banding terpercaya,” katanya.
Selama ini, banyak perguruan tinggi terbuka di Asia melakukan studi banding di UT. Terakhir, Pemerintah Fiji merencanakan membangun UT seperti Indonesia setelah sebelumnya mereka melakukan studi banding. Tidak hanya itu, ia sebagai Rektor UT sejak tahun 2008, Prof Tian dipercaya menjadi Presiden Asosiasi UT se-Asia (Asian Association of Open Universitis/AAOU) dan menjadi satu dari lima anggota Executive Committe ICDE. Menurut Rektor UT, dalam 10 tahun ke depan, UT harus menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan produk pendidikan tinggi.
Saat ini, jumlah mahasiswa UT mencapai 650.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri. “Mahasiwa UT didominasi para guru, namun saat ini UT akan memulai untuk menjaring calon mahasiswa dari kelompok nonguru, misalnya dari kalangan profesional, swasta atau para lulusan SLTA,” kata Prof Tian.
Jumlah mahasiswa UT yang berasal dari lulusan SLTA mencapai 14% lebih atau sekitar 70.000 orang dan ke depan akan dilakukan sosiaslisasi untuk menjaring lulusan SLTA.
Selain terus memperluas jangkauan ke luar negeri, terutama di negara-negara penempatan TKI, seperti Hong Kong, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Korsel, Macau dan Taiwan, UT juga memiliki kewajiban untuk menjangkau masyarakat di daerah terluar, terdepan dan kawasan perbatasan.
“Dengan metode pembelajaran yang bersifat inklusif dan terbuka, UT bisa menjadi perguruan tinggi pilihan, apalagi kami tidak melakukan uji seleksi, tidak membatasi usia mahasiswa, bisa belajar di mana saja, kapan saja, dan tidak ada pembatasan masa belajar,” kata Tian.
Prof Tian mengatakan di usia yang ke-26, UT akan terus melayani kebutuhan pembangunan dengan cara mendidik anak-anak bangsa yang bertugas di garis terdepan pendidikan, yaitu para guru, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat di daerah terpencil untuk kuliah. (kominfo/Ad/dry)