Jakarta, Bekasinews.com.- Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Yuniyanti Chuzaifah pernah bertanya pada anaknya, "Kamu tahu jugun ianfu? Di sekolah diajarkan nggak?" Sang anak menggeleng. Hal ini menandakan bahwa kisah gelap perjuangan para wanita penghibur yang terlibat dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang ini memang tidak pernah diceritakan dalam buku teks pendidikan sejarah Indonesia. Namun, sejarah Indonesia kini tak lagi bisa dibohongi. Melalui pameran foto yang diadakan di Erasmus Huis, Jakarta, fotografer asal Negeri Kincir Angin Jan Banning bekerja sama dengan Hilde Janssen mencoba membongkar sejarah jugun ianfu yang tidak banyak diketahui. "Sedikit sekali cerita tentang Indonesia selama Perang Dunia II dalam sejarah Belanda. Orang Indonesia yang saat itu berjumlah 50 juta saja tidak masuk, apalagi para korban perang seperti jugun ianfu? Saya ingin menguak semua yang terbungkam," ujar wartawati ini saat pembukaan pameran foto bertajuk "Jugun Ianfu", Kamis (12/8). Kedua orang ini menggunakan dua media yang berbeda untuk membuat mata terbelalak dalam menghadapi kenyataan yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Hilde menggunakan kata-katanya dalam sebuah buku laporan tertulis, sementara Jan mengubah kata-kata itu menjadi sebuah foto. Keduanya memiliki tujuan yang sama, menceritakan apa yang belum diceritakan oleh para penulis sejarah. Pameran yang diselenggarakan bersama Komnas Perempuan ini berlangsung hingga 23 September mendatang. Diskusi mengenai pembungkaman sejarah kekerasan terhadap perempuan juga diadakan untuk mendukung perbaikan kesalahan di masa lalu.(MRQ/ANS/liputan6)
|