Anak Merapi "Ngelmu Pring"
Minggu, 10 Mei 2009 09:19    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 1
KurangTerbaik 

Bekasinews.com.- RUMAH BACA KOMUNITAS MERAPI (RBKM) adalah sebuah wadah independen dan nirlaba, tempat sekelompok pencinta literasi dari Lereng Gunung Merapi yang bertekad menyediakan buku-buku bacaan secara gratis untuk warga dan anak-anak Lereng Gunung Merapi. RBKM didirikan secara gotong-royong oleh warga Dusun Gemer sejak 23 Desember 2008 dan selesai pembangunannya akhir Januari 2009. Sejak awal Februari 2009 RBKM dibuka untuk umum dan bisa diakses secara gratis.

Latar belakang keinginan mendirikan rumah baca yaitu lahir dari keprihatinan seorang warga dusun yang bernama Y. Sukisno, seorang petani yang hanya lulus SD dan sudah dikarunia seorang anak, melihat kondisi orang-orang desanya yang kesulitan mengakses buku-buku bacaan.

Sebagai usaha untuk merangsang minat baca maka kami Rumah Baca Komunitas Merapi akan mengadakan kegiatan santai berbasis edukasi dengan mengusung tema ANAK MERAPI “NGELMU PRING“. Ngelmu Pring atau dalam Bahasa Indonesianya Belajar dari Pohon Bambu diinspirasi oleh karya sastra Jawa berbentuk Geguritan karya Sindhunata dalam bukunya “Air Kata-Kata“.

pring iku mung suket/ning gunane akeh banget/yaiku jenenge ngelmu pring/dadia kaya pring/prasaja ora duwe apa-apa/ning mergo ora duwe apa-apa/bakal bisa dadi apa-apa kaya pring Begitulah sedikit petikan geguritan karya Sindhunata. Sindhunata mengajak untuk belajar dari Pohon Bambu yang sepertinya tidak punya apa-apa tapi akan menjadi yang sesuatu yang berharga. Tampil dengan meyakinkan dan mengundang gelak tawa dengan tarian tiga anak-anak asuhan seniman muda Kukuh Merapi dari Rumah Baca Komunitas merapi yaitu Lia, Ratih dan Kemi membawakan geguritan tersebut.

Halaman Rumah Baca Komunitas Merapi yang cukup luas tersebut disulap sedemikian rupa dengan seni instalasi bermateri dasar bambu oleh Kukuh Merapi. Ia menampilkan seni instalasi dengan judul “13 Manusia Bambu”. “Angka 13 bukanlah angka yang membawa sial. Buktinya hari ini tidak hujan, padahal hari-hari kemarin setiap sore hujan. Kali ini tidak” tegasnya. Persis di depan rumah baca ada sesaji karya Kukuh Merapi yang membawa pesan agar orang menghormati bambu.

Suasana kian meriah terlebih saat Sigit Susanto seorang penulis yang sedang liburan dari Swiss mengisi acara sulap. Anak-anak begitu riuh tak karuan. Tampil juga Adi Toha, Penulis asal Pekalongan mendongeng untuk anak-anak Merapi.

Dalam orasi literasinya yang berjudul Pentingnya Budaya Membaca Pada Anak. Kepala Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Magelang mengajak anak-anak merapi untuk gemar membaca dan mengurangi jam untuk main-main dan nonton teve.(aan)

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.