|
Jakarta, Bekasinews.com.– Menjelang akhir tahun 2008, konflik bersejarah panjang di Palestina kembali menghentak dunia. Konflik berlangsung dengan jumlah korban yang cukup banyak. Banyaknya korban sipil mengakibatkan tragedi kemanusiaan. Nampaknya perang masih akan berkelanjut meski gencatan senjata dan janji Israel menarik pasukan sudah diberikan. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara yang menekan Israel untuk menghentikan agresinya nampak kurang berhasil. Efek perseteruan di Palestina atau tepatnya di jalur Gaza, juga menghadirkan dimensi persoalan lain di bagian lain di dunia ini. Ada upaya-upaya pihak tertentu yang terus mencoba menempatkan sudut pandang yang bias terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Konflik tersebut murni konflik politik melalui agresi Israel, namun belakangan menjadi kental bernuansa keagamaan. Adanya cara pandang bias keagamaan di Indonesia dalam memandang tragedi Gaza dan membuat konflik itu menjadi konflik agama antara Yahudi+Kristen (Israel, USA) melawan Islam (Palestina). Agama Kristen terbawa-bawa karena Israel mendapat dukungan dari Amerika yang dikonotasikan sebagai Kristen. Demikian siaran pers hasil Diskusi "Konflik Israel-Palestina, Perang Sampai Kapan?" di Sekolah Tinggi Teologi- Jakarta, 22 Januari 2008. Pada saat bersamaan, dipihak kristen, juga ada upaya-upaya dan klaim teologis untuk mendukung dan membenarkan tindakan Israel. Pertanyaan kritisnya adalah, sejauh mana faktor agama memainkan peran dalam konflik Israel-Palestina? Mengapa kedua pihak, Israel dan Hamas (Palestina) bersikeras untuk terus melancarkan serangan? Adakah masa depan yang damai antara keduanya?. Perlu diketahui, Israel/Yahudi BUKAN Kristen/Katolik. Palestina BUKAN HANYA Islam. Hanya karena USA mendukung Israel dalam agresinya tersebut. Sejarah bahkan menunjukkan kebencian Israel/Yahudi terhadap Kekristenan. Sementara Palestina, juga tidaklah identik dengan Islam, karena perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan Politik yang menunjukkan kerjasama sangat erat antara Islam dengan Kristen. Penduduk asli Palestina tidak hanya muslim tapi juga Nasrani dan Yahudi, demikian ujar Fariz Mehdawi, Duta Besar Palestina untuk Indonesia dalam dalam diskusi di aula Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Hal senada diamini oleh Yonky Karman, Pengamat masalah sosial/ Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Menurut Yongki, jika tali-temali emosi religius disingkirkan, akar persoalan konflik Israel-Palestina adalah tanah, bukan konflik soal agama. Itu merupakan konflik rakyat Palestina yang tertindas dan tidak mau menempuh jalur damai sampai aspirasi mereka terwujud dengan Pemerintah kolonial Israel yang sekuler. Memang wilayah Palestina kini menjadi simbol tragedi kemanusiaan dan kekejaman perang. Menurut Mohamad Guntur, Pemerhati Politik Timur Tengah / Jaringan Islam Liberal , konflik ini berawal dari ”sengketa tanah” yang melibatkan dua pihak yang bertikai hingga saat ini (Israel dan Palestina) yang merebutkan kedaulatan atas tanah di sana. Hanya saja pengikut yang berkonflik itu, atau tanah-eretz Ibrani, ardl Arab- yang menjadi rebutan sangat sarat dengan muatan-muatan agama (atau dengan sengaja menarik-narik agama dalam konflik itu, dan menyebut ”tanah sengketa” itu sebagai tanah kudus bagi agamanya secara pribadi. Yongki juga menekankan bahwa konflik Israel-Palestina bukan konflik Kristen-Islam, kendati generalisasi bahwa Kristen bersekutu dengan Zionis (akar zionisme: kerinduan untuk kembali ke tanah terjanji, sebagai bagian dari iman Yahudi) . Zionisme pada dasarnya sebuah gerakan politik sekuler dan Israel sebuah negara sekuler. Zionis Israel dengan cerdik memanfaatkan simbol dan ligitimasi keagamaan untuk klaim-klaim politiknya, guna menggalang solidaritas Yahudi di seluruh dunia, terutama kaum religius- konservatif. Mehdawi mengingatkan, melihat konflik dua negara ini, jangan terjebak pada konflik antar-agama Islam dan Yahudi. Di Palestina ada 3 agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Dengan konsep pemikiran seperti inilah, kita bisa melihat persoalan ini dengan jernih. Ada banyak pihak di Indonesia yang memakai cara pandang keagamaan dalam meneropong kasus dan tragedi kemanusiaan di Gaza. Cara pandang yang tidak berdasarkan pengetahuan yang cukup memadai tentang sejarah konflik dan kondisi yang sebenarnya di Palestina. Hal ini menghasilkan ketegangan yang tidak relevan di Indonesia, ketegangan antara Islam dan Kristen yang memandang kasus itu secara tidak seimbang. Pada akhirnya menggiring issue ini memasuki arena politik melalui pemaksaan tafsir agama atas konflik Gaza. Akibatnya, kasus Gaza menjadi issue taktis guna kepentingan politik yang semakin melebar dan jauh dari substansi persoalan sebenarnya di Gaza. Dibutuhkan pemahaman yang komprehensif atas sejarah konflik Israel-Palestina dan konteks Politik Timur Tengah serta referensi seputar kasus Gaza. Hal ini penting agar kampanye dan mobilisasi membantu Palestina tidak berdampak negatif dan justru memperkeruh kehidupan keberagamaan di Indonesia. (Ineke Novianty S)
|