Jakarta, Bekasinews.com.- Aliansi Petani Indonesia (API) menilai sektor pangan lebih penting di bandingkan dengan sektor energi, pernyataan ini diungkapkan oleh aktivis API Nurhadi menanggapi hasil Indonesia Biofuels Conference 2009.
Seperti diberitakan bekasinews sebelumnya pada even Indonesia Biofuels Conference 2009 yang diorganisir oleh The Asian Business Forum di Hotel Borobudur Jakarta.Luky Eko Wuryanto Deputi Bidang Perencanaan BKPM (menjelaskan besaran kebutuhan lahan sampai 11 juta hektar untuk mengakomodir keinginan produsen biofuels yang akan dan telah masuk menanamkan modal dan investasi di Indonesia dalam merangsang pertumbuhan perekonomian nasional.
Senada dengan Luky, Evita H Legowo Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menjanjikan akan mengadakan pembicaraan dan diskusi dengan DPR RI akan kebutuhan yang mendukung perkembangan Biofuel nasional. Yang paling semangat adalah Paulus Tjakrawan Sekretaris Jenderal Assosiasi Produsen Biofuels Indonesia ini bahkan meminta semua anggota-anggotanya untuk pro aktif mendukung langkah-langkah tersebut dengan mengkaji secara cermat seluruh aspek-aspek yang terkait dengan biofuels seperti, pertanian, sumber daya manusia, mandatori keuangan, insentiv, lingkungan hidup, serat teknologi dan alih teknologi.
Di tempat yang sama dan hari yang sama dalam Munas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Bungaran Saragih juga menyesalkan akan seringnya kampanye negatif soal perkelapa sawitan Indonesia. "Sering dibilang nyerobot lahan konservasilah,ini itulah." ujar laki-laki berdarah Batak ini yang juga mantan Menteri Pertanian era Presiden Gus Dur dan Presiden Mbak Megawati ini.
Seperti diketahui menurut salah satu peserta dari kalangan pengusaha di Indonesia Business Forum 2009, teknologi yang dipakai untuk ini seperti power generator kebanyakan masih diimport dari Finlandia, Jerman dan Jepang."Secara ekonomi biofuels lebih ekonomis dibanding fossilfuels."katanya.
Menanggapi beberapa hasil dari Indonesia Biofuels Forum 2009 yang kelihatannya lebih banyak fokus ke niat dan tindakan berdagang semata. Nurhadi yang ditemui tambangnews di kantornya menyatakan soal krisis energi dan krisis pangan memang menjadi soal yang harus di prioritaskan di tengah-tengah krisis dunia yang multi dimensi saat ini.
"Untuk krisis energi kita bisa mencontoh Iran dan Venezuela yang berani mengkonversi mata uang yang digunakan untuk transaksi minyak dari dolar ke Euro, itu salah satunya saja."ujar aktivis Aliansi Petani Indonesia (API) yang membidangi Departemen Pendidikan dan Kampanye di organisasi massa petani tersebut.
Bagi dia sektor pangan lebih penting dan mendesak di selesaikan, "Karena bagaimanpun juga kehidupan petani Indonesia masih sulit, bayangkan dengan lahan hanya 0,5 hektar mereka harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, benar-benar tidak manusiawi. Lahan 11 juta hektar itu prioritaskan pemberiannya ke petani penggarap sektor pangan lebih layak.Mereka lebih layak menerimanya."katanya.
Krisis global mau tidak mau menyeret Indonesia masuk ke dalam pusaran arusnya yang dimulai dari krisis finansial di Negara Amerika. Signifikan krisis pangan telah membuat Indonesia sebagai negara agraris malah mengalami kesulitan pangan. Penyebabnya utamanya tidak ada lain karena masih banyak petani Indonesia tidak punya akses ke sumber-sumber Agraria oleh karenanya tidak produktif maka tidak mampu mengakses sumber ekonomi yang berjujung pemiskinan dan hidup dalam kemelaratan.
Ditingkat petani terus terjadi hal-hal seperti kesulitan akan benih, pupuk tiba-tiba lenyap dari pasar, subsidi tidak maksimal dalam pendistribusiannya banyak di manipulasi, teknologi dan ilmu pengetahuan minim serta akses ke pasar yang berkeadilan tidak ada. Kedaulatn pangan bagi bangsa juga jadi terancam. Regulasi sektor pangan masih rumit dan keberihakannya belum ke petani senyata-nyatanya.
" Sebenarnya informasi lebih lengkap bisa langsung dari Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia ( API), M.Nuruddin. Tapi tadi keluar ada acara dengan petani." ujarnya diakhir wawancara dengan bekasinews. (Denho)
|